Tersudut

1078 Kata
Malam semakin larut. Sudah pukul sebelas lebih, namun Dayu masih bimbang. Pendingin ruangan sudah menunjukkan suhu 19 derajat Celsius, tapi tubuhnya berkeringat. Punggungnya mengalirkan butiran peluh yang Dayu bisa rasakan saat ini. Pikiran mengenai Genta yang Janur telah ceritakan pada keluarganya, membuat kepercayaan Dayu terkikis. Meski mustahil rasanya untuk Genta menyembunyikan semua dari Dayu, namun pikiran buruk akan selalu dengan mudah berkembang sendiri. Sudah tiga pesan ia kirimkan, tak satu pun yang mendapat balasan. Dayu memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mengelus perut yang kian membuncit dengan pelan. “Genta ….” Desisan itu terkesan penuh kerinduan, sekaligus sesal. Pria yang telah ia nikahi selama ini, jauh dari kesan pembohong dan misterius. Meski Genta adalah pemuda angkuh, tapi tidak dengan caranya memperlakukan Dayu. Ia bisa membuat Genta bertekuk lutut, dengan sikap yang apa adanya. Dayu juga tidak pernah menyangka jika Genta menaruh simpati. Ajakan kencan pertama sempat membuat Dayu kehabisan kata untuk mengiyakan. Hanya anggukan gugup penuh kikuk, yang mengundang tawa Genta untuk pertama kali. Dayu menjadi tergila-gila pada pria tersebut. Hanya butuh hitungan bulan untuk keduanya menikah. Genta memperlakukan dirinya dengan sangat baik, di luar kemesraan dan romantisme yang Genta berikan. Betapa kini semua berbalik. Genta menjadi misteri terbesar Dayu. Suaminya muncul sebagai sosok tidak tahu apa-apa, dan itu semakin membuat hatinya meragu. Dayu membetulkan letak bantal yang mengganjal perut juga kakinya. Sungguh sangat sulit tidur dalam kondisi perut membesar. Ia harus memastikan semua nyaman untuk menghindari kram dan nyeri di punggung. Ponselnya bergetar dan Dayu melirik buru-buru. Genta meneleponnya! ‘Mas.’ ‘Yu. Maaf, aku baru punya keberanian buat telpon kamu.’ Suara Genta terdengar sangat gugup. Berbeda jauh sebelum Janur menemukan fakta mengenai kedua kakak kembar Genta yang telah meninggal. ‘Aku nggak ada niat buat nyudutin kamu, Mas. Aku cuman mau nanya.’ ‘Kalo aku bisa menjawab, Janur nggak akan kabur dan lari ke kamu.’ ‘Ibu tahu jawabannya, kenapa kalian menyembunyikan dari kami? Dari aku?’ Genta terdengar mendesah panjang. ‘Yu, aku nggak tahu. Bukan cuman Janur aja yang nggak dapet jawaban. Ibu yang tadinya mau cerita, sekarang bungkam!’ ‘Sayekti adalah korban dari kisah masa lalu kalian. Kenapa nggak dari awal ibu cari tahu dari Ki Sukmo? Sekarang beliau sudah nggak ada, mau nyari jawaban dari mana? Menggali kubur ayah Sayekti?!’ ‘Dayu!’ Perempuan itu menggigit bibir kuat-kuat. Kalimatnya kini mulai lancang dan mendikte. ‘Maaf, Mas. Tapi aku nggak bisa diem aja dan membiarkan bayi dalam kandunganku menjadi target berikutnya,’ balas Dayu dengan suara gemetar. ‘Aku akan datang, nyusul kamu. Kita akan hadapi kehamilan ini bersama dan melupakan semua untuk sementara.’ ‘Enggak, Mas!’ Dayu merasakan hatinya berdenyut sakit. Keputusan ini harus ia lakukan. ‘Jangan sekalipun datang ke sini. Aku nggak mau terlibat dalam kemelut keluargamu. Biarkan aku dan anak kita hidup tenang.’ Genta terkesiap. Tidak menyangka jika Dayu kini menolak kehadirannya. ‘Ka-kamu mau minta pisah?’ tanya Genta dengan terbata-bata. Dayu menggelengkan kepala kuat-kuat. Tangannya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. ‘Aku hanya mau anakku selamat. Bukan perpisahan yang aku minta, Mas Genta. Menjauh dari semua keluarga Amandaru adalah hal yang paling aman untuk saat ini. Maaf, Mas. Aku harus mutusin ini.’ Mata Genta berkaca-kaca. Kalimat yang istrinya lontarkan begitu membuat pria terpukul. Tanpa kalimat yang menyudahi panggilan, Genta membiarkan ponselnya jatuh di pangkuan. Di seberang sana, Dayu menutup dan tergugu dalam pilu. ** Pagi itu Dayu bangun dengan wajah sembab. Neneknya melirik ke arah Jetro, ayah Dayu, dengan pandangan penuh makna. Jetro menggelengkan kepala lesu. Dayu menyantap sarapan tanpa semangat. Jus hanya seteguk saja yang ia minum, sementara makanan tidak disentuh sedikit pun. Begitu ayahnya pamit untuk pergi, Dayu juga masuk kembali ke kamar. Janur yang duduk bersama mereka terlihat serba salah. Binari memberi isyarat pada Janur untuk mengikutinya. Gadis itu mengikuti langkah Binari menuju ke bangunan depan, mirip pendopo. Keduanya duduk di sana dengan saling berhadapan. Beralaskan tikar pandan, Binari meminta Janur mulai menceritakan kembali kondisi Sayekti. Dengan sabar, Janur mengulang kisah yang sempat ia tuturkan tempo hari. Binari sesekali mengangguk seraya mengerutkan kening, seperti berpikir. “Semua rangkaian kejadian berbalik semua, Nebin. Pada hari aku dan mas Genta nemuin mendiang Ki Sukmo, dugaan mengenai Sayekti terbantahkan.” “Ya, sepertinya gadis itu hanya media iblis saja,” gumam tersebut dengan lirih. “Media dan juga korban,” imbuh Janur dengan hati berdesir sakit. Membayangkan Sayekti berada dalam cengkeraman, meninggalkan sesal dalam diri Janur. “Salahkah kalo saya iba dengan dia, Nebin?” tanya Janur tanpa sadar bertanya. Binari menegakkan tubuh dan menghela napas panjang. “Tidak ada yang salah, termasuk ibu mertua Dayu. Padmi kurasa juga menjadi tersudut karena keadaan,” ucap Binari dengan wajah sayu. Janur menelan cairan mulutnya yang terasa kering. “Si-siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas ini semua, Nebin?” Wanita tua itu menatap Janur dengan tidak yakin. Selama beberapa saat suasana di antara mereka hening. “Aku tidak bisa mengatakan sekarang, Nur. Sepertinya perlu waktu untuk melihat semua dengan lebih jelas lagi,” tutur Binari lirih. Semilir angin pagi berhembus menerpa rambut Janur dan ia merasakan hawa dingin menusuk ke tulang sendi. Tidak seharusnya ini terjadi, tapi Janur adalah sosok manusia yang memiliki kekuatan dan anugerah istimewa. Ia akan mengetahui dan merasakan sesuatu mengancam, juga sedang mengawasi rumah yang kini ia tempati. “Iblis yang telah mencengkeram mereka, berhasil menggapai kita,” ucap Janur dengan bibir pucat. Binari mengangguk perlahan. Wanita yang juga merupakan sosok seperti Janur, mampu mendeteksi kekuatan gelap tersebut. “Mereka tidak akan bisa menyentuh kita, Nur. Di sini, mereka tidak akan berdaya. Tapi bersiap dan berjagalah. Tidak ada yang bisa tahu apa rencana iblis berikutnya.” Kedua tangan Janur terkepal dengan kuat. Sungguh menakutkan. Tidak ada yang mampu mengetahui seberapa besar kekuatan makhluk yang menguasai Sayekti. Kenyataannya, iblis tersebut menebarkan bayangan kengerian daam wajah Binari dan Janur saat ini. Terpisah dalam jarak puluhan mil dari keberadaan Sayekti, namun mampu mengikuti dan mencium darah keturunan Amandaru di seberang lautan. Binari menduga jika ini karena jabang bayi yang dikandung Dayu, menjadi magnet penarik. Janur makin merasakan udara yang begitu dingin dan membuat ngilu tulangnya. “Nebin,” ucap Janur dengan bimbang. “Jangan lakukan apa pun. Biarkan dia mengintai dan melihat. Kita tidak akan pernah tersentuh. Percayalah,” sahut Binari seperti meyakinkan Janur untuk mengikuti perintahnya. Kedua wanita berbeda usia itu akhirnya duduk dalam diam, sementara Binari terus mengerahkan kekuatan untuk melindungi rumahnya. Serangan demi serangan, kini Janur semakin melihat Dayu dalam keadaan tersudut. Betapa tragis kemelut ini. Hidup dalam lingkaran keluarga Amandaru, adalah hal yang mengerikan bagi siapa saja!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN