Anggar meletakkan keranjang penuh dengan panenan kopi ketika Pram dengan tergesa meninggalkan kebun tersebut. Trining menatap dirinya dari jauh dan memberi isyarat untuk turut pulang. Sembari mengayuh sepeda, pikiran Anggar dipenuhi dengan spekulasi buruk. Begitu sampai di rumah dengan peluh bercucuran, Trining dan Pram yang naik sepeda motor lebih dulu tiba dan duduk di teras dengan wajah tegang. “Nggar, mertuanya Genta meninggal.” Ucapan Pram membuat Anggar terhenyak. “Kalian bilang Genta menghilang. Mertua yang mana ini?” Trining menelan ludah dan mereka memang belum mengatakan jika Genta telah menikah sebelumnya. Pram menjelaskan dengan hati-hati dan Anggar menyandarkan punggung dengan reaksi kesal. “Dan kalian ngumpetin ini dari aku? Emangnya kalian nggak anggap aku bagian dari

