Suasana rumahnya mulai sepi. Binari terpaksa harus dirawat karena semakin kesehatannya menurun. Ayahnya menjaga di rumah sakit sejak kemarin. Dayu merasa resah akan neneknya. Usia wanita tua itu memang tidak lagi muda. Kegiatan yang seharusnya dibatasi, tidak pernah Binari indahkan.
Made dan Komang, asisten rumah tangga mereka, sudah masuk ke kamar tidur sejak pukul delapan malam. Dayu duduk di kamar Alina dan masih mendengarkan lagu-lagu yang ia pilih untuk menina bobokan putrinya.
Janur muncul dengan baju tidur dan siap untuk beristirahat.
“Udah jam sebelas, Mbak. Kenapa nggak tidur?” tanya Janur.
Dayu menggelengkan kepala sementara berbaring di sofa panjang.
“Alina masih terlalu kecil buat ditinggal. Aku di sini aja. Biar kalo dia bangun, aku bisa susui.”
Janur tidak mau berdebat dan menganggap ada benarnya juga. Akhirnya ia berpamitan dan segera menutup pintu untuk menuju kamarnya sendiri.
Daerah Ubud memang cukup dingin. Tapi Dayu masih menambahkan pendingin ruangan untuk membuat bayinya nyaman dan tidak kepanasan.
Selang beberapa, ia mulai mengantuk dan terlelap.
**
Pram berdiri dengan kedua tangan di saku, sementara menatap ke arah bukit, rumah mendiang Ki Sukmo. Dari pintu masuk pagar, pria itu mengawasi dengan seksama. Genta menuturkan padanya mengenai Janur yang sudah memagari rumah tersebut dengan perlindungan yang kokoh.
Butuh keberanian dan nyali besar untuk Pram kembali ke rumah tersebut, setelah apa yang ia alami dulu.
Suara anjing melolong terdengar di kejauhan, menambah kesuraman malam.
Lintasan peristiwa itu Kembali menyeruak ke dalam benak Pram.
Dirinya berkunjung ke rumah Ki Sukmo setelah kakaknya, Cokro, meninggal. Padmi mengutarakan tentang perjodohan yang tidak mungkin dilanjutkan, karena Genta kembali menempuh pendidikan dokter spesialisnya serta menolak dengan menganggap tidak tahu menahu kesepakatan tersebut.
Ki Sukmo memahami dengan baik dan berjanji pada mereka untuk meredam kemarahan iblis yang menguasai Sayekti.
Namun sayangnya, usaha itu tidak berhasil. Detik Pram dan Padmi melangkahkan kaki keluar, Sayekti menerjang ke arahnya dan mencekik kuat-kuat.
Pram merasakan sukmanya meninggalkan raga, seiring kegelapan meliputi.
Teriakan Padmi mampu menyadarkan Pram kembali, namun dia tidak lagi berada pada kondisi sebelumnya.
Pria itu hanya bisa menatap Padmi dan orang-orang di sekeliling yang berusaha menyadarkan dirinya yang terdiam membisu.
Sudah berkali-kali ia berusaha berteriak, tapi sia-sia. Dirinya terkungkung tanpa daya.
Desir angin malam membuatnya tersadar. Pram menghela napas dan terasa pahit.
Dengan langkah gontai, ia berbalik menuju motornya. Belum genap empat Langkah, ia mendengar suara menyeramkan berbisik seperti terpaan angin.
“Berpikir untuk kembali seperti dulu, Prambudi?”
Dengan gugup bercampur ngeri, Pram membalikkan tubuh lalu menatap ke atas, di mana rumah itu berada. Suara itu serak, dalam, dengan corak parau dan dingin. Siapa pun yang mendengar merasa putus asa dan gemetar.
Dengan cahaya yang sangat minim, ia seperti melihat sosok hitam berdiri di teras. Mata itu tampak merah menyala. Pram menelan ludah, mencoba menguasai diri.
Bau anyir tercium dengan gencar. Pram menahan diri untuk tidak muntah saat ini.
Tidak ingin terlibat dengan hal yang belum ia ketahui, Pram memilih berbalik serta meninggalkan tempat itu.
**
Dayu terbangun karena suhu dingin yang terasa menggigit. Ia lupa memakai selimut dan buru-buru menambah suhu pada AC. Ia kembali memeriksa Alina.
Bayinya tampak kekenyangan dan tidak membutuhkan s**u dalam beberapa jam mendatang. Matanya mulai mengantuk. Jam menunjukkan pukul satu lebih sedikit.
Dengan menguap berkali-kali, Dayu menarik selimut dari lemari kemudian membaringkan diri di sofa. Ia berharap Alina tidak terbangun satu jam mendatang.
Baru saja kesadarannya hendak memasuki alam mimpi, Dayu mencium sesuatu yang sangat menyengat. Ia membuka mata dan pandangannya jatuh ke arah jendela.
Seperti sudah tertutup rapat. Rasa malas beranjak menguasai, tapi bau tersebut begitu gencar tercium olehnya.
Sementara melangkah terseok, Dayu menuju arah kamar mandi dan memeriksa dengan seksama. Air toilet tidak meluap. Semua bersih dan baik-baik saja.
Pintu kamar mandi ia tutup, lalu Dayu menebarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada yang aneh. Terlihat normal tapi entah kenapa, bau itu seperti berasal dari ruangannya.
Hatinya mulai kesal karena aroma tidak sedap itu mulai mengguncang perut. Sembari menahan mual, Dayu hendak membuka pintu kamar lebar-lebar. Begitu terkuak, ia melihat sosok hitam berkelebat.
Jantungnya berdegub tidak menentu. Sensasi dingin disertai merinding mulai terasa. Dayu berbalik buru-buru untuk menghampiri Alina.
Ketakutan yang pertama melintas adalah keselamatan bayinya.
Kaca jendela mulai bergetar seperti sedang gempa. Tidak hanya itu, benda-benda, pintu serta gorden bergerak sendiri, meski tidak ada terpaan angin.
“Janur!!” teriak Dayu refleks.
Ia terlalu takut untuk keluar dari ruangan tersebut. Sosok hitam yang ia lihat sekelebat tadi, menimbulkan anggapan yang mengerikan dalam pikirannya.
“Janur!!” Kembali ia berteriak. Kali ini lebih keras disertai panik.
Mendadak tubuhnya seperti terseret, lalu terbanting dengan keras.
Dayu memekik histeris, sementara memegang Alina kuat-kuat.
Pintu kamar Janur terkuak dan gadis itu melesat keluar.
Begitu mencapai kamar Dayu, Janur mundur karena bau menyengat yang busuk!
“Janur, tolong!”
Dayu terkapar di lantai, dengan posisi tidak bisa bergerak dan Alina ada dalam pelukannya.
Untaian doa serta mantra terlontar. Janur bergegas merebut Alina dari tangan Dayu, lalu membantu berdiri dengan susah payah.
“Bau apa ini?” teriak Janur mengalahkan suara berisik dari benda-benda yang berjatuhan di kamar tersebut.
Dayu menangis dengan gelengan kepala lemah.
“Kita pindah kamar!” ajak Janur tidak lagi ingin bertahan di kamar tersebut!
Kedua wanita itu meninggalkan kamar bayi dan menuju kamar Dayu yang tidak jauh.
Setelah mengunci rapat-rapat semua akses masuk, Janur kembali memeriksa kondisi Dayu juga bayinya.
“Ada luka nggak, Mbak?”
“Eng-enggak ada.”
Alina mulai rewel dan Dayu segera menyusui.
Dengan gamang, Janur duduk di tempat tidur, sambil menjatuhkan pandangan pada Alina yang tidak menangis sama sekali.
“Ken-kenapa dia bisa datang ke sini, Nur?” tanya Dayu gugup dan cemas.
“Nggak tahu, Mbak. Aku nggak punya jawaban itu.”
Janur juga bingung dan linglung. Kamar tersebut sudah ia bentengi. Tapi tidak ada pengaruh yang berarti!
“Nggak seharusnya dia bisa mencapai kita. Ak-aku takut.”
“Tahu tentang istilah bau bayi adalah penarik makhluk lelembut?”
Dayu mengangguk dengan gemetar. Suara barang terjatuh sudah berhenti.
“Sepertinya Alina jadi daya tarik buat mereka.”
“Kita harus gimana, Nur? Semua hal udah kita lakukan.” Mata Dayu mulai merebak kembali.
“Pasrah dan berserah pada Allah. Mungkin ada sesuatu di balik ini semua,” sahut Janur dengan lesu.
“Aku nggak mau menyerah!”
“Berserah dan menyerah itu berbeda, Mbak!” tukas Janur. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.
“Mbak Dayu tahu kenapa nebin sama om Jetro bahas tentang kelahiran bulan purnama? Mereka menyebut kalo Mbak Dayu dan Alina lahir pada waktu yang sama. Bulan purnama.”
Wajah Dayu tampak kaget.
“Aku coba tanya, tapi mereka keberatan buat jelasin, jadi aku diam.”
Dengan gerakan perlahan, Dayu mengangguk. Janur merasa tertarik dan ingin tahu lebih jauh lagi.
“Nggak masalah kalo aku mau tahu, kan?”
“Aku akan cerita, Nur.”
Janur menelan ludah dengan cemas. Semoga cerita yang Dayu ungkapkan bukan kendala berikutnya!