Pram menepuk pundak Anggar berkali-kali. Saudari tirinya benar-benar berpenampilan mirip dengan orang asing. Rambutnya yang pendek ia warnai putih kebiruan dan kulitnya yang tadinya putih, Anggar biarkan terbakar matahari. Sebagai wanita, Anggar sangat cantik dan ayu. Dengan tubuh yang tinggi, 175 cm, Anggar sempat mengeluti bidang modelling dan peragawati. Namun kini ia menekuni fotografi, mengikuti jejak ibunya. “Gimana kabar ibu? Sehat?” tanya Pram dengan raut sumringah. Kehadiran Anggar membawa kesejukan pada jiwa mereka yang sedang kering dan putus harapan. “Sehat. Masih aktif dalam kegiatan sosial dan gereja.” Anggar dan ibunya menganut keyakinan lain dan itu yang menjadi pemicu konflik utama dalam pernikahan yang dilakukan secara siri, sedangkan ibu Anggar masih pergi ke gereja.

