Gugatan Janur

1079 Kata
Tidak ada sanak keluarga yang hadir dalam pemakaman Ki Sukmo. Hanya Janur dan Genta bersama beberapa anggota kepolisian dan pamong desa. Bahkan Darmo juga tidak tampak sedikit pun. Tanah merah itu tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam. Hati Janur seakan tercabik oleh kenyataan yang membuatnya semakin merasa tersudut. Betapa kepercayaannya pada Darmo, guru besarnya, mulai pupus. Dia tidak menyangka jika Darmo ingkar dan bersikap seperti tidak peduli sedikit pun. Inikah balasan dari persahabatan yang telah mereka jalin sekian lama? Dari sisi pandang Janur, Ki Sukmo justru menjadi korban dan menerima semua resiko yang mungkin penyebabnya adalah salah satu dari mereka bertiga, Cokro, Darmo dan Ki Sukmo sendiri. Kenyataannya, hanya Ki Sukmo saja yang bertahan menghadapi tuduhan dan cacian warga desa yang dulu pernah mengandalkan dirinya. Kepolisian mencoba memeriksa rumah Ki Sukmo, namun atas permintaan Janur dan Genta, yang didukung oleh para pamong desa, mereka memahami sekali akan bahaya dan urung melakukan hal tersebut. Meski di luar nalar, Kenyataannya anggota mereka sudah ada dua orang yang menjadi korban. Komandan polisi tidak ingin mengambil resiko berikutnya. Satu persatu orang berpamitan dan meninggalkan Genta bersama Janur juga Sulis, ketua RT. Genta mengajak Janur untuk pulang karena hari beranjak gelap. Dengan berat hati, Janur mengikuti langkah mereka. ** Padmi menyambut mereka dengan wajah pucat. Tidak biasanya wanita itu tampil tanpa riasan dan dengan rambut tidak tergelung rapi. Janur buru-buru ke dapur, seperti menghindari percakapan yang sungguh tidak ia inginkan. Hanya Genta saja yang meladeni pertanyaan ibunya dengan kalimat singkat. Trining segera menghampiri Janur dan menanyakan beberapa hal, akan tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepala pelan. Melihat wajah Janur yang sembab dan kusam, Trining memahami dan mundur tanpa banyak kata. “Aku pergi buat jaga Pram. Kalian jangan lupa kasih tau Pardi untuk ambil kopi yang sudah kering,” pesan Trining sebelum berangkat dengan Totok. Baik Janur maupun Sri hanya mengangguk. Sri meminta Janur untuk istirahat saja, dan tanpa membantah, Janur menurut. Semua tampak berbeda bagi Janur. Anggapannya selama ini runtuh begitu saja. Akan tetapi, tidak banyak yang bisa ia lakukan. ** Sementara itu, Padmi cukup kaget sewaktu Genta memberitahu dirinya jika Darmo datang berkunjung di rumah sakit, sebelum Ki Sukmo mengembuskan napas terakhir. “Dia kayak nggak peduli sama semua, termasuk aku, Bu.” “Mbah Darmo? Dia ndak peduli? Apa maksudnya? Ibu pikir dia ….” “Selalu melindungi kita? Itu semua bohong!” bantah Genta terdengar sinis. “Bulek Trining terluka, Dayu dan Ibu diteror, bahkan semenjak Paklek jadi gila! Dia kemana? Pernah mbah Darmo bantu kita?!” teriak Genta seperti kalap. “Genta … jangan teriak begitu. Kamu sabar dulu,” balas Padmi gugup. Putranya menepiskan tangan Padmi dengan dengusan kasar. “Aku udah cukup sabar, Bu! Selama ini diam seperti orang bodoh! Nggak ada tindakan apa pun karena Ibu selalu memintaku untuk tidak ikut campur! Aku bahkan nggak bisa melindungi istri dan anakku sendiri, sampai mereka harus pergi! Jawab, Bu! Sampai kapan rahasia itu bakal Ibu pendam sendiri?!” Padmi duduk dengan bahu terkulai dan mata berkaca-kaca. Bukan karena Genta mengamuk. Tapi jiwanya juga terbebani oleh sebuah rahasia yang tidak bisa ia pendam lebih lama lagi. “Ibu mau menguak rahasia? Kenapa mengulur waktu? Menceritakan kisah Ki Sukmo yang nggak ada kaitannya sama kita?! Dia mati demi rahasia yang jelas berasal dari keluarga ini!” Genta menatap ibunya dengan amarah mengelegak. Padmi membisu dan semakin tidak yakin ini waktu tepat mengungkapkan. Emosi Genta tidak stabil, wanita itu khawatir anaknya gelap mata dan berbuat di luar nalar juga logika. Melihat ibunya yang bungkam dan hanya menangis, Genta bangkit berdiri. “Simpan semua cerita dan silahkan bunuh semua yang bisa dijadikan tumbal! Ibu tidak pernah melihat orang lain sebagai hal yang penting untuk diselamatkan!” desis Genta penuh kesinisan. Padmi tergugu dan pasrah. Dengan langkah kesal, anaknya menyambar kunci mobil dan berlalu. Hingga dini hari, ia tidak kembali. ** Pagi itu Janur baru selesai menyapu halaman, Padmi terlihat keluar dengan baju rapi dan tas jinjing. Totok sudah bersiap di mobil untuk mengantar majikannya. Begitu melihat Janur, Padmi urung melangkah dan melambaikan tangan pada gadis tersebut. Tampak dengan enggan, Janur mendekat. “Kamu kemarin bicara apa aja dengan Ki Sukmo? Benar mbah Darmo datang berkunjung?” tanya majikannya dengan nada suara yang tegas. Semalam Janur tidak keluar sedikit pun, mungkin Padmi sudah menyimpan pertanyaan ini untuknya. “Leres, Bu.” (Benar, Bu) Janur menjawab dengan sikap dingin. Padmi tidak menyukai sikap Janur yang tidak memandang padanya. “Kamu kalo diajak bicara yang sopan, Nur! Pandang mata orang yang sedang ngomong!” Dengan wajah mengeras, Janur mengangkat wajahnya. Matanya tampak berkilat penuh amarah. “Saya mungkin nggak sopan, tapi bukan pribadi yang mengutamakan kepentingan sendiri di atas orang lain, Bu Padmi!” Wanita yang menjadi majikannya terhenyak. “Lancang kamu berani bicara begitu, Nur? Merasa diri hebat? Karena murid dari mbah Darmo?!” Padmi menguasai diri dan melemparkan kalimat penuh intimidasi pada gadis tersebut. Janur meletakkan sapu di tembok dan menatap Padmi dengan tatapan mata yang lebih tajam. “Saya tidak memiliki kewajiban apa pun. Jadi kapan saja saya bisa pergi. Urusan kalian, bukan lagi tanggung jawab saya!” “Kamu ndak tahu yang sebenarnya! Jangan menilai dari sudut pandang yang sempit! Darmo berhutang budi pada Cokro, suamiku! Itu berarti tugasmu adalah melindungi kami, demi membayar semuanya!” teriak Padmi mulai kehilangan kendali. Janur berhenti melangkah dan menoleh perlahan. Sri tergopoh-gopoh keluar dan melihat bahwa di halaman depan, Janur sedang menghadapi Padmi yang meledak dalam kemarahan. “Tugas saya menjaga kalian, dari menyakiti manusia yang ada di sekitar keluarga ini! Itu yang akan saya lakukan, Bu! Keselamatan kalian, bukan lagi prioritas saya!” Sri membuka mulut dengan ekspresi tidak percaya. Janur tampak begitu berani menentang Padmi. Apa yang terjadi sebenarnya, hingga detik itu Sri masih belum paham. Tidak lama, Janur keluar dengan menenteng tas ransel. Setelah mengangguk dengan mata sendu pada Sri, Janur melewati Padmi yang masih tegak berdiri dengan tubuh membeku. Satu persatu meninggalkan dirinya. Tidak ada lagi tempat bagi Padmi bergantung dan berharap. Sungguh sebuah ketidak beruntungan yang beruntun. Padmi mendadak merasa lemah dan goyah. Dengan setengah tertatih, ia duduk di kursi teras, lalu tergugu dalam tangis dan sedu sedan. Tidak akan ada yang mengerti penderitaannya sebagai wanita juga seorang ibu. Kehilangan Binar dan Lunar, kedua putri kembarnya, saja masih menyisakan kesedihan yang begitu mendalam. Kini Genta mulai terlihat menentang dan Janur tidak lagi ada untuk membela dirinya. Ke mana dirinya akan berlari dari semua ini? ‘Mati mungkin jalan yang paling tepat bagi mengakhiri segalanya,’ demikian pikir Padmi dengan hati pilu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN