Malam Kelam
Malam dengan kemerlip bintang - bintang di langit yang semakin larut, rumah - rumah, pertokoan bahkan kantor sudah mulai menghentikan aktifitas mereka. Nampak dari kejauhan seorang gadis tengah menengadahkan wajahnya ke langit sembari menunggu gocar pesanan nya tiba. Dengan rok sepan selutut berwarna hitam dan kemeja merah melekat sempurna di tubuhnya.
Itulah Puspasari Devi, si gadis bunga kampus yang hampir lulus. Tidak biasanya Puspa pulang kerja di jam - jam seperti ini. Ini di karenakan banyak penggunjung yang datang di tempatnya bekerja.
Setelah sekian lama menunggu gocar pesanan nya tak kunjung datang dan udara malam semakin menusuk ke dalam kulit arinya, dia memutuskan untuk berjalan menuju kursi besi panjang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri kini. Dia duduk di sana seraya mengayun - ayunkan kaki jenjangnya yang di balut dengan sepatu hell hitam.
Ada seutas senyum di bibirnya saat melihat sebuah mobil melaju ke arahnya.
" Ah... mungkin ini gocar pesanan ku," gumamnya.
Dan benar saja mobil itu memang berhenti tepat di depan nya. Puspa pun segera berdiri namun saat hendak berjalan menuju pintu mobil, Puspa di kejutkan dengan keluarnya dua orang pria berbadan kekar dari mobil itu menuju ke arahnya.
" Sssiapa kalian, mmmau apa kalian," ucap Puspa gagap.
Tanpa menghiraukan ucapan gadis itu, dua orang lelaki itu langsung saja memegang ke dua tangan Puspa dan membawanya masuk ke dalam mobil. Meski Puspa berusaha meronta namun itu hanya sia - sia belaka.
" Lepaskan aku.... tolong.... lepaskan aku... aku sama sekali tidak mengenal kalian.. ap...."
Perkataan Puspa seketika terhenti saat seseorang yang duduk di bangku belakang membekapnya dengan sapu tangan yang di bubuhi sesuatu dengan efek menenangkan.
Mobil itu terus melaju menyusuri jalanan yang lengang menuju sebuah bar di pusat kota. Puspa di papah dua orang memasuki bar menuju sebuah kamar di mana sudah ada seorang pria yang sedang menenggak minuman beraroma alkohol di tanggan nya.
" Bos... kami sudah mendapatkan nya," kata salah seorang lelaki dan merebahkan Puspa di atas tempat tidur.
" Hem... pergilah kalian," ucap lelaki yang di panggil bos tadi seraya berjalan menuju tempat Puspa terbaring.
Lelaki itu terlihat mengeleng - gelengkan kepalanya dan memejamkan matanya beberapa kali berusaha memperjelas pandangan nya yang telah kabur karena pengaruh alkohol yang diminumnya.
" Ha... ha... Joana akhirnya kau datang juga padaku setelah menghianatiku ha... hahaha...." Ucap lelaki itu tertawa sembari menatap wajah wanita yang tengah terkulai lemas tak berdaya meski pandangan nya tidak begitu jelas.
Dengan tanpa menunggu lama lelaki itupun segera melucuti pakaian nya juga pakaian gadis yang terbaring di depan nya itu. Dengan buas dia menjamah sang gadis bahkan terkadang terlihat ada amarah yang meluap.
" Deg..."
" Apa dia masih gadis?" Dalam batin lelaki itu saat merasakan sesuatu yang sangat sulit di tembus.
Namun karena luapan hasrat dan amarahnya yang begitu menggebu dia tak lagi menghiraukan perasaan nya. Dia terus saja melanjutkan satu hubungan badan yang hanya layak di lakukan oleh suami istri hingga ia terkapar di sebelah gadis itu dan memejamkan matanya.
Hari yang gelap pun berganti dengan cahaya kemerahan di ufuk timur. Raungan si kuda besi mulai merayap di jalanan, membangunkan insan - insan dari alam mimpi.
Puspa mengerjapkan matanya yang masih berkunang - kunang. Kepalanya yang terasa pusing membuat tangan nya reflek memegang keningnya, dia memejamkan kembali matanya. Tapi ada rasa dingin yang membelai kulitnya. Secara tak sadar dia menarik selimut yang membalut tubuhnya yang terasa berat tanpa membuka matanya.
" Apa selimut ini terbuat dari batu, " gumam nya sambil menarik paksa selimut itu.
Untuk sesaat, indra pendengaranya menangkap suara - suara yang semakin jelas terdengar membuatnya tak bisa tidur lagi. Puspa membuka matanya dan mendapati aroma menyengat menyeruak di dalam ruangan itu. Puspa membuka matanya lebar - lebar dan mencari - cari asal sumber bau itu.
" Aaaaaa....."
" Siapa kau..... berani - beraninya kau masuk ke kamarku." Pekik Puspa yang belum menyadari di mana dia saat ini.
Puspa memukul - mukul orang yang disebelahnya itu dengan bantal hingga berkali - kali.
" Hentikan.... bodoh... diamlah kau berisik sekali... aku masih ngantuk Joana..." Hardik lelaki itu dengan terus memejamkan matanya dan satu tangan nya memegang ujung bantal yang Puspa gunakan untuk memukulnya.
" Tunggu...." Puspa mencoba mengingat sesuatu.
" Bukankah bantalku berwarna biru... kenapa berubah jadi hitam... siapa yang menggantinya dan siapa Joana?" Gumamnya pelan.
Puspa mulai mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan. Dan betapa terkejutnya dia saat menyadari itu bukanlah kamarnya. Itu adalah tempat yang sama sekali berbeda dengan kamarnya.
" Aaaa..... siapa kau.... dimana aku..." Pekik Puspa lagi sembari memukul - mukul kepalanya mencoba mengingat sesuatu dalam otaknya.
Puspa melihat lagi dirinya yang sama sekali tak mengenakan pakaian. Seketika matanya mulai berkaca - kaca dan tangan nya mengengam erat selimut tebal yang membalut tubuhnya itu.
Puspa mendapati pakaian nya telah bertebaran di lantai bercampur dengan kemeja pria. Dia mencoba bangkit untuk meraih bajunya namun sesuatu teramat sakit di bawah sana hingga membuatnya terduduk dan terisak.
Puspa berusaha meraih kemeja dan pakaian nya yang lain dengan merangkak pelan dan pergi ke kamar mandi. Puspa mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia mengusap wajahnya yang basah dengan air juga air mata. Dia menyandarkan tubuhnya yang hampir limbung ke dinding dan terduduk di bawah guyuran air shower.
Puspa menangis sejadi - jadinya. Dia merasa telah hancur sehancur - hancurnya. Bagaimana tidak satu - satunya mahkota yang ia miliki kini telah raib di maling orang yang sama sekali tidak dia kenal.
Ribuan hal berkecamuk dalam fikiran nya. Marah, benci , dan bayangan keluarga serta kekasihnya pun ikut membayang di otaknya. Namun ia harus segera mencari tahu apa yang bisa ia lakukan selanjutnya.
Setelah berpakaian dengan kemeja yang telah kumal itu, Puspa memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Dan saat menutup pintu kamar mandi itu dia di kejutkan oleh satu pertanyaan.
" Siapa kau?"
Mendengar itu Puspa menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari seorang lelaki yang tengah duduk di atas kasur itu dan menatapnya tajam.
" Siapa kau," ucap lelaki itu menggulangi pertanyaan nya.
" Siapa aku? Harusnya aku yang bertanya siapa kau? Dan apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau lakukan semua ini padaku hah?" Pekik Puspa pada lelaki yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat itu.
Puspa berjalan mendekati pria itu dengan rambut yang masih sedikit meneteskan air dari ujungnya hingga membasahi kemeja bagian dadanya karena rambut Puspa yang hanya sedikit lebih panjang dari bahunya.
Puspa terus saja mencecar lelaki itu dengan pertanyaan - pertanyaan yang bahkan ia sendiri bingung karenanya.
Sedang lelaki itu masih saja melonggo. Dia hanya terus menatap ke arah gadis yang terus memakinya itu namun terlihat sangat menggoda karena sebagian kemejanya yang basah menampak kan sesuatu yang indah.
" Plak...."
Sebuah tamparan keras melayang di pipi lelaki itu hingga membuatnya terperanjat dan membulatkan matanya.
" Tidak ada yang berani menamparku bahkan mamaku sendiri," batin lelaki itu sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
" Apa yang kau lakukan hah?" Ucap lelaki itu.
" Hah.... apa...apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya itu padamu," ucap Puspa terduduk di tepi tempat tidur berukuran besar itu.
Puspa terisak, dia tak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Dia hanya bisa memegangi kepalanya yang terasa mau pecah hingga ia terkulai di lantai.