Janur mengenang Sigit dengan hati mengharu biru. Setiap malam berdoa dalam sholat tahajud-nya dengan cucuran air mata sesal. Entah apa yang menyebabkan kecelakaan tersebut, tapi Janur belum bisa menerima kenyataan yang begitu pahit. Sigit adalah salah satu orang yang berjuang dengan Janur menguak kemelut keluarga Amandaru.
Terlebih lagi kabar mengenai Arum yang lumpuh karena kecelakaan tersebut. Niat Pram yang akan menikahi Arum menjadi harapan Janur yang paling dalam.
“Haruskah aku kembali, Nur? Paklek sudah kembali sadar dan sepatutnya aku datang berkunjung,” tanya Dayu dengan pelan.
Janur melipat sajadah dengan gelengan kepala.
“Bukan saat yang tepat. Kandungan Mbak Dayu tinggal menghitung hari. Kalo ke sana dan ada sesuatu yang terjadi, kita semua akan menyesal.”
Dalam hati Dayu membenarkan. Dia menghela napas dan menyandarkan tubuh di sisi pembaringan, sementara duduk di lantai.
“Kisah mereka berdua mengesankan banget, ya, Nur. Cinta yang sepertinya badai. Cuman ke satu orang selama bertahun-tahun. Pram dan Arum, dua sejoli yang membuatku iri.”
Gumaman Dayu membuat Janur tersenyum sendu.
“Mbak Dayu juga sama mas Genta,” timpal Janur. Dayu tersenyum getir. Ia meraih ponsel lalu membuka fitur pesan kemudian menyerahkan pada Janur.
Tangan Jnaur menerima dengan sedikit sungkan.
“Baca pesan terakhir,” pinta Dayu dengan suara lirih.
Mata Janur menelusuri tiap kalimat dengan seksama.
‘Dayu, ibu menguak kalimat demi kalimat ganjil yang membuatku kian tersudut. Mungkin tudingan mereka termasuk pertanyaanmu benar. Keluargaku pembawa petaka bagi siapa saja. Aku tahu, waktu kelahiran anak kita tinggal menunggu. Tapi sepertinya aku nggak bisa datang, biarpun kamu udah meminta hal ini dengan melarangku. Dayu, hal yang aku, mungkin, takutkan terjadi. Jika memang semua kemelut ini tidak bisa berakhir, aku harus pergi jauh dari kalian. Ini yang terbaik demi keselamatan anak dan keluarga kita. Cinta mungkin nggak cukup kuat untuk menyatukan mimpi. Maafkan aku, Dayu. Menghancurkan hidup rumah tangga kita dengan misteri memalukan keluargaku. Aku selalu menyayangimu, perempuan yang menjadi mercusuar hidup seorang pria bernama Genta Pangestu Amandaru.’
Janur merasakan matanya panas dan merebak. Ia menatap Dayu yang duduk bersila di sebelahnya.
“Nebin dan pak Jetro belum dikasih tahu?”
Dayu menggelengkan kepala lemah. “Buat apa? Mereka bakal menghujat mas Genta dan situasi keluarga jadi nggak damai lagi. Biar ini jadi rahasia dan urusan antara kami aja, Nur.”
Tenggorokan Janur terasa kering dan kehilangan kemampuan menyusun kalimat. Betapa manusia yang ada di sekeliling mereka tidak menyadari penderitaan Dayu.
**
Suasana rumah joglo sedikit ramai akan kendurian yang ditujukan untuk syukuran atas kembalinya Pram. Ternyata masih ada beberapa orang yang simpati dan tidak ambil pusing atas pembicaraan mengenai keluarga mereka.
Sulis, salah satunya. Pria itu terlihat mengobrol dengan Pram hangat. Mereka saling bertukar kabar, setelah kendurian selesai. Sulis yang hampir seumuran Pram mengatakan banyak hal yang terlewatkan selama ini.
Hingga tiba pada topik pernikahan Pram yang telah Sulis ketahui, semenjak Pram mengurus surat-surat.
“Jadi semua tinggal menunggu restu saja, tho, Mas?” tanya Sulis.
Pram tersenyum penuh arti.
“Dan hari keempat puluh Sigit, Lis,” sahut Pram.
“Ah, iya. Aku lupa, Mas.”
Sri datang dengan nampan berisi kopi untuk mereka berdua.
“Kalo bu Asmi gimana, Mas? Beliau itu guru SD kita jek. Kasihan sampe stres gara-gara kehilangan mas Sigit.”
“Ini nggak mudah buat semuanya, Lis. Tapi kalo aku nggak menikahi Arum, kesempatan buat merawat dia akan terbatas. Pernikahan ini bukan sekedar buat memenuhi hasrat semata. Kamu tahu gimana kondisi kami sekarang.”
“Aku tahu, Mas. Nggak ada niat buat menyatakan pernikahan kalian yang sepertinya tidak layak dilangsungkan sementara masih berduka. Dukungan dari aku pasti seratus persen, Mas Pram,” timpal Sulis dengan sungguh-sungguh.
“Makasih, Lis.”
“Mas, aku paham sekali sama semua yang sedang kalian hadapi. Menurut aku, Arum pantas mendapatkan perlakuan yang istimewa, mengingat dia paling setia nunggu sampe sampeyan pulih.”
Pram mengangguk dengan senyum getir. “Sayang Sigit pergi terlalu cepat. Aku nggak sempat bilang terima kasih dan minta maaf.”
Helaan prihatin terdengar dari mulut Sulis. “Aku yakin, mas Sigit tahu kalo Mas Pram akan menyampaikan itu. Menurutku yang paling utama, sembuhkan diri pribadi dan juga fokus pada Arum. Yang lain bisa dibereskan nanti.”
“Termasuk penolakan ibu mertuaku?”
Senyum kikuk tersungging dari bibir Sulis. “Termasuk penolakan dari bu Asmi,” ulang Sulis dengan pelan namun yakin.
Pram seperti kembali bersemangat dan mendapat kekuatan dari teman kecilnya tersebut.
“Tidak banyak teman kita yang masih bertahan, apa lagi menganggap aku ada. Kamu hanya satu-satunya yang ada saat ini. Bagiku ini sudah lebih dari cukup.”
Dengan mencondongkan tubuh ke depan, Sulis menatap Pram tajam. “Kamu nggak sendiri, Mas. Ada Prapto, Gito sama Sugeng yang masih mendukung dan nggak akan termakan sama omongan masyarakat.”
Wajah Pram terhenyak.
“Ak-aku nggak tahu itu, Lis.”
“Mereka mau datang sebenarnya. Tapi doa tahlilan di rumah mas Sigit belum selesai. Mungkin agak malam nanti,” hibur Sulis. Pram mengangguk dan wajah itu mulai bersinar.
Mereka adalah para pemuda yang berjuang bersamanya membangun desa mereka dulu. Jebolan sarjana dari berbagai jurusan yang memilih berjuang di tempat sendiri serta melupakan mimpi meraih karir di kota besar.
Gito bahkan menolak tawaran bergabung dengan perusahaan kontraktor besar, demi mewujudkan impian membangun tata kota yang layak untuk desa Bedono. Sementara Prapto merupakan pengusaha yang memahami bidang pertanian seperti Pram. Bedanya, Prapto menyelami pengolahan kopi dan buah cokelat.
Di sisi lain, Sugeng adalah pujangga yang menjadi idola di antara mereka. Sobat mereka yang satu itu menjadi pengarang surat untuk gadis incaran masa muda dulu.
Sugeng sukses membangun perpustakaan desa yang kini berkembang menjadi teater kecil, tempat para pemuda pemudia berlatih drama, ketoprak dan berbagai bidang seni lainnya.
Sayekti salah satu murid Sugeng yang berbakat dalam tari tradisional.
“Aku nggak sendiri,” gumam Pram.
“Mboten, Mas. Kita masih ada,” imbuh Sulis seraya menyeruput kopinya.
Di sisi lain, Genta yang duduk tak jauh dari mereka mendengarkan dengan perasaan campur aduk.
‘Betapa paklek beruntung. Memiliki teman dari masa lalu yang mendukung. Mereka tidak melupakan dan setia sebagai teman sejati. Aku? Tidak ada yang tertinggal. Kemana teman-teman yang namanya saja sulit kuingat? Mungkin Drajat saja yang ada. Itu pun mulai berubah sejak Janur pergi. Ya Allahku, ada apa dengan diriku? Ke mana ingatanku selama ini?’