Semenjak mereka berhasil menemui Rengganis, Cokro meminta Genta untuk pulang dengan alasan acara keluarga. Tanpa curiga sedikit pun, pria itu kembali.
Sayekti yang sebelumnya sudah menerima arahan untuk menjalankan rencana mereka, terpaksa harus menerima dengan besar hati.
Gadis belia yang begitu mencintai Genta sepenuh hati, kini mencoba untuk melupakan mimpinya. Merelakan Genta demi membatalkan perjanjian mereka dengan Rengganis.
Meski berat, namun Sayekti sedari awal sudah sepakat.
Ketika akhirnya Cokro melibatkan Darmo, di situlah konflik mereka terjadi.
“Kau ceroboh! Tidak berpikir panjang! Tidakkah aku sadari jika membatalkan janji dengan iblis tidak akan berjalan semudah itu?!” pekik Darmo murka.
“Maksud sampeyan apa, tho, Mas?” tanya Cokro tidak memahami arti kalimat Darmo yang terlontar dengan begitu emosional. “Aku memberikan diri untuk menggantikan Genta!”
Darmo menatap Cokro dengan tajam.
“Kau pikir Rengganis akan mengambil nyawamu dan melupakan semuanya? Kau lupa bagaimana dia mengambil dua putrimu dan bukan orang lain?!” desis Darmo dengan mata memerah, menahan luapan kemarahan. “Kau sudah bermain-main dengan iblis, Cokro. Dengan melibatkan kami! Sukmo mungkin begitu setia dan bodohnya mengikuti permainanmu, tapi aku tidak! Selesaikan urusanmu dan aku tidak akan menjadi bagian dari ini semua!”
Darmo bangkit berdiri dan melangkah pergi dari rumah joglo dengan kemarahan yang menggunung.
Semua yang berkumpul saat itu terpukul dengan mundurnya Darmo. Orang yang paling mereka andalkan untuk bisa mendukung ritual nanti, ternyata memilih untuk menolak dengan keras, bahkan mengutuk keputusan mereka.
“Tinggal aku dan kamu, Mo. Apakah kamu juga mau mutusin untuk pergi?” tanya Cokro.
Ki Sukmo menggelengkan kepala. “Anakku juga terlibat. Bagaimana bisa aku mengatakan memilih untuk tidak peduli?” sahutnya dengan pelan.
Padmi tergugu kembali. Ia sangat menyesal dan kalut. Menyayangkan sikap Darmo yang begitu mengecewakan.
Akhirnya, dibantu oleh Pram juga Bram, dokter keluarga, Genta kembali menjalani hal yang dulu sempat ia jalani. Menghapus segala bentuk memori yang dilakukan langsung oleh Ki Sukmo dan ayah Genta.
Sayekti menatap lelaki yang terbaring dengan napas teratur, sembari menekan dalam-dalam perasaan rindu yang begitu menyakitkan.
Saat tersadar, Genta memandang semuanya dengan heran. Ibu dan ayahnya juga Pram, mulai mengajukan satu persatu pertanyaan.
Genta menjawab dengan bingung. Tidak ada satu pun memori yang diingat, mengenai hubungannya dengan Sayekti.
Ki Sukmo dan putrinya yang duduk di sudut ruangan, menghela napas berat lalu pamit pulang.
**
Di tepi rawa pening tersebut, Genta mengingat semuanya dengan mudah. Seluruh kejahatan yang penah ia lakukan, beserta dengan pertunangan yang dibatalkan dengan sebab yang dirinya tidak ketahui.
‘Aku pernah mencintai Sayekti begitu mendalam. Kenapa semua tidak ada lagi begitu aku terbangun dari tidur?’ batinnya dengan penuh tanya.
Bertumpuk tanya mengumpul di benak Genta. Untuk saat ini, bukan itu saja yang membuatnya terpukul. Fakta yang menyebabkan ayahnya meninggal juga kini ia kaitkan dengan pembatalan perjodohan dirinya dengan Sayekti.
‘Paklek pasti punya jawaban dari semua ini.’ Genta terus membatin dan berpikir.
Satu-satunya cara adalah mengakui pada Pram bahwa memorinya telah kembali!
**
Tahun 1991
Setahun berlalu semenjak pembatalan pertunangan Genta dan Sayekti. Cokro belum mengalami hal yang pernah ia janjikan pada Rengganis.
Siang itu, tepat 365 hari dirinya mengadakan ritual penghapusan memori Genta. Padmi sedang ada di ruang depan menemui tamu. Cokro memutuskan untuk tidur sejenak. Belum sempat dirinya terlelap, suara Rengganis terdengar dan Cokro sontak berdiri dengan kaget.
“Kutagih janjimu, Cokro ….”
Suara tanpa wujud itu seperti hanya bergaung dalam benaknya saja. Keinginan untuk tidur hilang! Dengan buru-buru dan panik, Cokro memerintahkan Totok untuk mengundang Ki Sukmo ke rumah joglo.
Setelah kedatangan sahabatnya, Cokro menceritakan semua dengan gugup. Ki Sukmo tampak tercekat. Tidak menyangka jika Rengganis akan menagih janji begitu cepat.
“Setahuku, Rengganis akan mengambil jiwa sampeyan jika sudah meninggal saja, Cok.” Ki Sukmo merasakan lehernya kering begitu mengucapkan kalimat tersebut.
“Di-dia datang buat nagih, Mo. Aku kudu piye? (Aku harus bagaimana?” keluh Cokro.
Sore bergerak menuju malam. Kedua pria itu masih duduk dengan sikap bingung dan kalut. Tidak memahami cara yang benar untuk menghindari tuntutan iblis tersebut.
Hingga mendekati pukul tujuh, Padmi keluar untuk menawari makan malam, seiring Sayekti datang. Gadis itu khawatir karena ayahnya tidak kembali setelah lewat maghrib.
Belum sempat Ki Sukmo meminta anaknya untuk menunggu, mendadak Cokro mengejang dan memegang dadanya dengan mata melotot.
Angin bertiup kencang dan Padmi berteriak histeris meihat kondisi suaminya yang menggelepar di lantai. Teriakan Padmi membuat Pram dan Trining datang.
“Mas Cokro!” Pram berusaha menyadarkan Cokro yang matanya kini mulai memutih.
Ki Sukmo yang melihat dengan mata batin, menyaksikan bagaimana Rengganis membuat jantung Cokro diremas demikian rupa. Merasa kalut karena nyawa Cokro dalam bahaya, tanpa pikir panjang, Ki Sukmo merapalkan mantra penjebak iblis.
Begitu berhasil memerangkap Rengganis yang lengah meronta dengan murka, Ki Sukmo kini harus memilih wadah untuk mengurung iblis betina itu!
“Masukkan Rengganis ke dalam tubuhku, Pak!” seru Sayekti pada ayahnya.
Ki Sukmo terhenyak. “Tidak! Jangan sembrono, Sayekti!”
Putrinya menatap wajah Ki Sukmo dengan sendu. “Beri Sayekti alasan untuk tetap berguna dan memiliki keinginan untuk tetap hidup, Pak. Dengan melindungi keluarga Amandaru dari Rengganis, mungkin Sayekti akan jauh lebih semangat dengan tujuan baru.”
Barulah Ki Sukmo sadari jika putrinya yang sekian lama murung dan diam, ternyata sangat terpukul dengan putusnya pertunangan.
Gadis itu meraih tangan ayahnya dan memberikan pandangan memohon. “Berikan anakmu ini kesempatan untuk berbuat sesuatu demi mas Genta,” pintanya kembali dengan air mata yang mulai bergulir.
Rengganis mulai memberontak dan Ki Sukmo merasa tidak lama lagi iblis itu akan berhasil membebaskan diri. Kesempatannya menyempit dan pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan Sayekti.
Dengan teriakan keras dan diiringi tangisan penyesalan, Ki Sukmo mengerahkan seluruh tenaganya untuk memerangkap Rengganis ke dalam tubuh Sayekti.
“Arrghh! Maafkan aku, Nak!” raung Ki Sukmo dengan histeris.
Sayekti memejamkan mata, seiring Rengganis yang memekik panik dan merasuk ke dalam tubuh gadis muda tersebut!
Padmi tampak meratap pilu, ketika melihat tubuh Sayekti kelojotan di lantai dengan mata melotot. Sementara Pram dan Trining mematung melihat semua kejadian tidak masuk akal yang ada di hadapan mereka.
Cokro berhenti mengejang, dan mulai membuka mata.
Namun karena tubuh dan organ jantungnya melemah, pria itu mengenggam tangan Padmi kuat-kuat.
“Pa-pastikan Genta menikahi Sayekti, Padmi. Gadis itu tidak la-layak men-menderita ….”
Kini Cokro mengejang dan kemudian terkulai, tidak lagi bernapas.
Begitu tragis perjuangan mereka untuk menyelamatkan Genta.
Ki Sukmo membawa kembali Sayekti pulang, dengan memegang janji Padmi untuk menunggu Genta menunaikan janjinya.
Bukan pertunangan mereka yang mereka beratkan dari semula. Perjanjian dengan Rengganislah yang mengakibatkan orang tua keduanya memutuskan jalan yang salah.
Sayang. Janji tinggallah janji.
Genta menemukan cintanya yang baru yaitu Dayu. Saat membawa pulang calon istrinya untuk pertama kali, Padmi dan Pram bergegas mengunjungi Ki Sukmo untuk meminta maaf.
Tapi semua justru membuat Pram menjadi korban.
Siapakah yang patut dipersalahkan? Kutukan itu masih berlangsung dan korban terus berjatuhan!
Pengorbanan cinta Sayekti adalah hal terhebat dari semua masa lalu itu.