Makan malam berlangsung dengan baik. Anggar menghela napas lega karena Sayekti terbukti bisa mengendalikan diri dengan sangat baik. Malam itu, mereka melanjutkan obrolan di teras depan dan Trining merasa bersemangat untuk kembali merasakan indahnya kebersamaan tanpa rasa khawatir. “Apa lagi yang bisa mengingatkan kamu tiap makan ini?” tanya Pram pada Arum, tunangannya. “Masa kecil. Dulu hidup di kampung kan nggak banyak jajanan. Jadi, setiap sabtu sore, aku jalan ke rumah budhe tentara buat dapet iki,” sahut Arum dengan geli. “Iya. Aku jadi inget dia. Budhe tentara,” kenang Pram juga turut tertawa. “Aku pernah dimarahin gara-gara nggak bisa ngaji,” timpal Trining terkekeh. Semua meluapkan memori masa lalu dengan canda tawa yang menyenangkan. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan puk

