Entah Janur sudah kembali atau belum, Dayu akhirnya dibangunkan oleh Genta karena tertidur di sofa. Dengan lembut, pria itu menepuk lengan istrinya.
“Yu, aku harus ke rumah sakit. Ada pasien kritis mendadak,” ucap Genta dengan raut khawatir.
Dayu tergagap dan bangun dengan susah payah. Perutnya yang mulai membesar sangat merepotkan untuk bergerak seperti biasa. Genta membantu untuk Dayu duduk tegak.
“I-iya, Mas. Jangan nyetir sendirian. Biar Totok temani, ya?” timpal istrinya mulai mengumpulkan kesadarannya.
“Nggak usah. Aku bisa sendiri kok,” tukas Genta buru-buru. “Lagian baru jam satu, belum terlalu malam banget dan aku masih segar karena habis minum kopi,” dalih Genta tidak ingin merepotkan.
Dayu mengangguk serta merapikan rambutnya. Setelah mengiringi Genta yang pergi mendadak, Dayu meminta Totok untuk memeriksa seluruh rumah dan memastikan semua gerbang dikunci. Pria itu mengiyakan dan segera berkeliling rumah. Dayu masuk serta mematikan televisi. Rasa kantuk mulai hilang karena sempat kaget dibangunkan. Tapi mengingat sudah malam dan kini menjelang dini hari, Dayu memilih masuk kamar untuk mencoba tidur kembali.
Terdengar Totok berjalan mondar mandir di luar. Dayu lebih merasa aman dan tidak terganggu. Tangannya memutar kenop radio dan menyalakan lagu-lagu kenangan pengantar tidur.
***
Sayekti, dalam keadaan terpasung meringis dengan ekspresi mengerikan. Ki Sukmo masih bergeming dalam semedinya dan tidak goyah sedikit pun. Jarak mereka hanya sekitar lima meter, tapi Sayekti tidak mampu menyentuhnya. Seperti ada selubung yang melindungi pria tersebut.
Desis seperti ular terlontar dari mulut Sayekti. Lidah terkadang menjulur keluar dan tampak mengerikan. Makin lama, lidah itu makin panjang dan bercabang. Mata Sayekti yang bulat dan jernih, kini berubah menjadi hitam pekat yang meliputi semua bola matanya.
Gadis itu berjongkok dengan posisi siap menerkam. Pasung yang berupa rantai masih belum ia putuskan. Karena sesungguhnya, itu bukan rantai biasa. Ki Sukmo dengan dibantu Darmo telah memberikan mantra belenggu untuk menahan Sayekti dari terbebas.
Setiap geraman dan desisan Sayekti yang sesekali meraung, membuat Ki Sukmo melemah. Mereka berdua sedang mengadu kesaktian. Tubuh pria tua yang memang secara fisik sudah terkuras untuk mengurus Sayekti selama berbulan-bulan, kini makin merapuh.
Tubuhnya mulai limbung dan goyah. Tampak tangannya gemetar bibirnya menggigil tidak menentu. Suhu ruangan mendadak turun secara drastis dan makin terasa dingin menggigit.
Ki Sukmo meningkatkan tenaga dalamnya lebih tinggi. Sekuatnya ia menahan desakan dari Sayekti yang mencoba membobol selubung pelindungnya. Sayekti terkekeh dengan lengkingan suara mengejek.
“Kowe mesti kalah, Sukmo! Aku nuntut getihmu! (Kamu pasti kalah, Sukmo! Aku menuntut darahmu!)” pekik perempuan itu dengan tawa yang membahana. Ki Sukmo tidak membalas, ia tetap konsentrasi pada meditasinya.
“Sayekti dudu anakmu. Bocah iki hasil wedokanmu nglonte! Mesakno kowe, Sukmo! Kapusan lan sengsoro! (Sayekti bukan anakmu. Anak ini hasil dari perempuanmu yang melacurkan diri! Kasihan kamu, Sukmo! Dibohongi dan menderita!)” ejek iblis betina tersebut makin melemahkan mental lawannya.
Terbayang saat ia memergoki Laksmi, istrinya, sedang bergumul di ranjang dengan pria lain. Ki Sukmo hanya menahan emosi dan kemudian memutuskan pergi begitu saja waktu itu. Ia tidak pernah meminta Laksmi untuk meninggalkan rumah tersebut.
Hanya ketika akhirnya perempuan itu memilih kabur darinya, Laksmi meninggalkan surat yang mengatakan bahwa Sayekti mungkin bukan anaknya.
Kilasan masa lalu yang menyakitkan memenuhi benak Ki Sukmo tanpa bisa ia cegah. Kini dengan mudahnya, Sayekti yang sedang dalam cenkeraman iblis, mengembuskan intimidasi mental yang lebih s***s.
Termasuk melontarkan perselingkuhan Laksmi dengan detail. Ki Sukmo makin tersiksa. Dalam usia senjanya, ia mengharapkan kehidupan tenang dan dekat dengan Sang Pencipta. Bukan seperti sekarang ini!
Hidup di masa tua dalam cekaman aib yang memalukan dan harus menyaksikan anak yang ia besarkan menjadi monster pembunuh. Apakah ia gagal sebagai lelaki dan orang tua?
“Pateni aku (Bunuh aku) …,” rintih Ki Sukmo kini mulai pasrah.
Semua intimidasi iblis betina tersebut berhasil membuatnya terpuruk. Begitu mudahnya menyakiti manusia sakti hanya dengan menyentuh bagian terlemahnya, yaitu hati. Sayekti terbahak dan merasa menang.
“Mati kui kepenak, Sukmo! Kowe kudu ngerasake siksoku! (Mati itu terlalu enak, Sukmo! Kamu harus merasakan siksaan dariku!)” sergah Sayekti.
Tanpa berdaya lagi, Ki Sukmo lunglai dan pasrah saat tangan Sayekti membuat gerakan memutar dan dari jauh. Tubuh pria tua itu terbanting dengan hebatnya berulang kali.
Ki Sukmo telah berhasil Sayekti taklukkan, kini ia akan membalas semua niat yang tertunda!
***
Suara itu berderak pelan dari bawah tempat tidurnya. Awalnya, Dayu menganggap dipan tempat tidurnya yang sudah begitu lama hingga berbunyi. Namun ketika ia menajamkan pendengarannya, itu mirip dengan bunyi cakaran di kayu.
Dayu mengecilkan suara radio dan kembali mendengarkan dengan seksama. Karena khawatir akan adanya tikus, wanita itu beringsut turun dan mengambil senter di meja rias untuk memeriksa kolong tempat tidur.
Dengan susah payah karena perutnya yang mulai agak membuncit, Dayu mengarahkan senter ke bawah.
Tidak ada apa pun di sana.
Mulutnya mendecakkan kesal karena anggapannya tikus itu telah kabur. Dayu akhirnya memilih untuk tidak mengindahkan gangguan cakaran di bawah ranjangnya.
Tangannya kembali membesarkan volume radio dan mendengarkan lagu-lagu lama yang membuatnya terkenang masa dulu waktu remaja.
Ketika hampir terlelap, suara cakaran tersebut makin terdengar mengganggu dan keras. Tiba-tiba suara radio menjadi gemeresak dan sinyalnya timbul tenggelam. Dayu membuka kembali matanya dan menepuk radio tua beberapa kali serta membetulkan antena.
Tetap saja sinyalnya kadang melemah kemudian menguat. Dayu mengerutkan kening heran. Lagu itu juga menjadi sangat aneh dan berganti-ganti dengan cepat. Pembaringannya mulai bergoyang perlahan, Dayu menjadi pucat.
‘Apakah terjadi gempa?’ pikirnya panik.
Goncangan itu semakin kuat dan kini mulai terasa mengoncang tubuhnya. Ia mencengkeram sprei kuat-kuat. Dayu melihat lemari dan kaca riasnya tidak bergerak sama sekali.
‘A-apa yang terjadi?” pikirnya gugup.
“Totok! Bulek! Janur!” teriaknya panik.
Teriakannya sangat keras namun seiring itu, lampu kamarnya mati dan seperti terlempar ke atas berkali-kali, tubuh perempuan yang sedang mengandung tersebut terhempas. Dayu bagaikan bermain trampolin di atas kasur, dan itu sangat menyakitkan. Wanita itu menjerit sekuatnya sambil memegang perut kuat-kuat.
“Janur, toloong!!” pekiknya hingga suaranya serak.
Seseorang mencoba mendobrak kamarnya dari luar, padahal ia tidak mengingat telah mengunci pintunya.
Entah bagaimana serangan itu terjadi, tapi ia memekik kesakitan saat sesuatu mencakar dan mengores perutnya dengan benda yang sangat tajam dan melukai perutnya. Darah mengucur dan meleleh membasahi tempat tidur dan dasternya koyak oleh cakaran tersebut.
“Sakiiit!! Aduuh … tolong!!” ratap Dayu putus asa. Akhirnya, pintu terbuka dan Janur serta Totok segera mencari Dayu dalam kegelapan.
“Sakit, Nur!” tangis Dayu dengan pilu. Janur menggumamkan ayat-ayam suci Al’Quran sementara Totok keluar serta meraba untuk mencari senter. Setelah ketemu, ia kembali dan menyorot ke arah Dayu dan Janur.
“Astafirullah!” seru Totok ketika melihat sosok hitam sedang menggantung di sudut kamar dengan seringai bengis!
Janur melontarkan doa pengusir setan dan Totok menimpali dengan ayat-ayat yang sama. Sosok astral itu melengking disertai tawa mengerikan kemudian lenyap dari pandangan.
Padmi dan Trining muncul kemudian dan menangis histeris begitu melihat kondisi Dayu yang terluka parah. Sayatan dan goresan yang cukup dalam tampak di sekujur tubuhnya. Totok dengan susah payah memapah tubuh Dayu dibantu Janur untuk segera dibawa ke rumah sakit. Teror kebangkitan Sayekti telah dimulai lebih gencar dan s***s!