Musim hujan kembali mengguyur wilayah Semarang. Memasuki bulan sepuluh ini, hujan hadir lebih cepat dibandingkan tahun lalu.
Suasana pedesaan yang berada di daerah perbukitan sebelum gunung Merapi tersebut memang selalu berkabut. Hampir dalam setahun, selama sembilan bulan hari-hari dipenuhi dengan cuaca dingin yang membuat pelancong betah menghabiskan akhir pekan dengan menyewa vila komersial.
Daerah Bedono yang memang terkenal dengan kereta api kuno peninggalan Belanda itu, selalu menarik wisatawan asing juga local setiap minggu.
Trining paling senang jika musim liburan dimulai, mendekati bulan Desember. Meski mayoritas di tempat tersebut pemeluk agama Katholik, dirinya yang muslim tidak pernah merasakan perbedaan. Semua pemeluk beragama bebas menjalankan ibadah dan tidak kelompok yang memisahkan diri.
Mungkin yang menyatukan mereka adalah adat yang masih memegang teguh kebersamaan, juga toleransi yang begitu kuat.
Kebiasaan mengadakan Nyadran, atau pesta pembersihan desa, yang diadakan setahun sekali, menjadi momen paling hangat juga mesra untuk menjalin kebersamaan.
Tahun itu, mereka memutuskan untuk melakukan pada awal Oktober, tepatnya tanggal lima. Trining sudah menyiapkan semuanya, walau Sri terus mengatakan untuk terlalu ambil pusing. Semua pandangan warga sekitar cukup membuat mereka terasing. Dengan hadir dalam upacara Nyadran, mungkin bukan hal yang tepat.
“Bulek! Apa kita nggak jadi canggung? Inget kasak kusuk orang-orang,” cetus Sri dengan raut wajah bimbang.
Trining tersenyum kecut. “Pram juga bilang begitu, tapi katanya ini bisa jadi langkah awal buat mendekati mereka lagi. Bukan untuk mengambil hati saja, tapi warga harus tahu kalo semua itu nggak benar.”
Sri terdiam dan berhenti menampi beras. “Apa iya, kita mau menyangkal lagi, Bulek?”
Tubuh Trining yang tadinya duduk membelakangi, kini memutar dan menatap Sri dengan tajam.
“Menyangkal apa? Apakah kamu juga mau menilai kalo keluarga ini terkutuk, Sri?”
“Bu-bukan itu, Bulek.” Sri tampak gugup dan takut. “Tapi apa yang mereka tuduhkan, kenapa harus dijelaskan? Itu maksudnya.”
Trining menyadari jika ucapannya terkesan membela diri. Ia menghela napas dan berbalik memunggungi Sri. “Ya nggak dijelaskan secara langsung. Tapi niat baik itu seharusnya diungkapkan melalui sikap, tho?” Nada Trining mulai melunak. Tidak seharusnya ia berkata kasar pada Sri yang begitu setia mendampingi mereka selama puluhan tahun.
Dalam suka duka, senang dan susah, terhormat juga direndahkan, Sri tidak pernah goyah.
“Aku tahu, Sri. Bagi sebagian orang, sikap kami terlalu misterius juga mencurigakan. Tapi kalo aja mereka mau jeli, kami ini juga dalam kondisi terdesak. Kalut juga cemas. Ketakutan, sekaligus penat. Yang lebih besar lagi dari semuanya, kami juga malu jadi sumber petaka.”
Sri menyudahi pekerjaannya dan mendekat pada Trining.
“Bulek. Jangan mikir kata-kata mereka. Menurut kulo (saya) yang nggak punya pendidikan dan pengalaman ini, menjauh dari mereka adalah yang terbaik. Ini memang nggak enak, terasing dari mereka yang dulu membutuhkan kita dan bahkan andil pak Cokro besar dalam kehidupan masing-masing keluarga di kampung ini. Tapi, apa iya kita harus menempuh cara ini? Iya kalo diterima. Lha biasanya itu dicibir thok,” tutur Sri dengan sikap prihatin.
Seluruh kalimat Sri ada benarnya.
“Aku harus jawab apa sama Pram, kalo begini, Sri?”
“Kalo pak Pram tetep mau gabung, ya nanti saya siapkan bahan kendurian. Tapi nggak perlu Bulek juga ikut campur. Yang ada nambah celah buat jadi celaan.”
Mendadak Trining terenyuh dan sembari menahan air mata yang mulai merebak, wanita itu mengangguk setuju. “Makasih, Sri.”
Sri tersenyum sendu dan mengangguk.
**
Tabuh-tabuhan gamelan terdengar gegap gempita. Lapangan tempat Nyadran penuh dengan lampu terang, sementara para warga berkumpul di tengah lapangan yang telah mereka gelar karpet. Daun pisang ditata rapi, berisi berbagai makanan yang dibawa oleh masing-masing kepala keluarga.
Dipimpin oleh kepala desa, Woro, mereka mengheningkan cipta mengucap syukur dengan cara nasional. setelah usai, mereka segera bersantap bersama-sama, sementara pagelan musik juga tarian tradisional digelar untuk menghibur mereka.
Para penari dan juga sinden tampil memukau dan mengundang decak kagum yang memuaskan semuanya. Genta tidak hadir malam itu. Tugas rumah sakit menuntutnya untuk tugas malam selama sebulan penuh.
Tapi Pram datang bersama sahabat juga teman masa kecilnya.
Mereka menunjukkan sikap yang jauh lebih bersahabat, dibandingkan dengan Genta. Pram memang menjadi pujaan dan idola mereka.
Pria yang berjasa begitu banyak, dulu sempat dicalonkan menjadi pengganti Cokro, sebagai camat. Sayang, dia terlanjut terjebak dan bungkam selama tujuh tahun.
Tidak ada yang menyinggung sedikit pun mengenai peristiwa yang ia alami. Semua memahami dan menerima dengan hati lapang. Di sisi lain, pandangan masyarakat tidaklah terpaku pada Pram. Mereka lebih menuduh pada Genta dan Padmi, sebagai pihak yang terlibat dengan sekutu setan.
Entah siapa yang memprakarasi rumor dan dikte tersebut, tapi itulah kenyataan yang terlanjur tercipta.
Di tengah-tengah pesta yang meriah, seorang penari wanita mendadak berjalan lurus dan mulai menari dengan gerakan aneh.
Satu persatu mulai menyadari keanehan tersebut. Musik yang tadinya mengalun dengan tempo cepat, berubah perlahan, seperti mengiringi gerakan penari tunggal.
Perlahan orang-orang mulai menyadari keanehan tersebut.
Wajah pemain gamelan tampak pucat, bibir mereka gemetar, mata mereka tampak nanar, dengan sikap bingung bercampur ketakutan.
“To-tolong! Ka-kami nggak bisa berhenti!” seru pemain gong mulai berteriak panik.
Rupanya bukan hanya pria itu. Semua pemain gamelan seperti dikendalikan oleh sesuatu.
Pram bangkit dan berlari ke depan, menatap penari yang masih meliukkan tubuh dengan gerakan luwes dan gemulai. Perempuan itu menari dengan mata mulai memutih, mengerikan!
Sekujur tubuh Pram membeku, darahnya mengalir cepat.
“Semua mundur!” teriak Pram lantang, berusaha mengalahkan suara gamelan.
Secara serentak, segenap penduduk lari tunggang lenggang menjauh. Ekspresi muka tiap orang yang datang malam itu sama. Pucat dan tegang.
Pram masih belum paham akan arti dari kejadian saat ini. Tapi begitu ia menyelidik dengan hati-hati, penari itu seperti sedang meliuk penuh pesona. Seakan mengumbar apa yang dia miliki. Tubuhnya yang indah, gerakannya yang e****s, semua terlihat memukau!
Suara pecutan terdengar, seiring luka yang muncul di tubuh wanita yang kini menari. Jerit dan pekik kesakitan terlontar. Pram tidak tahu harus berbuat apa!
“Tulungi aku, Mas!” pinta penari itu dengan memelas. Sementara matanya kian memutih, penari malang itu mengalami luka yang kian bertambah.
Peristiwa ganjil yang terjadi tidak ada yang memahami sedikit pun. Entah siapa yang mengawali, tapi ucapan doa dan asma Allah terlontar satu demi satu.
Ayat suci terlantun, bersambut dengan doa dari berbagai agama, bercampur menjadi satu. Pram mulai mendekat dengan langkah hati-hati. Telah terancang dalam benaknya untuk membebaskan gadis malang yang kini mulai kelelahan, dan darah mengucur di sekujur tubuh.
Belum sempat ia meraih tangan penari, mendadak musik gamelan meningkat dengan tempo cepat. Gerakan penari semakin lincah dan Pram tidak sanggup mengikuti.
Tubuh penari tersebut seperti setengah melayang!
Sugeng, temannya, berteriak pada Pram untuk menjauh. Tapi Pram tidak akan mundur kali ini!
Dengan tenaga dalam dan iman yang begitu kuat mengisi sanubarinya, Pram melesat cepat, menarik tangan penari.
Terlambat!
Penari itu seperti ditarik oleh kekuatan kasat mata yang tidak terlihat ke belakang dan lenyap dalam kegelapan malam! Jeritan itu terdengar, lalu sirna.
Semua terpaku dan saling berpandangan. Musik gamelan berhenti dan para pemain musik yang telah terlepas dari kendali, berlari meninggalkan tempat semula. Pram tertegun tidak percaya.
“Prambudi, cah wedok kui gantine sukmomu!” (Prambudi, anak perempuan itu ganti dari nyawamu!)
Dengung terkejut terdengar di mana-mana. Semua mata menatap Pram dengan tajam. Darah Amandaru yang mengalir dalam tubuh pria itu, membuat Pram sebagai salah satu dari target iblis yang mengutuk keluarganya!