Janur duduk di lorong rumah sakit dengan tubuh masih menggigil. Bukan karena takut atau gentar, melainkan masih membayangkan kondisi Sayekti.
Betapa gadis itu sangat tersiksa, mengalami sesuatu yang sangat mengerikan dalam hidupnya, yang masih belia. Janur menganggap dirinya selama ini sudah cukup mengalami nasib yang malang. Tapi Sayekti?
Bukan hanya kemalangan saja, namun siksaan batin dan raga yang sulit dibayangkan harus dia lalui. Bagaimana dia menghadapi dan masih terus bertahan, serta lebih memikirkan orang lain dibandingkan menyelamatkan dirinya sendiri?
Bisakah dia menjadi Sayekti yang memberikan jiwa juga tubuhnya demi seseorang yang dicintai?
Janur menutup mulutnya dan menangis tergugu.
Genta menatap Janur dari kejauhan dan sudah menduga ada sesuatu yang terjadi di dalam gudang tersebut. Janur tampak penuh penyesalan dan terpukul, namun Genta tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
Baru saja dokter itu hendak berbalik, tubuhnya seketika membeku. Pria tua dengan penampilan bersahaja muncul dari belokan. Melangkah dengan kaki menapaki tegap.
Wajahnya tampak berduka.
Darmo!
Guru mengajinya mengangguk samar saat melewatinya, tanpa kata-kata. Pandangan Genta mengikuti gerakan Darmo dengan wajah terpana.
Pria tua itu menyentuh pundak Janur dan gadis itu mengangkat mukanya. Secara refleks, Janur bangkit dan menghambur ke pelukan gurunya. Isak tangisnya memenuhi lorong yang sepi. Darmo kemudian mengatakan untuk mengantar dirinya menuju kamar Ki Sukmo.
Keduanya berjalan masuk ke dalam kamar di depan.
Langkah Darmo menjadi tersendat, tertatih menatap tubuh yang terbaring dengan tidak berdaya. Beberapa perban membebat bagian tubuh Ki Sukmo. Entah berapa banyak luka, tapi kondisi Ki Sukmo sangat menggenaskan. Hingga membutuhkan tambahan cairan merah yang kini tersambung melalui selang di pergelangannya.
Tangan yang sudah berkeriput itu menyentuh lengan Ki Sukmo dengan hati-hati. Mata Darmo berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Ada emosi yang mengelegak dalam jiwanya.
Sahabat, rekan, teman sejak mereka muda, mengalami siksaan berat yang hampir menghilangkan nyawa.
“Ojo ninggalke aku, Sukmo (Jangan tinggalkan aku, Sukmo),” bisik Darmo dengan lirih.
Sahabatnya bungkam dalam diam, mata itu masih terpejam. Darmo menutup kelopak mata dan butiran bening mengalir satu persatu.
Bibirnya mengumamkan kalimat-kalimat doa yang bisa membantu Ki Sukmo menghadapi kegelapan yang menelannya. Tangan Darmo bergetar, menyalurkan tenaga dalam ke dalam tubuh Ki Sukmo.
“Mbah Guru, saya sudah coba. Tapi dia seperti menolak,” ucap Janur dengan pelan dari belakang.
Pria tua itu tidak menggubris. Dia terus merapalkan mantra juga ilmu putihnya untuk memulihkan jiwa Ki Sukmo.
Entah berapa lama, tapi kini Darmo mulai limbung dan goyah. Janur buru-buru menghampiri gurunya dan menyangga tubuh tua itu.
Genta bergegas membantu.
Darmo terengah dan tampak lelah sekali. Genta menarik kursi dan menuntun Darmo duduk. Dengan perlahan, ia mengatus helaan napas dan sesekali memejamkan mata.
“Bagaimana dengan Sayekti?” tanya Darmo pada kedua muridnya.
Meski Genta hanya sekedar murid mengaji, tapi Darmo juga pernah mengajarkan tenaga dalam yang mungkin Genta masih ingat.
“Kulo sampun mageri griya, Mbah (Saya sudah membentengi rumah, Mbah).” Janur menunduk dalam-dalam.
Darmo mengangguk dan napasnya mulai teratur kembali.
“Berapa lama dia ada di sana?” tanya Darmo kembali.
Baik Janur maupun Genta menggelengkan kepala pelan. Akhirnya pria itu berdiri.
“Aku akan nengokin Sayekti dulu. Kamu jangan tinggalin Ki Sukmo, Nur.” Pesan itu meluncur dan Janur mengiyakan dengan patuh.
“Mbah,” panggil Genta ragu.
Darmo berhenti dan urung melangkah.
“Siapa sebenarnya yang jadi sumber petaka ini, Mbah? Kalo bukan Ki Sukmo, Sayekti juga jadi korban, lalu siapa akar dari bencana keluarga saya? Kenapa ibu menceritakan semua masa lalu Ki Sukmo tapi nggak ngasih tahu perjanjian, yang saya sendiri nggak ingat apalagi paham?!”
Darmo mengepalkan tangan dan masih tidak berpaling pada dokter tersebut.
“Mungkin belum waktunya Padmi buat buka semua ke kamu. Itu hak ibumu, Ngger. Tugasku hanya melindungi Ki Sukmo dan Sayekti yang menjadi korban dari rahasia keluarga Amandaru.”
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Darmo bergegas pergi. Genta terhuyung ke belakang dengan wajah pucat.
‘Korban dari rahasia keluargaku?!’ pekik Genta dengan terperanjat.
Janur menelan ludah dan juga tidak menyangka jika ini adalah maksud dari tugas yang gurunya minta untuk ia lakukan.
Dirinya tinggal bersama keluarga Amandaru bukan untuk melindungi mere dari serangan dari luar, melainkan menahan mereka untuk menyakiti manusia di sekitarnya!
Setelah menguasai diri, Genta mengejar Darmo keluar. Pria itu menyusuri lorong demi lorong hingga ke parkiran, tapi sosok Darmo sudah lenyap!
Dengan napas tersengal, Genta menyandarkan tubuh di tembok, dekat pintu masuk UGD.
Hatinya berdenyut sakit, sementara jantungnya berdetak kencang.
Benarkah sumber petaka ini adalah keluarganya? Tapi kenapa? Siapa?
**
Sepeninggal Genta, Janur mengamati Ki Sukmo yang bernapas tenang dan tampak stabil saat ini. Kaki dan tangannya kotor dan mungkin belum sempat dibersihkan oleh para perawat.
Dengan ikhlas dan tulus, Janur meraih syal yang melingkar di lehernya dan membasahi serta membawa gayung dari kamar mandi.
Sedikit demi sedikit, gadis tersebut membersihkan kaki serta tangan Ki Sukmo. Berulang kali ia bolak balik kamar mandi mengganti air, hingga kaki dan tangan Ki Sukmo menjadi bersih kembali.
Janur menatap wajah tua yang mungkin hampir seumuran dengan Darmo dan mendiang Cokro. Hatinya sangat iba, karena kehidupan tua pria itu harus menanggung beban berat.
Mendadak tangan Ki Sukmo bergerak.
Janur buru-buru mengalihkan pada mesin deteksi jantung dan tampaknya tidak ada masalah. Ki Sukmo membuka mata perlahan.
“Darmo …,” ucapnya hampir tidak terdengar.
Janur dengan cekatan menyalurkan tenaga dalamnya dan tersenyum lega.
“Mbah Guru baru saja pergi, Ki.”
Ki Sukmo melirik dan menatap Janur yang masih mencoba menyalurkan tenaga dalam padanya. Pria itu menarik tangan dan memberi isyarat jika tidak usah melanjutkan.
“Tapi, Ki,” tukas Janur heran.
“Sudah terlambat.” Suara itu terdengar putus asa dan kering. Mata Ki Sukmo juga kehilangan cahaya kehidupan. Janur sudah bisa mengetahui ciri-ciri orang yang akan mangkat atau meninggal.
“Ki, jangan ngendikan begitu (jangan bicara begitu),” pinta Janur dengan gemetar.
Pria itu menelan ludah dengan susah payah. “Darmo mangkir …. (Darmo ingkar)” Ucapnya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca.
“Mbah Guru nggak mangkir. Dia lagi nengok Sayekti, Ki,” jelas Janur dengan sabar.
Mata Ki Sukmo terpejam dan napasnya makin tersendat.
“Mangkir seko mbiyen. Saiki wes telat sak kabehane.” (Sudah ingkar sejak dulu. Sekarang telat untuk semuanya).
Janur tertegun dan tidak menyangka jika itu kalimat terakhir yang Ki Sukmo lontarkan padanya!
Mesin jantung mengeluarkan suara bip panjang dan Janur kini panik. Perlahan kelopak mata Ki Sukmo menutup.
“ Laa Ilaha Illallah.”
Beberapa suster yang menerima bel panggilan dari Janur segera masuk dan memeriksa kondisi Ki Sukmo. Gadis itu mundur dan melepaskan tangisan yang penuh ratapan pilu.
Ki Sukmo meregang nyawa dalam sesal dan duka.