Warung kopi yang ada di pinggir jalan daerah Tapak itu tampak sepi. Hanya ada dua orang tukang ojek dan wanita berusia sekitar tiga puluh lebih, penjualnya, yang sibuk menjerang air panas dan menata dagangan.
“Udah cukup lama kita nggak dapet penumpang malam. Padahal kebutuhan hidup kayak mau mencekek rasanya,” keluh tukang ojek yang berbaju garis-garis dengan wajah suram.
“Sabar tho. Sur. Namanya juga lagi sepi, mau dibilang apa? Kopimu biar tak bayarin!” timpal temannya berusaha menghibur.
“Lha kok tumben. Kamu punya duit, Jun? Habis dapat warisan atau ngerampok? Biasanya kamu yang nodong ke aku?” tanya pria bernama Suryo dengan wajah curiga.
Temannya yang ia panggil Jun tersenyum.
“Lek Sur nggak tahu? Jun habis dapat komisi!” seru penjual warung dengan antusias.
“Komisi apa, Jun? Wah, curang kamu! Nggak kasih tahu! Tegel kowe, ya?”
“Eh, sabar tho, Sur. Aku juga belum dapet semua. Baru uang rokok thok!” sergah Jun buru-buru merogoh saku celana.
“Siapa yang kasih kamu?” Suryo tidak serta merta menerima uang yang Jun sodorkan.
Lembaran merah ratusan ribu tiga lembar itu memang cukup mengiurkan iman Suryo yang sedang dalam keadaan butuh.
“Aku kepepet, Sur. Makanya waktu ada yang minta buat mindahin batas tanah pak Cokro, aku iyakan saja,” bisik Jun dengan pelan.
Suryo seketika wajahnya memucat. Dengan cepat ia menampik pemberian Jun dan bangkit berdiri.
“Aku nggak mau kalo uang kayak gitu. Kamu kok nggak ngerti seliweran cerita yang lagi diomongin warga? Jangan nyari urusan sama keluarga Amandaru!”
“Sudah aku nasehati, Lek Sur. Jun nggak percaya. Dia bilang tahayul!” cibir penjual kopi jengkel.
“Tahayul gundulmu! Kalo udah nemu ciloko, monggo bilang tahayul lagi!” Tidak mau ambil bagian dalam tindakan ceroboh Jun, Suryo memilih angkat kaki. Pada saat bersamaan, ada seorang penumpang yang baru turun dari bis.
Tanpa menggubris Jun lagi, Suryo mengantar penumpang tersebut.
“Kok kamu tega ngomong gitu, lho, Nar!” gerutu Jun pada penjual kopi itu.
“Lek Suryo itu tahu benar siapa mereka. Sodaranya, Lek Pardi, kan kerja buat mereka.”
“Iyo, Narti! Aku tahu! Tapi mana hantu bisa tahu kalo aku bantu geser batas tanah?” tanya Jun seperti menganggap enteng.
“Junaidi, Junaidi! Kamu itu udah kebiasaan suka ngeremehin. Kalo udah ketemu s**l, baru kapok!” cecar Narti, penjual kopi.
Pria yang kini merasa mulai gerah atas kalimat Narti, segera bangkit dan membayar semua makanan dan minuman.
“Kamu itu sama Suryo iri, karena aku dapet duit!” pungkas Jun dan menyalakan motor, melesat dari tempat tersebut. Narti terkesiap kemudian menarik napas panjang.
**
Pardi mengernyitkan kening saat melihat tonggak kayu tanah majikannya seperti ada yang memindahkan.
Kebun yang memang hampir tidak pernah mereka kelola itu sengaja dibiarkan, karena Padmi menginginkan untuk menanam pisang di kemudian hari.
Setelah beberapa kali mencoba, ternyata pisang ambon adalah potensi yang cukup besar saat ini. Mengikuti keinginan pasar, Pardi mulai menebarkan bibit pada beberapa titik. Seingat pria itu, satu-satu tempat yang tidak ia sentuh adalah area perbatasan tanah dengan milik Karyo Saswito. Tuan tanah yang ada bersebelahan dengan kebun seluas lima hektar milik Padmi.
Alasannya sangat klise, Padmi masih menginginkan pihak pertanahan mengukur ulang tanah yang tidak sesuai dengan sertifikat yang ia pegang saat ini. Dengan kata lain, Padmi menuduh Karyo berbuat curang. Hari ini Pardi membuktikan sendiri ucapan Padmi tersebut.
Dengan hati geram, Pardi pulang buru-buru, untuk melaporkan yang telah terjadi dengan perkebunan mereka.
**
“Kamu yakin, Par?” tanya Padmi dengan wajah mengeras.
“Yakin sanget, Bu.” Pardi mengiyakan dengan serius.
“Dasar lintah! Dipinjamkan tanah malah sekarang berbalik jadi rampok!” desis Padmi dengan geram.
“I-iya, Bu. Pak Karyo juga beli tanah itu masih kurang bayar. Mana hasil kebun dulu juga nggak pernah setor sama mendiang bapak,” timpal Pardi turut kesal.
Tanah yang semula Cokro pinjamkan untuk Karyo kelola, memang berakhir dimiliki oleh Karyo seluas satu setengah hektar.
Dengan menanam buah durian dan kelengkeng, Karyo mengeruk untung. Selama tujuh tahun Karyo dipinjamkan lahan oleh Cokro, sebagai sahabat dari kecil.
Sayangnya, setelah Karyo memiliki uang cukup, ia meminta pada Cokro untuk membeli tanah tersebut dan itu pun dengan pembayaran yang masih belum lunas.
Hingga Cokro meninggal, pembayaran mereka menunggak dan tidak ada niat untuk menuntaskan. Padmi cukup berbesar hati, karena iba dan rasa segan. Namun melihat Karyo melampaui batas, kini saat yang tepat untuk memberi pelajaran pada pria serakah tersebut.
Genta yang mendengar masalah itu, hanya diam tidak merespons sedikit pun.
Padmi memutuskan untuk mencari jalan tengah. Pardi diutusnya untuk menghubungi pihak pertanahan dan melakukan pengukuran ulang. Kali ini Padmi akan membangun tembok atas batas tanah sengketa.
**
Lima hari kemudian, pagar rumah joglo dipukul begitu keras dengan linggis. Pria berpenampilan perlente itu dengan kasar dan arogan, memukul besi ke pagar sekuatnya.
Suara bising yang ditimbulkan membuat gempar dan beberapa warga di sekitar mendekat.
Padmi muncul dari dalam rumah. Begitu melihat Karyo datang, wanita itu seketika meledak emosinya.
“Berani kamu datang buat bikin rusuh di tempatku, Karyo!” seru Padmi.
“Perempuan licik! Kau bangun batas di atas tanahku! Cari perkoro kowe, Padmi!”
“Tanahmu? Oh, apa yang dimaksud tanah yang masih hutang itu?!”
Telunjuk Karyo teracung padanya dan matanya merah penuh dendam.
“Aku hutang tapi oleh Cokro dihapuskan, jangan memutar balikkan fakta! Aku bisa hancurkan kalian, terutama kau, Padmi!”
Padmi maju dan mendekat pada pria itu seperti menantang. Dengan mata melebar dan wajah bengis, Padmi tersenyum sinis.
“Suamiku tidak pernah menghapus apa pun! Kau yang begitu licik memindahkan batas tanah! Manusia serakah seperti kamu, layak mati!”
Karyo mundur dengan wajah pucat.
“Jangan mangkir, Karyo! Kamu pikir aku ndak tahu? Junaidi yang mindahin tonggak! Mau mengelak apa lagi?!”
Dengung bisik terdengar di antara warga. Karyo kalah telak dan kehilangan muka saat itu juga. Genta memandang dari kejauhan dengan ekspresi misterius dan mata dingin.
“Perempuan laknat! Keluarga terkutuk! Semua keturunan yang kau lahirkan, adalah hasil dari perjanjian iblis!” teriak Karyo sebelum berbalik pergi.
Padmi mengangkat dagu dengan angkuh. Tidak mempedulikan sumpah serapah tersebut. Seluruh warga meninggalkan tempat kejadian, dengan wajah ngeri. Apa yang Karyo ucapkan, membuat kesan yang begitu menakutkan.