Mengambil Jalan Penuh Duri

1149 Kata
Dua orang yang berpenampilan rapi itu bertemu di ruang lobi tunggu bandara. Dokter Bram kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Genta dengan sikap tenang. “Kau sudah siap, Gen?” Genta yang memeluk tas selempang terdiam. Matanya menatap lurus ke depan. Benaknya campur aduk memikirkan segala hal. Tidak mudah karena ada dua sisi batin yang kini bergejolak dalam dirinya. Genta baru menyadari jika sisi kelamnya begitu gencar membujuk untuk Genta menyerah pada nasib dan menuntaskan yang telah mereka mulai. Ada gaung suara dalam dirinya yang berbisik dengan suara menyeramkan dan kata-kata mengerikan. “Enam puluh enam, Genta. Kita harus memanen jiwa sebanyak enam puluh enam!” Berkali-kali Genta mencoba mengacuhkan, tapi suara itu seperti tidak pernah lelah berteriak. “Genta?” Bram kembali memanggil namanya. Dengan gugup, pria muda itu menoleh dan mengangguk cepat-cepat. Bram terlihat lega karena sejauh ini pasiennya masih responsif. Sementara wajahnya mengeras dengan duka yang menyelimuti, Genta masih menunjukkan ketabahan. “Saya sedang mencoba untuk tidak kembali, Dok.” Bram menghela napas dan menoleh sekilas lagi untuk memastikan Genta masih terlihat wajar juga baik-baik saja. “Kau sudah meminum obat yang aku berikan?” Genta mengerjapkan mata dan menunduk. “Sudah. Satu-satunya hal yang akan membuat saya tetap waras, bukan?” Kepala Bram mengangguk. “Sejauh ini hanya itu formula yang paling tepat. Dulu kau bahkan tidak pernah kambuh sedikit pun. Ternyata aku tidak cukup siaga. Ada berbagai hal yang bisa memicu itu kembali.” Tidak ada tanggapan untuk sesaat. “Bagaimana dengan kondisi saya nanti, Dok? Apakah pergi menjauh dari tempat saya berasal, bisa mencegah iblis itu untuk tidak merasuki dan menagih jiwa ini?” Bram tampak berpikir. “Ditilik dari sisi psikologis, kamu akan terlepas dari bayangan trauma yang menyebabkan ingatan burukmu kembali. Tempat yang kau tinggalkan adalah sebuah tempat di mana jejak kejahatanmu berada. Tapi, dari sisi mistis, aku bisa bilang dengan menyeberang lautan dia tidak akan sekuat itu untuk bisa menguasaimu, Gen. Kita berdua tahu jika jiwamu sudah terjual dan akan dipanen oleh Rengganis saat mati nanti. Apa yang akan kulakukan sekarang adalah mengusahakan agar kau tetap hidup untuk menunda semua perjanjian terkutuk. Jadi, tetaplah fokus pada semua arahan dan bimbinganku. Kita akan melawan ini bersama, Gen.” Pria muda yang sangat tampan itu mengiyakan dengan gugup. “Jika usaha ini berhasil, maka kita bisa menolong jiwa yang lain, terutama Dayu dan Alina.” Ada percik harapan yang menyala dalam hati Genta, mulai berkedip mencari keyakinan untuk bisa terlepas dari semuanya. Dirinya ingin hidup normal! Bram akan membawa Genta ke Amerika untuk menjalani proses penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, sahabat Bram. Dengan ilmu pengetahuan dan sains, mereka akan berusaha memecahkan rangkaian kutukan yang sepertinya mustahil diterima oleh akal nalar, namun nyata terjadi. Panggilan untuk penumpang segera memasuki pesawat terdengar dan Bram bangkit diikuti Genta. “Berdoalah, Genta. Semoga semua diridhoi oleh Allah Yang Mahatinggi,” ucap Bram pelan. Genta mengaminkan dalam hati dan keduanya melangkah, meninggalkan ruang tunggu dengan ayunan kaki tegap juga hati yang mantap. ** Trining membereskan semua barang-barang yang Padmi minta untuk dikirimkan ke Yogyakarta, rumah keluarga kakak iparnya. Satu persatu ia kemas dan masukkan ke dalam koper besar. Pram tidak lama datang dengan beberapa boks yang berdebu. Diikuti oleh Totok yang membawa dua boks berikutnya. “Cari buku diari dengan sampul warna hitam,” pinta Pram pada Trining. “Bu-buat apa?” tanya kakaknya bingung. “Itu buku diari Genta, Mbak. Kalo ketemu, aku bisa mulai melacak sejauh mana Genta melakukan hal-hal menakutkan di masa lalu. Kedua kakak kita nggak pernah membuka semua ini. Mungkin Genta sudah pergi, tapi arwah-arwah mereka yang menjadi korban Genta, layak dan perlu kembali pada keluarganya!” “Pram, maksudmu kita kembalikan jenazah sama keluarga?” tanya Trining dengan wajah pucat. “Ya,” sahut Pram sembari membongkar satu persatu kardus. “Kamu gila?! Apa yang akan kita sampaikan sama keluarga mereka nanti?! Bahwa Genta, keponakan kita yang bunuh dan minta maaf selama sekian puluh tahun baru punya waktu buat mengembalikan? Begitu?” Ucapan Trining membuat Pram tersentak. “Tinggalkan aku sama Pram, Tok!” pinta Trining dengan tajam. Dengan patuh, Totok pergi. Pram terduduk lemas di lantai. Trining menggelengkan kepala dengan kesal. “Yang sudah terkubur dalam-dalam, biarkan tetap ada di sana, Pram. Dengan mengungkit juga menguak, nggak akan mengubah apa pun! Kalo kamu memang mau memperbaiki keadaan ini, bantu aku merawat Sayekti dan Arum. Kedua manusia itu adalah korban dari keluarga Amandaru. Sudah layak dan sepantasnya kita ada buat mereka! Terutama Sayekti! Dia tidak memiliki siapa pun juga!” “Hutang keluarga ini terlalu banyak, Mbak. Aku nggak mau kita membiarkan hal yang tidak seharusnya terjadi.” “Semua sudah terlambat, Pram! Dengan raibnya Genta, kamu pikir siapa yang akan menanggung semua? Kamu bahkan bisa dituduh menjadi pelakunya! Kamu seharusnya lebih tahu dengan pengalaman sekolah dan pengetahuan!” bantah Trining ketus. Pram mengumpat pelan dan menendang kardus dengan kesal. Alasan itu juga yang sahabatnya utarakan tempo hari. mereka tidak setuju jika Pram mencari korban Genta dan menjadi orang yang bertanggung jawab. Satu-satunya saran Sugeng adalah mendoakan semua arwah tersebut, agar terlepas dari belenggu b***k Rengganis. “Aku sudah bicara dengan Arum. Dia akan datang sore ini dijemput Totok sama Sri. Mengenai Sayekti, aku akan bangun pavilion di belakang untuk tempat dia tinggal sementara dalam perawatan kita. Kamu bisa atur itu, Pram?” Dengan lemah, Pram mengiyakan. “Bagaimana jika Rengganis nyerang kita, Mbak?” Trining kembali melanjutkan kegiatannya untuk memasukkan baju dan barang pribadi Padmi. “Sejauh ini kita bisa menghadapi. Kamu sudah tahu juga cara menangkis Rengganis buat mengukung kamu kayak dulu. Kita harus membuat Sayekti kuat biar bisa melawan, Pram. Gadis itu tahu dan paham ilmu yang ayahnya turunkan pada dia. Tapi aku butuh kamu mendukung semua rencana! Paham?” Adiknya kembali mengangguk. Sepertinya rencana Trining jauh lebih meyakinkan dari pada idenya tadi. Kakaknya sudah selesai dan meminta Pram membantu mengangkat koper ke luar. “Pram?” Untuk terakhir kali sebelum mereka keluar, Trining menyentuh pundak adiknya dengan lembut. “Hanya iman yang bisa nyelametin kita. Satu iman nggak akan kuat, kita butuh bersama buat mengumpulkan kekuatan yang lebih besar. Jadi, jangan pernah diam dan menyimpan rencana konyol lainnya, kita harus diskusi dan saling kasih tahu. Ngerti maksud mbak, kan?” “Nggih, Mbak Tri. Aku terlalu berambisi pengen ini selesai, tanpa mikir akibat dan resiko lainnya.” Trining tersenyum. “Tetap cari buku diari Genta untuk mendoakan arwah-arwah tersebut. Kita tempuh satu demi satu jalan. Semoga bisa nyampe garis finis,” harap Trining. Pram begitu bangga akan pemikiran kakak perempuannya yang hanya lulusan sekolah menengah pertama tersebut. Trining membekali diri dengan pengetahuan dari membaca. Memang sekilas dia terlihat seperti wanita yang mendekati usia setengah baya kuno. Tapi otaknya tidaklah sesederhana yang orang lain pikirkan. Mungkin akan sulit merawat Arum dan Sayekti secara bersamaan, tapi keduanya tidak terlihat gentar. Jalan yang seperti menapak di atas duri, menjadi cobaan yang bisa menebus dosa-dosa di masa lalu keluarga ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN