Tahun 1990
Cokro duduk dengan lemas, ketika Padmi menyorongkan kertas perkamen yang baru ia temukan di dalam kamar Genta.
Keduanya memucat, sementara Ki Sukmo dan Sayekti, yang baru saja mengakui bahwa benar ia melakukan sumpah tersebut bersama Genta, duduk dengan bahu terkulai.
Ki Sukmo menyayangi putrinya juga Genta. Bagi pria itu, Genta adalah simbol perasaannya pada Padmi.
Ya, tanpa diketahui oleh Cokro secara langsung, antara Ki Sukmo dan Padmi tumbuh perasaan yang mereka bungkam dan pendam dalam-dalam.
Keduanya tidak pernah mengumbar apalagi berniat berselingkuh. Hanya mencintai dan memandang dalam diam.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mo?” tanya Cokro dengan putus asa.
Sayekti terdengar menangis pelan, dengan perasaan menyesal. Ia tidak pernah menyangka jika akibat yang nanti akan terjadi mungkin sangat parah dan bahkan meminta tumbal salah satu dari mereka berdua.
“Janji itu diucapkan oleh dua manusia yang saling mencintai, Cok. Semoga Genta dan Sayekti tidak pernah mengingkari itu. Karena jika salah satu mangkir, Rengganis akan menuntut.”
Padmi mendesah panjang dengan resah.
“Apakah akan ada tumbal lagi?” tanya Padmi dengan suara bergetar.
Ki Sukmo mengangguk pelan.
“Duh Gusti,” keluh Padmi dengan lemas.
“Tu-tumbal seperti apa, maksudmu, Mo? Apakah ada nyawa yang akan melayang kalo janji itu mereka langar?” tanya Cokro kian gelisah.
Ki Sukmo membakar lintingan dan menghela napas berat, seiring gumpalan asap mengepul dari bibirnya.
“Berbeda dari yang kita lakukan pertama dulu, Cok. Apa yang telah kita lakukan adalah meminta nyawa dan diganti dengan nyawa. Rengganis menguasai Genta dengan memunculkan ambisi gelapnya. Itu imbalan yang iblis betina tersebut kehendaki. Tapi sekarang, yang meminta adalah menjadi dua sejoli untuk bersatu dan setia. Jika salah satu ingkar, maka kematian akan menjadi ganjaran. Tapi, di luar dari kematian, ada akibat yang lebih menakutkan lagi.”
Baik Cokro maupun Padmi mengkerut.
“Sebaiknya kau mengatakan dan jangan berbelit-belit, Mo,” pinta Cokro.
Wajah Ki Sukmo yang masih tampak tampan di usianya yang hampir mendekati setengah baya, kini berubah menjadi sendu.
“Jika wanita yang ingkar, maka dia akan mengabdi pada Rengganis dengan melayani semua pengikut iblis tersebut. Seandainya Genta yang mangkir, dia akan menjadi pengantin abadi Rengganis dan tumbal akan terus berdatangan selama dia tidak menyerahkan diri.”
Padmi terisak dan menangis dalam kekecewaan juga kepahitan. Sayekti makin merasa tersudut.
“Ap-apa yang bisa membatalkan hukuman itu, supaya Genta tidak menjadi pengantin iblis, Mo?” Kali ini Cokro ingin menyudahi perjanjian apa pun dengan iblis yang bernama Rengganis itu!
“Caranya sama saja, Cok. Seperti yang pertama, kita hilangkan memori pada Genta tentang perjanjian yang telah ia buat dengan Sayekti, dan biarkan takdir yang menjodohkan dengan mereka.”
“Kamu tahu itu mustahil? Jika memorinya hilang, Genta akan melupakan Sayekti dan dia bisa saja memutuskan perjodohan!” tangkis Padmi dengan murka.
“Apa maksud dari saranmu, Mo? Aku ingin semua kita akhiri dan persetan dengan Rengganis!” seru Cokro.
Ki Sukmo diam dan tidak segera menjawab.
“Biar aku yang ingkar dan memutuskan perjodohan ini, supaya mas Genta tidak menerima hukumannya!” seru Sayekti dengan air mata berlinang.
Ki Sukmo tercekat dan menatap anak yang sebenarnya bukan dari darah dagingnya tersebut. Laksmi, istrinya, berselingkuh hingga hamil dan melahirkan Sayekti.
Namun pria itu tetap memutuskan untuk merawat Sayekti dengan penuh kasih sayang. Mengabaikan fakta bahwa gadis itu bukanlah keturunannya.
“Ja-jangan, Nduk. Bukan begitu caranya,” tangkis Padmi dengan gemetar. “Bi-biar kami orang tua yang bicara. Mungkin melibatkan mbah Darmo akan jauh lebih baik.”
Cokro justru terdiam dan memikirkan perkataan Sayekti.
“Padmi bener. Bukan bebanmu untuk menanggung ini.”
Ki Sukmo menatap Cokro dengan mata menyelidik dan hati curiga.
“Kita akhiri saja, aku dan bapakmu yang akan bicara.” Usai mengucapkan kalimat tersebut, Cokro meninggalkan mereka yang penuh tanda tanya.
Kembali lagi, Padmi tidak mengerti jalan pikiran suaminya.
**
“Kita harus bicara sama mas Darmo, Cok! Mungkin dia punya nasehat atau saran yang lebih penting!” desak Ki Sukmo.
“Nggak usah, Mo. Aku yang akan berkorban kali ini,” tolak Cokro membantah pendapat Ki Sukmo.
“Berkorban piye, tho?”
Cokro menghela napas berat dan panjang.
“Rengganis hanya butuh satu tumbal untuk memenuhi perjanjian itu. Aku akan mengajukan diri sebagai pengganti mereka, untuk mematahkan janji darah tersebut.”
“Sampeyan ora waras opo, Cok?!” pekik Ki Sukmo dengan murka.
“Nggak ono waktu meneh, Mo!”
“Aku aja yang berkorban, Cok! Jangan kamu!”
“Sukmo! Padmi benar-benar muak sama aku, karena sifat pengecutku selama ini! Ini saat yang tepat buat jadi pria sejati!”
Ki Sukmo mengumpat dalam bahasa Jawa kasar. Keduanya duduk di teras rumah Ki Sukmo yang ada di sekitar perbukitan desa Bedono.
“Kamu harus tetep hidup, buat menjaga keluargaku. Lagi pula, Sayekti nggak punya siapa-siapa lagi, Mo.”
Mata Ki Sukmo berkaca-kaca, tapi ego lelakinya menolak untuk menangis.
**
Tanpa kehadiran Genta, mereka menetapkan ritual untuk membatalkan perjanjian dengan Rengganis. Dengan bersila, dua pria itu mulai memanggil Rengganis dengan mantra yang mereka kuasai.
Sedikit kilas balik mengenai Rengganis, mereka mengenal iblis tersebut sejak masih menempuh ilmu kebatinan dulu. Sebagai remaja, cara untuk menyelidiki segala sesuatu terkadang mendekati bahaya.
Berkat tapa raga dan semedi, ketiganya, Cokro, Ki Sukmo dan Darmo, berhasil mendapatkan beberapa mantra yang Rengganis tawarkan untuk kemudahan hidup mereka.
Setelah bertahun kemudian tidak pernah mencoba, tibalah saat kritis yang menimpa salah satu dari ketiganya. Rengganis hadir sebagai solusi terbaik, meski berbuntut panjang.
Udara bertiup semakin dingin. Kedua pria mulai merasakan kehadiran sosok iblis yang mereka tunggu. Bayangan hitam besar yang merangkak dari atap tersebut, lambat laun berbentuk sosok cantik dengan mata merah mengerikan. Bajunya seperti wanita jawa tempo dulu. Kain kemben dengan rambut di gelung bertahtakan bunga melati. Benar-benar wanita cantik yang mempesona.
Sayangnya, Rengganis adalah iblis perempuan yang terkenal dengan mengumbar janji dan nafsu.
Setelah mengutarakan niat mereka, Rengganis tertawa menyeramkan.
“Nyawamu begitu murah, Cokro? Sampai kau gadaikan untuk anak lanangmu?” tanya Rengganis dengan suara halus dan dingin.
“Sampeyan nggak bakal mengerti, kasih orang tua untuk anak, adalah sepanjang masa,” balas Cokro.
Rengganis kembali terkekeh.
“Itu tidak terjadi pada Binar dan Lunar, Cokro. Kamu mengorbankan mereka, demi yang lain. Satu dibayar dua,” ejek Rengganis, berbisik dengan nada membuat bulu kuduk meremang dan tulang terasa ngilu.
“Kau tipu daya kami! Seandainya saja ….”
“Apa? Apa yang akan terjadi dengan andai kata darimu?! Aku hanya meminta bayaran yang setimpal,” desis Rengganis memotong ucapan Cokro.
“Rengganis, penuhi saja permintaan kami. Atau semua akan kami batalkan!” desak Ki Sukmo mulai tidak sabar.
Iblis perempuan itu berdecak mencemooh.
Gerakan tubuhnya meliuk dan berubah menjadi asap hitam bergulung-gulung, dan lenyap. Namun suaranya tetap bergaung.
“Kuterima dan kutunggu janjimu, Cokro Amandaru ….”
Seakan baru saja lepas dari cekikan, baik Cokro maupun Ki Sukmo muntah dengan cairan hitam menjijikkan!