Karyo melemparkan batang rokoknya yang hampir habis ke dalam asbak dengan sembarangan. Wajahnya tampak masih menyisakan kesal, setiap mengingat bagaimana Padmi menghina dirinya di depan semua warga.
Semenjak Cokro meninggal, Karyo memang sangat ambisius untuk mendapatkan bagian dari lahan yang sahabatnya pernah janjikan. Sayangnya, mungkin karena Cokro melihat bagaimana Karyo bersikap culas dan curang, semua dibatalkan begitu saja.
Tidak ada dalam warisan mengenai pemberian tanah pada Karyo. Pardi justru mendapat bagian yang tidak pernah diduga oleh siapa pun. Padmi juga tidak keberatan memberi bagian tanah dekat dengan perkebunan kopi pada Pardi.
Melihat bagaimana Padmi mengacuhkan dirinya, bahkan tidak menyinggung sedikit pun mengenai topik tanah, Karyo mulai berang. Sebagian uang pembayaran tanah, dengan sengaja tidak ia bayarkan pada wanita yang menurutnya licik dan berusaha menyingkirkan hak Karyo atas tanah.
Diam-diam, ia membayar Junaidi untuk memindahkan tonggak batas tanah.
Tapi Padmi bisa dengan mudah mengetahui hal itu.
Tidak banyak orang menghasilkan uang di desa mereka. Jika ada yang mendadak tampak royal, pasti ada sesuatu yang terjadi. Tapi tanpa menyelidiki, Suryo, sepupu Pardi, memberitahu mereka mengenai rahasia tersebut.
Setelah didesak, Junaidi mengaku dan memohon ampun karena terlibat.
Karyo kembali mendengus kesal. Sore tadi ia baru selesai menghajar Junaidi yang lancang membongkar pada orang lain mengenai tindakan menggeser batas tanah.
Dalam kondisi babak belur, Karyo mengancam akan membuat pria itu sengsara lebih buruk lagi. Malang, pemuda yang niatnya akan menikah akhir tahun itu, harus menderita patah tulang.
“Mas, masuk ayo!” seru perempuan yang muncul dari pintu depan.
Karyo menoleh dan tersenyum miring. Wanita bertubuh sintal dengan kulit putih itu hanya mengenakan kain sarung yang terlilit menutup dadanya. Seketika Karyo melupakan semua masalah yang membuatnya gusar.
Dengan cepat, ia bangkit dan menyusul wanita simpanannya dengan semangat.
**
Hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang d**a Karyo duduk di depan teras rumah miliknya. Istri Karyo sudah meninggalkan pria tersebut, karena tidak tahan atas kelakuan yang selalu mengumbar kebejatannya.
Baru saja ia menghabiskan satu jam bergulat di ranjang dengan Wurti, janda dusun sebelah.
Sudah terhitung dua bulan ini, Karyo menyimpan Wurti sebagai kekasihnya. Namun, wanita itu juga tidak segan atau risih berkunjung ke rumah Karyo semenjak istrinya pergi.
Sembari melinting rokok, Karyo bersiul. Mengeluarkan hasrat adalah cara terampuh baginya menghilangkan kegundahan.
Kini hatinya sedikit terhibur oleh pelayanan Wurti yang memang memuaskan. Wanita itu tidak pernah sungkan atau malu menyenangkan Karyo dengan cara yang sering ditempuh oleh p*****r.
Mungkin itulah yang membuat Karyo memberikan berbagai macam hadiah dan uang pada perempuan yang belum memiliki anak tersebut. Suaminya meninggalkan Wurti karena perselingkuhannya dengan Karyo.
Angin bertiup pelan. Karyo mendengarkan lagu dari radio yang Wurti nyalakan di dalam.
Tidak lama kemudian, tangannya menyalakan korek dan membakar lintingan rokok. Asap mengepul tebal, meninggalkan aroma sedap bagi penikmat tembakau.
Kopi yang masih setengah gelas menjadi pendamping yang tepat. Karyo memeriksa dokumen yang tersebar di mejanya. Dengan bibir mengapit lintingan, matanya yang seperti membutuhkan kacamata, memicing saat membaca.
Tanah yang ia miliki berkurang banyak. Padmi mengambil sekitar lima meter. Bayangkan jika itu adalah sepanjang satu hektar setengah. Karyo mendengus kesal.
Ia sudah membuat perhitungan dengan Junaidi, tinggal membereskan urusan dengan Padmi!
Lintingan pertama sudah habis begitu cepat, Karyo pun mulai melinting lagi. Angin yang berhembus tidak membuatnya bergegas masuk. Ia ingin mempelajari tata letak tanahnya dengan benar.
Sebuah sensasi dingin ia rasakan di punggung, tapi Karyo tidak mengindahkan hal itu.
Pria yang sudah separuh baya lebih itu terlalu fokus menentukan titik yang bisa ia manipulasi. Kembali, sebuah elusan dingin terasa di punggung, kini mulai merayap ke pundak.
“Wur, mau lagi kamu? Belum puas, ya?” tanya Karyo dengan senyum menjijikkan.
Tidak ada jawaban.
Karyo menganggap Wurti jual mahal, kemudian mengacuhkannya. Setelah usai menelusuri, Karyo berdecak puas. Ia menutup dokumen tersebut dan mematikan rokoknya. Ketika menoleh, Wurti tidak ada di sana.
Hasratnya kembali bangkit dan keinginan untuk menikmati tubuh Wurti kembali muncul. Tidak ingin membuang waktu, Karyo pun masuk.
Ketika hendak membuka kamar, Karyo sempat mendengar ada suara air dari arah kamar mandi yang agak dekat dengan dapur di belakang. Bulu kuduknya merinding dan ia buru-buru menyeruak masuk kamar.
Wurti tampak tidur tanpa sehelai baju, dengan posisi memunggungi. Karyo tampak bernafsu, memeluk wanita itu dari belakang dan mulai mencumbu.
“Mas, aku ….” Hanya itu desahan Wurti yang Karyo dengar. Selanjutnya adalah kikik geli wanita yang seperti senang sekali saat mendapat perlakuan mesra yang begitu gencar.
Selama beberapa menit, Karyo menikmati tubuh Wurti dan menganggap saatnya menuntaskan permainan panas mereka.
Baru saja ia mengatur napas saat melakukan keintiman, mendadak tercium bau busuk yang menguar. Karyo tersedak karena begitu kuatnya bau tersebut.
“Lebih cepat lagi, Mas,” bisik Wurti dengan suara serak.
Karyo membuka mata dan menatap wajah perempuan yang kini perlahan mulai berubah.
Kedua mata Wurti melotot dengan manik mata merah menyala. Sementara wajahnya mulai berkeriput, muncul lubang di seluruh muka dan tubuh. Belatung mengeliat keluar dari tiap lubang tersebut dan Karyo tersentak dengan teriakan keras.
Sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, namun tubuh makhluk yang menyamar menjadi Wurti mencengkeram begitu ketat.
Karyo merasakan belatung itu memasuki pori-pori tubuhnya dan jeritan penuh sakit terlontar. Pria itu mengeliat tanpa daya, dalam cengkeraman.
Pintu kamar terkuak dan Wurti yang sesungguhnya muncul dengan teriakan histeris, saat menyaksikan Karyo bergelut dengan sosok makhluk hitam mengerikan di tempat tidur!
**
Sudah dapat diperkirakan oleh hampir sejumlah warga yang menyaksikan pertengkaran Karyo dan Padmi hari itu, bahwa berikutnya akan berakibat buruk pada salah satu dari mereka.
Dan pihak yang dimaksud adalah Karyo. Pria yang melontarkan kalimat yang begitu merendahkan keluarga Amandaru, diberitakan meninggal dengan kondisi yang sangat mengerikan.
Tubuhnya berlubang dengan belatung keluar dari tiap pori-pori tubuh. Sementara Wurti yang masih syok, menceritakan tidak tahu apa yang membuat Karyo mengalami kejadian menakutkan.
Dirinya sedang membasuh diri di kamar mandi dan ketika kembali, Karyo ada di atas tempat tidur dengan posisi memeluk sosok hitam menjijikkan.
Keterangan Wurti tidak bisa dijadikan sebagai bukti. Semua yang wanita itu ceritakan seperti sedang menguraikan kejadian supranatural. Dalam penyidikan polisi, keterlibatan arwah atau ilmu hitam tidak bisa menjadi alasan kuat untuk menangkap atau menuduh seseorang.
Padmi yang mendengar berita tersebut tampak termenung dalam diam. Wajahnya muram dan mata itu menerawang jauh.
Genta keluar untuk bekerja dan melihat ibunya duduk di teras. Sudah berhari-hari ia tidak bicara. Ibunya mengunci mulut rapat-rapat, begitu juga Trining, buleknya.
“Dia mati! Kali ini iblis siapa yang membunuhnya, Bu? Masih menyalahkan Sayekti? Atau jangan-jangan ibu sendiri yang memuja iblis tersebut?”
Kalimat Genta membuat Padmi terkesiap. Tanpa menoleh, Padmi menyiapkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sinis putranya.
“Keluarga ini adalah keluarga s**l. Kau bagian dari Amandaru, jadi hentikan sikap seolah-olah kau tidak tahu, Genta! Jangan tidur terlalu lama! Bangun dan sadari, siapa penyebar petaka sebenarnya!”
Ucapan tajam penuh dengan tekanan itu begitu dalam mengiris hati Genta.
Pria itu tidak pernah melihat ibunya begitu bengis, saat mengucapkan kalimat tersebut.
‘Si-siapakah yang ibu maksud?’ ucap Genta dengan hati berdebar.