Kilasan Waktu Kelam 2

1295 Kata
Tahun 1985 Dengan dibantu Trining, Padmi membereskan semua bukti kekejian yang Genta lakukan. Bahkan buku diari yang Genta miliki juga Padmi masukkan ke dalam kardus. Semua tidak tersisa. Dengan alasan sakit, Genta tidak masuk sekolah selama satu minggu lebih. Pram mendampingi Genta, sementara Ki Sukmo dan Darmo mengunci jiwa kelam Genta yang disebabkan oleh iblis yang memberikan jiwa Genta saat koma dulu. Kedua pria tangguh yang memiliki ilmu tinggi tersebut terlihat berusaha keras mengurung bagian jiwa Genta yang lain. Setelah berpuasa dan bersemedi hampir sepuluh hari, mereka pun berhasil. Iblis itu tidak lagi berdaya. Tidur dalam relung jiwa Genta yang paling dalam. * Keponakannya terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat, dan Pram menatap dengan hati tidak percaya. Ternyata penyebab dari kedua keponakan kembarnya karena menjadi tumbal demi menyambung nyawa Genta yang sekarat. Padmi memeriksa sesekali kondisi Genta bersama Bram, dokter yang menjadi orang andalan mereka saat ini. “Infus ini seharusnya bisa membantunya pulih dan tersadar secara bertahap. Bersabarlah, karena pada awal-awal nanti dia akan seperti anak kecil. Kalian harus membantunya dengan telaten,” ucap Bram sembari menyimpan peralatan medisnya ke dalam tas kembali. Padmi mengucapkan terima kasih dan mendampingi dokter keluarga mereka. Di ruang tamu villa yang setengah terbuka menghadap ke kolam renang, Cokro duduk termenung dengan wajah murung. “Cok, kamu harus menentukan sikap dan nggak boleh gegabah lagi. kalau saja aku tahu sejak awal bakal begini, nggak aku izinkan kalian merambah rumah sakit hanya untuk menyadarkan Genta dengan cara iblis!” Bram memperingatkan Cokro yang telah menjadi sahabatnya sejak dulu. Cokro menoleh sekilas dan menghela napas berat. “Aku ini cuman ayah yang ingin anakku tetap hidup. Pertukaran yang nggak seharusnya terjadi, adalah akal licik dari makhluk k*****t tersebut!” Bram tetap saja tidak menyukai situasi yang telah terjadi. “Aku pulang. Kabari terus perkembangan Genta.” Bram malas berdebat karena pada dasarnya ini adalah kesalahan yang tidak disengaja. Pertimbangan yang buru-buru dengan mencari jalan instan, adalah penyesalan seumur hidup. Begitu Bram berlalu, Pram keluar dan duduk di seberang kakaknya. “Aku selama ini bungkam karena nggak tahu kejadian sebenarnya! Nasi sudah jadi bubur, tapi apa yang Mas Cokro lakukan, seharusnya dibatalkan!” ucap Pram dengan tajam. “Kamu tahu caranya?” balas Cokro tidak kalah sinis. “Kabari aku kalau sudah ketemu, Pram!” Padmi terdiam. Duduk tanpa melontarkan sepatah kata pun. “Mau berapa banyak lagi tumbal yang harus mati? Nggak ada jaminan kalo Genta bisa tidak sadar selamanya! Suatu waktu, akan ada pemicu dan itu mungkin jauh lebih mengerikan, Mas!” Cokro berpaling pada pram, adiknya. “Kamu berharap aku membunuh anakku sendiri?! Satu-satunya cara untuk membatalkan ini adalah dengan Genta mati!” teriak Cokro mulai berkaca-kaca. “Kalau demi keselamatan orang lain, kenapa tidak?! Toh Binar dan Lunar mati pun, kalian tidak keberatan, bukan?!” sindir Pram dengan telak. Plaak! Sebuah tamparan melayang di pipi Pram. Cokro kehilangan kendali dan membalas sindiran yang menyinggungnya dengan sebuah pukulan di wajah Pram. Pemuda yang saat ini masih berusia dua puluh tujuh tahun tersebut merasakan mulutnya asin. Dinding dalam rongga mulut pecah dan mengeluarkan darah. “Mas!” pekik Padmi dengan kalut. “Pergi, Pram! Sebelum mas kamu makin gila!” perintah Padmi dengan kilatan mata kecewa bercampur marah pada suaminya. Dengan hati terluka, Pram berlalu dari tempat itu. “Kau sudah keterlaluan, Mas,” ratap Padmi dengan wajah berduka. ** Tahun 1990 Genta baru selesai menyelesaikan Pendidikan medisnya dan bergelar dokter. Niatnya untuk mengambil spesialis langsung didukung oleh ayah dan ibunya. Baru saja ia pulang kampung setelah diwisuda, Drajat datang untuk mengajaknya menyaksikan hajatan di lapangan. Karena begitu yakin bahwa Genta telah sepenuhnya bisa mengendalikan diri, Cokro dan Padmi tidak melarang sedikit pun. Namun bagi Pram, Genta masih tetap harus ia awasi. Sudah lima tahun ini juga, Pram dan Cokro tidak bicara banyak. Seperti terjadi perang dingin antara keduanya, Pram lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di perkebunan. Berkali-kali Trining mencoba mendamaikan, tapi rupanya sia-sia. Pram tetap menyimpan kemarahan terpendam. Sore itu semua pemuda dan pemuda berkumpul semua. Banyak gadis-gadis muda yang Genta tidak kenal dan kini terlihat begitu menarik. “Siapa dia, Jat?” tanya Genta pada Drajat, ketika seorang remaja masih berseragam SMA naik sepeda melewati mereka dan berhenti di depan tukang lothek. “Kamu belum punya pacar, Gen?” tanya Drajat. Sahabatnya tersenyum dan menggelengkan kepala. “Nggak ada waktu.” Dengan datar dan tanpa emosi, Genta menjawab. Semenjak ritual penguncian iblis dalam dirinya, Genta berubah menjadi pemuda angkuh dan dingin, tidak banyak bicara. “Masak kamu nggak kenal dia? Itu kan Sayekti! Anaknya Ki Sukmo!” Kening Genta berkerut. “Ki Sukmo?” Giliran Drajat yang mengerutkan dahinya. “Mosok kamu nggak kenal! Ki Sukmo itu kan temen bapakmu, pengasuhmu waktu kecil dulu! Piye tho!” Senyum Genta terukir. “Jat, sejak kecelakan banyak hal yang aku lupa. Paham sithik tho, jangan nesu. Nanti gantengmu ilang,” balas Genta sedikit menggoda Drajat. Drajat mengumpat dan akhirnya mengurai tawa. “Dia anak yang baik, Gen. Kalo memang mau serius, sepertine kamu bakal didukung sama keluarga. Ki Sukmo juga sayang banget sama kowe,” saran Drajat. “Sayekti …,” gumam Genta tidak melepaskan pandangan dari wajah ayu dan rupawan gadis remaja yang terlihat malu-malu. ** Ini adalah bulan kedua Genta mendekati Sayekti. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Semua perasaan dan harapan Genta disambut dengan hangat oleh Sayekti. Mereka diam-diam sering bertemu untuk saling mengenal diri lebih dekat. “Aku pengen serius tenan sama kamu, Dek.” Sayekti yang duduk di sebelahnya terhenyak. Dengan menggenakan baju terusan motif bunga cipir dan rambut terkepang satu, Sayekti terlihat bagaikan bidadari tanpa riasan wajah. Kecantikannya alami dan bersinar. Genta tidak ingin melepaskan gadis itu, apa lagi melewatkan kesempatan untuk menjadikannya sebagai milik seutuhnya. “Mas, sebaiknya bicara sama bapak dulu,” sahut Sayekti lembut dan pelan, sementara wajahnya tertunduk malu. Selama mereka bersama, Genta tidak pernah macam-macam dan Sayekti selalu bersikap santun. “Tapi aku harus mengejar spesialisku dulu. Aku nggak mau kamu diambil orang kalo aku pergi,” timpal Genta benar-benar ingin melanjutkan hubungan pada tahap serius. “Aku bakal setia, Mas.” “Demi apa?” Bibir mungil dan merah muda Sayekti bergerak, namun tidak mengeluarkan suara. “Kamu mau kita buat janji setia sehidup semati?” tanya Genta. “Apa harus seperti itu?” Sayekti tidak yakin dan masih ragu. Genta menghela napas panjang dan menatap rawa pening yang ada di hadapan mereka. “Aku ini tergila-gila sama kamu, Sayekti. Nggak pernah ada perempuan yang bisa buat aku seperti ini. Kalo aku pergi dan ada pria lain yang melamar, gimana sama aku?” Sayekti tersenyum, lalu tertawa kecil. “Janji sehidup semati itu kayak apa, Mas?” tanya Sayekti akhirnya mengalah. Genta mengeluarkan kertas yang bertuliskan mantra yang harus diucapkan satu sama lain, beserta persyaratan berikutnya. “Janji darah?” Ekspresi Sayekti terlihat ngeri. “Sebutannya memang serem. Tapi sebenarnya cuman menorehkan darah satu sama lain terus ditautkan. Itu aja.” “Apakah manjur?” “Ini dari temenku. Katanya bisa membuat pasangan itu saling setia dan berjodoh.” Genta berbohong. Ia menemukan lembaran kertas itu di laci kamar ayahnya. “Aku siap.” Tanpa berpikir, Sayekti menyanggupi dan janji darah itu pun terjadi. Begitu selesai, Sayekti merasakan kepalanya terasa berat sesaat, tapi kemudian semua pulih kembali. Tanpa Sayekti sadari, sesuatu telah merasuk ke dalam tubuhnya. Karena cinta sejati yang tersimpan dalam hatinya, jauh lebih besar dari cinta Genta pada gadis tersebut. Inilah awal petaka yang sesungguhnya! *** Halo semuanya. Terima kasih masih setia hingga bab ini. Sedikit info, daerah yang melatari cerita ini adalah tempat di mana aku dibesarkan. Bedono, kawasan Ambarawa. Di tempat itu, begitu banyak misteri yang terjadi. Aku mencoba mengisahkan satu persatu dalam cerita Tumbal ini. Apakah keseluruhan kisah ini adalah berdasarkan kisah nyata? Tunggu jawabannya pada akhir cerita nanti, ikuti terus, ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN