Peringatan Sayekti

1102 Kata
Bulan Juli baru saja berakhir dan sebentar lagi akan menjelang bulan Ramadhan. Dayu begitu bersemangat menyiapkan segala keperluan untuk pertengahan bulan. Trining terlihat duduk di amben bambu dan mengamati kalendar dengan seksama. “Kapan malam Nisyu Sya’ban ya, Yu?” tanya Trining dengan kacamata yang melorot. Dayu masih mencatat beberapa kebutuhan stok makanan untuk buka dan sahur nanti. “Masih dua minggu lagi, Bulek,” jawab Dayu tanpa melepaskan pandangannya dari kertas catatan. Trining segera melingkari tanggal tersebut dengan spidol berwarna merah. “Semoga bulek tidak datang bulan seperti tahun lalu,” harap Trining sambil menggantungkan kembali kalendar di dinding dapur. “Untung Dayu sedang hamil, jadi tidak ada kendala,” ungkap Dayu lega. Trining tersenyum senang. “Kamu kalo ‘ndak kuat jangan dipaksakan lho!” tegas Trining kemudian. Dayu melemparkan lirikan penuh arti. “Sehat dan bayinya dapat ridho dari Allah Subhanahu wa ta’ala,” tukas Dayu yakin. Trining tersentuh oleh haru dan mengangguk dengan hati sendu. *** Bangunan gudang tersebut baru saja Ki Sukmo bersihkan. Beberapa kali pria tersebut muntah karena bau kotoran manusia yang harus ia singkirkan. Setelah selesai, ia kembali meletakkan pispot yang bersih dan ember di dekat Sayekti yang juga ia guyur dengan air bersih. “Ini ember untukmu membersihkan diri!” ucap Ki Sukmo dengan ketus. Tidak lupa ia juga memberi sabun dan shampo pada putrinya. “Kapan ini berakhir, Bapak?” tanya Sayekti lirih. Ki Sukmo sempat tercekat dan kemudian berpaling. Raut wajahnya berubah menjadi suram. Ada kilatan dari mata yang berkaca-kaca. Sayekti bisa kembali menjadi dirinya walau sesaat. “Cepatlah menguasai diri dan jangan larut dalam kebusukan iblis karena cinta butamu, nduk,” jawab Ki Sukmo dengan suara terbata-bata. Sayekti menatap ayahnya dengan mata sayu. “Maafkan Sayekti, Pak,” sesal Sayekti. Gadis itu kemudian tersedu dan menangis terisak. Ki Sukmo segera meninggalkan gudang tersebut dan menutupnya dengan cepat. Pria tua itu kemudian tidak lagi mampu meneruskan langkahnya dan ambruk dalam posisi bersimpuh. ‘Nyuwun pangapurane duh Gusti …,’ batin Ki Sukmo dalam ratapan pilu. ‘Maafkan bapak, Sayekti!’ seru Ki Sukmo kembali dalam hati. Ia tidak mampu mengungkapkan betapa ini sangat menyiksa dan menyakiti dirinya. Setelah beberapa saat meratap dalam kepedihan dan penyesalan, Ki Sukmo bangkit perlahan dan masuk ke dalam rumahnya. *** Bulan purnama membulat dengan indah dan terang. Suasana pelataran rumah joglo tampak terang dengan cahaya bulan yang berwarna keemasan. Dayu baru saja selesai mandi dan duduk di teras menemani Genta suaminya. “Ibu?” tanya Genta. “Baru sholat, tadi tidak sempat karena terjebak macet,” jawab istrinya sambil membuka tutup gelas kopi supaya agak dingin. “Jadi kalian berdua pergi dengan tujuan berbeda dan masih belum menemukan mbah Darmo?!” tanya Genta. Dayu mencoba bersabar akan pertanyaan menyudutkan suaminya. “Belum, Mas. Tapi bukan karena kami tidak tiba di tujuan, Mas. Mbah Darmo pergi ke Jawa Timur untuk beberapa hari katanya,” sahut Dayu bernada kesal. Genta segera menyadari jika ia tidak seharusnya menuntut lebih. “Maaf, Yu. Seandainya aja aku bisa cuti,” sesal Genta kemudian. Dayu menyandarkan tubuh pada kursi. “Untuk sementara ini, Janur dan aku aja yang pergi. Ibu biar sama mas Totok,” sanggah Dayu tidak ingin menginginkan suaminya terbebani. Genta mengangguk dan mulai berpikir bagaimana caranya supaya ia juga bisa memudahkan pencarian terhadap mbah Darmo ini. *** Bulan yang membuat begitu terang, menyinari halaman belakang rumah Ki Sukmo. Pria yang sudah cukup tua tersebut kembali keluar dan membuka gembok gudang. Setelah melihat Sayekti selesai memakai baju bersih, Ki Sukmo mengambil kasur dan menggelar kasur di atas tumpukan jerami. Satu bantal dan selimut juga diletakkan di sana. Sayekti mengamati ayahnya dengan sendu. Tubuhnya tampak kurus kering dan matanya cekung. “Sudah berapa nyawa yang menjadi korbanku, Pak?” tanya Sayekti pada Ki Sukmo. “Dua belas,” jawab Ki Sukmo singkat. Gadis muda itu kembali menangis. Ia menggigit bibirnya sendiri dengan ekspresi terluka. “Aku telah menjadi pembunuh k**i!” pekik Sayekti dengan histeris namun lemah. Ki Sukmo mengusap mata tuanya dengan cepat. Tangisan Sayekti terdengar pilu. “Aku akan mengambilkan makan untukmu,” pamit Ki Sukmo cepat-cepat. Ia tidak tahan terhadap rintihan dan rengekan Sayekti. Berlalu dari tempat itu adalah untuk menghindar dari haru yang mendera jiwanya. Sebagai ayah, ia membesarkan Sayekti seorang diri sejak Laksmi, istrinya, pergi dan kabur dengan pria lain. Ia tidak pernah menuntut atau membalas dendam. Dirinya membesarkan Sayekti dengan sangat baik. Tapi, siapa yang bisa menyangka jika takdir untuk putrinya sangat k**i? Inikah hasil dosa yang telah Laksmi lakukan selama ini? Laksmi terbukti telah selingkuh dengan banyak pria di saat Ki Sukmo sibuk berkelana dengan Cokro dan mbah Darmo menuntut ilmu agama dan kanuragan. Tidak pernah kurang ia memberikan nafkah duniawi, walau secara nafkah batin ia tidak selalu memenuhinya. Kendati ia sendiri tidak tahu siapa ayah Sayekti yang sesungguhnya, karena banyak lelaki yang meniduri Laksmi dulu, tapi Ki Sukmo tetap membesarkan dengan kasih sayang. “Makanlah, supaya kau kuat kembali,” ucap Ki Sukmo. Ia menaruh piring nasi dan lauk di meja yang ia telah siapkan sebelumnya. Sayekti mengusap wajah setelah berdoa dan dengan perlahan menyuap sedikit demi sedikit. Ki Sukmo memandang anaknya dengan penuh cinta. Sayekti telah memberikan kehidupan yang penuh warna sebagai anak. Setiap hari ia selalu bersemangat untuk melanjutkan hidup demi putrinya terkasih. Pria itu tidak peduli atas tudingan terhadap dirinya yang katanya turut andil dalam raibnya Laksmi dari kehidupan mereka. Baginya, yang terpenting Sayekti sehat dan tumbuh dengan baik. Tak lama, Sayekti muntah dengan hebat di atas ember kosong. Ki Sukmo mulai khawatir. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Ki Sukmo dengan raut lelah. “Iblis itu menginginkan aku lemah. Supaya dia bisa menguasai tubuhku, Pak,” keluh Sayekti. “Usahakan menelan, walau sedikit,” pinta Ki Sukmo. Sayekti menggelengkan kepala dengan raut mual. Ia muntah kembali dan terkulai lemah. “Ampuni Sayekti, Pak. Apa pun yang terjadi nanti, sepurane nggih (mohon maaf ya), Pak?” rintih Sayekti mulai melemah. Tulang di pundak dan lututnya memang menonjol dan tampak memprihatinkan. Baju yang ia kenakan tampak kebesaran. Ki Sukmo tersedu dan mulai menangis dengan tidak malu lagi. “Berjuanglah, Sayekti!” teriak ayahnya putus asa. Sayekti memejamkan mata dengan lemah. Ia tidak mampu bangun lagi. Tidak lama kemudian, terdengar Sayekti terkekeh. Ki Sukmo makin menangis dengan keras dan akhirnya berteriak penuh murka! “Kembalikan anakku!!” Ki Sukmo tampak merapalkan ajian yang bisa membuat iblis tersebut tersiksa. “Ha ha ha, Sukmo, Sukmo! Anakmu wes kadung ngucap janji getih! Titeni, Amandaru sak brayat kudu mati! (Anakmu sudah terlanjur mengucapkan janji darah! Lihat saja, Amandaru beserta keturunannya harus mati!” Seketika, Ki Sukmo merasa lemah dan melontarkan mantra dengan hati yang sangat rapuh. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN