Penari yang hilang telah ditemukan. Kondisi memang secara fisik tidak mengalami luka serius. Namun mental penari itu mengalami trauma dan jiwanya terganggu. Dari raut wajahnya, jelas terpancar bahwa dia sangat terpukul.
Gadis muda tersebut tidak bicara dan hanya duduk dengan pandangan hampa. Terkadang menangis histeris, sembari mencakar dirinya sendiri.
Keluarga dan beberapa pamong desa menunjukkan simpati dan empati dengan mendukung dan mengupayakan pengobatan secara medis.
Namun bagi Pram dan Genta, kejadian yang menimpa penari, meninggalkan kesan mengerikan jauh lebih besar bagi mereka berdua.
Awalnya Pram tidak menyadari perubahan sikap Genta yang pemurung dan menarik diri. Keponakannya mungkin memikirkan pernikahan yang ada di ujung tanduk dan tidak memiliki kesempatan melihat putrinya yang baru lahir.
Akan tetapi, ketika Pram melihat Genta mulai membongkar gudang yang ada di belakang rumah, Pram mulai memiliki pemikiran yang lain. Ada sesuatu yang terjadi malam itu dan Genta sedang mencari jawabannya.
Tanpa bertanya lebih dulu, Pram memilih untuk menyelidiki dengan seksama. Pria itu mengamati gerak gerik Genta yang seperti bingung dan cemas. Padmi, kakak iparnya, terlihat sedang berpesan pada Sri dan Trining karena hendak bepergian selama beberapa minggu.
Hingga detik ini, Padmi masih menghindari pembicaraan dengan Pram. Mungkin wanita itu ingin menyingkirkan hal-hal yang menjadi kendalanya saat ini. Pram tidak berniat mendesak atau mengajak berembuk atas rahasia yang seharusnya mereka sampaikan pada Genta sejak awal.
Setelah berpamitan dengan semua, termasuk Pram, Padmi pergi diantar oleh Totok.
“Bulek, lihat kardus yang aku simpan dengan tulisan 1985 nggak?” tanya Genta pada Trining.
“Ada di gudang semuanya, kamu nggak nemu?” sahut Trining bergegas menuju ke arah tempat penyimpanan barang lama. Genta mengikuti dan tidak mempedulikan tatapan Pram yang semakin heran.
Pagi itu, tidak ada hal yang berhasil Pram dapatkan. Setelah tidak berhasil menemukan kardus dengan tulisan 1985, Genta pergi bekerja.
**
“Tingkahnya aneh dan nggak banyak omong. Aku yakin, ada yang terjadi malam itu di sana, Lis.” Pram melemparkan karung yang berisi kopi dengan mudah.
Setelah pulih kembali, Pram mulai aktif bekerja di kebun, membantu Trining mengurus lahan yang sempat terbengkalai tersebut.
Sulis yang datang untuk membantu mengernyitkan dahi.
“Maksudnya gimana, tho, Mas?” tanya Sulis. “Mas Genta itu kan memang pendiam dan nggak banyak omong?”
“Tapi nggak sejanggal sejak malam itu. Dia kayak menghindar dan sikapnya gelisah.”
“Coba diajak ngomong. Siapa tahu dengan bertemu Sayekti, mas Genta jadi teringat akan masa lalu mereka.”
Pram tersentak dan menoleh pada Sulis. Itu hal yang tidak sempat ia pikirkan sebelumnya.
“Lis, hanya mas Cokro, mbak padmi, mbak Trining dan aku yang tahu tentang itu. Kamu tahu setelah mas Cokro minta sama bapakmu surat keterangan untuk rencana pernikahan mereka. Siapa lagi yang tahu selain kita?” tanya Pram dengan tajam.
Sulis gugup dan menggelengkan kepala.
“Bapakku kan sudah sedho (meninggal), Mas. Ibuku juga. Hanya aku sama keluarga sampeyan.”
“Kamu yakin, Lis?”
“Yakin seyakin-yakinnya! Tapi ….” Sulis terdiam dan menelan ludah cemas.
“Tapi apa?” Pram mulai memiliki firasat tidak enak.
“Pak dokter kan dekat sama Drajat. Mereka kayak Mas Pram sama Sigit, deket banget. Siapa ngerti, Drajat juga tahu tentang hubungan mereka.”
‘Duh Gusti,’ keluh Pram dalam hati baru menyadari itu.
“Kamu bisa bantu aku?”
Sulis langsung menangkap dengan cepat dan mengangguk. “Bisa. Aku coba cari tahu tentang Drajat. Mas Pram nggak usah khawatir.”
“Makasih, Lis.” Pram menepuk pundak Sulis dan mereka melanjutkan memanen kopi.
**
Trining mengetuk rumah Asmi dengan ragu. Tidak ada jawaban dan rumah itu tampak sepi. Trining kembali mengetuk dan mengucapkan salam.
Tidak lama, terdengar seseorang membuka kunci dan pintu terkuak.
“Bulek, masuk monggo,” sambut Arum dengan ceria.
Trining tersenyum hangat dan masuk seraya menenteng rantang yang ia bawa. Arum duduk di kursi roda dan mempersilahkan Trining duduk.
“Ibumu?”
“Sedang nyekar mas Sigit,” sahut Arum dengan nada sendu. Trining tersenyum kikuk lalu meletakkan rantang di atas meja.
“Bulek buatin kamu makanan kesukaan. Kamu abiskan, ya?”
Arum tampak gembira dan mengangguk cepat-cepat.
“Rum, Maafkan bulek dulu. Sempat nggak menyambut kamu dengan baik,” sesal Trining.
Wanita itu mengibaskan tangan dengan buru-buru.
“Nggak apa-apa, Bulek. Aku dan mas Pram memang merahasiakan hubungan kami. Bukan salah Bulek, kok.”
Trining tampak lega dan bebannya sedikit terangkat. Sebelum ia bangkit berdiri, mendadak hidungnya mengendus bau yang tidak sedap.
Dengan prihatin, ia menatap Arum yang sepertinya belum berganti baju sejak dia berkunjung kemarin.
“Rum, kamu belum ganti pakaian?” Trining mendekat, namun Arum menghindar dengan gugup.
“Bulek bantu kamu tukar pakaian, ya? Mau?”
Mata Arum berkaca-kaca dan akhirnya tersedak oleh tangis. “Aku nggak ada baju bersih lagi, Bulek.”
Trining tertegun.
Asmi benar-benar tidak mempedulikan putrinya dan Arum dalam kondisi yang tidak terawat!
“Udah nggak apa-apa. Jangan nangis, yuk ke kamar. Kita cari sarung atau kain, sementara bulek cuci baju-bajumu dulu.”
“Tapi, Bulek ….”
Trining mendorong Arum tanpa memberi kesempatan untuk wanita itu menolak. Dengan cekatan dan telaten, Trining membasuh tubuh Arum hingga bersih. Setelah memilih kain dan sarung, Trining memakaikan tanpa risih ataupun sungkan.
Arum cukup terharu dengan perlakuan Trining kepadanya. Satu hal yang Asmi tidak pernah lakukan, padahal Arum adalah anak kandungnya.
“Ada hal yang bulek ingin tawarkan sama kamu, Rum. Tapi nggak yakin kamu mau atau tidak.”
Arum menunduk dan tidak menjawab seketika. “Mengenai pindah ke rumah joglo?”
Trining mengangguk.
“Menikah sama mas Pram tanpa restu ibu?”
Kini Trining yang menunduk serba salah.
“Arum mau, Bulek.”
Dengan tertegun karena tidak menyangka Arum akan mengiyakan, Trining menatap manik mata calon adik iparnya dengan melekat.
“Ka-kamu yakin?”
“Aku nggak punya pilihan lain. Ibuku nggak ada perubahan. Yang aku rasain kebencian yang memuncak. Ya, aku yakin, Bulek. Jiwa ibu terlalu rusak karena duka. Dan aku menjadi sasaran kemarahannya.”
Trining tersedu. “Panggil aku mbak. Kamu adalah adik iparku, Rum.”
Tangan Arum menyeka air mata Trining dengan lembut.
“Aku terlalu biasa manggil dengan sebutan bulek, tapi mungkin akan belajar mengganti mbak.”
Keduanya tertawa sedih bersama. Trining berjanji akan memberitahu Pram mengenai keputusan Arum. Dengan membawa buntalan kain berisi baju kotor, Trining meninggalkan rumah tersebut.
**
Genta duduk di tepi rawa yang terkenal di daerah Ambarawa dan sekitarnya. Rawa Pening.
Tempat yang menjadi obyek wisata pemancingan itu tampak ramai pengunjung pada penghujung minggu.
Ada beban pikiran yang mengelayuti benak Genta.
Memorinya yang hilang selama ini telah kembali!
Semua yang tadinya tidak masuk akal, kini mulai tercerahkan. Ucapan-ucapan ganjil dari orang-orang disekitarnya mulai Genta pahami. Bahkan kalimat Sayekti yang menyebutkan tentang hubungan mereka, Genta ingat dengan jelas!
Lambat laun hatinya mengeras. Tidak pernah ia sangka akan masa lalu yang sekian tahun terpendam, ternyata menyimpan bagian dari jiwanya yang berkarat!
‘Benarkah jiwaku serusak itu? Petaka itu terjadi karena aku! Iblis itu hadir, karena aku!’
Genta merasakan emosi yang meledak-ledak dalam dirinya. Antara rasa malu juga sesal, muncul keinginan untuk mencari alasan bagi dirinya melakukan hal yang mengerikan tersebut.
‘Ya, Allah. Tanpa kusadari, akulah iblis itu sendiri!’ jerit Genta kian panik dan gelisah.
Masa lalu apakah yang sempat hilang itu?