Bangunan pavilion untuk Sayekti akhirnya jadi.
Totok dengan bangga mengatakan pada Sayekti bahwa dia yang membangun dengan bekal yang Gito ajarkan pada pemuda itu.
Berkali-kali Sayekti mengucapkan terima kasih pada mereka semua. Tempat yang akan ia tempati sangat layak dan nyaman.
Pram meminta Totok membangun teralis besi pada jendela dan pintu. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan Sayekti akan kabur pada waktu ‘kumat’.
“Kamu nggak perlu khawatir atau takut lagi. Seharusnya semua yang Totok bangun dengan keamanan yang cukup, bisa nahan kamu untuk tetap di dalam sini.” Pram meyakinkan Sayekti untuk melenyapkan kekhawatirannya.
Kesehatan gadis itu pulih secara bertahap. Sayekti menolak untuk menggunakan kursi roda. Meski kadang langkahnya terhuyung dan limbung, ia tetap berusaha menyeimbangkan tubuh dengan sebaiknya.
Pram sangat kagum akan keinginan keras Sayekti saat ini. Janur yang berjanji akan tinggal selama beberapa waktu juga mendapat dukungan dari Dayu. Walau Jetro bertentangan dengan ide serta kesepakatan mereka.
Namun alasan Dayu yang mengatakan bahwa kengerian yang mereka hadapi dulu karena tidak mengenal sosok Sayekti sesungguhnya.
Melawan monster yang menghuni tubuh Sayekti bukan tanggung jawab gadis itu saja. Dayu ingin terlibat, meski saat ini hal yang bisa ia lakukan adalah memberikan bantuan moral dan doa.
‘Seharusnya Genta bertanggung jawab atas semua ini,’ batin Dayu dengan pilu.
Rengganis tidak akan bisa meninggalkan tubuh Sayekti karena mendiang Ki Sukmo telah memerangkap iblis itu dalam badan putrinya sendiri.
Sebuah pengorbanan yang cukup gila dan mustahil ada yang melakukan lagi pada era ini.
Nebin mulai membaik secara fisik, namun kepikunannya tidak bisa dimundurkan.
Jetro mengalami kesulitan berulang kali ketika ibunya memaksa untuk menyetir sendirian di usianya yang sudah mencapai delapan puluh tahun lebih.
Dayu menyabarkan ayahnya dan berusaha memberi pengertian Binari dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Kehidupan bergulir dengan berjuang melawan satu persatu kendala yang dihadapi. Tidak ada satu pun yang terlihat letih atau kehilangan semangat.
Dayu dengan kehidupan sebagai orang tua tunggal dan perawat bagi neneknya.
Janur yang mengerahkan segala kemampuan untuk mengajari Sayekti mengontrol iblis yang merasuki dirinya.
Sementara Sayekti sendiri mulai melihat titik sinar yang menmperlihatkan masa depan lebih baik.
“Seharusnya kamu yang lebih tahu kapan Rengganis mulai berusaha menguasaimu, Ti!” seru Janur dalam posisi duduk bersila menghadap Sayekti yang terkapar dengan keringat dingin.
“Panas, Nur …. Panas banget,” rintih Sayekti sembari memandang Janur dengan wajah pucat dan bibir membiru.
Dalam keadaan kepanasan, suhu tubuh Sayekti justru sangat dingin sekali.
“Dia sedang mempermainkan pikiran dan mengontrol tubuh kamu! Inget doa yang aku ajarkan?”
Sayekti terengah dan mengangguk susah payah. Mulutnya mulai mengumamkan untaian doa dan Janur mengalirkan tenaga dalam sebagai penguat.
Pram melihat dari pintu masuk dengan hati miris.
Ini adalah salah satu siksaan yan Sayekti selama ini. Berusaha meredam dengan resiko rasa sakit yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun juga.
Selama hidup, Sayekti mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan. Ini sangat tidak adil untuk dirinya. Demi seseorang yang sangat ia cintai, Sayekti sanggup menempuh jalan hidup seperti di neraka.
Tidak lama, Trining datang untuk memastikan semua baik-baik saja. Namun begitu melihat Sayekti yang sedang merintih kesakitan, wanita itu memilih pergi dengan mata memerah.
Hatinya seperti disayat, begitu sakit.
Begitu banyak perempuan yang mengalami perlakuan buruk karena kemelut ini.
Karena terburu-buru ingin menjauh, Trining hampir menabrak Arum yanb ternyata di depan pintu dapur. Calon adik iparnya sedang tersedu.
“Rum, kamu kenapa?” Trining bersimpuh dan menatap Arum yang tertunduk dengan mata basah.
“Nggak kuat denger siksaan yang Sayekti alami, Mbak,” sahut Arum dengan gemetar. “Aku bahkan jauh lebih beruntung dibandingkan dia. Hanya cacat tubuh yang nggak harus aku derita kalo mau lihat sisi positifnya. Aku malu, masih terus mengeluh sama Allah.”
Trining terenyuh dan mengusap wajah Arum dengan tangannya.
“Mengeluh buat ngeluarin unek-unek ya paling enak sama Gusti Allah. Nggak apa-apa. Kita di sini beruntung. Jadi saksi untuk Sayekti, yang malah bikin kita bersyukur. Iya, tho?”
Arum mengangguk dengan sesegukan.
Sri yang sempat bingung karena Arum mendadak menangis, segera mengambilkan gelas minum.
“Makasih, Mbak Sri,” ucap Arum dengan hati semakin bahagia atas perhatian yang mereka berikan padanya.
“Aku juga nggak tega, Rum. Makane aku kabur wae,” timpal Trining dengan helaan napas berat.
Sri mengajak kedua orang tersebut untuk duduk di amben bambu. Dari situ, ketiganya bisa melihat kamar Sayekti dengan jelas.
Arum menatap ke arah pavilion dengan mata kembali penuh oleh air. Erangan Sayekti jelas terdengar dari tempatnya saat ini.
“Hanya kebesaran Allah saja yang bisa bantu Sayekti bertahan hingga saat ini,” gumam Sri dengan wajah suram.
Trining menghela napas dan berharap hari ini bisa berhasil seperti hari-hari yang telah lalu. Baru genap sebulan Sayekti bersama mereka.
Ada rasa sesal bercampur lega karena Sayekti bersama dengan mereka. Sesal itu muncul karena tidak dari dulu mengambil keputusan mengambil Sayekti lebih awal.
Kembali Trining meremas ujung kebayanya lebih kuat lagi. Sayekti melolong dengan raungan yang mengerikan, sebagai pertanda bahwa ia berhasil mengakhiri semua serangan Rengganis.
Tanpa disadari olah siapa pun, pintu lumbung padi bergerak dengan perlahan, terbuka lalu menutup berulang kali. Sosok hitam berkelebat, seakan sedang mondar-mondir gelisah.
Jarak dari dapur dan paviliun Sayekti memang tidak terlalu jauh, namun karena terhalang pohon rambutan yang cukup besar, tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Udara bertiup dan tiga wanita yang duduk di amben bambu belakang dapur merasa kedinginan. Waktu baru menunjukkan pukul empat sore, akan tetapi kabut mulai turun.
Sosok hitam yang terlihat di dalam gudang menggeram dan menutup pintu dengan keras, seolah-olah sedang menghindar dari sesuatu!
Trining sempat menoleh dengan kening berkerut.
“Kamu udah kunci pintu gudang, tho, Sri?” tanya Trining. Selama Pram kembali, tidak ada aktivitas terror apa pun yang terjadi dari lumbung tersebut.
“Sampun. Itu tertutup rapat!” sahut Sri akhirnya mengintip dengan mencondongkan tubuh ke samping.
“Ya, udah. Nggak apa-apa. Mungkin karena angin jadi pintunya gerak-gerak,” balas Trining tanpa curiga.
“Besok minta Totok ganti. Siapa tahu papan sama engselnya udah lapuk,” imbuh Trining berpesan pada Sri.
“Nggih, Bu.”
Ketiganya kemudian melihat Janur dan Pram keluar dari pavilion. Trining tidak sabar ingin mendengar kemajuan hari ini.
Janur memberitahu jika Sayekti sedang tertidur karena kelelahan. Berita baiknya adalah Sayekti tidak butuh waktu lama untuk membuat Rengganis kembali tenang.
“Pelan-pelan, nanti dia terbiasa,” pungkas Janur yang terlihat lelah dan penat.
“Kamu mandi dulu, Nur. Biar bulek buatkan teh hangat,” ujar Trining.
Dengan senyum Janur mengiyakan. Mereka bergegas menuju ke depan. Totok kali ini berjaga di depan pavilion. Secangkir kopi dan camilan dari Sri membuat pemuda itu menikmati jatah jaga dengan riang.
Meski kepalanya terus menerus ingin menoleh ke arah lumbung padi, hingga maghrib berlalu, Totok tidak menyadari akan makhluk tidak kasat mata yang begitu menyimpan dendam kesumat pada keluarga Amandaru!