Kilasan Waktu Kelam 3

1138 Kata
Tahun 1990 Seluruh laci dan lemari Cokro bongkar hingga berantakan. Wajahnya memerah dan kemarahannya memuncak. Begitu istrinya masuk, Padmi terhenyak melihat kondisi kamar mereka yang berantakan. Semua Cokro keluarkan dan berserakan di lantai. “Mas … ke-kenapa berantakan begini?” Padmi memungut satu persatu pakaian juga benda dengan wajah tidak mengerti. “Kertas mantra dari Situbondo hilang!” sahut Cokro dengan sikap kalut, terus mencari. “Kertas mantra?” ulang Padmi. “Kertas mantra apa, tho, Mas?” Cokro berbalik dan menatap Padmi dengan tajam. “Kertas mantra yang aku gunakan untuk menyelamatkan nyawa Genta, Padmi. Jika itu hilang dan ditemukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, maka petaka akan terjadi lagi! Kau tahu itu? Oh, tentu saja tidak! Yang kau lakukan adalah menyalahkan aku!” Padmi memucat dengan wajah tegang. “Aku tidak akan menyalahkan sampeyan, kalo dari awal sampeyan ndak ngumpetin hal menjijikkan. Bukan aku tidak sayang Genta, tapi caramu salah dan Ki Sukmo sekarang harus menjadi korban dengan terus berpuasa demi kau. Demi kita!” Dengan berang Cokro menerjang Padmi. Matanya tampak memerah. “Apakah kamu mau bilang kalo Ki Sukmo sudah memikat hatimu dengan sikap kesatrianya?” Tanpa takut, Padmi mendorong kembali Cokro. “Jika aku bisa memilih lagi kehidupan yang lebih baik, ya! Puas sampeyan, Mas?!” balas Padmi dengan sinis. “Perempuan biadab!” Cokro yang kalap berusaha memukul Padmi. Untunglah Pram masuk berteriak serta mendorong kakaknya dengan sekuatnya. “Sampeyan boleh melenyapkan kehidupan Binar dan Lunar dengan membunuh mereka. Tapi jika sampeyan berani menyakiti lagi, saya nggak tinggal diam, Mas!” ancam Pram. Cokro seperti tersadar, seketika duduk di sisi pembaringan dan mengucapkan istigfar dengan sesal. Pram menuntun Padmi keluar dari kamar itu, meninggalkan Cokro yang tergugu. ** Hubungan Genta dan Sayekti akhirnya diketahui oleh Ki Sukmo dan juga Cokro. Pram yang diam-diam selalu mengikuti Genta dan Sayekti, menduga ada yang tidak beres. Terutama saat Sayekti menolak untuk kuliah dan memilih menunggu Genta hingga usai mengambil pendidikan keduanya. Sore itu, Genta terlihat baru selesai mencuci motornya dan mengelap dengan telatennya. Pram yang duduk di teras depan, menatap keponakannya. Entah kenapa sulit baginya untuk mempercayai kembali semua perkataan Genta. Kejadian lima tahun lalu masih terbayang dengan jelas. “Gen, duduk sini!” ajak Pram. Melihat Pakleknya melambaikan tangan untuk menikmati jadah goreng, Genta mengangguk dengan senyum. Mereka tidak banyak bicara karena Pram selalu sibuk di kebun.  Genta duduk dan mencomot satu makanan yang jadi kesukaannya. Pram tersenyum hangat. Sesungguhnya dia sangat menyayangi Genta. Pemuda ini begitu baik dulu dan penurut. Ayahnya sendiri yang mengambil keputusan salah. Semuanya menjadi hancur! “Kapan kamu mulai kuliah lagi?” tanya Pram. “Minggu depan, Paklek.” “Semua urusan pendaftaran sudah selesai?” “Sampun, Paklek.”  “Paklek bangga kamu bisa mencapai cita-citamu. Semoga pulang nanti, kamu bisa membawa gelar yang membawa harum nama keluarga dan juga desa.” “Amin. Genta mau mengabdi untuk desa kita, seperti Paklek.” Pram mengangguk dengan senang. “Sudah sepatutnya, Gen. Siapa lagi yang peduli dan akan memajukan desa ini kalo bukan kita, kaum muda?” Merasa Pram sangat mengerti dirinya dibandingkan Cokro, Genta mengutarakan maksudnya untuk melamar Sayekti. Pram yang sudah menduga mengenai hubungan mereka, menyambut dengan sumringah. “Paklek bantu omong sama bapakmu! Ki Sukmo pasti gembira mengenai hubungan kalian!” “Syukurlah, Paklek mau dukung saya,” balas Genta antusias. “Tenang, sudah saatnya juga kamu memulai hubungan serius dengan wanita yang tepat.” Percakapan mereka berlanjut hingga menjelang sore. Pram hingga detik itu tidak menduga hal yang meresahkan. Genta benar-benar berniat ingin menyunting Sayekti dengan cara yang benar. ** Ki Sukmo tersenyum dengan lebar. Baru kali ini pria pendiam dan tidak banyak bicara itu terlihat gembira. Cokro yang tidak menyangka jika Genta memilih Sayekti sebagai calon istrinya, juga tampak lega. Terlebih lagi Padmi dan Trining. Lamaran berlangsung sukses dan Darmo yang memimpin doa dan kendurian keluarga. Persatuan antara keluarga Amandaru dan Ki Sukmo tidaklah mengherankan. Semua masyarakat tahu betapa dekatnya Cokro dengan Ki Sukmo. Usai acara lamaran, mereka melanjutkan hingga larut malam untuk mengobrol. Ikatan silaturahmi yang selama ini terjalin, semakin kuat dengan pernikahan yang akan terjadi nanti. “Pertunangan ini membuatku luar biasa lega! Terutama kita pernah membicarakan mengenai ini, kan, Mo?” seru Cokro pada Ki Sukmo. “Allah mendengar doa kita, Cok,” timpal Ki Sukmo dengan senyum yang masih terukir. “Persahabatan kita makin kokoh dan semoga nanti berlanjut ke anak juga cucu,” imbuh Darmo. Tawa gembira yang sudah lama tidak terdengar terurai dari ketiganya. Padmi masih membisu dan tidak menimpali obrolan mereka. Matanya terus menatap Sayekti yang tampil menawan malam itu. Harapan juga doa yang terangkai dalam hati adalah Genta bisa melupakan semua masa lalu kelamnya dan bahagia dengan Sayekti. Putri Ki Sukmo ini juga terkenal dengan ibadahnya yang kuat, juga sopan santun. Ternyata Genta memilih calon istri bukan gadis kota yang modern dan gaul. Sayekti adalah pilihan pas untuk Padmi dan keluarga mereka. “Kamu pasti setia nunggu Genta balik, tho, Nduk?” tanya Darmo menggoda Sayekti yang duduk dengan wajah tertunduk malu. Padmi tersenyum, seakan turut merasakan indahnya perasaan seorang gadis yang sedang dalam keadaan bahagia. “Nggih, Mbah Guru,” jawab Sayekti malu-malu. “Aku bisa gila kalo Sayekti ingkar. Wes kadung cinta mati jek (Sudah terlanjur cinta mati padahal).” Genta turut menggoda kekasihnya yang makin salah tingkah. “Waduuuh! Ini bahaya, bisa-bisa nggak konsen kuliah, pengen pulang terus!” Cokro menambahkan dengan gelak tawa. Semua sibuk melontarkan canda. Gurauan hangat yang menyenangkan. Dalam hati, Genta merasa paling beruntung malam itu. ** Tiga hari setelah Genta pergi, Padmi meminta Trining membereskan kamar putranya. Semua baju-baju kotor Genta yang tertumpuk baru saja bisa mereka bereskan. Acara lamaran yang akhirnya berakhir dengan perayaan yang berlanjut, membuat semua orang di rumah ini sibuk. Ketika Trining memastikan tidak ada yang tertinggal lagi dalam saku baju keponakannya, ia mengangkat cucian ke arah dapur. Padmi menengok kamar anaknya yang terlihat rapi tersebut. Di atas meja, terlihat secarik kertas kecil dari perkamen, yang tergulung dengan rapi. Deg! Hati Padmi berdebar. Dengan tangan gemetar, ia mengambil gulungan kertas itu dan membuka hati-hati. Tulisan dari huruf jawa kuno tertulis dengan coretan yang sepertinya menggunakan arang. ‘Ditingali dening bumi lan langit, kula ngaturake sumpah sehidup semati mareng Dewi Rengganis. Punapa nggih ingkang dados pangajeng-ajeng kula badhe kelampahan. Bilih sedaya ingkang sampun kula sanjangaken tibo mangkir, mila kapejahan dados ganjarane kula Bagian Atas Formulir lan jiwa puniki inggih menika gadhahe Dewi Rengganis. Ngenger saklawase.” Bagian Bawah Formulir ( Disaksikan oleh bumi dan langit, aku mengucapkan sumpah sehidup semati pada Dewi Rengganis. Apa pun yang akan menjadi keinginanku akan tercapai. Jika semua yang telah kuucapkan terlanggar, maka kematian akan menjadi hukumanku dan jiwa ini adalah miliknya. Mengabdi selamanya.) Tubuh wanita itu seketika limbung. Mata Padmi berkaca-kaca dan gulungan kertas perkamen itu terlepas dari tangannya. Genta telah mengambil kertas mantra hitam dari ayahnya sendiri!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN