Genta memandang foto yang Dayu kirimkan dengan wajah sumringah sekaligus hati sendu.
Bayi itu sangat cantik. Nama yang Dayu berikan juga sangat pas dan Genta sepakat.
“Alina,” gumam Genta dengan senyum samar.
Trining mengintip dari sebelah dan menepuk pundak Genta lembut.
“Dia mirip dengan Dayu. Cucu kami yang pertama,” timpal Trining terdengar begitu bangga.
“Iya, Bulek. Mirip sekali sama ibunya.” Genta membenarkan sementara mereka duduk berdua di teras.
“Semoga mereka berdua sehat selalu,” harap Trining dengan wajah gugup.
Genta berpaling dan memberikan tatapan yang membuat buleknya semakin gelisah.
“Benar kata ibu. Mungkin jika aku berada bersama mereka, kutukan itu akan menimpa anakku.”
Trining tercekat.
“I-ibumu mengatakan hal itu?” tanya Trining tergagap.
“Bulek, aku sudah bahas dan menanyakan ini pada waktu kita memutuskan mengenai paklek Pram!”
“Mu-mungkin bulek lupa. Saat itu kita sedang fokus pada hal lain, Gen. Mana bisa bulek mengingat.”
Alasan yang sangat tepat. Genta menghela napas berat, tidak berniat mempermasalahkan tanggapan buleknya.
“Gen, kalo saran bulek, sebaiknya kamu dengar nasehat ibu. Dia mengerti yang terbaik. Mbak Padmi itu sayang sekali dengan Dayu. Hatinya juga mungkin kecewa bercampur sakit. Cucu pertama yang seharusnya sudah ada dalam dekapan dan gendongannya, harus terpisah jauh. Kebanggaan mbak Padmi adalah memiliki cucu yang akan meneruskan nama keluarga kita.”
“Keluarga yang terkutuk,” timpal Genta getir dan sinis.
“Apa maksudmu, Gen?!”
Pram muncul dengan seruan bernada tidak suka. Keponakannnya menoleh dan melihat pakleknya dengan kikuk. Genta cukup segan dengan Pram, yang juga memiliki kewibawaan ayahnya.
Pria itu duduk bersama mereka. Trining segera memberi isyarat melalui kerjapan mata yang memohon pada adiknya untuk tidak meneruskan. Pram tampak tidak mengindahkan hal tersebut.
“Keluarga terkutuk. Satu ungkapan yang cukup serius. Rupanya doktrin warga juga masyarakat sudah mempengaruhi kamu, Gen.”
“Mau tidak mau, Paklek. Aku dengar setiap hari, tanpa mereka berusaha menyembunyikan. Seakan-akan aku nggak ada di situ!”
Kepala Pram mendongak. Memicingkan mata sementara berpikir sejenak.
“Setiap kemelut memang tidak bisa dianggap remeh. Tapi setiap penjahat pun, memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Keluarga kita dianggap membawa petaka yang menyebabkan Ki Sukmo, Sayekti dan beberapa kematian lampau, sebagai tumbal! Tahu apa yang akan paklek katakan pada kamu?”
“Nggak, Paklek.” Genta cukup kagum dengan kalimat yang Pram lontarkan. Tegas, yakin dan penuh dengan kebenaran.
Pakleknya mencondongkan tubuh ke depan.
“Persetan dengan semuanya,” ucap Pram pelan, namun tajam.
“Pa-Paklek, aku nggak bisa diam. Kita hidup dalam masyarakat!”
“Dan membiarkan energimu habis buat menutup mulut warga juga membuat kesan lain? Keluarga kita memang terkutuk, Genta! Akui dan terima! Selesai!”
Trining mengagumi cara Pram membawa pembicaraan mereka ke arah yang lebih baik. Tujuh tahun terbungkam dalam kegilaan, pria itu tetap seperti dulu. Mereka sangat goyah tanpa keberadaan Pram.
“Genta, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengikuti permainan sumber petaka. Iblis yang menguasai Sayekti menginginkan kita pecah dan runtuh. Jangan mengandalkan hal lain selain Allah.”
“Jadi benar, iblis itu yang mengeluarkan kutukan buat kita? Lalu apa hubungannya dengan aku? Kenapa ibu selalu memintaku untuk mengingat? Memoriku hilang dan nggak bisa aku gali kembali, Paklek! Belum lagi omongan tentang keterkaitan diriku sama kematian mbak Binar sama mbak Lunar!”
Pram melirik ke arah Trining yang mulai gelisah.
“Kita akan selesaikan satu persatu, Gen. Apa yang kamu tanyakan benar. Tapi sesungguhnya, ada dua keterlibatan kita dengan iblis. Satu yang berkaitan dengan Binar dan Lunar, dua dengan perjodohanmu. Aku akan mengarahkan semua dengan baik, semoga memorimu kembali pada waktu yang tepat!”
Untuk pertama kalinya, Genta merasa ini adalah pencerahan dari semua selubung misteri yang menyelimuti keluarganya!
“Be-beneran, Paklek?” Genta tampak begitu gembira dan tidak percaya akan kalimat yang baru saja terlontar.
“Aku tenggelam terlalu lama. Kematian mas Cokro membuatku lemah. Kedatanganku dulu adalah salah.”
Pram seperti berkata pada dirinya sendiri.
“Apakah dia yang bikin Paklek jadi seperti itu?” Genta semakin ingin menggali lebih dalam, karena Pram sepertinya jauh lebih terbuka akan segala hal.
“Sayekti, maksudmu?”
Genta mengangguk.
“Kurang lebih.” Mata Pram menerawang jauh laksana mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. “Tidak akan ada yang bisa mengalahkan iblis itu, selama salah satu dari kita masih terikat,” gumamnya dengan pelan.
Genta mengerutkan dahi.
“Salah satu dari kita terikat? Siapa?”
Pram tersenyum kecut. “Untuk satu hal ini aku belum bisa menyampaikan padamu, Gen. Belum waktunya.”
Kembali Genta mendesah kecewa.
“Mbah Darmo juga nggak pernah mengatakan apa-apa. Dia berjanji akan menyelesaikan kemelut, tapi pergi tanpa kabar. Waktu dating hanya nengokin Ki Sukmo, sebelum aja menjemput.” Keluhan Genta terdengar putus asa.
“Maaf, tapi aku sendiri nggak akan mengandalkan dia. Mbah Darmo adalah salah satu penyebab ini terjadi! Dia mangkir dari tanggung jawab, sementara semua orang menuding Ki Sukmo! Orang yang paling berjasa dan mengorbankan diri demi kita! Demi janjinya pada mas Cokro!”
Wajah Genta memucat. Kepalanya berpaling pada Trining yang menunduk.
“Lalu kenapa Bulek mengatakan hal buruk mengenai Ki Sukmo pada Dayu dan aku? Bulek tahu, bukan? Aku tidak memiliki memori apa pun tentang beliau! Hanya kenangan tentang mbah Darmo secara samar dan sisanya nggak ada!”
Pram juga menuntut Trining dengan pertanyaan yang sama melalui kerlingan mata.
“Bulek?”
Kembali Genta meminta penjelasan dari Trining.
Wanita itu mengangkat muka dengan perlahan, sedikit agak gugup.
“Alasan yang sama seperti Pram utarakan, Genta. Ki Sukmo akan membuka semuanya sama kamu, sebelum waktunya. Kalo itu terjadi, petaka yang lebih dahsyat akan menimpa kita semua.” Suara Trining terdengar gemetar.
Ingatan Genta melayang pada kunjungannya ke rumah Ki Sukmo yang berakhir dengan Sayekti mencekiknya. Seandainya saja Sayekti tidak muncul saat itu, mungkin Ki Sukmo sudah memberitahu semuanya. Trining untuk kali ini benar.
“Ini tidak semudah yang aku pikirkan. Ternyata ada lapisan demi lapisan yang menutupi inti dari petaka.” Genta menyandarkan tubuh dengan lunglai.
“Apakah aku juga harus pisah dengan Dayu, Paklek? Seperti saran bulek dan ibu?”
Pertanyaan itu cukup menghentak hati Pram. Berat rasanya berterus terang pada Genta saat ini. Akan tetapi keponakannya perlu tahu, apa yang akan dialami oleh Dayu jika tetap bersamanya?
“Iblis Sayekti tetap akan mengincarmu sebagai pengantin abadinya, Gen. Sekarang kamu pertimbangkan sendiri. Apakah menurutmu Dayu dan juga anak kalian menjadi penghalang? Jika iya, berarti kamu tahu yang harus dilakukan.”
Jawaban yang berbalik menjadi pertanyaan untuk Genta itu cukup mengena.
“Perpisahan. Aku harus menceraikan Dayu? Itukah maksud kalian?”
Baik Pram ataupun Trining menunduk serba salah.
Mata Genta berkaca-kaca. Ia teramat mencintai Dayu dengan sangat. Melepas wanita yang menjadi pujaan dan sandaran hidupnya adalah berat. Tapi demi keselamatan mereka, dia harus berkorban.
Namun bagaimana dengan Dayu sendiri? Apakah istrinya mau menerima?
Menyadari hal rumit yang akan ia hadapi nanti, benar-benar melemahkan mental Genta.
Anaknya mungkin harus tumbuh besar tanpa seorang ayah.
‘Bagaimana jika Dayu memutuskan menikah lagi dan meninggalkan aku?’ rintih Genta semakin bimbang.
Rencan perpisahan ini bagaikan sembilu yang mengoyak hatinya!