Mafia cengeng
Rumah sakit Central penuh sesak. Para perawat dan dokter sibuk berlarian ke sana kemari, menangani pasien yang datang silih berganti. Suara alat medis, panggilan darurat dari pengeras suara, serta keluhan pasien bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hampir kacau.
Di salah satu ruang IGD, seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah penuh amarah duduk di atas ranjang periksa. Jas hitamnya sudah terlepas, menyisakan kemeja putih yang lengan kanannya terkoyak akibat kecelakaan tadi. Tangannya dibiarkan terkulai, darah mengering di sela jari-jarinya.
Sagara Caesar Majendra.
Tatapan dinginnya menyapu ruangan, penuh ketidaksabaran.
"Dokter mana? Lama sekali," desisnya, suara beratnya terdengar menusuk.
Di sebelahnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan membungkuk sedikit dengan ekspresi sungkan. "Tuan Saga, mohon bersabar. Dokter sedang dalam perjalanan."
"Harus dokter laki-laki." Saga mengingatkan karena tak mau tubuhnya disentuh oleh dokter perempuan. Bukan hanya dokter, tapi siapapun dia sangat tidak suka tubuhnya disentuh oleh seorang perempuan
Pria yang dipanggil Satrio, itu pengawal pribadi Sagara. Satrio terlihat ragu sejenak. Ia tahu betul sifat atasannya. Jika Sagara sudah menetapkan sesuatu, maka sulit untuk mengubah pikirannya.
"Baik, Tuan," jawabnya cepat, meski dalam hati ia sendiri tak yakin.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita berseragam dokter masuk ke dalam ruangan, membawa papan rekam medis dan mengenakan sarung tangan steril.
"Apa ini pasien yang perlu ditangani?" Suaranya terdengar tenang, nyaris tak terpengaruh oleh suasana tegang di ruangan itu.
Satrio segera mengangguk. "Iya, Dok. Ini Tuan—"
"Aku mau dokter laki-laki!" hardik Saga kesal melihat dokter waktuna di depannya. Bukan cuma perempuan, tapi dia juga gendut. Saga makin kesal.
Suara dingin Sagara memotong sebelum Satrio bisa menyelesaikan kalimatnya.
Wanita itu mengangkat alis, lalu menatap pasien di depannya. Tak ada ketakutan atau keraguan dalam sorot matanya. Justru ada sedikit kejengkelan yang berusaha ia sembunyikan.
"Saat ini dokter laki-laki sedang tidak ada. Kalau Anda bersikeras, Anda bisa menunggu sampai besok pagi," katanya dengan nada profesional.
Sagara mendengus sinis. "Aku bisa bayar rumah sakit ini untuk panggil dokter laki-laki sekarang juga."
"Silakan saja," jawab wanita itu dengan ekspresi datar. "Tapi sebelum itu, tangan Anda mungkin sudah infeksi atau malah membusuk. Mau seperti itu?" Dokter wanita itu memperingatkan, sambil menatap ke arah tangannya. Bergerak dengan malas karena disalah kasih bukan harus menangani pasien keras kepala seperti ini.
"Jangan buat repot." Dokter itu ingatkan lagi.
Sagara terdiam, tatapannya bertemu dengan mata dokter di depannya. Mata itu gelap, penuh keyakinan, dan jelas-jelas tak takut padanya.
Satrio buru-buru ikut membujuk. "Tuan, lebih baik segera diobati. Luka Anda bisa semakin parah."
Ayu menghela napas dan bersiap pergi. "Kalau memang tidak mau, saya akan menangani pasien lain. Banyak yang lebih membutuhkan. Permi—"
Sagara mengepalkan rahangnya. Napasnya terdengar berat. Ia bukan pria yang mudah tunduk, tetapi kali ini ....
"Ckk. Baiklah. Cepat lakukan saja." Saga menyerah membiarkan dirinya pasrah dalam penanganan dokter itu. Lagipula, tubuhnya sudah benar-benar terasa tak karuan akibat apa yang terjadi tadi
Senyum tipis muncul di sudut bibir Ayunda Sachikirani. "Akhirnya."
Tidak ambil pusing, Ayu ditemani oleh Kinan dokter muda pendampingnya segera membawa Sagara. Tentu saja pria itu harus segera ditangani.
"Awas!" Kinan dan ayu berteriak.
Teriakan itu menggema di lorong rumah sakit, diikuti suara decit roda brankar yang didorong terburu-buru. Beberapa perawat menepi, memberi ruang bagi dokter yang baru saja masuk ke ruang IGD.
Ayunda Sachikirani berhenti sejenak, membaca rekam medis pasien di tangannya sebelum menatap pria yang duduk dengan wajah masam di atas ranjang periksa. Tangan kanannya terlihat bengkak, sisa darah kering masih menempel di kulitnya.
Ayu mendengus pelan. "Ini harus segera ditangani." Ayo menatap Kinan dan anak muda itu segera menganggukkan kepala dan berlari untuk mengambil apa saja yang dibutuhkan oleh Ayu.
"Terserah," gumam pria itu tanpa minat.
Ia tidak menunjukkan rasa takut atau khawatir. Hanya tatapan dingin yang menyiratkan ketidaksabaran.
"Semua siap Dok." Kinan katakan.
"Okay," sahut Ayu.
Ayu mengabaikan ekspresinya. Dengan cepat, ia mengambil peralatan medis di meja sebelahnya. Tangannya lincah mengenakan sarung tangan steril, lalu tanpa peringatan, ia menggenggam tangan pasien itu dan mulai membersihkan luka di sekitar pergelangannya.
"Irigasi," titah Ayu.
Dengan segera dokter muda pendampingnya melakukan apa yang diminta. Menyiramkan cairan NaCl ke luka tersebut. Tentu saja itu digunakan untuk membersihkan luka agar tidak terjadi infeksi yang lebih dalam.
"Agh!" pekik Saga.
Pria itu, Sagara Caesar Majendra merintih pelan, rahangnya mengeras saat rasa perih menjalar dari lukanya. Rasanya benar-benar perih kok seharusnya luka itu tidak terasa terlalu sakit jika tidak ada debu, atau mulai infeksi.
Satrio, yang berdiri di sisi ranjang, langsung maju dengan ekspresi tidak suka. "Dokter, apa Anda tidak bisa lebih pelan sedikit?"
Ayu menaikkan satu alisnya, lalu menatap pengawal itu dengan pandangan datar. "Ini karena lukanya kotor dan ada infeksi ringan. Harusnya baik-baik aja. Harusnya dibawa lebih cepat dan coba kalau bos kamu itu mau mendapat penanganan lebih cepat, nggak cerewet seperti tadi. Kalau mau pelan, bawa saja Tuan Besar ini ke salon buat spa. Ini rumah sakit, bukan tempat pijat relaksasi."
Satrio mengepalkan rahangnya, tapi tak bisa membantah. Ia benar-benar kesal dengan apa yang dikalahkan oleh dokter itu. Hanya saja, tidak mungkin untuk berkata lebih banyak lagi. Ia takut dokter itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Saga.
Sagara, yang sejak tadi hanya bisa menahan rasa sakit, menyipitkan matanya ke arah Ayu. "Kamu selalu kasar gini sama pasien?" Bertanya sambil meringis, rasanya benar-benar menyakitkan baginya.
Ayu menyeringai kecil, menyeka darah di kulitnya tanpa belas kasihan. "Nggak. Aku cuma kasar sama pasien yang sok jago tapi ternyata cengeng." Ayo kemudian menatap ke arah Saga, lalu segera kembali membersihkan luka.
Sagara menegang. "Apa?" Dalam hatinya tentu saja tidak terima mendengar perkataan itu. Cengeng? Apa maksudnya? Bisa-bisanya dokter itu mengatakan hal buruk tentang dirinya.
Ayu mengangkat bahu santai. "Tadi gaya kamu tinggi banget, nggak mau diperiksa dokter perempuan. Sekarang? Baru disentuh dikit aja udah meringis."
Sagara membuka mulutnya, ingin membalas, tapi Ayu sengaja menekan bagian yang luka sedikit lebih keras.
"s**t!"
Ayu menahan senyum. Menyenangkan juga membuat pria besar ini kesal. Ayu melirik ke arah Kinan yang sejak tadi tersenyum menahan tawa.
Satrio hanya bisa menghela napas panjang. Yang jelas, luka ini akan sembuh. Tapi harga diri Sagara? Mungkin butuh waktu lebih lama.
****