Tidak ada satu pun kegembiraan yang mampu mengusir duka dalam hati Padmi dan Trining. Kejadian Pardi hampir menjadi korban membuat kedua wanita tersebut semakin gundah.
Semua hal sudah mereka alami, namun tidak ada titik terang ini akan berakhir dalam waktu singkat. Trining yang akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke rumah karena trauma, memilih tinggal di rumah sakit. Sore tadi Totok mengantar pakaian untuk tinggal beberapa hari di rumah sakit.
Tekad Trining hari ini adalah mengajak Genta bicara serius dan melangkahi daulat Padmi yang begitu ia pegang selama ini.
Keponakannya masih belum datang hingga hampir mendekati pukul tujuh malam. Trining mulai resah. Pengaduan Sri mengenai gagal panen dan permintaan Pardi berhenti sementara waktu, cukup memukul mentalnya.
Semua tinggal menunggu waktu puncak dari teror keseluruhan saja. Wanita itu menoleh pada Pram dan mengelus pipi adiknya dengan pelan.
“Sepertinya kamu benar, Pram. Mati adalah hal yang paling indah saat ini.” Ucapan bernada getir itu terlontar mirip bisikan putus asa.
“Ke mana pun kita melangkah, terbelenggu sama kutuk untuk Amandaru. Sepurane, ya, Dek (Maafkan, ya, Dek). Mbakyumu ini ndak tahu harus gimana lagi?” ratap Trining kembali berkeluh kesah.
Sukma Pram sudah menemui dirinya berulang kali dan Trining masih meminta waktu untuk mengundur. Akan tetapi, hari ini semua tidak ingin ia perjuangkan lagi.
“Bulek.” Genta masuk dengan jas dokter masih melekat. Trining buru-buru mengusap air matanya dan menoleh dengan senyum terpaksa.
Raut wajah Genta berubah sendu. Ia mendekat ke arah bibinya, lalu merengkuh bahu yang nampak kurus dengan hangat.
“Yang tabah, Bulek. Ini beban kita semua,” bisik Genta kehabisan kata untuk menghibur.
Trining tergugu dan mengangguk dalam isak tangis. Pria itu mengambil kursi dan duduk di sebelah buleknya.
“Pakde Karyo meninggal sehabis bertengkar dengan ibu.” Genta membuka pembicaraan saat itu. “Waktu aku tanya, ibu malah melemparkan kalimat yang aku sendiri nggak ngerti, Bulek.”
Trining mengangkat wajah dan menatap Genta dengan pandangan basah.
“Apa yang ibumu bilang, Gen?”
Dengan gugup bercampur gelisah, Genta menghela napas. “Dia secara tidak langsung menuduh kalo saya pura-pura nggak tahu. Ap-apa ini ada hubungannya dengan memori yang hilang waktu aku kecelakaan?”
Buleknya makin terisak dan menunduk dalam-dalam.
“Bulek, kenapa harus menyimpan ini dari aku? Ibu juga selalu menyembunyikan dan menutup semua dengan rapat? Apa yang bapak pernah sepakati, Bulek? Kenapa semua orang bilang, Mbak Binar dan mbak Lunar mati karena aku?”
“Jangan timpakan semua ini sama bulek, Le. Tanyakan pada ibumu. Alasan bulek ngajak kamu bicara adalah mengenai paklekmu,” sahut Trining masih tidak ingin melangkahi hal yang satu itu.
“Kenapa kalian nggak terus terang aja? Aku akan bisa ambil sikap yang tegas jika ini memang kesalahan bapak! Aku ikhlas menebusnya dan menikahi Sayekti demi keselamatan kalian!” seru Genta terdengar kalut.
Trining menggelengkan kepala berulang kali. “Jangan sakiti Dayu, Gen. Jangan sakiti dia!”
“Terus apa yang harus aku lakukan? Aku kepala keluarga pengganti bapak! Tapi kalian memutuskan semua tanpa andilku!”
“Kamu mau mendapatkan andilmu? Bantu bulek dengan menyetujui ini!” Trining meraih lalu menyodorkan kertas yang menyatakan kesediaan keluarga untuk mencabut seluruh mesin yang menopang tubuh Pram, supaya tetap hidup saat ini.
Genta memegang kertas tersebut dengan tangan gemetar.
“Paklek akan berhenti bernapas, Bulek,” desis Genta dengan suara bergetar.
“Itu yang dia inginkan. Entah bagaimana menjelaskan sama kamu, tapi sukma paklekmu berulang kali menemui bulek, meminta untuk semua diakhiri,” sahut Trining dengan hati pilu.
“Ya Allahku,” keluh Genta lemas.
Suasana hening sesaat dan yang terdengar hanya bunyi mesin yang bergaung di ruangan tersebut.
“Ibu sudah tahu?”
“Aku melangkahi keinginan ibumu. Dia ndak akan pernah setuju, karena itu sama saja mencoreng nama baiknya!” jawab Trining dengan sinis.
“Bulek, aku …”
“Katakan iya, Genta! Paklek sudah sangat menderita dengan kondisinya selama bertahun-tahun. Terjebak dalam kungkungan iblis! Tinggal di dalam raga yang tidak bisa ia kendalikan! Apa kamu tega menyiksa dia terus? Pram sudah cukup merasakan semuanya!”
Rahang Genta mengeras dan hatinya bimbang.
“Jika paklek meninggal, tinggal kita bertiga, Bulek. Apakah ini berarti menunggu giliran selanjutnya?” tanya Genta dengan tajam.
“Hanya Allah yang tahu. Takdir mati dan hidup, adalah milik Dia.”
Genta mengumpat pelan dan membanting kertas di atas nakas sebelah pembaringan pakleknya. Ia menatap wajah pria yang telah menjadi idolanya sejak kecil.
Seorang pemuda gagah, cerdas dan pekerja keras. Lulusan sarjana yang turut membangun desa tanpa pamrih. Kemana masa kejayaan dan keluhuran pakleknya?
Semua warga melupakan andil Pram dalam memajukan pertanian. Tidak ada satu orang pun yang mengenang jasa pakleknya. Kini berbalik menuding dengan k**i, tanpa bukti yang jelas.
Kematian Karyo memang menjadi pemicu yang paling kentara atas anggapan masyarakat. Namun ibunya bukanlah pemuja iblis dan Genta tahu sekali.
Pulpen itu Genta cabut dari saku dan dengan gerakan cepat ia menandatangani dokumen tersebut. Trining terhenyak dan tidak menyangkan akan mendapat dukungan dari Genta saat ini.
“Aku akan bicara dengan ibu. Bulek bisa menyerahkan ini dan besok adalah jadwal mencabut semua mesin paklek!”
Genta meninggalkan Trining yang terpaku.
**
Tidak peduli betapa runut dan jelasnya permintaan Genta, Padmi hanya terdiam dengan tatapan kosong.
“Bu …,” panggil Genta mulai khawatir.
Benak Padmi tidak mengacuhkan semua pertanyaan beruntun yang Genta tuntut darinya untuk mendapatkan jawaban. Tapi keputusan mencabut semua alat medis Pramlah yang membuat Padmi tertegun dalam batin yang kian tersiksa.
“Tidak ada yang meminta pendapatku mengenai hal ini,” balas Padmi dengan suara hampir tidak terdengar. Malam itu suasana memang sunyi dan sangat senyap.
“Kami tidak butuh pendapat Ibu. Paklek sudah cukup menderita dan itu keputusan yang paling adil buat dia.”
Senyum getir terukir dari bibir Padmi.
“Inilah awal keretakan dari keluarga yang kubangun susah payah.”
“Bu, Genta harus mengulang berapa kali lagi, supaya mendapatkan jawaban atas rahasia yang kalian sembunyikan?!” Kesabaran tidak lagi bisa Genta berikan,pada wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut!
“Satu permintaan ibu, Gen. Apa saja yang terlanjur ibu ucapkan, sebaiknya jadi pertimbanganmu. Tapi aku adalah seorang ibu. Menguak rahasia yang akan mencelakakan semuanya, bukan jadi pilihanku.”
“Apa yang ibu mau?!” teriak Genta sembari berdiri. Matanya merah dan wajah tegang. Kemarahannya mulai meluap.
“Ceraikan Dayu dan lupakan semua tentang keluarga ini. Pergilah sejauh mungkin. Demi keselamatan semuanya.”
Bibir Padmi terlihat gemetar dengan mata berkaca-kaca. Genta terhuyung ke belakang.
Menceraikan Dayu? Meninggalkan semuanya?
‘Apakah aku sumber malapetaka itu?’ teriak Genta dengan batin kalut.