Kisah Masalalu Ki Sukmo

1066 Kata
Kepergian Dayu ke Bali menyisakan ruang hampa dalam diri Genta. Pria itu tampak terpukul karena harus melepas istrinya yang dalam keadaan hamil. Rencana indah untuk menikmati masa kehamilan yang menyenangkan tidak akan pernah terwujud bagi keduanya. Melihat Genta yang murung dan jarang ada di rumah, membuat Padmi iba dan sekaligus tertekan. Karena telah berjanji pada Trining, akan menguak sedikit demi sedikit mengenai hal yang selama ini tersimpan dari Genta, akhirnya Padmi mencari waktu yang terbaik. Begitu anak lelaki satu-satunya pulang dan sudah mandi, Padmi mendekat sembari menyapa Genta dengan lembut. Trining masih menggantikan Genta yang saat ini harus beristirahat, setelah tiga hari penuh menjaga Pram. Sri keluar membawa kopi dan camilan untuk kedua majikannya. Sementara itu, Janur terlihat mengintip dari kejauhan ketika Padmi duduk bersama dengan Genta. “Kamu gimana kabarnya? Capek?” tanya Padmi dengan penuh perhatian. Genta mengusap tengkuknya dan mengangguk. “Nggak apa-apa, Bu. Nanti juga seger lagi kalo tidur cukup,” sahut anaknya. Tangannya meraih gelas berisi kopi yang masih mengepul hangat. Setelah menyeruput dengan kecapan puas, Genta mencomot pisang goreng dengan tisu. “Ada yang mau ibu bicarakan denganmu, Gen.” Kunyahan Genta berhenti. Ibunya jarang sekali meminta waktu bicara jika tidak penting. “Ada apa, Bu? Rasanya kalo bahas mengenai semua yang sedang kita alami, cuman micu terror makin bertambah aja.” Kalimat tanggapan anaknya terdengar pesimis dan putus asa. Padmi tersenyum kikuk. “Le, ibu mau bicara mengenai Ki Sukmo, sebelum lanjut pada hal lain.” “Kenapa baru sekarang, Bu? Karena kehabisan cara buat bertahan, begitu?” tanya Genta sinis. Pria itu tidak habis pikir atas sikap ibunya yang sanggup menutup mulut dan bungkam selama ini. Segala hormat dan kepatuhannya mulai memudar. Dayu, wanita yang sangat ia cintai harus menanggung sebagian dari siksa terror yang entah siapa dalang dari semuanya tersebut. “Gen, bukan itu maksud dan tujuan ibu. Ada banyak hal yang harus terlindung demi kebaikan bersama. Untuk itu, dengarkan dulu penjelasan ibu mengenai Ki Sukmo.” “Kebaikan bersama yang ibu maksud adalah hanya kita berdua, bukan? Karena dari sekian orang yang diteror, hanya ibu dan saya yang nggak terpengaruh!” “Kamu lupa jika ibu juga sempat mengalami beberapa bulan lalu?!” pekik Padmi dengan wajah emosi. Genta mendengus kasar. “Suka atau tidak, kau harus tahu awal dari semua petaka. Tapi sebelumnya, ibu akan menceritakan mengenai Ki Sukmo lebih dulu!” tegas Padmi dengan tajam. “Ok. Monggo! Saya dengan sabar dan senang hati akan mendengar!” sambut Genta dengan sikap sinis. Padmi menyandarkan tubuh dan menghela napas panjang. Dari bibirnya, meluncur sebuah kisah yang Genta akan dengarkan hingga satu jam mendatang. ** Pernikahan Sukmo dengan Laksmi berlangsung sederhana. Meski Cokro tadinya kurang setuju, namun akhirnya bersedia menjadi saksi dan Darmo, menjadi wali. Sukmo memang tidak lagi memiliki kerabat lagi. selama ini hanya memiliki dua orang pria, Cokro dan Darmo, yang satu perguruan dengannya di Jawa Timur. Sukmo adalah yang termuda. Dia selalu menurut dan mematuhi segala saran dan bimbingan dari Darmo dan Cokro. Ketika akhirnya Cokro bertugas di desa Bedono, ketiganya gembira sekali. Sebelumnya Darmo terlebih dahulu tinggal di tempat itu sebagai guru mengaji di sebuah TPA. Pernikahan yang Sukmo harapkan menjadi titik awal kebahagiaannya, akhirnya terguncang. Karena Sukmo sering bepergian untuk mengejar pekerjaan dan tugasnya sebagai penyembuh orang yang terkena gangguan, Laksmi mulai melakukan perselingkuhan. Semakin hari, Laksmi semakin tidak menutupi hubungan dengan para pria yang bergilir menikmati tubuhnya secara gratis. Sukmo juga hobi mengejar ilmu yang bisa meningkatkan kemampuannya dengan jalan baik dan sesuai kaidah agama, segala rumor yang ia dengar, ditepiskan begitu saja. Baginya, mempercayai Laksmi adalah utama. Naif dan mencoba untuk berpikir positif, tidak membuat Sukmo berada dalam posisi beruntung. Ketika akhirnya dia memergoki istrinya sendiri, pria itu memilih pergi dengan hati terluka. Laksmi yang ternyata menyimpan kejengkelan atas tingkah Sukmo yang tidak berkomentar apa pun, akhirnya menguak siapa ayah dari Sayekti. Setelah pengakuan itu, Laksmi pergi dengan meninggalkan Sayekti yang masih berusia satu tahun. Alih-alih memberikan Sayekti pada ayah kandungnya, Sukmo merawat dengan penuh kasih sayang, tanpa peduli latar belakang dari kehadirannya. ** Genta terperanjat begitu ibunya mengakhiri dari kisah menyedihkan Ki Sukmo tersebut. “Nama sesungguhnya adalah Genta Sukmo Wijoyo. Dia adalah pendekar dari daerah timur, masih kerabat dengan Sunan Gunung Jati. Sayang, karena lahir dari istri kedua, Sukmo tidak pernah mendapat pengakuan dari siapa pun. Pada hari kau dilahirkan, dia memberikan nama pertamanya padamu. Gen, Ki Sukmo adalah pria yang menjadi ayah kedua untukmu, setelah Cokro Amandaru,” tutur Padmi. Pria itu semakin syok dan gugup. “Ke-kenapa aku nggak pernah dengar mengenai ini, Bu?” Padmi menghela napas kembali dan menunduk. “Kau pernah tenggelam dan koma. Ki Sukmo memang menyelamatkan dirimu, meski sebagian dari memori yang ada, akan hilang. Kau akan melupakan beberapa hal yang kau alami, karena luka di otakmu cukup serius. Beruntung sekali, hingga pendidikanmu selesai, semua berjalan dengan lancar ….” Sementara Padmi menguraikan alasannya Genta melupakan banyak kejadian dalam hidupnya, Janur yang mengawasi dari jauh melihat sosok hitam besar, merayap di atas genteng. Saat ini belum begitu gelap, baru pukul setengah enam dan matahari masih menyisakan semburat merah di ufuk barat. Dengan gerakan cepat, Janur melesat mendekati kedua majikannya. “Awas!!” teriak Janur dengan suara lantang. Baik Genta maupun Padmi terkejut. Baru saja mereka bangkit dari tempat duduk, detik berikutnya atap teras ambrol! Jika Padmi dan Genta tidak diperingatkan oleh Janur untuk segera menyingkir, reruntuhan itu pasti menimpa keduanya. Janur melontarkan gumaman yang sepertinya dalam bahasa sansekerta dan melemparkan sesuatu ke atas. Pekikan yang mirip wanita sedang kesakitan terdengar. Padmi memeluk anaknya dengan erat, sementara Genta gemetar. Ini kali pertama ia mengalami sendiri terror yang sangat mengerikan! Selama beberapa menit, Janur terus merapalkan doa dan mantra untuk mengusir makhluk yang biasa meneror mereka selama ini. Sri meminta pada Padmi dan Genta untuk segera meninggalkan tempat itu, menuju ke dalam. “Tunggu!” tahan Janur. Matanya kemudian menatap Genta dengan tajam. “Sebaiknya Mas Genta segera mengunjungi Ki Sukmo,” saran Janur. Genta tidak begitu saja mengiyakan. “Sepertinya dia membutuhkan pertolongan dari kita,” sambung Janur kembali. “Dari mana kamu tahu?” tanya Genta tidak yakin. Janur menggelengkan kepala. “Susah buat ngejelasin, tapi saya yakin, dia dalam kondisi parah.” Padmi memohon pada anaknya untuk mengikuti saran Janur. Pria itu tidak lagi memiliki pilihan selain mengiyakan. “Kamu ikut aku, Nur!” ajak Genta seraya menyambar kunci motor. Janur buru-buru menyusul dan keduanya segera mengunjungi Ki Sukmo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN