Cinta Seharum Bunga Melati

1136 Kata
Lutut Genta masih menyisakan gemetar yang membuatnya gugup. Dengan setengah panik, ia membantu dokter umum yang berjaga, memeriksa kondisi vital Sigit juga Arum. Kenyataan pahit kembali menghentak Genta saat mengetahui kedua lutut Arum hancur sementara Sigit dalam kondisi kritis. Kepala pria yang menjadi sahabat pakleknya tersebut mengalami luka cukup parah. “Siapkan ruang operasi, dan pastikan dokter yang menangani datang dalam waktu sepuluh menit ke depan!” teriak Genta kalut. Semua mengikuti perintahnya dan Genta berjalan dengan langkah cepat menuju ke ruang operasi. ** Hampir sepuluh jam lebih, operasi Arum berjalan. Sementara Sigit tidak mampu diselamatkan. Pria tersebut meninggal ketika operasi sedang berlangsung. Genta membiarkan tubuhnya melorot ke lantai dengan tangis tergugu. Apa yang akan ia kabarkan pada Pram nantinya? Dia merasa bersalah karena mengirim pesan dan menyebabkan kedua orang yang begitu menantikan kesembuhan Pram meninggal dalam perjalanan. Trining memandang Genta dari kejauhan dan seketika, wanita itu menyadari jika ada sesuatu yang buruk telah terjadi. Genta menggelengkan kepala begitu melihat buleknya datang. Tangis dan isak haru terdengar dari ujung lorong. Trining meninggalkan Genta dengan langkah terseok. ** Kalimat yang tersusun dengan rapi dan hati-hati, ternyata tidak mampu menahan Pram untuk tidak berteriak histeris. Berkali-kali pakleknya memukul d**a dan semua yang ada di sekitarnya dengan kalap diiringi tangis penuh ratapan. “Jangan tinggalin aku, Git! Kita sudah berjanji! Tega kamu pergi, Git! Sigiit!!” Trining menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak tahan melihat kondisi Pram yang begitu terpukul dengan kematian sahabat yang menyayangi juga setia padanya. Genta duduk dengan mata berderai. Persahabatan Pram dan Sigit begitu luar biasa. Mereka saling dukung dan setia satu sama lain. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana perasaan tunangan Sigit jika tahu kekasihnya telah tiada. Asmi, ibu mereka, tidak kalah histeris. Wanita yang seperti sudah memiliki firasat akan kepergian putranya, terlihat mengutuk keluarga Amandaru habis-habisan. Duka kembali menyelimuti mereka. Padmi tidak berkomentar, namun meninggalkan rumah sakit dengan wajah membeku, penuh derita dan beban. Ia tidak membalas sedikit pun makian juga u*****n Asmi padanya. Tidak ada gunanya membela diri. Apa yang Asmi lontarkan ada benarnya. Keluarga Amandaru seperti sumber petaka bagi siapa pun. Setiap ada yang mendekat, mereka aka mengalami ketidak-beruntungan yang bertubi-tubi. Bahkan Pardi kini juga meminta mundur sementara waktu. Perkebunan dan usaha mereka tidak lagi ada yang menangani. Para pekerja juga mengajukan keberatan untuk terus bekerja jika Pardi tidak bersama mereka. Trining berada dalam situasi tersudut. Mungkin ini adalah titik kehancuran keluarga Amandaru. ** Arum baru saja pulih dari pengaruh bius operasi. Matanya nanar menatap langit-langit. Kemudian ia menebarkan pandangan, hingga bertemu mata dengan Pram yang berdiri di dekat pintu masuk. “Mas …,” panggil Arum dengan wajah heran bercampur bahagia. Pram mengerjapkan kedua mata seperti ingin menenangkan Arum yang sedang dalam kebingungan. “Dia yang menyebabkan masmu meninggal, Arum! Jangan pernah mikir buat mengucapkan kalimat yang bikin ibu muak!” sambar Asmi dengan kejam. Arum tersentak. Raut muka wanita itu menjadi pias. “Mas Sigit … dia ….” Arum menatap ibunya, lalu berpaling pada Pram yang berdiri dengan sikap gamang. “Meninggal! Ya, dia sudah mati!” teriak Asmi dengan isakan keras. Perawat yang berjaga segera meminta Asmi untuk menenangkan diri. Arum belum sepantasnya menerima kabar duka tersebut. Tangan suster Asmi tepis dengan kasar. “Kamu udah liat Arum, mau nunggu apa lagi? Kutukan keluargamu bisa membuatnya mati dan aku akan kehilangan kedua anak karena kalian!” usir Asmi. Matanya merah serta melotot. Pram terhenyak, tidak membalas satu kata pun. Arum menangis tanpa sedu sedan. Tubuh dokter itu seperti membeku, sementara linangan air mata mengalir tanpa henti. Pram membalikkan tubuh, meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai. ** Asmi mendapat larangan mengunjungi putrinya dikarenakan kondisi mental yang tidak stabil. Mungkin terpukul oleh kematian Sigit yang begitu mendadak, menyebabkan Asmi terpuruk dalam duka yang mendalam. Pemakaman Sigit berlangsung dengan khusyuk. Mereka menyayangkan kematian pemuda yang sangat baik dan membanggakan desa mereka. Desas desus mengenai penyebab kematiannya menjadi topik gosip hangat yang menyebar. Kembali lagi, keluarga Amandaru dituding menjadi biang keladi dari petaka. Sulis, ketua RT, berusaha meluruskan, namun tampaknya sia-sia. Warga terlanjur memiliki pemikiran dan anggapan sendiri. Bukti yang terjadi mendukung semua asumsi mereka. Perkebunan kopi, sawah, serta ladang keluarga Genta terbengkalai. Tidak ada lagi pekerja yang mau terlibat dengan mereka. Di antara semua hal yang berlangsung, Genta mendengar vonis mengenai Arum. Wanita itu tidak akan bisa berjalan dalam waktu yang cukup lama. Luka di tempurung lututnya perlu waktu untuk kembali pulih. Operasi yang telah mereka lakukan hanya mengembalikan bentuk saja. Akan tetapi untuk kembali berjalan, Arum membutuhkan proses terapi serta pemulihan yang lama. Dengan jantan dan kesatria, Pram menyatakan akan menikahi Arum. Meski dia tahu akan menerima pertentangan dari Asmi, rupanya niat itu teguh dan tidak tergoyahkan. ** Arum duduk di kursi roda dan bersiap pulang setelah dua minggu menjadi pasien di rumah sakit. Wajahnya terlihat kuyu. Ibunya masih dalam kondisi yang tidak stabil dan Pram menjemput Arum pulang. “Rum,” sapa Pram dengan lembut. Kepala Arum menoleh. Tidak ada senyum yang terukir di bibirnya yang kering. “Mas Sigit udah nggak ada. Kayaknya baru kemarin dia berjanji buat bantu menyadarkan kamu.” Arum menatap Pram, kekasih hatinya dengan hati nyeri. Pertukaran yang sangat tidak adil. Dia mendapatkan Pram kembali, tapi kehilangan kakak yang begitu ia andalkan juga sayangi. “Maafkan kami, Rum. Seandainya aja ini bisa kami cegah,” balas Pram lirih. Mata Arum berkaca-kaca. “Dia pergi begitu kamu terbangun kembali. Mas Sigit memenuhi janji dengan cara yang menyakitkan, Mas.” “Aku tahu, Rum. Aku tahu.” Pram meraih kepala Arum dan memeluk gadisnya dengan hati terluka. Duka Arum juga menjadi dukanya. Sigit adalah segalanya bagi Pram, begitu juga sebaliknya. “Aku lumpuh, Mas. Aku lumpuh sekarang. Apa lagi yang akan Tuhan timpakan?” isak Arum. “Rum, lihat aku,” pinta Pram. Wanita itu memandang dengan bibir gemetar. Wajah tampan itu begitu teduh dan membuatnya kuat saat ini. Tapi mungkinkah Pram mau menerima kondisi Arum yang sekarang? “Aku memintamu, dengan penuh hormat dan ketulusan. Maukah kamu menikah denganku? Mewujudkan mimpi kita dulu?” Ada kilat terkejut pada mata Arum. Tidak menyangka Pram akan melamar meski tubuhnya tidak lagi sempurna. “Aku tetap mencintaimu, tidak pernah berkurang sejengkal pun. Kamu adalah wanita yang selalu jadi pilihan hati ini. Adik sahabatku yang mencuri pandang diam-diam dan memendam cinta selama bertahun-tahun. Kita cukup konyol dengan menyangkal selama itu.” Arum tertawa kering dan dengan gugup mengangguk. Pram mengucapkan syukur dan tanpa ragu lagi, mendekat, kemudian melumat lembut bibir Arum penuh perasaan.   Tubuh Arum bergetar, menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan. Pram membuatnya melayang dalam kebahagiaan di tengah duka yang menyelimuti hidupnya. “Aku mencintaimu, Rum. Kekasih dan calon istriku,” bisik Pram begitu ciuman mereka terurai. Arum tertegun, sementara wajahnya memerah, tersipu. Jemari Pram mengusap bibir wanita yang begitu ia dambakan menjadi pendampingnya dengan lembut. Cinta ini begitu tulus, ikhlas, tidak menuntut. Cinta mereka seharum bunga melati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN