Kemelut Dayu

1085 Kata
Kedatangan Janur memang sudah Dayu ketahui sebelumnya. Namun ketika mendengar semua cerita mengenai sikap Padmi yang Janur tuturkan, Dayu mulai tidak meyakini jika semua itu adalah benar. Namun kesungguhan gadis muda yang tampak mengatakan semua dengan jujur, Dayu tidak lagi menemukan alasan tepat untuk menuduhnya berbohong atau merekayasa. Terutama saat Janur menguraikan mengenai kondisi Sayekti pada hari ia menyelamatkan Ki Sukmo yang akhirnya harus mengembuskan napas dalam siksa sesal, kebencian Dayu mulai terkikis. Sepertinya wanita yang seharusnya menjadi jodoh Genta, bukanlah perempuan yang patut disalahkan selama ini. “Sayekti, gadis yang malang,” gumam Binari, nenek Dayu dengan wajah prihatin. Dayu masih terdiam dan belum memberikan tanggapan apa pun mengenai semua ucapan Janur. Bagaimanapun juga, yang mereka sedang bicarakan ada kaitan dengan pihak mertuanya. Tidak mungkin Dayu membuka mulut sembarang. Jauh di lubuk hatinya, ada teriakan dari nurani yang membenarkan semua kalimat Janur. “Aku masih nggak percaya, ibu sampe begitu tega ngucapin semuanya sama kamu, Nur,” ujar Dayu dengan mata menerawang. "Dan Sayekti, diakah korban dari semua ini? Tapi kenapa mbah Darmo diam?" Janur menghela napas dan menyandarkan tubuh dengan wajah lelah. "Nggak tahu, Mbak. Itu jawaban yang akan kutuntut dari guruku sendiri nanti." Nada suara Janur terdengar sangat kecewa. “Mereka bukan keluarga yang aku dengar dulu. Ada yang berubah dan itu bukan karena bu Padmi atau salah satu dari mereka adalah buruk. Ini semua akibat dari sesuatu yang aku sendiri belum tahu penyebabnya, Mbak Dayu.” “Akibat apa? Apakah bapak mertuaku menyimpan rahasia yang akhirnya harus tersimpan dan ibu tutupin? Tapi untuk apa?” Dayu benar-benar tidak habis pikir. Tidak ada alasan yang kuat dan bahkan dirinya tidak sedikit pun menemukan pentingnya menyimpan rahasia tersebut. Keluarga diteror tidak berkesudahan. Kenapa mereka memilih dan menyanggupi kehidupan seperti ini? “Mbak Dayu tahu penyebab kematian Lunar dan Binar?” tanya Janur. Dayu menggelengkan kepala. “Genta hanya mengatakan jika kakak kembarnya menderita kelainan kulit, seperti kanker. Itu yang membuat mereka melemah. Tapi kebenaran dari kisah mereka, aku mulai menyangsikan,” sahut Dayu dengan sikap rapuh. Mata Janur mengerjap, kemudian menunduk. “Bukan itu cerita yang sebenarnya, kan?” Binari langsung mengambil kesimpulan atas sikap Janur tersebut. “Setelah dengar dari beberapa orang, termasuk keterangan dari budhe Asmi, sepertinya kematian mereka bukan karena kanker,” ungkap Janur dengan terbata-bata. “Budhe Asmi siapa, Nur?” tanya Janur. “Ibunya paklek Sigit dan dokter Arum, Mbak. Dia itu kan gurunya Lunar sama Binar,” jawab Janur dengan cepat. “Ap-apa yang mereka katakan mengenai alasan kematian kakak iparku?” Hati Dayu berdebar kencang, tidak ingin mendengar jawaban yang tidak ia harapkan. Binari mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha mendengarkan dengan seksama. “Menurut semua saksi, Binar dan Lunar sering sakit semenjak mas Genta kecelakaan, tenggelam di sendang. Ki Sukmo berusaha menyembuhkan, meski dia tetap menjalani perawatan di rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, mas Genta jadi sering kesurupan dan makin parah seiring waktu. Terakhir dia bahkan menghilang berhari-hari hingga Ki Sukmo berhasil menemukan suami Mbak Dayu sedang di daerah pinggiran sendang.” Janur mengambil jeda sejenak dan mengatur kalimatnya kembali. “Binar dan Lunar makin parah dan mereka bahkan nggak bisa keluar melihat matahari lagi. Ada yang mengatakan, terutama dugaan budhe Asmi, kalo semenjak mas Genta disembuhkan oleh Ki Sukmo, ada perjanjian yang meminta tumbal kedua kakaknya.” “Tidak mungkin!” sambar Dayu dengan wajah pucat. “Dayu! Dia belum selesai!” tukas Binari. “Nebin, ini semua hanya dugaan yang jatuhnya adalah fitnah!” Dayu membela keluarga mertuanya dengan mati-matian. “Bukti akan menguatkan semuanya, tapi analisa tetap harus kita dengarkan sebagai pertimbangan, Dayu!” tegas Binari dengan tajam. Wanita yang kandungannya semakin membesar merasakan bayinya menendang. Dengan menahan diri sekuatnya, Dayu kembali bersikap tenang. ‘”Lanjutkan, Janur,” pinta nenek Dayu. Janur menatap ke arah Dayu dengan ragu. “Lanjutkan, Nur. Kita perlu tahu semuanya,” timpal Dayu lesu. Sembari meremas jemari, Janur mengumpulkan kembali memorinya. “Menurut penyelidikan paklek Sigit dan dokter Arum, ada dua hal yang menyebabkan semua petaka ini. Pertama, perjanjian untuk menyelamatkan nyawa mas Genta. Kedua, perjanjian yang belum saya tahu pastinya, tapi ada kaitannya dengan Sayekti.” “Ada dua perjanjian yang telah mereka sepakati,” desis Binari dengan memori tajamnya, merekam semua dengan baik. “Hal yang tadinya tidak bisa saya mengerti adalah, mas Genta seperti tidak memiliki beban. Seharusnya, kematian Binar dan Lunar, akan memberi dampak yang cukup dalam." "Dia menjadi dokter karena alasan itu, Nur. Tidak akan ada yang mati karena terlambat ditolong!" bantah Dayu sinis. "Tapi, Mbak, hingga detik ini, mas Genta bahkan tidak paham akan kalimat Sayekti yang selalu diulang-ulang berkali-kali.” “Kalimat apa, Nur?” Binari semakin tertarik. “Mas Genta adalah pengantin abadi iblis yang merasukinya.” Baik Dayu maupun Binari menutup mulut, sementara ekspresi keduanya terperangah. Janur merasa hari ini cukup baginya membicarakan semua hal yang harus Dayu dan keluarganya ketahui. Dia tidak ingin menambah beban pada Dayu yang kini tengah mengandung. Rasanya tidak pantas dan terlalu tega. “Tugasku adalah melindungimu, Mbak. Sesuai pesan dari mbah Guru yang sekarang saya sendiri nggak tahu ada di mana. Selain itu, hutang budi pada pak Cokro akan dengan rela dan ikhlas saya bayar, dengan melindungi cucunya, keturunan Amandaru.” Mata Dayu berkaca-kaca. Satu persatu bulir bening mengalir tanpa berhenti. “Genta adalah pengantin priaku, suami dan juga ayah dari anak kami. Bukan milik Sayekti atau makhluk yang merasukinya,” desis Dayu dengan pilu. Binari menunduk dalam-dalam. Tidak ada penghiburan tepat untuk cucunya saat ini. Dayu tampak terpukul dengan berita yang Janur sampaikan. Benarkah Genta menyimpan rahasia juga dari Dayu? “Jika dia memang pernah tenggelam dan koma, seharusnya memori Genta ada kaitannya dengan kerusakan saraf pada otak. Ini bukan karena dia pura-pura lupa dan tidak mengingat semua kesialan dalam keluarga Amandaru,” ujar Dayu dengan suara bergetar. “Secara medis, bisa dikatakan begitu.” Binari membenarkan dengan bijak. “Tapi sebaiknya kau perlu bicara dengan Genta. Mungkin dia mau lebih terbuka padamu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Binari mengajak Janur untuk menunjukkan kamar tidurnya nanti. Mereka berlalu dan memberi kesempatan pada Dayu untuk berpikir jernih kembali. Kemelut ini seperti membelit Dayu dengan ketat, hingga mencekik. Tidak pernah ia bayangkan Genta terlibat dalam kutukan perjanjian berdarah. Apakah dirinya tidak cukup mengenal pria yang sangat ia cintai tersebut? Tangannya mengelus perut membuncit yang kini bergerak perlahan, membentuk benjolan yang membuat Dayu menangis sekaligus diliputi bahagia. Ada kepiluan yang ia tekan dalam-dalam. Kehamilan ini seharusnya menjadi perayaan penuh cinta dengan Genta. Namun prahara yang muncul, memisahkan mereka berdua dengan cara yang menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN