Gagal Panen

1003 Kata
Padmi duduk dengan pandangan merapuh. Di depan meja rias, wanita tua itu mengurai rambutnya dan menyisir dengan wajah penuh duka. Kematian suaminya yang terjadi tujuh tahun lalu, meninggalkan kemelut panjang. Pesan terakhir Cokro yang sangat diwanti-wanti, tidak mampu Padmi penuhi. Genta memilih jalan sendiri dan akhirnya petaka beruntun menimpa keluarga ini. Sebagai seorang ibu, Padmi juga ingin anaknya bahagia. Dia bukan wanita kolot yang menyetujui perjodohan yang tidak melibatkan andilnya. Semenjak kedua putri kembarnya tiada, Padmi cukup kehilangan gairah untuk hidup. Rasanya tidak cukup merasakan sesal juga sakit yang mendera jiwanya selama ini. Binar dan Lunar adalah dua gadis kembar yang sehat dan cerdas. Tidak ada penyakit bawaan yang pernah terdeteksi, karena Padmi sangat rajin memeriksakan kesehatan keluarganya. Tidak cukup menerima tudingan sebagai wanita yang terkutuk dan tidak becus membesarkan anak dengan baik, Padmi juga harus mengambil sikap atas pembenaran diagnosa kematian si kembar. Tidak ada seorang pun yang bisa membela, kecuali Cokro. Namun di mana suaminya sekarang? Padmi ditinggalkan dengan segudang problema dan hampir putus asa menghadapi semua sendiri. Genta tidak kunjung memahami kejadian sebenarnya dan Trining menuntut supaya Padmi menguak rahasia yang terpendam. ‘Bukan aku yang menyebabkan ini semua. Kenapa mereka tidak mengerti? Siapa yang harus kusalahkan? Cokro? Dia sudah mati!’ jerit Padmi seiring air mata yang mengalir perlahan di kedua pipi. Wajahnya yang masih menyisakan kecantikan yang tidak lekang oleh waktu, kini terlihat suram dan kehilangan cahaya sumringah. Tidak ada satu pun keluarganya di Jogja yang berniat membantu. Mereka memilih cuci tangan dan menyalahkan dirinya yang hanya mengiyakan saja. ‘Duh Gusti Pengeran … apa semua harus menjadi tanggunganku? Ambil sukmaku jika memang ini bisa meredakan rasa sakit yang kuderita.’ Padmi tergugu dan sisir itu terjatuh. Bahunya terkulai dan benteng pertahanan selama ini pun runtuh. Wanita ningrat tersebut berada di ambang batas kesabaran. Bayangan akan Pram yang tergeletak di rumah sakit, menambah pilu yang mengikis imannya untuk berserah. Tujuh tahun bukanlah waktu singkat untuk menahan malu sekaligus aib mereka. Pram dianggap gila dan kini muncul tudingan baru sebagai keluarga terkutuk yang menyebabkan petaka. Kematian Karyo menimbulkan rumor k**i di sekeliling desa mereka. semua mengaitkan dengan Pertengkaran terakhir yang disaksikan oleh beberapa orang. Ucapannya yang melontarkan Karyo pantas mati, dijadikan sebagai bukti kuat bahwa penyebabnya adalah Padmi. Entah apa yang membuat Karyo mati dengan cara mengerikan, tapi Padmi sungguh tidak memiliki andil dalam hal ini. Jika memang iblis Sayekti yang membunuh, atas dasar apakah? Karyo tidak memiliki kepentingan apa pun dengan Sayekti! ** Tumpukan Jerami yang telah diangkut di atas truk kecil itu akhirnya menjadi tugas terakhir Pardi pada masa panen tahun ini. Hasil sawah tidaklah sebagus dua tahun lalu. Lahan sekitar lima hektar tersebut mengalami gagal panen karena mendadak hama menyerang dalam waktu seminggu. Dengan lunglai Pardi mengatakan pada seluruh pekerjanya untuk melanjutkan kembali besok. Waktu sudah menjelang maghrib dan ia harus mampir ke rumah keluarga Amandaru untuk menjelaskan mengenai padi mereka. Trining selalu menjaga Pram di rumah sakit dan Pardi mengurus semuanya sendiri. Pria itu yakin, jika Trining tahu mengenai hal tersebut, pasti sangat kecewa. Begitu tiba di rumah, Sri menyambut dengan bahasa isyarat yang tersirat kecemasan. “Gagal lagi, Sri. Cuman setengah aja yang bisa diselamatkan,” jawab Pardi. Ia duduk di amben belakang rumah dan mengipas tubuhnya yang berpeluh dengan kipas dari jalinan bambu. “Lha kok bisa tho, Mas?” tanya Sri dengan wajah terkejut. “Embuhlah. Aku juga nggak paham,” gumam Pardi terkesan malas membahas. “Kita kena hama itu kan belum ada seminggu? Kok bisa bablas hampir separo?” “Namanya penyakit, mana bisa ditebak, Sri.” Wanita itu membenarkan dan segera membuatkan Pardi kopi. Tidak lama kemudian kembali dengan cangkir di tangan. Pardi menyalakan lintingan rokok dan menyesap kopi panas. “Bu Tri gimana kabare? Aku kok kasian sama dia. Kalo tahu sawahnya gagal lagi, pasti ngenes.” “Ya pastilah, Mas. Ini bakal nambah pikirannya dia. Ngurus Lek Pram aja udah setengah mati. Kondisi dia juga belum pulih banget.” Pardi termenung sesaat. “Janur tenanan lungo? (beneren pergi?)” tanya pria itu. Sri mengangguk pelan. “Katanya malah nyusul mbak Dayu ke Bali,” balas Sri seraya mengupas kentang. “Lha kok malah ngono? (gitu)” Sri hanya mengedikkan bahu, tidak mau memberi komentar apa pun. “Udahlah, nggak usah ikut-ikutan! Aku mau masak!” “Siapa yang ikutan gosip? Aku kan cuman menyayangkan Janur pergi?” “Kalo memang udah nggak sreg, mau gimana lagi?” Sri terkesan galak pada Pardi. Dengan jengkel Pardi menggerutu. “Namanya kerja ya harus manut (nurut) sama majikan. Kalo mau gaya-gaya pake ide sendiri, kenapa nggak jadi bos aja?” “Eh! Mas Pardi kok malah nyalahin orang?” “Ah sudahlah, Sri! Aku kok salah terus!” Sri mendengus kesal dan meninggalkan Pardi untuk kembali memasak di dapur. Baru saja ia hendak beranjak pergi untuk menyerahkan kunci mobil pada Totok bulu kuduknya berdiri. Kepalanya menoleh perlahan ke arah lumbung dengan ekspresi ngeri. Terakhir kali Trining mengalami p*********n brutal dan dia tidak ingin mengambil resiko tersebut! Namun begitu ia ingin kembali melangkah, kakinya terasa berat. Sekuat tenaga berusaha, Pardi tetap saja tidak mampu menggerakkan kedua kakinya. “SSSri …!” teriak Pardi dengan suara seperti tersekat sesuatu. Wanita yang tadi mengobrol dengannya tidak mendengar. Pardi mulai merasakan ada yang menarik kaki dan ia jatuh terjerembab dengan keras ke tanah. Perlahan namun pasti, tubuhnya terseret menuju ke arah lumbung padi. Pardi membuka mulut namun yang keluar hanya erangan pelan. Tangannya mengais tanah, berusaha mencari pegangan yang bisa menahan supaya tidak terbawa menuju ke arah lumbung. Kepalanya mendonggak dan ia melihat arwah si kembar yang menatap dirinya dari jauh dengan bola mata hitam! “To-to-tolong!!” Akhirnya Pardi berhasil mengeluarkan suara dan Sri keluar dari dapur. “Mas Pardi!!” pekik Sri sontak berlari menghampiri. Untaian doa dan mantar terlontar, hingga terjadi tarik menarik antara sosok tidak kasat mata dengan Sri. Totok muncul dan segera kelabakan membantu kedua manusia tersebut. Pardi putus asa ketika usaha tersebut sia-sia. Namun beberapa detik setelah ia melihat arwah kembar melayang, melesat menuju lumbung, Sri dan Totok berhasil menariknya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN