Pembelaan Genta

1026 Kata
Kepergian Janur begitu disesali oleh Genta. Dia tidak menanyakan pada ibunya, karena sudah tahu jawaban yang akan Padmi berikan. Sri dan Trining termenung berdua di dapur, sementara Pram masih ada di rumah sakit. Kondisi adik Trining masih belum juga membaik. Dokter sempat menganjurkan untuk ikhlas melepaskan Pram tanpa bantuan alat medis, yang sekarang membantu pria itu bertahan untuk tetap bernapas dan jantung berdetak. Namun siapa yang sanggup membuat keputusan tersebut? Dengan wajah kusut dan muram, Genta mengunjungi rumah Drajat. Dia tahu jika Janur pasti pergi ke rumah tersebut. Padmi sendiri sudah sejak kemarin meninggalkan rumah joglo dan Totok kembali malam hari tanpa keterangan mengenai tujuan dari Padmi pergi. Supir itu hanya mengantar Padmi ke bandara dan selanjutnya majikannya meminta dia kembali. Rumah Drajat tampak sepi. Namun melihat mobil dan motor yang terparkir di halaman, membuat Genta berpikir jika mereka pasti semua ada di rumah tersebut. Ketukan di pintu cukup lama tidak terdengar jawaban dari dalam. Genta kembali mengetuk untuk ke sekian kali. Terdengar langkah kaki yang diseret dan tidak lama Drajat muncul dengan kaos dan sarung saja. Wajahnya tampak mengantuk. “Lho? Genta? Kamu nggak ke rumah sakit?” tanya Drajat agak kaget. Genta menggelengkan kepala dan Drajat segera mempersilahkan untuk sahabatnya duduk di teras. “Janur mana, Jat?” tanya Genta. Drajat menggaruk kepalanya dan serba salah. Ia masih mengingat pesan istrinya, Yani, untuk tidak mengatakan apa pun pada Genta. Tapi posisi Drajat sebagai sahabatnya, tidak mungkin melakukan itu. “Yani melarangku, Gen. Janur nggak seharusnya mendapat perlakuan buruk di keluargamu.” “Janur cerita apa, Jat?” “Ya nggak cerita apa-apa. Itu bocah kan dari awal memang sudah niat banget mau nolong. Dilarang sama kita juga alasannya demi membalas budi sama Pak Cokro. Ya sekarang kalo ada hal yang membuat Janur kecewa, aku udah paham banget. Pasti semua karena ibumu. Benar tho?” Genta terdiam. Tidak lama ia menghela napas. “Aku pengen ngomong dan menjelaskan sama Janur, Jat.” Drajat tampak ragu. Dia tampak gelisah dan gugup. “Tolongin aku sekali ini. Aku nggak berharap Janur maafin Ibuku. Tapi ada bulek Trining dan paklek Pram yang masih butuh dia. Keselamatan aku dan ibu, biar Tuhan yang ngatur.” Kepasrahan yang Genta tunjukkan, benar-benar membuat Drajat iba. “Tunggu sebentar.” Sahabatnya kemudian berdiri dan masuk ke dalam. Tidak lama, ia keluar bersama Janur dan Yani. Istri Drajat menunjukkan sikap yang kurang menyukai kehadiran Genta, tapi pria itu tidak peduli. Baginya yang terpenting adalah meminta maaf pada Janur yang telah membantunya selama ini, bahkan menyelamatkan nyawanya dan Padmi tempo hari. Janur menyapa dengan anggukan pada Genta dan pria itu tersenyum lembut. “Kamu kenapa pergi nggak pamitan dan ngomong sama aku, Nur? Maafkan Ibuku. Dia kadang lepas kendali. Tapi kita semua paham kalo ibu menanggung semua sendiri. Mungkin dia pengen sekali terus terang, tapi aku pikir ada pertimbangan yang lain.” “Satu-satunya pertimbangan adalah dia hanya mempedulikan dirimu, Mas. Bulek, paklek dan bahkan mbak Dayu beserta cucunya bukan prioritas utama.” “Nur, jangan buat kesimpulan konyol. Anakku adalah cucu pertama yang akan jadi kebanggaan ibuku! Apakah kalian sendiri akan bersikap seperti tetangga lainnya? Menuduh keluargaku pembawa s**l dan semua karena ibu?” Drajat mengalihkan wajahnya dengan sungkan, sementara Yani mencibir. “Mas, di antara mereka semua, yang masih mandang keluargamu hanya kami. Jangan anggap kalo kesan itu yang selama ini bercokol di pikiran kami, ya!” sambar Yani dengan sinis. “Aku tahu itu, Yan! Makanya aku minta dukungan kalian! Janur masih kami butuhkan karena keselamatan keluargaku hanya dia yang bisa menjamin selama ini.” Janur menghela napas dan akhirnya mengangkat wajahnya yang selama ini tertunduk. “Aku udah menghubungi mbak Dayu, Mas. Besok sore aku berangkat ke sana. Janjiku akan satu saja. Keselamatan mbak Dayu dan jabang bayi, akan jadi tanggung jawabku. Sisanya, aku cuci tangan.” Genta terhenyak dan tidak menyangka jika Janur sudah bicara dengan Dayu. “Apa tanggapan Dayu, Nur? Apakah dia juga kamu ceritakan tentang perlakuannya ibu sama kamu?” tanya Genta dengan getir. Dia tidak ingin istrinya kembali bersitegang dengan ibu kandungnya. “Itulah yang aku kagumi dari mbak Dayu. Sementara aku menceritakan tentang hal secara garis besar, dia yang memintaku untuk terus memaafkan bu Padmi, yang menurutnya belum mendapatkan hidayah dari Allah. Aku udah pikir masak-masak, mungkin Mas Genta benar, ada alasan yang membuat bu Padmi bersikap keras, menutup rapat-rapat semua ini.” Genta tampak lunglai dan hatinya merindukan Dayu dengan amat sangat. Betapa semua kacau dalam sekejap! “Aku pernah koma dan mati suri, menurut ibu. Apakah itu yang membuat ingatanku sebagian hilang, Jat? Apakah menurutmu itu masuk akal?” tanya Genta beralih topik. Drajat dan Yani saling berpandangan dengan sikap ganjil. “Aku cuman dokter umum, Gen. Neurologi bukan keahlianku. Sebaiknya kamu menemui dokter Bram untuk konsultasi dan meminta rekomendasi yang lebih baik.” Saran itu terdengar sangat klise dan tidak membantu Genta dalam mendapatkan jawaban atas teka teki ingatannya yang hilang. Suasana hening sesaat dan Genta akhirnya pamit pulang. Yani menatap pria yang dulu begitu gagah dan menjadi rebutan teman sebaya mereka. Betapa Genta yang dulu menjadi lelaki paling digandrungi, kini terlihat kuyu dan tidak berdaya. Keluarga Amandaru yang sangat dihormati, sekarang menjadi ketakutan warga untuk berada dekat dengan mereka. “Menurutmu dia sama sekali nggak ingat apa pun?” tanya Yani pada Drajat. Suaminya menggelengkan kepala ragu. “Nggak tahu aku, Yan.” “Dia sedang dalam penyangkalan. Memori bisa saja muncul kembali, tapi mungkin mas Genta takut akan kenyataan,” timpal Janur setengah bergumam. “Kasihan mereka. Terjebak dalam perangkap yang mustahil berakhir, kalo salah satu nggak menyadari itu.” Janur terdengar cukup simpati pada Genta. ‘Udahlah, mereka sedang dalam pencobaan yang berat. Bisa saja itu menimpa kita,” sergah Drajat tidak ingin terlalu berlarut membahas mengenai keluarga sahabatnya. “Aku akan nengok Sayekti sore nanti, Mas Drajat mau nemenin aku?” tanya Janur. Kakak sepupunya mengangguk. “Jangan lewat dari batas perlindungan, Nur. Kalian belum cukup sakti buat ngadepin iblis itu!” seru Yani dengan wajah jengkel. Janur mengiyakan dan Yani tampak sedikit lega. Hari ini banyak hal yang semakin menimbulkan pertanyaan bertumpuk dalam benak Genta. Semua seperti sudah paham betul akan kemelut keluarganya, kecuali dirinya sendiri!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN