Pusara dengan marmer hitam bertuliskan nama Cokro Amandaru itu dipenuhi tamburan bunga mawar merah serta putih. Buket yang diletakkan di dalam vas juga tampak baru.
Pram mengunjungi makam kakaknya sore itu karena semalam dirinya bermimpi buruk.
Rangkaian doa baru selesai terlantun untuk kakak sulungnya. Pram duduk dengan wajah termenung, sementara benaknya terus memikirkan bagaimana nasib Cokro kini.
Apakah Rengganis berhasil menuai jiwanya?
Apakah itu berarti Cokro menjadi abdi iblis?
‘Mas, tenanglah sampeyan di dunia sana. Semoga dengan doa yang tidak pernah terputus dari kami mampu mengantar sukmamu menuju Yang Maha Kuasa.”
Mata Pram kembali merebak. Di sebelah makam Cokro juga terbaring mendiang dua keponakannya. Binar dan Lunar.
Trining masih khusyuk dalam doa sementara isak tangis mengiringi untaian ayat-ayat suci yang wanita itu dengungkan.
Tidak pernah duka yang mereka rasakan selama bertahun-tahun itu surut. Kepergian Binar dan Lunar terlalu menyakitkan. Ada pada malam-malam tertentu Trining masih terisak sembari memeluk foto kedua gadis yang meninggal pada usia muda tersebut.
Seandainya semua bisa diputar kembali dan Trining tahu sejak awal penyebab penyakit keponakan kembarnya, maka dengan ikhlas dan tulus ia ingin menggantikan posisi tersebut.
Akan lebih baik baginya mati dari pada dua gadis muda yang cantik, pintar dan cerdas dengan masa depan cerah. Trining hampir tidak memiliki keinginan yang terlalu muluk untuk membenahi masa depan. Sejak belia dirinya menjanda, harapan hidup yang tersisa adalah mengabdi untuk Padmi.
Cuaca kini kian mendung dan gelap. Pram melihat jam di pergelangan tangan dan jarumnya mengarah ke angka lima sore.
Dengan isyarat melalui sentuhan lembut di pundak kakaknya, Pram mengajak Trining untuk bergegas. Meski berat, Trining mengangguk dan mengusap wajah dengan kerudung yang mulai terjatuh ke bahunya.
Keduanya meninggalkan areal pemakaman keluarga dan pulang.
Tak jauh dari mereka berdua, berdiri tiga sosok tidak kasat mata, menatap dengan mata hampa.
Cokro, Binar dan Lunar.
**
Totok baru saja kembali dari mengantar pesanan kopi untuk pelanggan mereka. Begitu kembali, Pram meminta padanya untuk besok membongkar gudang.
“Gudang yang mana, Mas?” tanya Totok sedikit gentar.
Pram telah berkali-kali mendengar cerita mengenai lumbung padi mereka yang katanya dihuni oleh iblis yang melukai Trining dan Pardi. Akan tetapi pria itu justru menduga jika ada sosok lain yang bersemayam di dalam sana. Entah apa motivasi makhluk laknat itu, tapi yang pasti menggunakan kesempatan untuk berbuat tidak baik.
“Bukan. Gudang tempat nyimpen barang-barang lama, Tok.”
Wajah Totok terlihat lega dan ia mengangguk. “Besok saya bongkar semua, Mas!” sahut pria itu dengan semangat.
Usai mengucapkan terima kasih, Pram bermaksud untuk memenuhi panggilan Trining untuk makan malam. Baru saja Pram duduk, terdengar pintu pagar depan dibuka dan mobil yang biasa Genta pakai memasuki halaman.
“Kita tunggu Genta, Mbak,” ujar Pram. Trining tersenyum dan mengangguk.
Padmi masih belum kembali hingga seminggu ini. Kakaknya terlihat menghindari suasana yang tidak menyenangkan di rumahnya.
Tanpa berusaha menyalahkan, Pram juga Trining paham akan kelelahan Padmi menghadapi kemelut keluarga Amandaru yang tidak pernah berhenti.
Tidak lama berselang, Genta muncul dengan menenteng tas kerjanya.
Trining mengajak untuk makan malam bersama dan pemuda itu tidak memberikan respon atas ajakan buleknya. Dengan wajah kusam juga sikap gontai, Genta duduk di salah satu kursi.
Pram mengerutkan kening.
“Gen? kamu baik-baik wae, tho? Kok mukamu pucat?” Pamannya terdengar khawatir.
Genta menatap Pram lalu beralih pada Trining.
Sesaat ruang makan itu sunyi. Genta menelan ludah dengan ekspresi gugup bercampur gelisah.
“Memoriku sudah kembali semua.”
Empat kata yang terangkai dalam kalimat barusan, menyebabkan dampak yang luar biasa mencekam pada Pram dan Trining. Buleknya bahkan memekik kecil, walau segera menguasai keadaan dengan menutup mulut buru-buru.
“Me-memori apa, Gen?”
“Jangan menyembunyikan lagi, Paklek. Aku udah tahu semuanya,” balas Genta lirih.
Kini giliran Pram dan Trining yang memucat.
Satu hal yang paling mereka takutkan akhirnya terjadi!
Genta mendapatkan kenangan terhapusnya yang begitu susah payah dihilangkan oleh Ki Sukmo!
“Ba-bagaimana bisa? Si-siapa yang membuka jiwa gelapmu, Gen? Hanya almarhum Ki Sukmo yang bisa!” seru Pram dengan suara tertahan, terdengar kalut.
Selera makan mereka lenyap dalam sekejap!
Kepala Genta menunduk, menatap piring dan sendok yang tersilang rapi di atas piring kosong untuknya.
“Malam kemarin, iblis itu mengembalikan semuanya. Sayekti sudah melarang, tapi kulanggar.”
“Astagfirullah ….” Pram seketika lunglai.
Tidak seharusnya dia membiarkan Genta masuk ke rumah tersebut. Dengan pertimbangan iblis itu mustahil menyakiti Genta, Pram meminta bantuan pada keponakannya.
Sebuah keputusan yang fatal!
“Ta-tapi seharusnya i-itu tidak terjadi,” bantah Pram masih tidak percaya dengan apa yang telah Genta alami.
“Paklek, Ki Sukmo telah tiada. Semua mantra dan perlindungannya akan luntur secara bertahap. Untuk saat ini, aku masih bisa mengendalikan akal sehat dan kewarasanku. Tapi seiring waktu nanti, Rengganis akan berkuasa sepenuhnya dan Sayekti akan hancur.”
“La Illaha Illallah ….” Trining menggigil tanpa mampu bisa menahan ketakutan yang ia rasakan mulai merayap ke dalam sanubarinya.
“Ak-aku akan menghubungi mbah Darmo da-dan kita akan ca-cari solusi berikutnya. Ka-kamu seharusnya ….”
“Paklek! Percuma!” teriak Genta.
Pram yang baru saja bangkit dari kursi, mendadak membeku.
“Satu-satunya yang masih melindungi Rengganis dari terlepas untuk bebas adalah mantra perlindungan Janur, Paklek! Sayekti sendiri juga setengah mati bertahan! Apakah aku harus membiarkan orang lain tersiksa lebih lama lagi?”
“Kita harus gimana, Gen? Lambat laun kamu bakal kembali kayak dulu.” Suara Pram terdengar bergetar.
Ada kilatan kesedihan yang begitu mendalam pada raut wajah Genta saat ini.
“Arum akan menikah dengan paklekmu, Gen. Bulek berharap kondisi menjadi lebih baik dan tidak seperti ini.” Air mata Trining berlinang dengan deras.
“Genta akan pergi dari kehidupan kalian.”
Baik Pram maupun Trining tersentak.
“Maksudmu apa?!” Tidak menerima keputusan keponakannya begitu saja, Pram seperti menyatakan tidak setuju.
“Paklek, Bulek, dengan menjauh dari Dayu, aku menyelamatkan anak kami. Setelah tidak ada kendali lagi, aku harus menjauh juga dari keluarga ini! Hanya cara itu yang bisa menyelamatkan kita semua!”
“Konyol dan omong kosong!” bentak Pram mulai naik pitam. “Kamu akan tetap bersama kami, kita akan lawan Rengganis!”
“Mustahil!” tangkis Genta. “Dua pria hebat telah tumbang! Satu lagi kabur tanpa nyali! Aku telah konsultasi dengan dokter Bram dan dia akan mengatur semuanya untukku! Kehidupan ini akan kutinggalkan, Paklek. Karir, keluarga, istri juga anak! Anggap saja, aku sudah mati!”
Usai meluapkan kalimat yang memberitahu rencana berikutnya, Genta bergegas menuju ke kamar. Trining menangis serta menyusul Genta yang bergegas membereskan baju-bajunya.
“Jangan pergi, Gen. Bulek nggak ikhlas,” ratap Trining.
“Jaga Dayu dan Arum, Bulek. Dua wanita itu yang bakal jadi kunci untuk penerus keluarga Amandaru. Aku nggak butuh apa-apa lagi. Doakan saja Genta.”
Dengan hati hancur, Genta memeluk tubuh wanita yang telah merawat dan mengabdi pada keluarganya selama puluhan tahun tanpa berhenti. “Jaga ibu juga. Pastikan dia sehat dan bahagia. Sampaikan pada ibu, Genta nyuwun pangapurane (Genta meminta ampunannya).”
Trining berteriak histeris saat Genta meninggalkan rumah joglo. Sri mencoba menyabarkan Trining dengan sesegukan. Totok serba salah karena situasi ini di luar kemampuannya.
Genta menoleh sebelum melewati pintu depan, untuk terakhir kali ke arah pamannya.
Pram yang tadinya terduduk dengan wajah membeku dan mulut membisu, kini terlihat mulai terpukul. Bahunya tampak terguncang, menangis tanpa suara.
Langkah kaki Genta kembali mengayun. Kini hatinya jauh labih lega, karena kekhawatiran akan sisi gelap yang setiap malam ia rasakan sejak semua kenangan itu kembali, tidak akan membahayakan siapa pun. Orang-orang yang sangat Genta cintai akan selamat tanpa kehadiran dirinya.
Getir, namun ini yang terbaik.