Binar dan Lunar

1124 Kata
Dua puluh tahun yang lalu Kedua gadis remaja yang baru satu berseragam putih biru tersebut tampak meringis bersama. Meski tampaknya dalam kondisi kesakitan, keduanya masih sempat bercanda dan saling menghibur satu sama lain. Padmi keluar dari ruan praktek dokter lalu menemui kedua putrinya yang berbaring di tempat tidur pasien untuk pemeriksaan. Suster yang membantu dokter memasukkan infus segera menyingkir. Sebelum pergi mengingatkan Padmi untuk menanda tangani surat bersedia menginap atau opname selama beberapa hari. dengan anggukan lesu, Padmi mengiyakan. “Ibu, kita banyak sekali peer-nya lho.” “Kalo nginep di sini, tugas-tugas kita gimana?” tanya Binar dan Lunar, saling menyelesaikan kalimat satu sama lain. Padmi tersenyum samar dengan mata mulai merebak. “Kan cuman sebentar. Ndak apa-apa, biar cepet sembuh terus balik ke sekolah lagi,” sahut ibunya berusaha santai dan ringan dalam menyampaikan. Namun kesan cemas tidak bisa Padmi hilangkan dalam nada suaranya. Perempuan itu seperti tercekik, dengan suara bergetar. Binar yang lahir lebih dulu dari Lunar mulai memahami situasi yang menimpa mereka berdua dan memberi isyarat pada kembarannya. Kedua gadis berambut pendek sebahu lurus tersebut saling berpandangan seperti sedang membaca benak dan berkomunikasi lewat pikiran mereka. “Bulek Tri bisa jaga kita, Bu. Kasian Gege, dia pasti jauh lebih butuh ibu dari pada kita,” cetus Lunar dengan lembut. Suaranya yang halus dan merdu, menyentuh sanubari Padmi. Kedua lutut wanita itu gemetar. Dalam kondisi sakit, mereka begitu mengerti dan paham, bahwa adik mereka, Genta, jauh lebih membutuhkan perhatian ibunya. Ya, Genta mengalami kecelakaan tenggelam sewaktu bermain di sendang dengan teman sebayanya. Selama hampir setengah jam, mereka tidak berhasil menemukan. Sudah di ambang putus asa, hingga akhirnya Ki Sukmo berhasil merengkuh Genta kembali dengan kekuatan yang sangat luar biasa dan di luar nalar. “Udah, ndak usah dipikir dulu. Kalian kayak ibu-ibu saja,” gurau Padmi. Binar dan Lunar tertawa geli. Wajah keduanya mulai pucat dengan bibir kering juga pecah-pecah. Penyakit yang dokter diagnosakan pada kedua anak remajanya adalah kelainan kulit yang memicu kanker. Sangat tidak masuk akal. Dengan penyakit yang putrinya derita, mereka tidak diperbolehkan terkena sinar matahari atau bulan sedikit pun! Padmi yang paling terpukul. Binar dan Lunar dinamai berdasarkan sumber cahaya terbesar di alam semesta ini. Binar untuk melambangkan matahari dan Lunar melambangkan bulan. Namun ironisnya, kedua gadis tersebut tidak bisa tersentuh oleh sinar dari kedua sumber. Penjelasan apakah yang paling masuk akal dan bisa diterima oleh nalar? Terkena cahaya matahari mungkin bisa dipahami, tapi sinar rembulan? ‘Anakku bukanlah makhluk jejadian yang bisa berubah menjadi serigala seperti mitos!’ pekik Padmi dengan kalap kala itu. Tidak ada satu pun orang tua yang bisa menerima fakta buruk yang menimpa pada anak-anak mereka! Dua orang perawat masuk dan mengatakan akan memindahkan Binar serta Lunar ke kamar mereka. Padmi mengangguk gugup. Ini mungkin terakhir kalinya melihat mereka tertawa tanpa beban. Kemoterapi yang akan mereka jalani, mungkin bakal merenggut semua keceriaan. * Genta, putra bungsunya, masih terbaring dalam keadaan diam. Dokter sudah menyatakan putranya koma dan sedang berusaha mereka sadarkan. Ini adalah bulan kedua sejak kecelakaan itu terjadi. Sebulan setelah Genta berhasil diselamatkan, Binar dan Lunar sakit. Tidak ada yang mengetahui penyebab sesungguhnya, kecuali Cokro, Ki Sukmo dan Darmo. Padmi mengetahui belakangan karena suaminya memberitahu kemudian. Pertengkaran hebat terjadi di antara mereka dan hampir memicu perceraian. Kini yang Padmi bisa lakukan hanyalah pasrah. Menatap Genta yang terbaring tidak berdaya, adalah sesuatu yang bisa melemahkan jiwa juga raganya. Hidupnya kini hanya berkisar dari satu kamar rumah sakit, ke kamar berikutnya. Trining memang membantu, namun urusan rumah tidak bisa ditinggal begitu saja. Banyak sekali hasil perkebunan yang membutuhkan penanganan Trining.Sementara Pram tidak pernah berhenti mendampingi kakak iparnya tersebut, menggantikan menemani Genta atau si kembar. Padmi baru saja selesai merajut dua topi berwarna merah muda untuk menutupi kebotakan Binar juga Lunar. Mereka menerima topi indah tersebut dengan mata bersinar gembira. Hati Padmi seperti terhantam begitu keras melihat kepala putrinya yang kini tidak ada sehelai rambut pun. Rambut hitam lebat yang dulu menjadi mahkota kebanggaan, kini tidak ada lagi. belum lagi bekas dari kemo yang membuat kantung mata menghitam serta luka di sekujur tubuh yang disebabkan kulit mereka terlalu sensitif, penampilan kedua anak kembarnya cukup menciptakan tekanan batin yang begitu mendalam pada Padmi. Ia mengingat dengan jelas ratapan suaminya tadi malam yang bersimpuh memohon ampun pada Padmi. Mengakui kesalahannya mengambil keputusan. Namun nasi telah menjadi bubur. Semua hal yang dengan gegabahnya mereka tempuh, kini menuntut tumbal! Padmi mengenang dengan wajah mengeras dan hati terluka. Ia tidak mampu melindungi kedua buah hatinya. “Ibu, jangan menangis,” pinta Lunar dengan mata sayu. Padmi menggelengkan kepala, tapi kedua lelehan bening itu tetap menetes satu persatu. “Ibu ndak nangis,” balas Padmi dengan sesegukan. Binar beringsut mendekat dan mengusap pipi ibunya yang duduk di tepi pembaringan. “Ibu jangan bohong. Katanya dosa,” ujar Binar yang terkenal paling kritis di antara anak-anaknya. Sementara Lunar, putrinya yang paling sensitif dan perasaannya lembut, menunduk dalam-dalam. Mata gadis itu berkaca-kaca. Padmi menoleh ke arah Lunar yang ada di kasur seberang dan tersenyum. “Kalian berjanji akan sembuh. Itu yang ibu pegang selama ini.” Lunar mengangkat wajahnya perlahan, lalu menggelengkan kepala. “Lunar!” seru Binar dengan kesal. Kembarannya menyusut air mata yang kini bergulir dari sudut kelopak. “Ibu, kami nggak mungkin sembuh. Demi Genta, kami akan pergi,” bisik Lunar dengan suara serak. Padmi tersentak lalu tergugu. “Siapa yang mengatakan itu? Hidup dan mati adalah keputusan Allah!” seru ibunya dengan gugup. Kepala Padmi kemudian menoleh ke arah Binar. “Apakah ada yang mengatakan kepada kalian? Apakah bapak bilang pada kalian tentang ini?” tuntut Padmi terlihat murka. Kedua gadis kembar itu menggelengkan kepala. “Lalu kenapa kalian ngomong seperti itu?” Padmi menghela napas sekuatnya dan mengeringkan wajahnya dengan lengan kebaya. “Dengar, apa pun yang kita alami saat ini adalah cobaan buat jadi kuat. Kalian adalah dua pendekar wanita ibu. Jadi ibu yakin, sampai kapan saja, kalian akan selalu menjaga ibu dan keluarga ini. Setuju?” Binar dan Lunar mengangguk serentak. “Melindungi keluarga ini sampai kapan pun,” ulang mereka serentak. Padmi tersenyum dan memeluk Binar. Tangannya terulur pada Lunar yang kemudian turun dan menghampiri ibunya. Ketiganya saling mendekap erat seperti tidak ingin melepaskan diri satu sama lain. Padmi menangis dalam hati. Ia tidak ingin kehilangan kedua putrinya. Dengan hati hancur berkeping, ia mencium satu persatu seakan tidak pernah puas. Masih terekam bagaimana harumnya aroma tubuh bayi kembarnya yang menggemaskan. Padmi kini harus menelan pahit saat aroma itu tergantikan dengan bau obat dan juga amis karena kondisi kulit mereka yang mudah terluka dan kering. Kenangan saat berpelukan menjadi kekuatan Padmi untuk terus bertahan. Seminggu setelah kejadian itu, Genta siuman dari koma, sementara kedua putri kembarnya meninggal dalam tidur lelap mereka. Pergantian nyawa yang begitu menggenaskan dan membuat miris bagi siapa saja yang mendengar kisah tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN