Dini hari yang pekat, merangkak perlahan. Pukul tiga lebih sepuluh menit, Dayu dan Janur duduk di kamar dengan posisi gelisah.
Peristiwa yang baru saja mereka alami sungguh tidak pernah muncul dalam angan-angan keduanya. Memilih meninggalkan pulau Jawa, untuk menjauh dari keluarga Amandaru, mereka pikir bisa menghindari teror iblis Sayekti. Namun itu seperti sia-sia.
Makhluk laknat tersebut mengejar seperti memiliki jangkauan panjang yang tidak ada batasnya. Meski perlindungan telah Janur lakukan, tapi tidak berpengaruh.
Kini justru muncul misteri baru, ketika ayah dan nenek Dayu menyebutkan tentang kelahiran bulan purnama. Seumur hidup Janur tidak pernah mendengar mengenai mitos tersebut.
Dayu akan berjanji menjelaskan kali ini, dan Janur berdebar dengan hati tidak tenang. Harapannya, semoga ini tidak lebih buruk dari kemelut keluarga Amandaru.
“Ibuku adalah wanita keturunan Bali yang cukup mendalami ilmu kebatinan. Bukan untuk mencari kekuatan, tapi demi membentengi diri dari segala bentuk kejahatan yang kadang muncul di pulau Dewata ini. Ketika beliau mengandungku, ada ramalan yang mengatakan jika salah satu dari anak cucu mereka akan lahir sebagai lidah pahit. Ibuku adalah salah satu dari mereka. Semua berharap, aku akan menjadi manusia normal yang tidak terbebani kemampuan atau bakat apa pun.”
Dayu berhenti sejenak untuk membetulkan posisi Alina.
Janur menelan ludah dengan hati semakin berdegup kencang.
“Kenyataannya, aku lahir di malam bulan purnama. Itu sudah menjadi ketakutan tersendiri. Salah satu pertanda bagi si lidah pahit adalah terlahir pada waktu tersebut. Nenek buyut, Ibuku, dan aku sendiri adalah manusia yang berlidah pahit, Janur.”
“Ap-apakah arti dari lidah pahit ini, Mbak? Apakah jelek? Seperti terkutuk, atau?”
Dayu menggelengkan kepala. “Bukan seperti itu. Tapi benar, beban menjadi manusia dengan sebutan lidah pahit mirip dengan kutukan. Karena setiap perkataannya yang terlontar dari kami, terhadap orang, hewan dan benda, menjadi kenyataan.”
Tubuh Janur tegak seketika.
“Apakah itu terlontar secara sembarang, atau harus dengan sumpah serapah tertentu? Duh, aku baru dengar, Mbak!”
Senyum kecut terukir di bibir Dayu.
“Tentunya bukan setiap perkataan. Ini lebih pada kalimat yang terucap karena kegetiran hati. Ada beberapa yang menjadi kutuk jika terpicu oleh benci.”
Janur bergidik dan beringsut mendekat. “Aku masih nggak ngerti, Mbak. Apakah ini kendala atau tambahan petaka. Tapi sebaiknya, Mbak Dayu berhati-hati mengucap pada siapa pun.”
“Aku tahu, Nur. Ini yang jadi penyebab aku cukup pendiam. Kalo aku terlalu lancang buka mulut, mungkin dari dulu aku melontarkan kalimat jelek sama mertuaku. Tahu sendiri tingkah ibu sebelum aku menikah,” sahut Dayu dengan wajah kecewa.
Kepala Janur tertunduk dalam-dalam.
“Aku nggak pernah bermaksud buat nyakitin bu Padmi. Tapi hari itu sikapnya merendahkan aku banget, Mbak. Udah terlalu lama aku diperlakukan nggak layak sama orang, termasuk keluargaku sendiri.”
“Hei, aku paham, kok. Jangan minder gitu. Kamu itu pinter. Papa bisa liat itu dari cara kamu menyikapi semuanya. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga ini. Aku senang punya adik baru, seharusnya ini dari dulu, ya?” hibur Dayu buru-buru.
Mata Janur berkaca-kaca, penuh haru.
“Makasih, Mbak. Aku nggak punya siapa-siapa yang bisa aku andalkan. Mas Drajat sama mbak Yani juga punya keluarga sendiri. Mereka sayang sama aku, tapi nggak tahu kenapa, aku masih ngerasa kalo mereka segan mengakui di depan keluarga besar. Aku lahir dari aib yang nggak pernah aku ketahui.”
Dayu mengerutkan kening. Dia tidak pernah bertanya pada Janur mengenai apa pun juga.
“Kamu bisa cerita ke aku, Nur. Apa yang bikin mereka buang kamu dari kecil? Kalo nggak keberatan, lho. Aku nggak maksa. Mungkin bukan memori yang kamu mau ingat dan bicarakan, aku paham.”
“Nggak, Mbak. Aku nggak keberatan buat cerita. Toh kita berdua udah berbagi banyak hal. Mereka nuduh aku anak keturunan setan, karena aku bisa menggerakkan beberapa benda, tanpa menyentuh.”
“Telekinesis?!” pekik Dayu.
Janur mengangguk, lalu mempraktekkan kemampuannya, dengan menggerakkan selimut yang terlipat rapi. Kain itu melayang, lalu menyelimuti Dayu dan Alina dengan gerakan perlahan.
Mulut Dayu membulat sempurna.
“Puncaknya, waktu aku lahir, banyak ternak dan hewan peliharaan keluarga yang mati. Ibuku mengandung tanpa ketahuan siapa pria yang menghamili, Mbak. Ibu meninggal begitu aku genap satu tahun. Setelah itu, nggak ada yang nampung aku. Mereka ngebuang aku di hutan. Memoriku belum ada. selama ini cuman tahu kalo mbah guru yang ngerawat aku sampe besar.”
“Ya Allah Ya Rabbi,” desis Dayu takjub. Kisah hidup Janur begitu tragis.
“Mungkin buat sebagian orang, aku terlalu lancang. Menguak semua rahasia yang jadi aib bukan buat mencari belas kasihan, Mbak. Aku cuman butuh seseorang buat berbagi. Bagaimanapun juga, aku ini tetap manusia biasa.”
Dayu meraih tangan Janur dan meremasnya dengan lembut.
“Aku ada buat kamu, Nur. Kita saling dukung, ya? Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang aneh dan sedikit penuh sama tragedi. Tapi tujuannya adalah baik, bukan?”
Janur tertawa kecil dan membenarkan ucapan Dayu.
“Manusia telekinesis berdampingan sama si lidah pahit. Masak kita berdua nggak bisa bela diri? Bisa dong!” seloroh Janur dengan jenaka.
Dayu terkekeh dan mengangguk. Baru kali ini melihat sisi riang Janur. Gadis muda yang baru berusia dua puluh tahun lebih itu mulai membuka diri.
Dia tidak lagi kaku atau serius seperti pertama Dayu mengenalnya. Janur jauh lebih sumringah dan sering tidak segan mengungkapkan isi pikirannya. Mungkin karena posisi Janur dulu di rumah mertuanya hanya sebagai pembantu, maka tidak memiliki keberanian untuk membuka mulut.
Tapi Dayu yakin, di balik penampilan sederhana, Janur adalah gadis dengan tekad baja dan percaya diri yang besar. Satu-satunya yang membungkus pribadi janur adalah kesopanan dan etika yang mengunggulkan sikap tahu diri.
Diam-diam, Dayu memikirkan kalimat Janur mengenai mereka berdua. dengan kemampuan yang banyak dianggap tabu dan menimbulkan kengerian bagi orang yang berpikiran kolot, mereka bisa menjaga diri dengan baik.
Tidak semestinya dirinya takut atau gentar saat berhadapan dengan makhluk laknat tersebut. Janur akan membimbing Dayu lebih baik, dalam hal memahami doa dan cara tepat untuk mengatasi teror yang datang dalam bentuk penampakan.
Selebihnya Dayu yakin, dirinya mampu melindungi Alina dari bahaya yang mengincar saat ini.
“Kita bertiga akan melindungi diri dari mereka, ya, kan Alina?” tanya Dayu pada putrinya yang kini terlelap kembali.
“Kira-kira dia manggil aku bulek, bibi, atau tante ya?” gumam Janur dengan tatapan terpesona, menatap Alina.
“Maunya?” Dayu balik bertanya.
Janur berpikir sejenak. “Janur aja. Nggak perlu embel-embel. Ribet.”
Dayu tertawa dan mengangguk setuju.