Tahun 1985
Remaja tampan yang sangat dikagumi oleh para gadis di sekolah juga kampungnya itu terlihat begitu antusias bermain basket. Gegap gempita penonton memberi semangat pada para pemain dan tim andalan mereka untuk memenangkan pertandingan.
Genta, nama pemuda itu. Menjadi bintang basket dan siswa cerdas yang selalu menyabet juara umum di sekolah favorit menengah pertama.
Sempurna adalah sebutan untuk sosok Genta. Tidak ada satu pun yang melihat kekurangan pemuda tersebut. Genta juga menjadi ketua OSIS dan ketua panitia untuk perlombaan membaca Alquran tiap tahunnya.
Kualitas idaman bagi para remaja putri.
Kedua orang tua Genta sangat bangga dan bahagia dengan pencapaian putran mereka. Membawa nama desa, sekolah dan keluarga. Menjadi teladan bagi anak-anak yang seusianya.
Usai pertandingan, kemenangan telak diraih oleh sekolah di mana Genta menuntut ilmu. Tropi yang diberikan, menambah koleksi prestasi yang telah Genta sumbangkan selama ini.
Tepukan penuh kekaguman dan pujian terlontar. Genta hanya menanggapi dengan tersipu.
Setelah mendi dan berganti baju, Genta melenggang menuju parkiran dan mulai menstarter motornya. Seorang gadis cantik dengan poni berlari menghampirinya.
“Aku udah kirim surat, tapi kamu nggak balas!” cecarnya dengan sikap marah.
Genta melepaskan helm dan menatap teman sekolahnya dengan senyum. Tika, bunga sekolah yang mengejar dirinya mati-matian sejak kelas satu.
“Sorry, aku nyiapin pertandingan dan lumayan sibuk.”
“Alasan! Kalo memang mau nolak, bilang aja! Jangan perlakukan aku kayak gini!” Mata Tika mulai merebak. Genta meraih tangan Tika dan menariknya untuk mendekat.
“Hei … jangan nangis. Aku juga suka kamu, kok,” bisik Genta dengan mesra dan merdu.
Tika masih memberenggut dan tidak puas dengan jawaban Genta.
“Kamu mau ikut?” ajak Genta kemudian.
Tika terkejut karena tidak menyangka Genta akan menawarkan hal tersebut padanya.
“Ke-kemana?”
“Pacaran.”
Seketika wajah Tika memerah. Genta dengan tidak sabar menarik Tika mendekat dan memberikan pandangan yang mampu melelehkan hati perempuan mana pun.
“Mau ikut nggak?” tanya Genta mengulangi kembali.
“I-iya.” Dengan gugup bercampur senang, Tika membonceng dan mereka melaju meninggalkan parkiran sekolah diiringi siulan nakal dari teman-teman mereka.
*
Dengan bingung bercampur resah, Tika duduk di sisi pembaringan kamar villa yang tampaknya milik keluarga Genta.
“Kok kita malah ke sini?” tanya Tika risau.
“Besok kan libur. Kenapa enggak? Kamu takut dimarahi sama orang tua?” balas Genta seolah mengkhawatirkan keadaan Tika. “Aku antar kamu pulang aja, yuk.”
“Eh, nggak usah!” tolak Tika buru-buru.
Ini adalah kesempatannya bersama dengan sang pujaan hati. Pria idaman yang digandrungi oleh puluhan remaja, kini menjadi kekasihnya.
‘Kamu yakin?”
“Iya. Nggak apa-apa. Aku bisa bilang kalo maen ke rumah temen.”
Genta tersenyum dan menawarkan minum. Tika menerima dengan sungkan. Masih berseragam putih abu-abu, keduanya duduk di karpet sembari mengobrol.
Tidak lama, Genta meraih dagu Tika dan melumat dengan lembut dan penuh perasaan. Tika yang tidak menyangka akan kejutan itu, terlena. Gairah muda yang menguasai dua insan, menghanyutkan hingga Tika menyadari satu persatu seragamnya terlepas.
Dia tidak ingin berhenti, belai dan cumbuan dari Genta begitu memabukkan dan Tika tidak ingin berakhir begitu saja.
Hingga mereka melakukan perbuatan terlarang, tidak ada tangis ataupun sesal terlontar. Rasa sakit yang sempat Tika rasakan, berganti kenikmatan pada adegan berikutnya.
Genta membuatnya melayang dan memekik pada surga dunia.
Keintiman terus terulang hingga menjelang malam. Keringat mengucur dan dua remaja yang baru menginjak usia tujuh belas tahun tersebut, saling memandang penuh hasrat.
“Kamu menyesal?” tanya Genta dengan suara serak.
Tika menggelengkan kepala dengan mata sayu.
“Apakah salah kalo aku ingin mengulang dan menikmatimu seutuhnya?” balas Tika dengan lirih.
Genta tersenyum samar.
“Enggak. Tapi ini udah malam, kamu harus pulang.”
“Ja-jangan! Aku nggak mau pulang, Gen!”
Tanpa berbusana, Tika menahan Genta yang mulai berpakaian kembali.
“Tika, orang tuamu bakal nyari. Aku nggak mau terlibat masalah.”
“Aku nggak peduli!” sahut Tika seperti kehilangan akal. “Bercintalah denganku sampai pagi,” rayu Tika dengan napas memburu.
Genta mengumpat dalam hati. ‘s**l. Nggak nyangka pengaruhku sampai separah ini!’
“Kalo mereka tahu kita ada di sini? Aku yang kena imbasnya, Tik.” Genta masih berkelit.
Tika merapatkan tubuh hingga Genta kembali bergetar.
“Aku bisa berbohong demi kenikmatan malam ini,” ucap Tika dengan penuh napsu.
Tidak lagi mampu meredam godaan, Genta menyerang Tika dengan cumbuan yang membuat kekasihnya kembali menjerit penuh kepuasan.
*
“Liat Tika, nggak?” tanya Genta pada salah satu temannya.
“Enggak. Katanya sakit.”
Genta mengangguk dan memutuskan untuk melupakan Tika hari itu.
Tiga hari kemudian, pada hari Minggu, Genta dikejutkan dengan kedatangan Tika ke rumahnya.
Ibunya menatap pada Genta dengan curiga.
“Temanmu keliatan pucat. Ada apa sama kalian?” cecar Padmi dengan tajam.
Genta gugup dan melirik ke arah Tika yang sedang duduk di teras. Ibunya menghadang Genta sebelum keluar untuk menemui.
“Nggak ada apa-apa, Bu. Tika memang sakit udah lima hari ini. Ibu tanya aja sama pihak sekolah.” Genta berkelit dan menunjukkan wajah tidak bersalah.
“Jangan buat onar dan merusak hidupmu juga keluarga ini dengan kasus yang baru, Genta! Bapak sama ibu capek menutupi semuanya!” tegas Padmi dengan nada menekankan.
“Iya, Bu. Genta tahu.”
Dengan malas, Genta berlalu melewati ibunya dan menuju ke depan.
Begitu melihat Genta, Tika berdiri dan menatap wajah pemuda yang ia rindukan.
“Aku kangen,” ujar Tika tanpa risih atau malu.
Genta mengusap tengkuk dan menghela napas berat.
“Kamu temui aku di tempat kemarin, aku harus bikin alasan lagi sama ibu karena dia curiga.”
Tika mengangguk dengan patuh dan segera berpamitan pulang.
Untuk saat ini, Padmi lega karena Genta tidak lagi berbuat macam-macam. Ada sesuatu yang ganjil terjadi pada remaja yang tampan juga berprestasi tersebut.
Sesuatu yang menyimpan rahasia kelam dan hanya ayah juga ibunya saja yang tahu.
*
“Tik, kayaknya kamu sakit.” Genta merasa risih saat Tika mencoba mengajaknya b******a yang kedua kali hari ini.
“Enggak, aku sehat. Aku butuh kamu aja, Gen.”
“Kamu hamil?”
“Hah? Enggak. Kupikir juga gitu karena muntah-muntah dan pusing. Tapi setelah periksa ke dokter, katanya aku cuman masuk angin.”
Genta mengangguk dan kembali melanjutkan permainan dewasa yang tidak seharusnya mereka lakukan. Hampir tengah malam, Genta dan Tika b******a tanpa henti.
