Mengasuh Wadah Iblis

1477 Kata
Kedatangan Arum di rumah joglo sedikit memberi warna yang beda. Semenjak Dayu, kemudian Genta dan terakhir Padmi pergi, kini hanya Pram dan Trining saja dengan Sri yang menempati rumah tersebut. Totok terkadang izin kembali ke rumahnya seminggu sekali. Hanya Sri yang masih setia dan hampir tidak pernah meninggalkan kedua majikannya untuk pulang. Meski belum bisa memutuskan untuk menikah, Pram menerima saran kakaknya untuk menampung Arum. Pada hari pertama, Asmi segera mendatangi mereka dengan melontarkan makian kasar. Bahkan putrinya sendiri, Arum, menjadi sasaran kemarahan Asmi yang merasa tersinggung oleh tindakan yang Pram lakukan dengan mengambil Arum darinya. Beruntung Trining sudah menempuh jalan yang benar. Sebelum mereka mengambil alih perawatan Arum, Trining terlebih dahulu memberitahu Sulis, sebagai ketua RT, dan juga beberapa pihak penting, yaitu pamong desa, mengenai Arum yang tidak diurus oleh Asmi. Sementara fisiknya yang tidak mampu mengurus diri sendiri, Trining mengajukan diri sebagai orang yang bertanggung jawab atas permintaan Arum. Setelah semua mendapat persetujuan dan pernyataan tertulis dari Arum yang mengatakan keputusan tersebut diambil dengan sadar dan tanpa paksaan, perpindahan itu berlangsung pada hari berikutnya. Menempati kamar yang tadinya ditempati oleh Dayu dan Genta, Arum merasa nyaman dan damai. Tidak ada lagi kekhawatiran karena Trining, Pram dan juga Sri memberikan perhatian yang lebih dari cukup. Sri selalu memastikan Arum makan tepat waktu, sementara Trining membantunya untuk pergi ke toilet serta mandi dan berganti baju. Begitu baik dan tulusnya mereka, Arum terkadang tergugu dalam tangis. Ternyata ada manusia yang masih menyimpan kebaikan tanpa imbalan apa pun. Sore itu, Totok baru selesai membeli bahan-bahan material untuk membangun pavilion di belakang. Pram yang rencananya akan menyediakan tempat untuk Sayekti, meminta Totok menyelesaikan dalam waktu dekat. “Kalo bisa, seminggu sudah jadi, ya, Tok!” seru Pram sambil mengarahkan beberapa pekerja untuk menaruh hasil panen di lumbung. Sampai detik ini, secara perlahan, orang-orang bersedia bekerja kembali pada keluarga Amandaru. Atas permintaan Pram, mereka pun dengan menyanggupi untuk menggarap kebun tersebut. Mungkin kharisma dan kepercayaan masyarakat di sini yang membuat Pram begitu disukai juga mendapat tanggapan yang begitu baik. Trining bangga pada adiknya. Selain itu, kejadian mengerikan di lumbung padi yang menimpa Trining dan Pardi, tidak ada lagi hal yang mengganggu pekerja lainnya. Ada kelegaan tersendiri dalam hati Trining juga Sri. Pardi juga mulai bekerja minggu lalu. Lelaki tersebut tampak bersemangat saat mengetahui Pram kembali aktif di kebun. Betapa banyak hal baik yang Pram tularkan dalam segala hal. Setelah menyerahkan semua urusan pada Trining, Pram pamit untuk mengunjungi Sayekti dan menyampaikan niatnya untuk memindahkan gadis malang tersebut. Ditemani oleh Sulis, Sugeng, Gito, dan Prapto, Pram berangkat ke sana. Jam menunjukkan pukul empat sore. Sinar matahari sudah tidak bisa mengalahkan kabut tebal yang perlahan mulai menyelimuti wilayah desa. Sugeng terlihat komat kamit berdoa sementara meredam tubuh yang gemetar, diikuti Gito dan Prapto. Sulis yang paling berani melangkah dengan ayunan kaki mantap, menyusul Pram. Tidak ada lagi yang kedua pria itu takuti. Keprihatinan terhadap Sayekti jauh lebih besar, mengalahkan rasa ngeri terhadap sosok yang merasuki gadis tersebut. Dengan cekatan, Sulis menyambungkan selang pada keran air di luar. Setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi Sayekti di dalam, Sulis dan ketiga temannya menyiapkan berbagai hal demi persiapan evakuasi. Benar saja, begitu pintu gudang terbuka, bau busuk kotoran manusia bercampur pesing menguar. Gito dan Prapto muntah dengan hebatnya. Untungnya Pram juga Sulis telah menggunakan masker penutup hidung. Situasi yang menjijikkan itu tidak menjadi penghalang. “Ti, ini paklek Pram. Kamu kita bersihkan dulu, nggih?” sapa Pram dengan lembut. Sosok manusia yang tidak lagi menyerupai makhluk hidup tersebut mengangguk dengan wajah haru sekaligus heran. Tubuh Sayekti tinggal tulang berbalut kulit. Gelambir kulit yang terlihat saat Sulis melepas semua baju kumalnya, mengundang tangis para lelaki yang kini sedang mengurus Sayekti. Dalam keadaan tanpa busana, Sayekti dimandikan seadanya. Sulis dan Pram tetap menjaga kehormatan gadis itu, meski rasa malu ditepiskan jauh-jauh. Mentalnya terpukul dan Sayekti tampak linglung. Rambutnya yang panjang, tampak kusut seperti gumpalan sarang burung. Campuran kotoran yang telah mengering pada beberapa helai rambut, membuat Sugeng memutuskan untuk memangkas habis rambut Sayekti. “Biar tumbuh rambut yang lebih bagus, ya, Nduk?” tanya Sugeng dengan hati-hati, sembari menguasai diri untuk tidak menumpahkan air mata. Anggukan kepala yang disertai kebingungan kian menambah rasa iba dalam diri Pram. Seharusnya mereka melakukan itu sejak dulu! Selama hampir sepuluh bulan Sayekti terpasung dan tidak ada yang memperhatikan lagi semenjak Ki Sukmo meninggal dunia. Usia Sayekti mungkin akan seumur anaknya, jika dirinya sudah menikah. Perbedaan umur putri sulung Gito dengan Sayekti hanya lebih muda tiga tahun. Mereka memperlakukan Sayekti seperti bocah yang tidak mengenal dosa. Dengan telaten, Sulis mengarahkan untuk Sayekti menggosok gigi. Dalam waktu satu jam, penampilan Sayekti tampak bersih dan jauh lebih baik. Pram menuntun dengan sabar, ketika Sayekti melangkah tertatih keluar dari gudang tempatnya dikurung selama ini. Pria itu mengajak Sayekti duduk di teras, menikmati matahari sore yang masih tampak terang. Mata cekung gadis itu menyipir, menghindari sinar yang membuatnya silau. “Ti, paklek mau ajak kamu tinggal di rumah joglo, mau?” tanya Pram dengan halus dan penuh kebapakan. “Ru-rumah joglo?” tanya Sayekti mencoba mengulang pertanyaan yang seperti mustahil baginya saat ini. “Ya. Bapak ‘kan udah nggak ada. Siapa yang mau rawat Sayekti kalo tinggal di sini? Ada bulek Trining, mbak Sri juga paklek-paklek yang sekarang mandiin kamu. Piye? Purun tho (Mau ‘kan)?” “Kalian pada nggak takut?” sahut Sayekti lirih dan hampir tidak terdengar. Pram dan semua orang yang hadir menggelengkan kepala. “Kenapa kita harus takut? Kalo Rengganis mulai berulah, kita hadapi bersama, tho?” timpal Sulis. Perlahan, Sayekti mengunyah biskuit yang mereka bawakan untuknya. “Dia nggak bisa keluar. Nggak ada tumbal. Rengganis lemah,” ucap Sayekti kali ini mulai jelas. Pram menelan ludah agak lega. Dugaannya benar. Sejak Rengganis gagal membunuh penari yang diculik, iblis itu mulai kehilangan kekuatannya. Gito mengulurkan sekotak s**u padanya dan dengan rakus, Sayekti menghabiskan. Sesaat kemudian, gadis itu memejamkan mata, sementara menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Napasnya terengah. Bahkan untuk makan saja, Sayekti kelelahan. “Sayekti, kita jaga kamu sampai kamu pulih kembali. Kita nggak berniat buruk. Hanya pengen meringankan beban kamu.” “Aku nggak mau merepotkan.” Sayekti menatap ke arah satu persatu dengan mata sayu. “Ti, ini bukan penawaran lagi. Paklek nggak akan terima penolakan kamu. Kamu harus mau,” tegas Pram tetap dengan nada lembut. Sayekti menggigit bibir, sementara matanya mulai berkaca-kaca. Air mengambang di ujung pelupuk dan siap terjatuh. “Kenapa kalian masih mau mengasuk wadah iblis sepertiku?” tanya Sayekti dengan tangan gemetar. “Aku sudah mati di saat mas Genta ingkar. Aku sudah menjadi almarhumah pada detik ayahku mati. Aku bukan siapa-siapa lagi. Harapan semua punah,” isak Sayekti dengan bahu terguncang. Mendadak dari jauh terdengar bunyi langkah kaki. Semua menoleh dan Janur datang dengan senyum getir, menghampiri mereka. Pram memang mengundang Janur untuk membantu proses evakuasi. Kedatangannya mungkin sedikit lewat waktu yang semestinya karena semua sudah selesai, namun untuk Sayekti, Janur tidak terlambat sedikit pun. “Aku dengar semuanya,” ucap Janur berbicara pelan, hampir seperti bisikan tapi terdengar oleh semua. Tenaga dalam Janur sepertinya meningkat. Setelah menyapa dengan anggukan kepala sopan pada para pria gagah, yang begitu besar hati juga sukarela menyumbangkan tenaga hari ini, Janur berjongkok tepat di hadapan Sayekti yang menatapnya dengan mata berbinar. “Wadah iblis itu adalah sahabatku. Aku menagih janjimu dulu. Kayaknya ini adalah kesempatan kedua buat kita, Ti,” lanjut Janur kali ini dengan senyum. “Kesempatan kedua,” desis Sayekti dengan suara serak. “Kamu dan aku punya nasib yang serupa. Perjuangan untuk bangkit dan lepas dari kesialan ini jadi pergelutan dalam hidup kita nanti. Tapi kamu nggak bakal sendirian. Aku ada dan mereka akan bantu. Mau?” Sayekti tergugu dan mengangguk. Janur memeluk Sayekti dengan erat. Dua gadis yang kemudian menjadi sahabat, adalah hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tapi peristiwa sore ini benar-benar menguras haru juga air mata. Dengan tambahan kehadiran Janur, pemindahan Sayekti dilakukan malam itu juga. Dengan menempati ruang tengah, Janur mendampingi sahabat barunya hingga pavilion di belakang jadi. Totok terlihat bersemangat begitu melihat Sayekti muncul di pintu rumah joglo dengan dituntun Janur dan Pram. Arum serta Trining menyambut mereka dengan sumringah. Malam itu mereka bersantap dan bercanda gurau seakan satu beban berat telah terangkat. Sri tidak henti-hentinya menawarkan berbagai hal pada Sayekti, hingga gadis itu tidak mampu mengunyah lagi. Diam-diam, Arum mendekat dengan kursi roda ke arah Janur. “Di tempat inilah, manusia kembali mendapatkan martabat dan harga dirinya sebagai manusia.” Arum setengah bergumam dengan mata merebak. Janur yang duduk di bawah pohon kelengkeng di halaman rumah joglo tersenyum pahit. “Tempat yang mereka katakan terkutuk, justru menjadi tempat yang paling manusiawi,” balas Janur dengan tepukan hangat di pundak Arum. Keduanya menikmati denting gitar Sugeng dan Prapto yang mengalun dengan merdu. Pesta perayaan kecil itu memang dihadiri tidak banyak orang, tapi kehangatan dan jalinan kekeluargaan yang mereka rasakan sudah lebih dari cukup untuk bekal persahabatan di kemudian hari!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN