Setelah makan malam, Trining menemui Sri di dapur dan menanyakan mengenai kepergian Janur yang tanpa pamit. Merasa tidak nyaman untuk menceritakan kejadian sesungguhnya, Sri hanya mengatakan jika Janur melawan Padmi tadi pagi.
Trining tampak tertegun dan menyandarkan tubuhnya di tembok.
“Kamu tahu Janur ada di mana, Sri?” ucap Trining sementara pandangannya menatap luruh ke depan.
“Nggak tahu, Bulek. Coba saja di rumah Drajat. Mungkin ada di sana,” sahut Sri yang memang tidak mengetahui keberadaan Janur.
Seharian ini ia sibuk mengerjakan berbagai hal karena kini hanya dirinya saja yang bekerja di rumah joglo. Wanita yang masih memiliki bekas luka samar di leher dan tangannya itu mendesah gelisah. Baju kebaya modern yang dikenakan tampak menunjukkan bahwa Trining sebetulnya bersiap untuk mandi setelah seharian menjaga Pram di rumah sakit.
“Mandi dulu, Bu. Nanti sakit kalo terlalu malam. Saya siapkan air panas, ya?” tawar Sri.
Trining mengangguk lemah dan segera berlalu dengan langkah gontai.
**
Genta membuka mata dan baru menyadari jika dirinya ada di ruang istirahat rumah sakit. Ada catatan kecil dari perawat untuk jadwal berikutnya untuk menggantikan dokter yang izin malam itu.
Setelah mencuci muka, Genta memeriksa kamar Pram dan memastikan pamannya dalam keadaan baik dan stabil.
Tawaran dan saran dari beberapa dokter mengatakan pada Genta untuk merelakan Pram. Mereka juga sudah menyampaikan mengenai pendapat tersebut pada Padmi dan Trining. Tapi keluarganya belum memutuskan apa yang terbaik saat ini.
Genta keluar dari kamar Pram dan bertemu dengan perawat jaga yang meminta tanda tangannya untuk memberikan obat dosis berikutnya pada Pram. Dengan hati mencelos, Genta menggoreskan pena, memberi persetujuan.
Betapa melelahkan berada dalam teka teki yang keluarganya ciptakan. Pria itu tidak memahami apa maksud dari semua ini. Untuk apa ibunya menguak kisah Ki Sukmo jika tidak ada kelanjutan dan kini pria tua malang itu sudah meninggal?
Namanya diwariskan oleh ayah Sayekti, apakah itu berarti dirinya adalah anak angkat Ki Sukmo?
‘Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjukmu. Siapa penyebab petaka ini? Aku harus memulai dari mana?’ keluh Genta dengan lesu.
Panggilan bernada panik terdengar dari pintu ruang UGD. Genta melambaikan tangan untuk menanggapi dan segera fokus kembali pada pekerjaannya.
Semoga dia tidak perlu mengingat hal buruk malam ini. Itu adalah harapan Genta setiap melarikan diri dari rumah dan menyibukkan dengan pekerjaan.
**
Trining mengeringkan rambutnya yang panjang dengan handuk. Udara tampak dingin mencekam dan mandi malam-malam sempat ia sesali. Dengan buru-buru, Trining masuk ke dalam selimut dalam kondisi rambutnya masih setengah basah.
Angin dari sela-sela kisi jendela bertiup dan Trining merapatkan selimut tebal hingga batas leher. Entah kenapa udara seakan membeku seperti ada salju di luar sana.
Sekuat hati wanita itu mencoba menutup mata, tapi rasa kantuk tidak kunjung membuatnya lelap. Sesekali ia membalikkan badan dan mencari posisi enak supaya cepat tidur.
Rupanya usaha Trining tidak berhasil. Dengan kesal, ia menyalakan lampu di atas nakas dengan hati menggerutu.
Begitu lampu menyala, Trining tersentak dan memekik kecil. Pram duduk di kursi riasnya dengan wajah pucat!
Baju yang ia kenakan adalah baju pasien dan Trining tidak pernah tahu, kapan adiknya masuk ke kamar ini!
Bulu kuduknya merinding seketika. Mulutnya seakan terkunci dan suaranya hilang. Selama beberapa detik, Trining kehilangan kemampuan berbicara.
Tangannya teracung ke arah Pram tanpa terlontar satu kata pun.
“Aku capek,” ucap Pram dengan lirih.
Suara adiknya antara ada dan tiada. Saat itu juga Trining menyadari, jika saat ini bukan Pram dalam bentuk raga yang datang mengunjunginya.
“P-P-Pram …. Ada apa, Dek?” tanya Trining dengan gemetar dan susah payah.
“Mbak, awakku kesel (badanku capek),” sahut Pram setengah berbisik dan ekspresi wajahnya tampak sedih juga lelah.
Meski dia adalah sukma adiknya, Trining tidak memiliki keberanian mendekat.
“Ke-kembalilah pppada ra-ragamu, Pram. Be-besok kita ketemu la-lagi, yyya?” bujuk Trining dengan gugup dan tergagap.
Pram mengangguk lemah dan begitu Trining mengerjapkan mata, sosok itu lenyap.
Dengan wajah terpana, wanita yang mendekati setengah baya itu mengumamkan ayat-ayat suci. Air matanya kemudian bergulir satu persatu.
Kepedihan ini terlalu menyakitkan jiwanya.
**
“Mbak, ini sudah lebih dari cukup,” ucap Trining pagi itu ketika bertemu kakak iparnya di meja makan.
Padmi yang sudah bersiap pergi ke rumah sakit mengangkat wajahnya.
“Cukup apanya, Tri? Apa kamu mau mutusin kalo Pram udah ndak perlu lagi disambung nyawanya? Begitu?!” tanya Padmi dengan tajam, seperti bisa menebak semua isi pikiran adik iparnya.
“Bukan cuman itu! Sebaiknya semua yang Mbak Padmi simpan, ungkapkan dan beritahu Genta!” sahut Trining kali ini dengan tegas.
Padmi mengerutkan kening dan mulai memberikan pandangan menyelidik.
“Tri, ada apa sama kamu? Kok ngomongmu ngawur dan kayak ndak mikir?” cetus Padmi dengan sedikit ketus.
Trining kembali mendengus kasar. “Sukma Pram datang tadi malam, Mbak! Dia bilang capek! Pram udah nggak mau berjuang karena ini bukan lagi pertempuran yang dia bisa hadapi lebih lama!”
Padmi terhenyak. Tidak menduga jika adik ipar yang selama ini selalu menurut dan patuh, kini meledak dalam emosi dan kemarahan yang membludak.
“Tri … kamu, kamu ngomong apa? Aku ndak ngerti,” tanya Padmi mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih jelas.
“Katakan semua sama Genta tentang rahasia yang kita simpan selama bertahun-tahun, Mbak. Pram layak mati dengan tenang dan begitu juga arwah keluarga yang sudah mendahului kita!” teriak Trining seperti kalap, disertai air mata yang berlinang.
Sri yang mendengar ada teriakan, segera bergegas menuju ke arah meja makan. Melihat Trining yang seperti kehilangan kendali, membuat Sri waspada.
“Bu, istigfar ….” Sri berusaha menenangkan Trining yang mulai melolong dalam tangisan pilu.
“Aku udah berusaha mengalah dan bungkam. Tapi ini melampaui batas kemampuanku! Bebaskan aku dan Pram dari belenggu ini, Mbak Padmiiii …!” jerit Trining dengan tangis histeris.
Padmi tergugu dan hanya menatap adiknya dengan mata sayu.
Sri memanggil Totok yang segera menuntun Trining untuk menjauh dari meja makan. Sri menyodorkan segelas teh hangat untuk Padmi yang sepertinya tertekan dengan tuntutan Trining tadi.
“Bukan salahku, Sri. Ini bukan hidup yang aku inginkan,” isak Padmi dengan bahu terguncang. Sri mengelus pundak majikannya dengan kalimat yang menuntun supaya terus bersabar.
Ratapan Trining membuat Padmi benar-benar tersudut.