Tika bagaikan perempuan yang haus akan kenikmatan dan tidak pernah puas. Genta mulai lelah dan mendorong kekasihnya dengan jengkel.
“Aku bosan!”
Setelah memakai celana panjang, Genta meninggalkan Tika yang termangu.
Gadis itu mendesah kecewa. Hasratnya masih begitu menggebu, tapi Genta mengatakan bosan.
Dengan tertatih, Tika berjalan menuju ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Begitu selesai, gadis itu memakai handuk dan seketika tertegun. Darah meleleh dari belahan paha dan Tika mulai panik. Baru dua minggu lalu ia mendapat menstruasi. Mustahil ia mengalami hal itu kembali.
Namun semenjak ia selesai b******a dengan Genta, darah itu keluar seperti sakit bulanan wanita pada umumnya. Hanya saja, dengan diiringi rasa sakit yang melilit perutnya.
Tika bergegas mencari pembalut dalam tasnya dan memakai buru-buru. Kesadaran dan logikanya kembali menyeruak dan gadis itu mulai panik. Tujuannya adalah pulang dan mencoba memulihkan kendali diri kembali.
Hingga detik ini Tika tidak memahami, kenapa dirinya begitu menginginkan untuk b******a dengan Genta, seperti hewan yang tidak memiliki nalar juga akal sehat?
Dipenuhi rasa malu atas gairah yang tidak mampu ia redam, Tika menyambar tas dan keluar dari kamar.
“Aku mau pulang!” pamit Tika dengan gugup.
Genta menatap Tika dengan pandangan curiga. Dengan cepat, tangan Genta menyambar lengan Tika. Keduanya saling menatap dan Genta membuang puntung rokok begitu saja.
“Pulang dan jangan mengingat apa pun yang pernah kita lakukan. Kamu dan aku tidak pernah ada hubungan.”
Bagaikan terhipnotis, tubuh Tika menegang juga kaku. Matanya menjadi hampa, tanpa sinar kehidupan.
Dengan gerakan seperti robot, Tika berbalik dan meninggalkan villa tersebut.
Genta tersenyum licik, lalu masuk kembali ke kamar.
Tangannya menarik laci serta meraih buku kecil bersampul kulit, warna hitam.
Dengan pulpen yang terselip di antara lembar halaman, Genta mencoret nama Tika, seiring raut kepuasan yang terukir.
Tika, adalah gadis yang kelima belas, yang telah menjadi korban dari Genta.
**
“Cukup, Genta! Jangan pernah kau ulangi lagi!” bentak Cokro, ayahnya, dengan murka.
Berita kematian Tika yang sakit pendarahan menjadi gempar. Tidak ada yang mengetahui hubungannya dengan Genta karena Tika tidak pernah mengakui. Memorinya terhapus dan kedua orang tuanya menganggap Tika sakit karena sebab yang lain.
Akan tetapi, Cokro dan Padmi tahu. Seiring kematian Tika, Pram dan Trining yang selama ini hanya menebak, akhirnya diberitahu oleh kedua kakak mereka. genta berakhir terkunci di kamar
“Satu-satunya cara adalah mengunci jiwanya,” saran Pram dengan wajah membeku.
“Dan dia bukan lagi Genta yang kita kenal?!” Cokro tidak setuju.
“Apa pilihan yang paling baik, Mas? Berapa banyak lagi korban yang jatuh karena Genta?” pekik Padmi dengan tangis. “Jika saja sampeyan ndak tukarkan Binar dan Lunar dengan nyawa Genta, anak kita nggak akan terlibat dan dikuasai iblis!” teriak Padmi mulai kehilangan kendali dan menyalahkan suaminya.
“Genta akan mati, Padmi!”
“Bagaimana dengan Binar dan Lunar? Menjadi tumbal demi nyawa adiknya?! Genta akan terus mencari tumbal dan itu tidak akan pernah berhenti!”
Cokro mematung dengan wajah mengeras. Kemarahan dan penyesalan bercampur jadi satu.
“Kunci jiwa Genta, Pram. Minta mbah Darmo dan Ki Sukmo melakukan itu malam ini!” perintah Cokro dengan suara bergetar.
Pram mengangguk dan menghela napas panjang sebelum meninggalkan ruang keluarga.