Binari menutup pintu kamar Dayu dengan pelan, namun tidak sepenuhnya tertutup. Ia membiarkan daun pintunya terbuka sedikit.
Dayu sedang dalam masa kontraksi yang jedanya kian dekat. Janur menemani dengan setia dan tidak meninggalkan kamar Dayu sejak siang tadi.
Jetro mulai gugup juga gelisah. Ayah Dayu bolak balik dari ruang tengah lalu ke depan. Semua keperluan melahirkan sudah ada di dalam mobil, namun Jetro tidak henti-hentinya memeriksa kembali.
Pria yang masih tampan pada usia yang melewati setengah baya tersebut tidak mampu menahan kepanikan juga gelisah yang mendera.
Ini akan menjadi pengalaman pertama sebagai kakek. Dayu merupakan putri tunggal yang begitu berharga bagi Jetro. Membayangkan kehadiran bayi mungil di rumah ini, menimbulkan kegugupan yang bercampur kebahagiaan tersendiri dalam dirinya.
“Duduk yang tenang, Jet!” perintah ibunya mulai terganggu dengan sikap anaknya.
Jetro mendengus kesal karena menganggap ibunya tidak mengerti.
“Jetro! Kamu bikin mama panik!” seru Binari menjadi tidak nyaman.
“Ma, Dayu sudah dari tadi siang mules-mules. Kenapa kita nggak bawa ke rumah sakit aja, sih?”
“Bukan begitu aturan dan caranya! Kamu tahu apa?” tukas Binari sedikit kesal.
“Tapi ….”
“Tapi apa? Ni Luh dulu malah dua hari mules sebelum Dayu lahir!” potong Binari tidak sabar.
Jetro mendadak teringat akan mendiang istrinya. Wanita yang sangat rupawan. Gadis Bali yang paling cantik, yang Jetro pernah kenal.
Mereka tidak sempat melewatkan masa pacaran lama. Jetro begitu tergila-gila pada gadis ayu yang selalu tampil anggun dan tenang. Meski pernikahan mereka berbeda agama, tapi kebahagiaan tetap menjadi warna yang melengkapi pernikahan mereka.
Sengaja menunda hingga setahun pertama untuk tidak segera memiliki momongan, hingga Ni Luh memberi hadiah ulang tahun dengan selembar kertas yang menyatakan istrinya mengandung tiga bulan. Dunai Jetro mendadak jauh lebih bermakna.
Karirnya menanjak dan itu bonus tambahan yang menjadi puncak kebahagiaan kala itu. Bahkan setelah Ni Luh meminta pada Binari untuk pindah, Jetro semakin terpukau, betapa pandai istrinya menawan hati ibunya.
Sayang, itu tidak lama. Ni Luh membisikkan kata yang singkat sebelum mengembuskan helaan napas terakhir. “Titip Dayu Alinari, Jetro, Pejantan Tangguhku.”
Jetro selalu mengagumi Ni Luh yang merupakan mahasiswi sastra. Dia memiliki pilihan kata yang menarik, serta sebutan unik untuk mengungkapkan isi hati juga pemikirannya.
Binari menjadi belajar banyak hal dari menantunya tersebut. Nebin adalah sebutan yang Ni Luh ciptakan saat Dayu masih dalam kandungan.
Masih banyak lagi ungkapan menarik yang Ni Luh tinggalkan, dan kini diteruskan oleh Binari menjadi budaya berkata-kata unik dalam keluarga mereka.
Bukan hanya Jetro yang terpukul, serta terpuruk bertahun-tahun. Binari juga menjadi berbeda. Tidak pernah ia menuntut putranya menikah lagi. Jetro menduda selama tiga puluh tahun dan tidak tergoyahkan!
“Bulan purnama membulat sempurna,” gumam Binari menatap jendela, ke arah luar.
“Persis sama dengan Dayu,” imbuh Jetro dengan pandangan terpaku.
Binari baru tersadar dan membenarkan dalam hati.
“Kenapa nggak ada yang inget buat jaga-jaga ini?” Jetro duduk dan meminta penjelasan dari ibunya.
“Mama udah delapan puluh tahun lebih, Jet. Apa yang kamu harapkan dari wanita tua seperti aku?”
Pria itu menelan ludah gusar.
“Apakah itu berarti dia juga menjadi seperti Dayu?” tanya Jetro.
Ibunya membuang muka dan ingin rasanya menghindar untuk tidak menjawab.
“Ma!”
“Mama nggak tahu, Jet! Biarkan mama berpikir dulu!”
Jetro bungkam dan kini timbul hal yang mereka cukup khawatirkan. Dayu sudah melewati dengan baik. apakah cucu mereka nanti bisa berhasil seperti ibunya?
“Kenapa dengan kelahiran bulan purnama?!” tanya Janur muncul dengan wajah bingung.
Baik Binari maupun Jetro salah tingkah dan tidak menduga jika Janur mendengar pembicaraan mereka.
Tidak ada jawaban yang terlontar dari mereka. Janur cukup tahu diri dan tidak menuntut lebih. Fokusnya kini hanya pada Dayu yang mulai merasakan kontraksi yang jaraknya memendek.
“Mbak Dayu udah makin dekat kayaknya. Kontraksi hanya berjeda kurang dari lima menit.”
Usai mengatakan itu, Janur meninggalkan kedua orang tersebut dan kembali ke kamar menyiapkan Dayu. Jetro mematung.
“Sebaiknya ibu saja yang bicara.” Binari mengatakan dengan suara pelan.
Anaknya tidak menanggapi. Jetro bangkit begitu Dayu keluar digandeng Janur.
Mereka pun menuju ke rumah sakit.
**
“Dayu akan melahirkan malam ini.” Genta memberitahu ibunya yang baru saja melepas tamu.
Padmi terhenyak, lalu menatap ke langit malam.
Bulan mencapai bentuk bulat utuh.
“Kelahiran purnama,” desis Padmi penuh harap.
Genta tidak memahami apa pun dari kalimat tersebut.
Namun rasa malas melanjutkan pembicaraan dengan ibunya, membuat Genta memutuskan untuk menghindar.
“Gen, kita sembahyang dulu,” ajak Trining yang sudah mendapat pesan dari Dayu mengenai kondisinya di Bali.
Pria itu mengangguk dan mengikuti langkah Trining ke dalam. Pram sudah menunggu bersama Arum yang duduk di atas kursi roda, sementara mereka bersila di lantai.
Dengan dipimpin oleh Pram, mereka mulai mengaji, demi kelancaran Dayu yang akan melahirkan malam itu. Berkali-kali air mata Trining meleleh.
Padmi tidak bergabung dengan mereka. Ibunya memilih mengikuti dari dalam kamar.
Satu persatu ayat ia lantunkan dengan nada lirih, dan kucuran air mata.
“Ya Allah, lancarkan kelahiran Dayu, menantuku. Sehatkan bayi serta ibunya.”
Suasana di rumah joglo menjadi cukup teduh. Lantunan pengajian yang tidak pernah berhenti Pram dengungkan, mengisi serta menyibak aura suram yang sekian lama mengisi relung juga sudut rumah mereka.
Sri yang mendengar ada seseorang memberi salam, segera meninggalkan pengajian dan menuju ke depan.
Sugeng, Prapto, Gito juga Sulis datang dengan baju koko dan celana panjang. Dengan sumringah, Sri mempersilahkan mereka masuk untuk bergabung.
Pengajian lebih terdengar merdu dan menyejukkan. Untuk pertama kalinya, Genta merasa kehadiran Pram memberi makna tersendiri setelah sekian tahun menjadi pamannya!
Betapa jauh perbedaaan antara dirinya dengan Pram. Pria yang menjadi kebanggaan desa dan keluarganya.
**
Erangan Dayu yang sedang berjuang melahirkan bayi, terdengar pilu. Binari mendampingi cucunya untuk memberi semangat. Bidan yang menangani kelahiran terus memberi arahan dengan sabar.
“Sedikit lagi, jangan angkat pinggulnya, Bu!” seru bidan dengan terus menerus membimbing.
Dayu mengejan sekuatnya. Seiring jarum jam tepat menunjukkan pukul 12.00 tengah malam, bayi yang sekian lama mereka tunggu pun terlahir. Tangisan yang keras terdengar memecah keheningan malam. Dayu terkulai dengan wajah lelah, penuh keringat. Binari menangis haru, sekaligus bahagia.
Jetro segera membisikkan lantunan azan di telinga cucu pertamanya, sementara isak tangis juga sedu sedan terlontar.
Ini pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
“Selamat, Yu. Dia sangat cantik seperti Ni Luh,” bisik Binari tidak henti-hentinya mengusap rambut Dayu.
“Pe-perempuan?” tanya Dayu yang memang tidak ingin mengetahui dari awal.
Neneknya mengangguk.
Tangis Dayu pun pecah. Sementara bidan masih menjahit bekas jalan bayi, Dayu meluapkan semua isi hatinya.
“Anak kita lahir, Mas. Sudah lahir dengan selamat,” ucap Dayu dengan tangis penuh kesedihan. Seharusnya Genta ada di sampingnya.
“Sabar, Bu. Nanti ayahnya pasti datang kalo tugasnya selesai,” hibur bidan yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya.
Baik Binari maupun Jetro terdiam. Dayu masih terisak. Bukan sakit fisik yang ia tangisi. Keadaan yang penuh dengan kendala dan tragedi memisahkan dia dan Genta, menimbulkan perasaan nestapa yang sulit untuk Dayu kendalikan saat ini.
Kelahiran tepat di bulan purnama itu masih menyisakan tanya dalam diri Janur. Namun gadis tersebut memilih menyimpan dalam-dalam semua rasa penasaran.
Ia bergantian menggendong bayi mungil yang terlihat begitu tenang dalam pelukannya.
“Siapa namanya?” tanya Janur pada Dayu.
Dayu berusaha berhenti dari sedu sedan dengan susah payah.
“Alina Datu Amandaru.”