Kunjungan Membawa Petaka

1156 Kata
Totok menjelaskan dengan terputus-putus pada Padmi. Wanita itu tidak memahami awal kalimat supir tersebut. Namun begitu Totok mengatakan jika Pram telah siuman dan pulih, wanita itu bangkit dan memerintahkan dirinya untuk bersiap mengantar. Trining menatap adiknya yang tidak habis-habis memasukkan makanan ke dalam mulut. Seperti tidak makan berhari-hari, pria itu melahap dengan cepat. “Pelan-pelan,” ucap Trining dengan lembut. Pram mengangkat wajah dan tersenyum dengan mulut mengerucut karena mengunyah. Begitu usai, Pram meneguk minuman satu botol sekaligus. Genta mengamati dengan pandangan tidak percaya. Tujuh tahun dalam bungkam dan dianggap gila, lalu koma dan kini Pram tersadar dan tampak bugar. Kecuali kondisi tubuhnya yang kurus dan mata cekung. Di luar dari itu semua, Pram terlihat normal. Bram menjelaskan kemungkinan secara medis. Dugaan Bram, pemicunya adalah saat mesin tersebut berhenti memompa, jantung kemudian dalam keadaan resting atau istirahat sementara. Tanpa disadari bagaimana proses berikutnya, tubuh Pram merespons satu sama lain, dikarenakan fungsi otak masih bagus. “Begitu banyak cerita. Tapi aku susah menyusun kata,” ujar Pram dengan suara serak. “Jangan terlalu dipaksakan, Paklek. Butuh proses pemulihan hingga beberapa minggu ke depan. Kita capai satu persatu,” ujar Genta dengan senyum bahagia. Pram mengangguk dan tampak lega saat melihat Genta dalam keadaan baik-baik saja. “Kamu semakin mirip dengan Mbah Kakung . Gagah dan tampan. Kulitmu juga putih, nggak seperti kami, lelaki di keluarga Amandaru,” ujar Pram terdengar bangga. Genta menepuk lengan pamannya dan tertawa kecil. “Kalo dibandingkan dengan ketampanan Paklek, ya aku kalah!” seloroh Genta dengan jenaka. Pram terkekeh dan menggelengkan kepala. Trining mengiyakan sementara geli. Mereka benar, Pram adalah pemuda yang tidak kalah tampan dengan Genta saat ini. Jarak usia mereka terpaut sepuluh tahun, namun seperti kakak beradik. Mungkin yang membedakan hanyalah warna kulit mereka. Kulit Genta jauh lebih terang dan kuning langsat, sementara Pram memiliki warna kulit cokelat terang. Keduanya memiliki hidung tinggi dan rahang kokoh yang serupa. Mata mereka tajam dinaungi alis tebal rapi yang menambah daya tarik. Tidak ada yang meragukan ketampanan pria keluarga Amandaru! Konon Cokro adalah pemuda yang digilai oleh seluruh wanita. Dan ketika pilihannya jatuh pada Padmi, putri ningrat dari Jogja, banyak yang patah hati. “Aku sudah memberi kabar pada paklek Sigit dan dokter Arum,” ungkap Genta memberitahu Pram. “Sigit balik ke sini?” tanya tidak percaya. “Sudah hampir enam bulan ini, Paklek.” Genta duduk di sebelah ibunya yang masih bungkam. Trining tidak mempedulikan Padmi dan terkesan acuh. Sepertinya mereka berdua masih perang dingin. “Oh syukurlah. Tujuh tahun dalan kegelapan. Semua kayak baru. Kamu menikah, Sigit balik dari rantau, dan Ki Sukmo sedho (meninggal).” Mata Pram tampak menerawang. “Arum masih setia nunggu kamu, Dek,” ucap Trining dengan terbata-bata. Ia tidak pernah mengetahui jika adiknya mencintai wanita tersebut. Hanya Cokro yang menyimpan rapat-rapat, namun merestui hubungan mereka. “Mbak Tri sudah tahu?” tanya Pram dengan senyum tersipu. “Nyuwun pangapunten, nggak cerita sebelumnya. Cuman mas Cokro sudah memberi restu sebelum pergi,” balas Pram dengan pelan. Trining memahami hal itu dan tidak keberatan. “Apa kamu melanjutkan lagi, Pram? Kita dukung kalo memang Arum ndak ada kendala,” timpal Padmi memberikan suaranya. Kini Pram menoleh dan tersenyum pada kakak iparnya tersebut. Wanita itu yang membesarkan dirinya sejak ibu mereka meninggal dan Trining ditinggal oleh suaminya saat masih belia. Enam belas tahun Trining menikah, kemudian suaminya pergi tanpa kabar. “Nggih, Mbak. Semoga aku pulih lagi dan bisa melanjutkan apa yang tertinggal,” sahut Pram dengan santun. Ia tahu jika Trining dan Padmi dalam situasi saling diam dan tidak bicara. Namun satu-satunya yang terbaik adalah membiarkan lebih dulu hingga emosi mereka hilang dan mereda. Tidak lama, perawat masuk dan mengatakan waktu kunjungan sudah usai. Pram harus isirahat dan menjalani sesi terapi sejam kemudian. Satu persatu keluar dari ruangan tersebut, terakhir Genta. Ketiba mencapai pintu, Pram mendadak memanggilnya. “Ya, Paklek?” “Binar dan Lunar yang membantuku, Gen.” Tubuh Genta membeku dan seperti tersiram air dingin. “Akan paklek jelasin nanti,” janji Pram dan Genta harus segera menyingkir karena perawat senior itu cukup galak serta berani mengusir dokter muda seperti dirinya. ** Berita mengenai Pram yang pulih membuat Arum menagis tersedu-sedu. Antara bahagia dan tidak percaya. Sigit berjanji menemani adiknya untuk bergegas menuju ke rumah sakit  sore itu. Ibunya, Asmi, terlihat tidak begitu saja menyetujui. Cuaca tidak mendukung saat ini. Hujan deras disertai angin mengguyur wilayah kabupaten Semarang sejak siang. Perdebatan pun mulai terjadi antara Arum dan ibunya. Asmi bahkan melontarkan kata percuma, saat Arum berusaha memberi alasan yang masuk akal. “Dia nggak bakal langsung melamar! Pram itu pemuda pengecut! Lagi pula, kamu mau terlibat dalam kemelut kutuk keluarga Amandaru?!” seru Asmi kehilangan kendali. Arum menatap ibunya dengan tidak percaya. Sigit tidak berhasil menengahi mereka karena ibunya jauh lebih keras. “Bu, Arum nggak bakal menikah dengan laki-laki lain selain Pram! Kalo ibu tidak merestui, Arum memilih untuk seperti ini seumur hidup!” Arum sudah mencapai usia tiga puluh lima tahun. Tujuh tahun menunggu dan kini ibunya menentang. “Kamu milih Pram dibandingkan ibumu sendiri, Rum?” tanya Asmi pada putrinya dengan raut wajah tidak terima dan mata tajam. “Ya!” sahut Arum tegas. “Karena Pram mendukung Arum untuk menjadi dokter, sementara Ibu justru mementingkan mas Sigit! Karena apa? Ibu adalah seorang guru, tapi pikiran Ibu sangat sempit! Pram juga yang menolong mas Sigit terlepas dari jerat n*****a! Ibu masih tidak menghargai semua itu?! Kualitas apa lagi yang Ibu harapkan?!” Asmi tercekat oleh ucapan anak perempuannya. “Cukup, Arum!” bentak Sigit mulai mengambil sikap. “Jangan terlalu lancang dan membuatmu jadi anak durhaka,” ucap Sigit melunak. “Tapi semua itu benar, Mas!” isak Arum dengan sedu sedan. Asmi tertegun dalam diam. Wanita itu terpaku di tempat duduknya dengan wajah membeku. Ruang tamu itu mendadak hening sesaat. “Pergilah. Lakukan apa saja yang kalian anggap benar.” Asmi bangkit dan meninggalkan kedua anaknya dan masuk ke dalam kamar. ** Genta baru saja menyelesaikan jam kerja dan hendak keluar dari ruang praktek tersebut. Ponselnya mendadak bergetar dan ia menarik dari saku jas. Dayu memberi kabar jika kontraksi sudah mulai ia rasakan. Kembali hentakan nyeri menyiksa hatinya. Ia tidak bisa menemui Dayu, menyaksikan kelahiran anak mereka. Pahit. Itulah keadaan yang mengepung Genta saat ini. Baru saja ia melewati ruang perawat dan menuju ke bagian UGD, serbuan perawat dan dokter jaga menyita perhatian Genta. Keningnya mengernyit saat teriakan terdengar memenuhi ruang UGD yang tak jauh darinya. Ia berjalan dengan cepat menuju  ke sana. Saat mendekati meja resepsionis, Genta melihat dua pasien didorong dengan cepat-cepat menuju ruang tindakan. Darahnya seperti berhenti mengalir ketika melihat siapa kedua orang yang datang dengan kondisi menggenaskan dan bersimbah darah tersebut. Sigit dan Arum! “Kecelakaan di depan terminal!” teriak salah satu perawat menjawab pertanyaan dokter yang baru saja tiba. Genta mundur dua langkah, lalu bersandar di tembok sementar wajahnya memucat. Kunjungan untuk Pram yang mereka rencanakan sore ini, dengan memberitahu Genta melalui pesan, membawa petaka!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN