Terbangun dari Kepekatan

1119 Kata
POV Prambudi Sudah terlalu lama aku terkurung dalam ruangan pekat s****n ini! Seandainya saja Janur masih ada, mungkin dia bisa membantu membebaskan diri. Tapi mungkinkah? Terakhir kali gadis itu mencoba, aku seperti kalap dan kehilangan kendali atas semuanya. Betapa bodohnya aku …. Rasanya hampir tidak bisa berpikir waras! Semua keheningan dan kepekatan ini benar-benar membuatku gila! Menyaksikan semua hal yang terjadi tanpa bisa bicara dan berteriak minta tolong. Aku seperti berdiri di depan sebuah jendela, sementara semua orang yang kukenal berlalu melintas. Ya Allah Ya Rabbi! Apa salah dan dosaku? Kenapa harus aku yang menerima semua ini? Hanya tinggal satu langkah saja untuk membatalkan semua perjanjian berdarah keluarga ini sebelum mas Cokro meninggal. Tapi aku malah terjebak dalam kurungan iblis j*****m! Mbak Padmi, aku minta maaf. Tidak bisa mendukungmu untuk berjuang menjaga Genta. Binar, Lunar, maafkan paklek. Sekuat tenaga menjaga kalian, namun tetap gagal! Mungkin mati adalah hadiah yang terindah saat ini. Tapi Binar dan Lunar mengatakan untuk terus bertahan. Mana yang harus kupilih? Aku terlanjur menemui mbak Tri untuk membiarkan diriku mati saja. Mesin s****n itu hanya menyakiti ragaku yang tidak memiliki daya. Aku masih bisa merasakan lapar, sakit dan juga dingin, tapi aku tidak kuasa mengatakan apa pun juga. Asupan cairan itu tidak memenuhi rasa lapar yang menggigit perut ini. Tapi Bagaimanapun perihnya, aku tidak punya kuasa untuk meminta. Siksaan apa lagi yang harus aku hadapi? Apakah aku harus bangun? Bagaimana caranya? Janur yang mencoba melakukan kontak denganku, malah berujung hukuman ini. Iblis itu menyegel ragaku menjadi lumpuh total. Oh, mbak Trining. Berhentilah meratap dan menangisiku. Bukan ini yang aku inginkan. Hidup dan terus mendampingi kalian merupakan niat dan tujuan hidup ini. Aku rela meninggalkan Arum demi keluarga kita. Seandainya ada pilihan, tidak akan kuterobos larangan mbah Darmo. Tapi Ki Sukmo terus menerus menuntutku untuk mengambil sikap. Ki Sukmo tidak ingin Genta terus menerus terkungkung dalam kegelapan pekat kabut. Memorinya harus kembali dan itu berarti menceritakan semua rahasia gelap keluarga Amandaru. Bagaimana membuat salah satu dari mereka mengerti? Kini semua akses tertutup! Aku masih ingin memiliki kesempatan satu kali lagi. Mengatakan pada mbak Trining untuk melepasku adalah bohong. Aku terlalu lelah untuk berjuang, tapi setiap mengingat keluarga kita, rasanya egois jika memutuskan untuk memilih mati. Tolong aku! Siapa saja, tolong akuuu! “Paklek, dengarkan kami.” Siapa itu? Binar? Lunar? “Paklek ini kami.” Kepalaku menoleh ke berbagai arah, namun hanya kegelapan saja yang kulihat. Jendela yang mengubungkan diriku dengan dunia luar tidak ada lagi. “Ak-aku nggak bisa liat kalian. Tolong, tunjukkan diri!” Tetap saja tidak ada sosok yang muncul. Ini mulai membuatku putus asa! “Dengar, Paklek. Ini Binar. Bangunlah dan kami akan membantu. Tapi ingat pesan kami, jangan kuak rahasia pada Genta. Dia belum siap.” “Simpan rapat-rapat dan usahakan lindungi ibu. Sepertinya dia mulai kehilangan kendali dan pertahanan untuk melanjutkan semuanya.” Itu seperti suara Lunar. “Ap-apakah kalian bisa melihatku?” “Kami selalu bisa melihat Paklek. Hanya saja, kemampuan kami terbatas. Ingat, Paklek, pada saat mesin dilepas, kami akan mendorong Paklek sekuatnya. Berusahalah dengan sebisanya untuk terbebas.” “Tunggu! Apakah aku akan hidup lagi?” Tidak ada balasan. “Binar! Lunar!” Sepi. Aku kembali lunglai. Semoga perkataan mereka bisa terjadi. Aku ingin hidup! ** Genta berdiri di sudut ruangan tersebut, sementara Trining tak jauh dari pembaringan Pram. Dua dokter memeriksa dengan seksama. Tiga perawat menunggu perintah para dokter untuk melepaskan satu persatu alat yang menyokong tubuh Pram untuk terus bernapas. Sikap genta juga Trining mulai resah. Padmi memutuskan untuk tidak mengunjungi dan ikut terlibat dalam proses pagi itu. Bram, dokter kepala yang menangani langsung atas permintaan Genta, memberi isyarat pada rekannya untuk meminta persetujuan. Dokter satunya mengangguk dengan wajah prihatin. “Dokter Genta, kami akan mulai melepas satu persatu,” ucap Bram dengan suara dalam. Begitu mendengar kalimat itu, Genta menelan ludah dan melangkah maju. Ia meraih tangan Trining dan mengenggam dengan erat. Buleknya menahan nyeri dengan mengatupkan rahang sekuatnya. Adik bungsunya akan menyusul kakak sulung mereka. Bukan ini rencana yang tersusun dulu. Pram adalah anak dari pernikahan kedua ayah mereka. Itulah sebabnya, usia Pram dengan Binar dan Lunar tidak terpaut jauh. Meski begitu, Trining begitu menyayangi Pram. Ibu tiri mereka sangatlah adil dan memperlakukan semua dengan pantas dan tidak ada pilih kasih. Harta warisan terbagi rata di antara mereka bertiga. Tidak ada hal yang tidak ibu sambung mereka lakukan. Sebagai keluarga bekas demang dari zaman Belanda, ayah Cokro telah terkenal sebagai tuan tanah dan pemilik perkebunan kopi. Setelah Cokro besar, ia kembali dari merantau dan menjadi camat di daerah kelahirannya. Ketika Trining menikah dan ditinggalkan oleh suaminya yang b******k, ibu sambungnya yang membela. Wanita pengganti ibunya tersebut mengatakan untuk melupakan pernikahan itu, demi menjaga martabat sebagai perempuan yang berhak untuk tidak dilecehkan. Ibu tirinya bahkan menggugat keluarga besan dengan meminta harta gono gini. Trining berhasil memperoleh rumah dan tanah yang kini atas namanya. Sebelum ibunya meninggal, wanita itu berpesan untuk menjaga Pram dan menyayangi dengan segenap hati. Janji itu kini terlepas begitu saja dari genggamannya. Trining terpaksa memilih jalan yang paling menyakitkan. Alat yang terakhir, yaitu selang pernapasan, dilepas. Kini tidak ada satu pun yang menyokong tubuh Pram untuk tetap berfungsi. Bram dan dokter satunya lagi memeriksa semua organ vital dengan seksama. Semua mata tertuju pada alat pendeteksi jantung yang mulai tidak stabil. Genggaman tangan Genta semakin kuat. Hidungnya mulai memerah menahan tangis. Trining pun mulai terhuyung dan Genta merangkul buleknya dengan lembut. Bunyi mesin jantung berdengung dengan nada sama dan grafik di layar menunjukkan garis rata. Semua manusia yang hadir dalam ruangan menahan haru. “Selamat tinggal, Pram, adikku,” bisik Trining dengan gemetar dan akhirnya goyah. Dengan tubuh lunglai dalam pelukan Genta, Trining menangis dengan sedu sedan pelan. “Waktu kematian pasien Prambudi Amandaru pukul 09.11 pagi waktu Indonesia bagian barat.” Bram mengumumkan waktu kematian dan Genta merengkuh tubuh Trining, keduanya menangis bersama. Para perawat menebarkan seprai putih untuk menutup tubuh Pram yang terbujur kaku. Bram menepuk pundak Genta dan berlalu dari ruangan itu. Langkahnya tampak gontai. Bram tahu semua kejadian yang menimpa keluarga Genta. Betapa semua di luar logika dan nalar. Salah satu perawat masih membereskan semua peralatan, sementara dua dari mereka mulai bersiap membawa jenazah ke ruang mayat. Saat perawat yang bertubuh kurus jangkung hendak mendorong, mendadak jenazah Pram duduk tegak. “Argggh!!” jerit mereka dengan panik, melompat mundur secara refleks. Genta dan Trining melepaskan pelukan lalu melihat ke arah pembaringan Pram. Seprai itu terkuak dan Pram terbangun dengan bingung. “Pram?” panggil Trining. Genta menahan buleknya untuk mendekat. “Mbak, aku di mana?” tanya Pram terdengar sangat normal, meski suaranya serak dan parau. Trining jatuh di lantai dan tangis bahagia terurai begitu saja. Mata Genta melotot tidak percaya. “Panggil dokter Bram!” perintahnya dengan panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN