Dayu menjatuhkan cangkir yang ada di tangan begitu Janur usai memberikan telepon kepadanya. Kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir Genta terdengar menyakitkan hati.
“Aku adalah monster yang sesungguhnya, Yu. Maafkan aku, tidak bisa bersama Alina dan dirimu. Jaga putri kita baik-baik dan sampaikan pada Alina, aku selalu menyayangi meski tidak pernah memiliki kesempatan untuk memeluk dan menciumnya.”
“Gen, kamu bohong … ini semua nggak bener.”
“Kuharap begitu, Yu.” Suara suaminya mulai serak dan sengau. “Aku seperti terbangun dari mimpi panjang yang indah dengan hidup dan bersama kamu selama ini, lalu saat tersadar, harus menghadapi kenyataan begitu buruk.”
“Ja-jangan pergi dan tinggalin kita, Gen. Mungkin kita bisa cari solusi bareng. Maafin aku yang minta kamu menjauh. Aku nggak bener-bener mau melakukan itu!” pekik Dayu masih tidak ingin percaya saat suaminya berpamitan sekarang ini.
“Aku akan menyakiti dan merusak kehidupan kalian! Ini yang terbaik. Yu, aku sangat mencintaimu selalu.”
Klik. Panggilan itu terputus.
Cangkir yang tadinya belum sempat ia letakkan terjatuh ke lantai menjadi berkeping-keping.
Janur yang sudah mendengar dari Trining dan Sri menunduk, sementara air matanya juga berlinang. Siapa yang mengira, jika seluruh petaka bermuara pada seseorang yang selama ini meninggalkan kesan begitu baik bagi semua orang?
Jetro masih belum kembali dari rumah sakit, karena Binari dalam perawatan yang lebih intensif lagi. neneknya baru saja divonis pikun oleh dokter. Kini tambahan lagi suaminya pergi dari hidup mereka, oleh penyebab yang sangat tidak masuk akal bagi Dayu.
Kehancuran hidupnya, mungkin dimulai dari detik sekarang.
**
“Genta menderita bipolar?!” pekik Jetro dengan wajah memucat.
Ayahnya baru saja kembali setelah Made, asisten setia mereka, menggantikan untuk sementara.
“Menurut dokter yang terlibat dalam ritual perjanjian dulu, dokter Bram, secara medis mereka memvonis demikian, Om. Tapi istilah yang lain, kami menyebutnya penguasaan iblis dengan membangkitkan sisi kelam mas Genta. Itu yang menyebabkan semua hal buruk dilakukan dulu.”
Janur membantu Dayu menjelaskan pada ayahnya.
Jetro mengusap wajah dengan mengumamkan asma Allah.
“Aku nggak nyangka sama sekali, Nur. Genta? Kayaknya mustahil sekali …. Dia anak yang sopan, baik dan seorang dokter hebat!”
“Apalagi saya, Om. Nggak terbayang kalo rahasia terbesar yang disembunyikan sama bu Padmi dan bulek Trining adalah orang yang paling tidak mungkin terlibat.”
Dayu masih termenung dengan pandangan mata hampa. Terlihat wajahnya sembab dengan mata merah. Rambutnya yang ia potong sebahu tampak berantakan. Ayahnya menghela napas berat dan memberi isyarat pada Janur untuk meninggalkan mereka.
Janur mengangguk, lalu keluar dari kamar dengan menutup pintu rapat.
“Yu, papa nggak tahu harus ngomong apa. Tapi apa pun bebanmu saat ini, kita tanggung dan hadapi bersama. Nebin mungkin tidak lagi sehat seperti dulu, tapi papa dan Janur ada buat kamu.”
Jetro menyingkirkan rambut yang menghalangi wajar Dayu.
Putri tunggalnya berpaling pada Jetro dan seketika itu juga, tangisnya kembali tercurah. Anak dan bapak saling berpelukan disertai isak tangis.
“Maafkan papa, Yu. Nggak nyangka kalo ini bakal jadi takdir dari rumah tanggamu,” bisik Jetro dengan sesal yang begitu mendalam.
Setelah ia ditinggalkan NI Luh istrinya, Jetro berharap Dayu akan menempuh hidup berumah tangga yang baik juga sempurna. Namun harapan, tinggal harapan.
Anak satu-satunya kini harus membesarkan Alina seorang diri.
**
“Ke-kenapa dia pergi tanpa pamitan?” ucap Padmi, dengan bibir gemetar dan mata merebak.
Pram dan Trining yang duduk di kursi depan tampak menunduk dengan wajah suram.
“Genta, satu-satunya anak yang kumiliki, telah pergi meninggalkan aku. Kenapa ini jadi takdirku?” Duka yang mendalam, menyelimuti raut muka Padmi.
“Setelah suamiku sendiri dengan cerobohnya mengadakan perjanjian dengan iblis, tanpa sepengetahuanku, kedua anakku terenggut menjadi tumbal. Sekarang, jiwa yang mas Cokro berusaha selamatkan, juga pergi dan mustahil kembali lagi. Aku adalah seorang ibu, yang sepertinya tidak memiliki hak untuk bicara dan mempertahankan anak yang kukandung juga kulahirkan dengan darah juga sakit! Meratap pun rasanya sia-sia. Kenapa ini terjadi dalam hidupku?”
Pram mengangkat wajah dan mencoba menyusun kalimat tepat untuk menenangkan hati kakak iparnya.
“Mbak, sabar. Semua akan ada hikmah yang terbaik nanti. Saya hanya bisa bilang sabar,” ucap Pram dengan lembut, meskipun suaranya bergetar dan serak.
Trining tidak mampu mengeluarkan sepatah kata. Batinnya terasa sesak dan akhir dari semua kemelut ini adalah dengan kehilangan Genta.
“Sabar? Belasan tahun aku sudah sabar, Pram. Mulut ini terbungkam dan ndak punya hak buat bersuara! Cukup aku ada di dalam rumah ini. Aku juga akan pergi.”
Ada letup kemarahan yang sepertinya tersimpan selama puluhan tahun, Padmi bangkit dan berdiri dengan hati geram.
“Urus semua harta benda Amandaru, aku ndak akan ikut campur atau menuntut apa pun. Semua yang dimiliki oleh keluarga ini, menjadi hak kalian berdua dan juga anak Dayu, yaitu cucuku Alina!”
“Mbak, jangan pergi,” isak Trining dengan buru-buru mengejar kakak iparnya ke dalam.
“Tri, kamu dan Pram nggak butuh aku lagi. Jaga diri baik-baik!” Padmi melepaskan cengkeraman tangan Trining yang mencekal lengannya.
Isak tangis kembali terdengar dari rumah joglo. Padmi meninggalkan rumah yang telah ia huni selama hampir empat puluh tahun lebih. Dirinya adalah gadis belia yang masih berusia enam belas tahun saat Cokro meminangnya.
Padmi yang memang sering mengunjungi kerabat di desa Bedono, sebetulnya jatuh cinta pertama kali dengan Sukmo. Namun keduanya menyimpan perasaan diam-diam, hingga Cokro meminang pada orang tua Padmi.
Zaman dulu seorang gadis tidak berhak menolak lamaran jika orang tua mereka setuju. Dengan memendam cintanya pada Sukmo, Padmi menikahi Cokro.
Tapi lambat laun seperti Cokro mulai mengetahui akan perasaan Padmi pada sahabatnya. Sukmo sendiri tidak pernah berbuat kurang ajar atau mencoba mengganggu hubungan rumah tangga mereka.
Setelah sekian lama kecewa dan patah hati, Sukmo yang akhirnya memiliki gelar Ki di depan namanya, menyunting Laksmi. Sayang, dia tidak seberuntung Cokro yang mempunyai istri baik dan setia.
Laksmi adalah wanita liar juga suka selingkuh selama Ki Sukmo menuntut ilmu juga bekerja.
Tidak ada lagi yang bisa membuat Padmi bertahan. Kekasih hati yang sesungguhnya telah meninggal. Ki Sukmo mengembuskan napas terakhir tanpa kehadiran dan keberadaan dirinya.
Bahkan berpamitan pun tidak. Bertahun-tahun mengalami siksaan batin yang bertub-tubi, Padmi merasa cukup. Dia tidak lagi menginginkan hidup dan tinggal di desa yang mengingatkan dirinya pada banyak kepahitan.
Kenangan buruk itu akan ia tinggalkan dan kubur-kubur dalam, jika bisa.
Namun langkah pertama yang akan Padmi ambil, adalah pergi.