Dalam Cengkeraman

1343 Kata
Trining baru selesai menghitung jumlah kotak untuk syukuran kandungan Dayu. Genta terlihat bangga dan bahagia. Sementara menunggu undangan kendurian datang, ia mengobrol dengan Drajat dan teman masa kecilnya. Dayu mengintip dari dalam dan tersenyum. “Kamu istirahat yang banyak. Tadi siang kan sudah rujakan dan rame-rame,” nasehat Padmi lembut. “Iya, Bu. Sebentar lagi,” jawab Dayu. Janur membawakan jus untuk Dayu dan mempersilahkan duduk di ruang tengah. Tanpa membantah lagi, ia mengikuti Janur. “Saya habis ini pamit keluar sebentar ya, Mbak. Dokter Arum dan Paklek Sigit kok kayaknya butuh saya,” ujar Janur dengan wajah khawatir. “Apakah ini mengenai Sayekti?” tanya Dayu pelan. “Ya. Mungkin Ki Sukmo mencapai titik terlemahnya,” balas Janur makin cemas. Semenjak kepulangannya, Dayu begitu sering bertukar pikiran dengan Janur dan keduanya bekerja sama untuk menguak semua ini diam-diam. “Kamu hati-hati ya, Nur?” “Ya, Mbak. Saya akan sangat berhati-hati.” Dayu melepas Janur dengan berat hati. *** Jam bergerak ke angka sebelas malam. Genta masih mengobrol di teras dengan teman dan para tetangga. Dayu masih belum tidur karena menunggu kepulangan Janur. Sri dan Trining masih menonton televisi dan baru saja selesai membereskan kerepotan kendurian tadi. Dayu tampak gelisah dan sesekali menoleh ke arah belakang dan memasang kuping baik-baik. Tidak ada motor masuk halaman. “Mbak Dayu, kok belum tidur?” tanya Sri yang beberapa kali menguap. Dayu menggelengkan kepala. Trining sudah bangkit duluan dan menengok ke kamar Pram. “Bulek tidur duluan, ya?” pamit Trining. Keduanya mengiyakan. “Saya pamit tidur dulu, nggih?” tanya Sri. “Sudah sana, Mbak. Kamu pasti capek,” balas Dayu cepat-cepat. Sri segera melenggang dan menuju kamarnya di belakang. Dayu tetap terjaga dan menikmati sajian televisi dengan tenang. *** Janur berjalan dan mengendap-endap mendekati rumah yang tampak sepi. Dengan sikap waspada, ia mengetuk pintu. “Ya, sebentar!” Terdengar suara Arum dari dalam. Janur terlihat lega dan tidak lama pintu terkuak. “Alhamdullilah kamu cepet nyampe, Nur!” seru Arum gembira. Ia menarik tangan gadis itu dengan cepat supaya masuk ke dalam. “Janur, duduk dulu,” sambut Sigit. Janur menurut dan duduk bersama mereka. “Kamu sudah mengerti yang kami maksud dalam surat tadi, bukan?” tanya Sigit. Janur mengangguk. “Bagaimana menurut kamu?” tanya Arum tidak sabar segera menyerobot pembicaraan kakaknya. “Jangan bertindak apa pun. Saya sendiri jika melihat si biang onar yang terkesan bodoh dan tidak mengerti, sebenarnya jengkel. Tapi, pesan mbah Guru pada saya untuk bersabar menunggu waktu yang tepat,” jawab Janur tampak tenang dan berwibawa. Sungguh berbeda sekali saat ia berada di rumah joglo. “Kenapa harus menunggu lagi? Sayekti masih bisa meluncurkan serangan dan tetap menjalankan kutukannya! Terakhir kali, kami mengunjungi Ki Sukmo, Sayekti sudah dikuasai sepenuhnya oleh iblis yang bersengkokol dengannya dan si bodoh itu!” sergah Sigit dengan geram. Janur memejamkan mata sejenak. “Tahukah kalian? Jika si bodoh itu kita jebak dan akhirnya mengungkap sifat aslinya, akan jauh lebih mencekam dan mengerikan daripada Sayekti?!” sahut Janur kini mulai membuka semuanya. Baik Arum maupun Arum terhenyak. “Penjahat sebenarnya saat ini sedang dalam kondisi tertidur dan tidak sadar. Iblis dalam dirinya belum bangkit. Tapi jika kalian mencoba mengusik, tidak akan ada jalan keluar lagi!” tegas Janur dengan tajam. “Ap-apakah itu juga diketahui oleh keluarga Amandaru?” tanya Arum terbata-bata. Janur mengiyakan dengan kerjapan mata. “Tidak semuanya, sepertinya hanya bu Padmi dan bulek Trining saja.” “Pantas, bulek Trining menentangku dengan keras,” gumam Arum kemudian. “Saya hanya meminta, tahan diri dan simpan ini rapat-rapat. Tidak ada yang bisa menundukkan mereka, bahkan mbah Darmo sendiri sekarang harus berkeliling pulau Jawa untuk mencari cara dan bantuan. Menemukan titik terlemah dan menundukkan iblis adalah mungkin dan bisa. Tapi menahan untuk jiwa itu juga tidak menjadi korban serta mengakhiri semua kutukan, itu yang paling sulit saat ini.” Tutur kata Janur sangat bijak dan jelas. “Bukankah jika setan j*****m itu kalah, berarti semuanya musnah?” tanya Sigit. “Tidak, Paklek. Jika si pengutuk mati dan kita belum menemukan titik terlemah, maka kutukan akan menurun dan terus menjadi warisan keluarga,” sanggah Janur sendu. “Gusti Allah …,” desis Arum dengan mimik ngeri ia menutup wajahnya dengan kalut. ‘Apa yang akan terjadi pada mas Pram nanti?’ jeritnya. “Saya pamit dulu. Jangan berbuat hal konyol untuk saat ini. Itu saja,” pamit Janur dan bangkit berdiri. Sigit dan Arum melepas Janur dan keduanya saling termangu. “Sulit dipercayai ini terjadi pada jaman semodern ini. Mas, ini sudah tahun 1997! Masak kita terus menjadi kolot dan kuno? Masak tidak ada solusi yang masuk akal? Apa kita harus menunggu mbah Darmo yang tidak jelas itu?” tanya Arum kini mulai tidak yakin. Sebagai psikiater, Arum lebih mengutamakan cara berpikir yang masuk logika. “Jangan sembrono, Rum! Ini desa, bukan kota!” tukas Sigit dengan wajah kesal. Arum beringsut menjauh dan duduk di ujung amben dengan wajah memberengut. Solusi dan pencerahan dari yang ia harapkan, tidak ada sedikit pun hasil. Matanya mulai merebak. “Mas Sigit berjanji akan membantuku menyembuhkan mas Pram! Tapi apa yang terjadi sekarang? Kita malah terjebak dengan permainan mereka!” isak Arum. Sigit menoleh ke arah adiknya yang berbeda sepuluh tahun darinya itu. Dia kehilangan kata-kata. Arum telah menjalin kasih dengan Pram secara diam-diam selama lima tahun. Hanya mendiang Cokro saja yang mengetahui. Setelah mendapat restu dari kakak lelakinya, Pram berniat akan menikahi Arum. Sayang sekali, Cokro keburu meninggal karena serangan jantung malam itu. Pram kembali bungkam dan menunda semua rencana keduanya. Arum sangat kecewa, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Dalam gejolak hati yang lara, Arum mencoba meredam dalam-dalam semua ambisi dan keinginannya untuk melihat kekasihnya pulih dari cengkeraman kelam saat ini. *** Di suatu daerah paling timur pulau Jawa, Darmo menyelesaikan meditasi dan mengatur napasnya kembali. Pria yang lebih tua darinya dan berjanggut putih tersebut menatap Darmo dengan mata sayu. Keduanya saling duduk berhadapan dalam diam di pendopo yang lenggang. Pria berjanggut putih dan bersorban tersebut terlihat mengayunkan tangannya seperti gerakan melambat. Gerakannya seperti menari, kemudian ia menempelkan telapak tangannya pada d**a Darmo. Ada sebuah gelombang energi yang tidak terlihat, tersalur dari tangan tersebut. Darmo terlihat mulai berkeringat dan titik-titik peluh muncul di kening juga pelipisnya. Setelah beberapa menit melakukan hal tersebut, pria bersorban mulai menarik telapak tangannya perlahan dan meletakkan dalam pangkuannya. Darmo membuka mata dengan wajah letih. “Lamun iso menehi sak ndulit ilmuku, Dar. Aku ora iso ngewangi sih liyo (Hanya bisa memberi sedikit ilmuku, Dar. Aku tidak bisa memberi yang lain lagi),” ucap pria itu dengan suara serak dan lirih. “Meniko sampun cekap lan saget nambahi bekel kulo, Mas. (Itu sudah sangat cukup untuk menambah pegangan untuk diri saya, Mas)” jawaban dari Darmo membuat pria bersorban tersebut mengangguk lega, walau tidak menyingkirkan raut muram dari wajahnya. “Tiliki Sukmo, bocah kae koyone we sora mampu nangani Sayekti (Tengoklah Sukmo, anak itu sepertinya sudah tidak bisa menangani Sayekti),” pinta pria yang seperti merupakan kakak perguruannya. Darmo mengangguk dengan menelan cairan mulutnya. Ada resah juga kegelisahan yang menggelayut. “Injeh, Kangmas. Kulo tak sowan kaleh Sukmo (Baik, Kangmas. Saya akan mengunjungi Sukmo),” janji Darmo. “Lagi iki nemoni perkoro sing munjuli cilokone Merapi (baru kali ini menemukan masalah yang melebihi musibah Merapi),” gumam kakak perguruannya tersebut. Darmo menghela napas berat dan memejamkan mata dengan prihatin. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. “Gusti Allah tansah nguji umate, ing perkoro sing mboten saget dimangerteni (Allah selalu memberi ujian umatnya, dalam perkara yang tidak bisa dipahami),” timpal Darmo dalam duka. “Lakonono, becik lakumu bakal ngunduh paholo sing apik (Jalani saja, tindakan baikmu akan menuai pahala yang baik),” balas seniornya dengan setengah menghibur dan menguatkan. “Leres, Kangmas. Lamun nglampahi sak batas kekuatane awak. Kulo pitados, Gusti maringi dalan sing paling sae kagem sakabehane (Betul, Kangmas. Hanya menjalani hingga akhir batas kekuatan diri saya. Saya percaya, Gusti memberi jalan yang paling baik untuk semuanya.” Darmo membenarkan dan hatinya makin terasa tenang. Salah satu dari murid padepokan muncul dengan dua kopi. Keduanya kemudian saling bertukar cerita dalam kehangatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN