Janji Dalam Sekarat

1179 Kata
Genta memikirkan sepeda motor di depan pintu pagar bambu. Janur menatap ke atas dengan wajah tegang. Rumah di atas bukit itu tampak sepi dan gelap. Cahaya rembulan purnama tidak mampu menerangi suasana sekitar yang sepertinya turut menjadi suram dan mencekam. Firasat Genta mulai memperingatkan dirinya untuk waspada. “Mas, saya jalan di depan,” pinta Janur segera melangkah mendahului Genta. Pria itu mengangguk. Dia sendiri tidak memiliki bekal seperti gadis muda itu. Janur bisa membela dirinya sendiri jika menghadapi kekuatan kasat mata yang manusia awam tidak sanggup. Keduanya menaiki tangga menuju ke atas dengan hati-hati. Satu menit kemudian, mereka sudah di depan rumah Ki Sukmo. Genta menelan ludah dengan hati gundah. Ada aura kegelapan yang sulit dijelaskan oleh Genta, namun dia merasakan dengan jelas. Janur menebarkan pandangan ke sekeliling rumah. Mereka memang tidak memerlukan senter untuk bisa melihat sekitar rumah tersebut. Remang cahaya bulan sudah cukup. “Mas, mulailah berdoa,” ucap Janur sembari melangkah menuju teras. Genta mengikuti. Demi menjaga etika, Janur mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tidak ada jawaban. Janur menoleh ke arah Genta seperti meminta pertimbangan. “Dobrak aja pintunya, Nur. Aku yakin ada sesuatu,” bisik Genta. Suaranya terdengar bergetar. Janur mengangguk dan bersiap. Dalam satu kali tendangan, pintu tersebut rubuh dan menyebabkan suara berdebum. Keduanya mundur beberapa langkah ketika bau yang menguar dari dalam sangat menyengat. Antara bau amis dan pengap bercampur. Janur meraih ponsel dan menyalakan fitur senter. Diikuti Genta, dia masuk dan menerangi seluruh ruang tamu yang gelap. Tidak ada siapa pun. Mereka melesak masuk dan membuka satu persatu kamar. Tidak juga menemukan keberadaan tuan rumah. “Nur, kita sebaiknya ke belakang. Di sana dia mengurung Sayekti,” ucap Genta dengan gugup. Walau ada rasa takut yang hampir membuatnya memutuskan mundur, tapi lelaki itu tidak mungkin mengikuti rasa gentarnya dan kabur. Terror yang dihadapi keluarga sudah melebihi batas kesabarannya. Saran itu diiyakan oleh Janur dan mereka kembali keluar serta menuju ke belakang. Pintu gudang tempat Sayekti terkurung sedikit terkuak. Genta menarik tangan Janur untuk menahannya. “Ki Sukmo!” teriak Genta. Keduanya menajamkan pendengaran. Ada suara erangan lirih yang terdengar dari dalam. Janur bergegas tanpa berpikir panjang lagi. “Nur!” panggil Genta mulai panik atas kenekatan gadis itu. Janur tidak mempedulikan lagi. Matanya mencari-cari asal suara, hingga di belakang tumpukan Jerami ia melihat sepasang kaki tergeletak. Bau menjijikkan tidak ia hiraukan. Janur terus maju dan tersentak ketika melihat Sayekti meringkuk di ujung dengan tangan dan kaki terbelenggu. Sementara Ki Sukmo terkapar di tanah dengan kondisi menggenaskan! “To-tolong bapak. Bawa dia pergi dari sini,” pinta Sayekti dengan suara seperti mencicit. Janur mengangguk buru-buru. Dia berteriak pada Genta untuk segera masuk dan membantunya. Begitu melihat Genta, Sayekti ketakutan. “Ka-kalian harus cepat pergi! Atau dia akan bangkit kembali dan mencoba menahan pengantin lelakinya!” pekik Sayekti dengan suara serak. Genta segera membopong tubuh Ki Sukmo dan sekuat tenaga berlari keluar. Janur yang tadinya melangkah, mendadak berhenti lalu menoleh. “Bagaimana dengan kau?” Sayekti menatap Janur dengan pandangan putus asa. “Aku sudah mati pada hari mas Genta ingkar,” sahut Sayekti terdengar getir. Tubuhnya tampak kotor belepotan. Bajunya compang camping dengan rambut kusut tergerai. Kecantikan Sayekti mulai memudar. Pipi dan matanya cekung karena hampir tidak menelan makanan selama beberapa bulan terakhir. Anehnya, meski tinggal tulang berbalut kulit, dia masih hidup dengan tubuh ringkih dan wajah kehilangan sinar kehidupan. “Bukan kau yang menyebabkan ini semua bukan?” tanya Janur dengan hati pilu. Matanya turut berkaca-kaca. Ia tahu kesedihan dan kepiluan gadis yang seumur dengannya tersebut. Tidak ada kebahagiaan yang sempat ia kecap selama ini. Janur mendengar banyak hal mengenai Janur dari gurunya, Darmo. Tumbuh besar dengan ayah dan dibenci ibunya sendiri. Ki Sukmo bahkan bukan ayah kandung Sayekti, tapi menyayanginya seperti buah hati yang paling berharga. “Tidak ada bedanya. Aku sudah sepakat dengan semua yang mas Genta minta dulu. Akan kutanggung semuanya,” jawab Sayekti dengan lelehan kristal bening yang menuruni tulang pipinya cekung. Janur menahan keharuan yang menyeruak. “Titip bapak. Jangan biarkan dia kembali ke rumah ini,” pinta Sayekti lagi. “Aku akan jaga dia,” janji Janur. Sayekti mengangguk dan akhirnya senyum samar tersungging. “Bisakah kau membentengi rumah ini sebelum pergi? Bentengi sampai sekeliling pagar, hingga tidak akan bisa ditembus olehku.” Tanpa bisa menahan lagi, Janur tersedak oleh air matanya sendiri. “Iya. Aku akan membentengi untukmu,” ujar Janur dengan isak tangis. Sayekti tampak lega. “Pergilah sekarang. Dia mungkin akan bisa menyadari kehadiran mas Genta. Aku akan berusaha menahannya.” Janur merasakan berat ketika hendak melangkah. Ia kembali menoleh pada Sayekti. “Jika ada kesempatan kedua, aku akan menjadi sahabatmu.” Wajah Sayekti tertegun. Dia tidak pernah memiliki sahabat sebelumnya. Semua orang menganggap dirinya seorang anak dukun yang membawa s**l. Para teman sebayanya akan lari ketakutan setiap dirinya mendekat, sementara para orang tua melarang anak-anak mereka bergaul dengan Sayekti. “Ak-aku akan menjadi sahabatmu yang terbaik. Terima kasih, semoga ada kesempatan kedua,” harap Sayekti penuh syukur. Janur melemparkan senyum yang hangat dan bergegas menjauh. Nasibnya mungkin akan berakhir seperti Sayekti jika Darmo tidak menyelamatkan dirinya. Hati janur berdenyut sakit. Seiring ia menuruni tangga air matanya mengalir semakin deras. Ini tidak adil, bahkan untuk seorang anak haram hasil perselingkuhan sekalipun! Sayekti terlahir dengan aib yang melekat karena perbuatan tidak bertanggung jawab Laksmi, ibunya. Gadis itu hanya memiliki Ki Sukmo sebagai satu-satunya manusia yang memeluk dan menjaganya dengan limpahan kasih sayang. Keberadaannya ditolak oleh masyarakat dan hidupnya terasing karena status juga prasangka buruk. Janur berhenti sejenak dan menangis sekuatnya. Betapa kejam manusia memperlakukan manusia lain yang tidak sepadan dengan mereka. Dirinya yang dianggap aneh dengan anugerah indera keenam dan kemampuan telekinesis tinggi, kini akrab disebut dengan anak indigo, juga mengalami hal tidak jauh berbeda. Keluarga besar dan ibunya membuang Janur ke hutan karena takut akan angkara melahirkan anak terkutuk. Darmo memungut dan merawat hingga dia dewasa. Cokro membiayai hidup dan sekolahnya. Sekarang saat dirinya tumbuh besar, yang bisa ia lakukan hanya memaafkan. Tapi keinginan untuk kembali pada keluarganya tidak ada sama sekali. Sama seperti Sayekti, dirinya sudah mati pada hari orang tuanya membuang ke hutan. Beberapa motor dan mobil mendekat ke arah mereka. Rupanya Genta sudah memanggil bantuan dari Drajat pamong. Janur mengusap air mata buru-buru dan melanjutkan langkah kakinya. Begitu melewati pagar, ia memutar tubuh menghadap ke atas. Dengan gerakan seperti sedang menyiapkan diri untuk sebuah pertarungan, Janur pun menyiapkan mantra pelindung. Drajat yang baru saja membantu Genta memapah Ki Sukmo, terkejut. Janur melakukan gerakan seperti jurus kyshu diiringi gumaman yang membuat mereka merinding. “Mantra perlindungan,” gumam Drajat. Genta hanya berdiri dengan sikap rapuh. Dia semakin tidak paham akan semua ini. Dia sempat mendengar kalimat terakhir Sayekti saat menjawab pertanyaan Janur. “Aku sudah mati pada hari mas Genta ingkar.” Atas kesalahannyakah hingga petaka yang beruntun ini terjadi? Dia tidak mengerti kenapa ibunya menyimpan dengan rapat. Mobil meninggalkan tempat tersebut beriringan menuju rumah sakit. Janur ditemani oleh Genta dan Drajat, masih menyelesaikan tugasnya. Butuh sekitar setengah lebih untuk membuat perlindungan berlapis. Janur benar-benar harus berhati-hati kali ini. Ia tidak akan mengingkari janjinya, atau semua penduduk desa akan mati!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN