Hingga dini hari para warga masih mencari keberadaan sang penari yang raib. Mereka menjelajahi seluruh pelosok desa, kecuali rumah kediaman mendiang Ki Sukmo.
Dipimpin oleh ulama, seluruh pemuda berbondong-bondong menabuh berbagai benda yang merupakan perkakas dapur. Dipercayai, dengan menabuh peralatan tersebut, mahkluk halus biasanya akan melemah dan melepaskan korban yang diculik ke alamnya.
Pram masih berjaga di lapangan dengan beberapa rekannya. Mereka tidak ikut mencari karena mendampingi para ibu-ibu yang segera mengelar pengajian untuk mendoakan supaya pencarian berhasil.
“Pram, kamu yakin kita nggak perlu nengok ke rumah itu?” tanya Gito dengan bingung.
Seharusnya rumah tersebut menjadi tujuan utama untuk menemukan penari yang hilang.
“Kalo kita ke sana, perlindungan bisa berkurang. Aku udah dapat pesan dari Janur, murid mbah Darmo yang bentengin rumah itu. Bisa saja kita datang, tapi kalo terjadi sesuatu, siapa yang bisa ngadepin Sayekti?” balas Pram balik bertanya.
Gito menggerutu dan membetulkan sarung yang melilit tubuhnya.
“Piye, Geng?” tanya Gito pada Sugeng.
“Aku bukan ahli klenik, To. Jangan tanya aku,” kelit Sugeng dengan cemberut. “Kalo tanya tentang gerakan penari tadi, baru bisa jawab!”
“Jangan tanya aku juga! Udah tahu aku anak gereja dari dulu! Mana pernah nguber hal-hal begituan!” timpal Prapto yang berbeda keyakinan dengan Gito dan Pram.
Sugeng dan Prapto memang tidak memeluk agama yang sama dengan Pram dan Gito, namun mereka berempat sangat dekat sejak kecil, termasuk Sigit dan Sulis.
“Ciloko kalo begini. Aku milih pulang, ntar salah lagi,” gumam Sugeng mulai cemas.
Penari tadi adalah anak didiknya. Hingga belum ditemukan, Sugeng merasa bertanggung jawab.
“Geng, kamu bilang tahu gerakan yang penari tadi bawakan. Emangnya ada tarian seperti itu?” Pram mengerutkan dahi menunggu jawaban Sugeng.
“Yah, kalo berupa tarian yang sudah baku sih nggak ada. Tapi diliat dari gerakannya, seperti sedang mengadakan ritual.”
Sugeng menghela napas prihatin, mengenang gadis yang dirasuki tadi.
“Ritual? Ritual apa?” Gito menjadi tergelitik ingin tahu.
“Kalo dilihat dari gerakan, seperti seseorang yang sedang ingin menggabungkan dia jiwa. Sayekti dulu pernah menarikan itu,” sahut Sugeng dengan wajah kecut.
“Serius tenan?” seru Prapto.
Sugeng mengangguk. Pram tampak berpikir.
“Aku butuh orang yang mendalami tenaga dalam dan punya pegangan ilmu sedikit. Mungkin Sayekti mulai melemah dan iblis itu membutuhkan tubuh yang lain. Tadinya kupikir aku bakal jadi pengganti wadah, tapi keburu sadar duluan.”
Ucapan Pram membuat ketiga sahabatnya jadi makin gelisah.
“Kita harus gimana, Pram? Mosok diem aja di sini dengerin ibu-ibu pengajian? Kita nggak buat apa-apa?” tanya Gito tampak sungkan.
“Sulis mana? Mungkin dia bisa bantu carikan solusi,” tanya Pram kemudian.
Semua mencari keberadaan Sulis, dengan menebarkan pandangan ke sekeliling lapangan. Dari jauh, Genta berjalan mendekat. Masih dengan baju rapi, dokter muda itu menghampiri pakleknya.
“Gen!” panggil Pram melambaikan tangan untuk meminta keponakannya bergegas.
Setengah terburu-buru, Genta mempercepat laju kakinya.
“Kok kamu udah pulang? Katanya sampe nanti siang?” tanya Pram.
“Bulek telepon, katanya ada penari yang hilang,” sahut Genta dengan sikap tegang.
Pram membenarkan dan menceritakan peristiwa yang terjadi.
“Mencari penari itu nggak perlu ke mana-mana, Paklek. Kenapa kita nggak lihat ke rumah Sayekti?” tanya Genta.
“Nah itu maksudku!” seru Gito dengan semangat karena Genta sepakat.
“Tanpa pendampingan orang pinter?” timpal Pram pada keponakannya.
“Biar aku yang cari di sana, Paklek,” sahut Genta dengan suara gemetar. Pram tertegun. Ia menatap Genta dengan gugup.
“Kamu tahu bahaya yang bakal dihadapi?” Pram masih tidak begitu saja mengiyakan.
“Aku adalah pengantin yang Sayekti inginkan. Dengan masuk ke sana, dia nggak bakal nyakitin aku.”
Pendapat Genta ada benarnya. Masih diliputi kebimbangan, Pram meminta saran dari Sulis yang datang dengan rombongan.
Temannya mendengarkan rencana yang akan mereka jalankan dengan seksama.
“Siapkan ambulans dan pihak keamanan harus berjaga juga. Kalo terjadi sesuatu, kita bisa bertindak cepat!” sambut Sulis.
Pram lega karena Sulis mendukung serta menambahkan ide dengan yang jauh lebih matang.
Setelah mempersiapkan segalanya, mereka bergegas menuju ke rumah yang ada di puncak bukit.
**
Mobil ambulans dan juga aparat kepolisian tiba tidak lama setelah tiga mobil dan iring-iringan motor menunggu di depan rumah tersebut.
Pram memberi Genta petunjuk untuk mencari di mana penari itu berada. Sembari memegang senter, Genta juga mendapat petuah dan wejangan dari ustad yang turut berada di sana.
“Hati-hati,” bisik Pram tidak begitu yakin melepas Genta untuk menuju ke atas.
Genta mengangguk dan berbalik menaiki anak tangga.
Rumah terlihat sepi dan lenggang.
Semua menunggu di bawah dengan hati berdebar. Ustad meminta semua untuk tidak melantunkan doa apa pun karena akan mengusik iblis dan membuat situasinya kacau.
Genta melangkah hati-hati ke arah gudang di belakang. Dirinya merasa bodoh karena merelakan diri untuk menjadi utusan mereka. Tidak seharusnya dia menawarkan bantuan seperti ini. Semua sudah terlambat dan Genta ingin segera menyelesaikan.
Pintu gudang itu terbuka sedikit dan Genta mencium aroma tidak sedap dari arah dalam.
“Sa-Sayekti!” panggil Genta dengan suara tidak yakin.
Tidak ada jawaban. Hatinya tambah gelisah dan gentar. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Sayekti!!” kembali Genta memanggil nama gadis yang menghuni gudang tersebut.
“Ja-jangan masuk, Mas,” sahut Sayekti dengan lemah.
Genta tercekat. Ternyata gadis itu menjawab panggilannya.
“Cari di-dia di dalam,” ucap Sayekti kembali dengan patah-patah.
Ada rasa iba bercampur serba salah, tapi Genta tidak ingin membuang waktu untuk itu. “Maturnuwun,” balas Genta dan bergegas menuju ke arah rumah di depan.
Pintu rumah tidak terkunci, Genta melesak masuk dan menyenteri seluruh ruangan yang tidak terlalu luas tersebut.
Derit jendela yang tidak tertutup rapat membuat suasana menjadi semakin tegang. Tanpa mengindahkan bau apek yang semakin menyeruak hidung, Genta membuka satu persatu kamar. Kosong. Tidak ada siapa pun. Udara terasa dingin di dalam rumah tersebut. Kelebatan hitam tidak jelas melewatinya berkali-kali dan Genta merasakan jantung terpacu kencang.
Genta mengumpat dalam hati dan mulai putus asa. Di manakah gadis itu?
Bulu kuduknya berdiri dan Genta mulai merasa tidak enak. Pencarian ini seperti sia-sia saja. Penari yang hilang itu tidak ada di dalam rumah. Mendadak Genta curiga.
‘Kenapa Sayekti melarang aku masuk ke gudang?’ batin Genta dengan resah.
Membuang rasa takut yang mencekam, pria itu keluar dan kembali melangkah ke belakang, menuju gudang tempat Sayekti berada.
Dia tidak akan menyurutkan tekad untuk mundur kali ini.
Dengan gemetar, kakinya masuk dan melangkah satu persatu.
Bunyi menggeram terdengar dan Genta semakin gemetar tidak terkendali. Ia pernah menyaksikan makhluk itu dan bayangan ngeri terus mengelayuti pikirannya.
Doa mulai mengalun sebisanya dalam hati. Genta mendekat dan melihat di sudut gudang.
Sayekti sedang memeluk seseorang!
Desis mengerikan keluar dari mulutnya. Dalam keadaan terbelenggu, Genta melihat Sayekti sedang mengarahkan mulutnya ke arah penari tersebut!
“Sayekti, hentikan!” teriak Genta refleks.
Sayekti menoleh dan menatap Genta dengan mata berkilat.
“Pengantinku …!”
Lutut pria itu mulai lemas. Tapi pikirannya mulai menebak jika makhluk yang menghuni Sayekti sedang mencari tumbal untuk wadah berikutnya.
Ini adalah kesempatan yang paling tepat untuk Genta mengambil penari tersebut! Iblis itu mulai melemah karena tidak ada tumbal yang jatuh sejauh ini. Sayekti fisiknya makin memprihatinkan dan mustahil bagi iblis bertahan dalam tubuh yang tidak lagi mampu menampung jiwa laknatnya. Iblis tersebut harus mencari manusia berikutnya untuk menjadi tempat bersarang!
“Se-serahkan gadis itu, a-atau seluruh penduduk desa akan me-membakar tempat ini,” ancam Genta dengan keberanian yang mulai timbul. Meski begitu, ia tidak ingin gegabah.
“Jangan lari, Genta. Kau akan menemaniku dalam keabadian,” desis iblis Sayekti dengan suara mengerikan.
Genta benar-benar lelah dengan kalimat yang menyudutkan dirinya untuk menjadi pasangan iblis biadab tersebut.
“Tidak akan pernah!” balas Genta dengan muak sekaligus benci.
“Waktunya akan tiba. Kau tidak bisa menghindariku.”
Genta tidak ingin menanggapi lagi. Dia mundur dan berlari secepatnya keluar.
Begitu mencapai pintu gudang, Genta berteriak sekuatnya.
“Dia di sini!” seru Genta.
Pram dan beberapa orang yang sudah menunggu di bawah, segera naik. Genta berbalik terakhir kali, untuk melihat ke arah iblis yang merasuki Sayekti. Belum sempat ia berpaling, mendadak sesuatu menyeruak dalam benaknya, hingga tubuhnya mengejang serta membeku. Senter terjatuh dari genggaman tangan Genta.
Kilasan demi kilasan memorinya yang hilang telah kembali!
Tawa yang membuat bulu kuduk merinding terlontar penuh kepuasan dari dalam. Genta tertegun, raut mukanya mulai memucat dengan mata melotot, menatap ke arah Sayekti.
“Kau mengingat semuanya, pancinganku berhasil,” desis iblis itu penuh kemenangan.
Genta merasakan tekanan yang menyesakkan batin. Emosinya mengelegak tidak menentu. Wajah iblis itu kembali berubah dan kini menangis.
“Sudah kubilang jangan masuk, Mas. Kenapa kamu nggak dengar,” tangis Sayekti yang sesungguhnya dengan penuh sesal.
Pram dan tiga orang datang dan menanyakan pada Genta. Pia itu hanya menunjuk ke dalam dengan wajah pias.