Langkah Tersendat

1104 Kata
“Kamu sudah mantep, Pram? Ndak mau mikir lagi? Kemungkinan, keluarga Arum ndak akan terima dengan lamaran kamu. Terutama Asmi.” “Sampun, Mbak. Kulo sampun madep mantep.” (Sudah, Mbak. Saya sudah mantap sepenuhnya). Padmi mengangguk dan menyetujui untuk mendampingi Pram melamar Arum sore nanti. ** Ruang tamu itu hening. Ada empat orang yang duduk di sana. Padmi, Pram, Asmi dan Arum. Asmi terlihat bersikap tidak bersahabat. Wajahnya angkuh dengan bibir mengkerut penuh kebencian. Kedatangan Pram bersama Padmi yang berniat melamar Arum, mendapat penampikan Asmi. “Dek, sebagai orang tua, kita seharusnya membiarkan dan mendukung anak-anak untuk maju dan berniat baik. Aku sebagai wali dari Pram, meminta kelapangan hatimu untuk menerima.” “Niat memang baik! Tapi apa aku diam aja, kalo Arum bakal jadi salah satu tumbal dari keluarga kalian?” sahut Asmi dengan ketus. Pram tersentak, tapi Padmi buru-buru memberi isyarat untuk diam pada adik iparnya tersebut. “Yang mau menjadikan Arum sebagai tumbal itu siapa? Mbok jangan nyeleneh, tho, As. Keluargaku lagi ditimpa petaka memang benar. Tapi menyodorkan Arum sebagai tumbal? Ya ndak seperti itu!” Asmi menatap Padmi dengan tatapan tajam. “Anakku mati dalam perjalanan tilik (berkunjung) ke rumah sakit. Apa aku salah kalo khawatir? Setiap orang yang terlibat dengan keluarga Amandaru, pasti celaka!” “Jangan fitnah yang terlalu kejam, Bu Asmi!” Kali ini Pram tidak ingin tinggal diam, melihat Asmi menginjak-injak harga diri keluarganya. “Fitnah? Ini kenyataan, Pram! Kamu sendiri beruntung hidup dan nggak gila lagi! Tapi lihat itu istri Genta! Harus menyingkir supaya nggak jadi tumbal!” Cercaan k**i itu berdampak besar bagi Pram. Pria tersebut tertegun dengan wajah membeku. “Cukup!” teriak Arum yang sedari tadi diam. “Ibu boleh menolak lamaran mereka, tapi jangan menjatuhkan martabat orang lain dengan cara seperti ini, Bu!” Arum memandang ibunya dengan kecewa. Mendadak Asmi berdiri. “Terserah! Tapi keputusanku bulat! Kalo kamu mau tetep nikah dengan Pram, angkat kaki dan jangan panggil aku ibu lagi!” Dengan langkah menghentak, Asmi meninggalkan ruang tamu, usai melontarkan ultimatum pahit pada putrinya. Arum menunduk dengan linangan air mata. Semenjak kembali dari rumah sakit, ibunya bahkan tidak menengok sedikit pun dirinya di kamar. Semua Arum lakukan sendiri dengan susah payah. Wanita itu mengerti jika ibunya masih dirundung duka oleh kematian kakaknya. Tapi dengan kondisi fisiknya saat ini, Arum membutuhkan pertolongan setiap hari. Terakhir kali Arum terpaksa meminta Pram membantu mengangkat kasur yang basah oleh dirinya yang mengompol. Karena tidak bisa bergerak cepat, Arum terpaksa harus buang air kecil di tempat tidur. Malu rasanya berada dalam situasi seperti itu. Namun Pram satu-satunya orang yang bisa Arum andalkan dalam hal tersebut. Padmi cukup tahu diri, kemudian berpamitan pada Arum. Akan tetapi Pram masih termenung dan belum juga beranjak. “Kamu bisa bantu Arum nanti. Kita bicarakan cara yang terbaik buat tetap merawat Arum, meskipun tanpa pernikahan,” saran Padmi dengan lembut. Pram akhirnya mengangguk. Ia mengecup kening kekasihnya dan tersenyum memberi semangat. “Aku nggak akan pergi,” bisiknya dengan mesra. Arum semakin tergugu. Dengan berat hati, Pram dan Padmi meninggalkan rumah tersebut. ** Sudah tiga agen yang Pram hubungi untuk mencari perawat yang mau merawat orang sakit. Rupanya itu tidak mudah. Mereka hanya mau tinggal sesuai jam tertentu saja, sementara Arum membutuhkan pertolongan setiap saat. Padmi melihat betapa adiknya bersungguh-sungguh ingin menyediakan bantuan yang sepenuhnya untuk Arum. Diam-diam, Padmi menelepon beberapa teman untuk menanyakan hal tersebut. Pernikahan yang tinggal peresmian di KUA tersebut, harus tersendat oleh kendala restu. ** Alina masih lahap menyusu dalam pelukan Dayu. Meski terasa perih dan sakit, namun semangat Dayu yang ingin menjadi ibu sepenuhnya dengan memberikan ASI eksklusif tidak tergoyahkan. Jetro berkali-kali memastikan jika anaknya nyaman dan cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Dayu cukup geli sekaligus terharu atas sikap ayahnya yang cukup protektif. Sementara itu Binari beristirahat di kamar, karena kondisi tubuhnya yang tidak lagi muda mulai menyulitkan. Janur mengambil alih semuanya dan tidak kesulitan mengatur kebutuhan rumah. Jetro sangat bersyukur dengan kehadiran gadis muda tersebut. Terlebih lagi, ketika tahu bahwa Janur menyandang gelar sarjana, Jetro bahkan menawarkan Janur untuk bekerja di salah satu usaha mereka. Dengan senang hati, Janur menyanggupi. Rencananya setelah Dayu melewati empat puluh hari, Janur akan memulai dengan menjadi akuntan di perusahaan Jetro yang bergerak di bidang ekspedisi tersebut. Gadis itu sangat cerdas dan cepat belajar menangkap semua yang Jetro jelaskan padanya. Dengan dukungan Dayu dan Binari, Janur merasa menjadi bagian dari keluarga ini. Belum pernah dalam hidupnya mendapat perlakuan yang hangat dan juga layak. Janur tidak mengenal konsep keluarga dengan baik. Saat Jetro memperlakukan dirinya seperti anak dan Binari menyayangi seperti cucu sendiri, Janur benar-benar tersentuh. “Pesan dari bulek Tri.” Janur mengulurkan ponsel pada Dayu yang baru menidurkan Alina di boks bayi. Dayu menerima ponsel itu dan duduk di kursi dekat jendela. ‘Nur, Pram sepertinya batal menikah. Mbak Asmi nggak setuju. Kasian Arum, dia benar-benar butuh pertolongan dengan kondisinya sekarang. Bantu doa, nggih? Gimana kabar Alina, cucuku? Kirim foto yang banyak, ya?’ Dayu tersenyum dengan mata kuyu. Kisah Pram dan Arum menjadi keprihatinan mereka. “Kendala demi kendala muncul. Ini gara-gara anggapan buruk masyarakat. Tapi kematian paklek Sigit juga menyakitkan. Aku nggak punya komentar lain selain berdoa untuk mereka, Nur.” Janur mengiyakan dan duduk di sebelah Alina yang terlelap. “Gimana dengan Mbak Dayu dan mas Genta sendiri? Apakah kalian mau pisah kayak gini seterusnya?” Hati Dayu kembali berdesir dan tidak tahu harus menjawab apa. “Kamu udah aku anggap adik sendiri, Nur. Menurutmu gimana? Apakah aku harus menerima kalo perpisahan jadi takdir pernikahan kami?” Janur menatap Dayu dengan tidak yakin. “Aku berharap pada paklek Pram, Mbak. Kalo memang dia bisa mengatasi satu persatu, mungkin perpisahan nggak akan menjadi akhir buat kalian berdua.” “Itu baru kemungkinan, Nur. Kenyataannya, paklek punya masalah sendiri dan aku yakin, masalah ini tidak cukup seorang Pram aja. Bahkan mbah Darmo dan Ki Sukmo juga nggak sanggup.” Dayu terdengar pesimis. “Mbak, jangan menyerah gitu,” hibur Janur dengan sedih. Kepala Dayu menunduk. Ia menggigit bibir kuat-kuat agar air matanya tidak jatuh. “Aku nggak nyangka jadi begini banget jalan pernikahanku, Nur. Aku cuman mau hidup tenang dan damai.” Tidak ada kata yang pantas Janur lontarkan untuk menghibur Dayu kembali. Ini memang tidak layak Dayu terima. Alina bergerak dan mulai merengek. Dayu buru-buru terbangun dan menerima bayi mungil dari tangan Janur yang dengan sigap mengangkat Alina. “Dia tahu kalo ibunya sedang bersedih. Mbak Dayu nggak sendiri. Ada aku dan semua orang di keluarga ini yang siap mendampingi. Kendala apa pun, kita hadapi bareng-bareng.” Dayu mengangguk dan mengelus kepala Janur dengan penuh kasih. “Hadapi bersama,” bisik Dayu seperti meyakinkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN