Marah

1019 Kata
Hari itu kisaran jam 10.30, Devano memanggil sekertarisnya ke ruang tengah apartemen dan menceritakan tentang permintaan gadis yang pada malam itu dia tiduri. Tepatnya gadis yang tengah berada di dalam kamar apartement nya. " Bagaimana menurutmu Ed?" " Keputusan ada di tangan anda sendiri tuan," jawab sekertaris Edi. " Ini hanya sebuah kesalahan dan aku juga tidak mencintainya, aku bahkan tak tahu namanya siapa, apa mungkin aku harus hidup dengan orang yang tidak ku kenal?" " Nona itu bernama Puspasari Devi tuan, dia anak kuliah di Universitas XXX. Nona Puspa sedang menggurus penyelesaian akhir skripsinya tuan, dia juga bekerja paruh waktu di sebuah toko buku xxx." " Apa dia cukup kaya untuk kuliah di tempat itu?" " Nona Puspa mendapatkan beasiswa prestasi di sana tuan, dia juga seorang asisten dosen." Mendengar penjelasan dari sekertaris Edi cukup membuat Devano mengangguk - anggukan kepalanya pelan. Dia meminta sang sekertaris memanggil gadis itu untuk makan bersama sambil membicarakan masalah mereka. Sekertaris Edi bergegas menuju kamar dan mengetuk pintu. Tak lama mendengar sahutan dari gadis yang ada di dalam sana, sekertaris Edi mendapati Puspa telah membuka pintu kamar. " Mari nona, tuan sudah menunggu anda di meja makan," Puspa mengangguk dan mengikuti langkah kaki sekertaris Edi. " Tak... tak... tak..." Suara sepatu yang Puspa pakai mengundang perhatian Devano untuk menoleh ke arahnya. Devano mengerutkan dahinya saat yang ia lihat bukan gadis itu tapi malah sang sekertaris. Devano mencoba menahan rasa penasaran nya untuk melihat gadis bernama Puspa itu. Saat mereka tiba di dekat meja makan sekertaris Edi menarik kan kursi untuk Puspa duduk di sana. Puspa tersenyum dan berkata , " terimakasih." " Sama - sama nona." Sekertaris Edi melirik ke arah tuanya yang masih belum berkedip saat melihat gadis itu duduk di sana dan menggucakan terimakasih pada sekertaris Edi dengan senyuman terbaiknya. " Maaf... tuan apakah kita langsung saja memulai pembicaraan nya di sini?" Tanya sekertaris Edi menyadarkan sang tuan muda dari keterpesonaan nya pada Puspa yang nampak anggun meski hanya berdandan sederhana bahkan tanpa lipstik. " Aa... em... ..... kita selesaikan dulu acara makan nya," kata Devano menutupi kegugupan nya. Sedang Puspa hanya diam menyaksikan ke dua orang itu yang berbicara dengan canggung. Devano mulai membuka piringnya dan dia terkesiap saat Puspa menggambil piringnya. " Aaapa yang kau lakukan," ucap Devano dengan tatapan tajam pada Puspa namun tangan nya tetap memegang sebagian piring itu dan sebagian lain di pegang Puspa. " Meski aku membencimu tapi pantang bagi ku membiarkan lelaki mengambil makanan nya sendiri selagi ada wanita, sini biar aku ambilkan, kau mau makan apa?" Kata Puspa seraya menggambil secentong nasi dan memasukan nya ke dalam piring itu. " Hei.... kau mau makan apa?" Tanya Puspa lagi dengan tegas pada lelaki yang asyik mematung dan terus memperhatikannya. " Devano nona, nama tuan muda itu Devano Bramasta," sahut sekertaris Edi yang masih setia berdiri di dekat mereka. " Ups.... sorry... so, Devano kau mau makan apaaaaa?" Devano bahkan tak menggeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Dia hanya menunjuk pada piring lauk pauk dengan jarinya. " Aku bahkan tak pernah merasakan hal senyaman ini dengan Joana. Dia bahkan tak pernah perhatian padaku," kata dalam hati Devano setelah ia mengingat - ingat kembali hubungan nya dengan Joana. " Yap... selamat makan...." kata Puspa meletakkan piring itu di depan Devano kembali, yang membuyarkan lamunan Devano. Puspa menyendok kan sedikit nasi, lauk dan sayur ke dalam mulutnya lalu melihat ke arah Devano yang masih belum menyentuh makanan nya. " Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak makan?" Tanya Puspa penasaran. " Aku tidak suka yang berwarna hijau itu." " Dasar aneh... itu mengandung banyak anti oksidan, supaya kau tidak cepat tua.... sudahlah makan saja, kau harusnya bersyukur memiliki makanan selengkap ini sedang orang lain di luar sana susah untuk mendapatkan nya." Puspa melanjutkan makannya begitu juga dengan Devano yang mulai menyendokan sesuatu ke dalam mulutnya. Tapi ada hal yang menganggu Puspa. Sesuatu yang sedari tadi ada dalam fikiran nya namun terlupakan akibat tingkah Devano. " Eeem.... kau....?" " Edi nona, sekertaris Edi," jawab Edi sigap seakan mengetahui apa yang akan di ucapkan Puspa. " Em... Edi kenapa kau tidak duduk dan ikut makan?" Sekertaris Edi hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari nona baru yang mungkin saja bisa menjadi nyonya Devano atau setidaknya merebut perhatian sang tuan muda dari Joana. Sekertaris Edi menoleh ke arah tuan mudanya yang juga tengah menatapnya dengan aneh. " Em.... maaf mungkin aku terlalu banyak bicara," ucap Puspa meneruskan menghabiskan makanan yang ada dalam piringnya. Puspa menoleh ke arah Devano yang masih belum menyelesaikan makan nya. Dan karena dia jenuh menunggu, Puspa memilih untuk mengambil buah dan memakan nya. " Sekertaris Edi kau mau buah... tangkap ini." Tanpa menunggu persetujuan dari sekertaris Edi, Puspa langsung saja melemparkan sebuah apel ke arah sekertaris Edi dan hap... sang sekertaris menangkapnya dengan tepat. " Waw.... kau hebat sekertaris Edi, kau sangat gesit." " Kau yang hampir membuat jantungku copot nona," gumam sekertaris Edi dalam batinya dan hanya menunjukan senyumnya pada Puspa. " O.... ya.. sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan? Aku harus segera pulang." " Begini nona, tuan Devano akan memberikan kompensasi kepada anda tentang kejadian malam itu, menurut tuan muda, itu hanyalah satu kesalahan dan tuan tidak harus menikah dengan anda." Demikian sekertaris Edi menjawab pertanyaan Puspa. " Apa yang kau sebut dengan kompensasi?" Puspa yang begitu penasaran mendengarkan dengan seksama penjelasan dari sekertaris Edi tentang apa saja yang di sebut dengan kompensasi itu. Suasana meja makan itu menjadi hening. Devano sedang meneguk air putih dari gelasnya sedangkan Puspa....? Rona wajahnya merah, garis wajahnya yang tegas jelas terlihat. Puspa amat marah mendengarkan penjelasan dari sekertaris Edi itu. Tanpa berkata apapun Puspa pergi meninggalkan meja makan dan juga dua orang lelaki saraf itu. Puspa terus saja menggerutu dalam hatinya, dia merasa di hina, sangat terhina. " Dasar tidak punya otak, setidaknya dia gunakan otaknya jika hatinya sudah mati." Puspa masuk ke dalam kamar, dia mengganti baju yang tadi ia kenakan dengan kemeja lusuhnya. Kemudian memasukan baju dan sepatu itu ke dalam paperbagnya semula. Puspa meraih tasnya dan segera keluar dari kamar itu tanpa menggunakan alas kaki karena dia tak tahu sepatunya jatuh di mana. Dan.... " Bruuuk...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN