Dimas mengerjapkan mata, seolah tidak yakin bahwa Demon yang sedang tidak sadarkan diri memang sedang menangis. Demon menangis karena mendengar ucapannya beberapa saat yang lalu! Itu berarti, Demon bisa merasakan bahwa Dimas berada disampingnya. Dan kemungkinan besar bahwa Demon bisa merasakan kalau Ever sedang terpuruk dan berusaha untuk keluar dari kegelapan.
“Mon... kalau lo emang bisa dengar gue sekarang, kalau lo bisa merasakan kehadiran gue saat ini, gue mohon sama lo, lo buka mata lo. Kasihan Ever. Dia terpuruk. Dia jatuh kedalam kegelapan, Mon. Lo harus tarik dia keluar dari sana. Lo harus tolong dia....”
Demon masih tetap bergeming. Dia masih memejamkan kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Demon akan membuka matanya. Namun, Dimas yakin bahwa Demon bisa mendengar suaranya. Bahwa Demon mendengarkan setiap kalimat yang diucapkannya. Bahwa Demon bisa merasakan kehadiran Ever dalam tidurnya. Bahwa gadis itu sedang membutuhkan pertolongan. Sungguh, Dimas sangat tahu Demon bisa merasakan semua itu. Terlihat dari airmata yang masih jatuh membasahi wajah Demon.
“Please, Mon... Ever butuh elo....” Dimas mengepalkan kedua tangannya. Laki-laki itu menundukkan kepala, mencoba mengisi paru-parunya yang tiba-tiba saja kehabisan oksigen untuk bernapas. Dimas yakin Demon dan Ever memang ditakdirkan untuk bersatu. Untuk menghabiskan waktu bersama-sama sepanjang sisa umur mereka. Namun, takdir itu sepertinya masih memerlukan waktu untuk menyatukan kedua remaja itu.
Dimas menghela napas panjang dan mengangkat kepala. Laki-laki itu tersenyum getir dan bangkit dari duduknya. Namun, saat Dimas akan membuka pintu kamar Demon, Dimas seperti merasa sesuatu tengah mengawasinya. Laki-laki itu memutar tubuhnya dengan cepat dan mengerutkan kening ketika dia tidak menemukan siapapun disana. Hanya ada dirinya, dan juga Demon yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai macam alat medis yang membantunya untuk tetap bertahan hidup. Juga hembusan angin yang begitu kencang, membuat bulu kuduk Dimas sedikit meremang.
Dimas kembali menghela napas dan memutar kembali tubuhnya. Sebelah tangannya terulur untuk memegang handle pintu dan membukanya pelan. Tepat ketika Dimas sudah akan menutup pintu, suara yang terdengar begitu lirih membuat Dimas tersentak dan langsung membuka daun pintu lebar-lebar.
“An... terin... gue... ke... tempat... Ever....”
***
“Kak Micky... harusnya kakak nggak usah nganterin aku sampai ke Solo segala. Aku bisa pergi sendiri....”
Saat ini, Evelyn dan Micky sedang berada didalam kereta api yang akan membawa mereka ke Solo, dimana tante Evelyn bermukim. Micky yang duduk di dekat jendela menopangkan dagunya dan tersenyum manis ke arah Evelyn.
“Karena aku yang mau, jadi kamu nggak berhak ngelarang aku. Itu namanya pelanggaran hak asasi manusia, Lyn. Bisa-bisa, kamu aku laporin ke komnas HAM, loh. Atau, aku laporin ke Kak Seto.”
Evelyn mengerjapkan mata dan mencibir. Gadis itu memukul lengan Micky dengan pelan yang dibalas dengan tawa oleh Micky. Micky berusaha menghindar dari serangan Evelyn, namun gadis itu lebih gesit lagi memukul lengan Micky. Keduanya tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak memperdulikan tatapan kesal dari penumpang sekitar mereka.
Tiba-tiba, dengan satu gerakan cepat dan tidak terbaca oleh Evelyn, Micky menarik pergelangan tangan gadis itu sehingga membuat tubuh Evelyn terdorong ke arahnya. Evelyn memekik kecil dan mengerjapkan kedua matanya, ketika jaraknya dengan Micky begitu dekat. Wajah Micky sangat dekat dengan wajahnya. Evelyn menahan napas. Gadis itu benar-benar terpana dengan senyuman yang ditampilkan Micky saat ini. Evelyn baru sadar bahwa Micky mempunyai lesung pipit. Evelyn baru sadar bahwa Micky begitu menarik. Evelyn baru sadar bahwa Micky... sangat tampan.
“Kenapa? Terpesona sama aku?” tanya Micky tiba-tiba. Evelyn tersentak. Gadis itu bisa merasakan pipinya mulai memanas. Pasti sekarang sudah muncul semburat merah di kedua pipinya. Evelyn berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Micky, namun laki-laki itu justru makin menarik tangan Evelyn, hingga jarak mereka semakin dekat sekarang. Evelyn bahkan bisa merasakan hembusan napas Micky diwajahnya.
“Kenapa nggak coba ngeliat aku? Cuma liat aku! Apa itu nggak cukup?”
Evelyn berusaha meredam debaran jantungnya yang makin meliar. Gadis itu sebenarnya bingung, apa maksud ucapan Micky barusan. Micky tidak pernah bersikap aneh seperti ini sebelumnya.
“Maksud Kak Micky... apa?” tanya Evelyn ragu. Evelyn makin menahan napas ketika merasakan tangan Micky memegang dagunya dan perlahan mendaratkan ciuman ke keningnya. Seketika, tubuh Evelyn membeku. Evelyn bisa merasakan kehangatan yang mengalir dari ciuman lembut Micky pada keningnya itu. Evelyn memejamkan matanya perlahan. Seperti ada ratusan kupu-kupu yang menari-nari di perutnya saat ini.
Ketika ciuman lembut itu usai, Micky menangkup wajah Evelyn dengan kedua tangannya. Laki-laki itu menatap Evelyn dengan tatapan teduh dan penuh kasih sayang. Senyum lembutnya masih setia bertengger di bibirnya. Evelyn hanya bisa berdeham pelan dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Micky.
“You know, what? I don’t care about your past. I don’t care if you still have a feeling for Demon. I don’t care about that. The only things that i cares about is you! Only you! Can’t you see that i’m blind? Yeah! I’m totally blind cause of you! I have a crush on you since i found you two years ago. I need you. I care about you. I like you. No, the truth is i love you! More than you know. Maybe i can’t bring the moon for you. Maybe i can’t buy you a diamond or anything else. But i can give you my love and all my heart! Just give me one chance and i’ll prove it. I just... i just can’t hold it anymore, Lyn. I need you to be by my side, i need you to be my wife and be a mother for my children, later. And... i’ll help you to forget all about Demon....”
Evelyn terkesima. Dia sama sekali tidak menyangka kalau... kalau selama ini, Micky menyukai dirinya? Mencintai dirinya?
“Kak Micky... kakak....” Evelyn tidak sanggup berkata-kata. Matanya mulai berkaca. Perasaannya semakin berdebar keras. Ini bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya. Bahkan untuk sekedar bermimpi pun, dia tidak pernah. Selama ini yang dia tahu adalah perasaannya untuk Demon. Bahwa dia mencintai Demon. Tapi, dia tidak pernah membuka perasaannya dan menggunakan hatinya untuk melihat bahwa ada seorang laki-laki yang setia menunggunya, selalu mencintainya dengan tulus. Bahkan, meskipun tahu Demon sudah tidak mencintai dirinya, Evelyn masih saja dengan bodohnya membiarkan hatinya terluka untuk terus mencintai laki-laki itu.
“Gimana?”
Evelyn memberanikan diri untuk kembali menatap mata Micky. Disana terdapat kesungguhan dan ketulusan yang terpancar sangat jelas. Dia mungkin belum bisa melupakan perasaannya pada Demon, tapi, bukankah Micky sudah berjanji bahwa dia akan membantunya untuk melupakan Demon?
“Evelyn... would you be my girl, my fiancee and my wife? Be a mother for my children?”
Evelyn menghembuskan napas panjang. Gadis itu memejamkan kedua matanya sejenak, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan kembali membuka matanya. Kemudian, gadis itu tersenyum dan langsung memeluk Micky. Micky sempat menegang beberapa saat, kemudian, laki-laki itu mulai membalas pelukan Evelyn. Senyumnya terlihat sangat bahagia.
“Just promise me that you’ll help me to forget all about my past. Just promise me that you’ll never leave me... just promise me that....”
Micky mengangguk mantap. Laki-laki itu makin mempererat pelukannya pada Evelyn. Keduanya tersenyum bahagia dan bersiap untuk memulai kisah yang baru.
Evelyn mendesah lega dalam hati. Dia sangat yakin dengan pilihan hatinya saat ini. Micky adalah laki-laki yang baik. Micky mencintainya dengan tulus. Evelyn mengutuki dirinya sendiri yang selama ini sangat bodoh dan terus-terusan menanti cinta Demon yang sudah jelas memilih Ever.
Terkadang, cinta itu memang aneh. Kau berusaha sekuat tenaga untuk mencari seseorang yang tepat untuk dicintai, atau kau juga masih saja mengharapkan cinta dari seseorang yang tidak pernah mencintaimu. Tanpa kau sadari, sebenarnya seseorang yang kau cari itu tepat berada disekitarmu, di depanmu. Dia selalu ada disana, melihatmu, mencintaimu, dan menantimu, sampai kau sadar dan berbalik untuk melihatnya, mencintainya dan menantinya.
Dan kali ini, Evelyn sudah menemukan orang tersebut.
Dia... Micky.
***
Ever duduk meringkuk di atas kasurnya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Hanya mencapai sebatas dagu. Karena Ever saat ini sedang menatap kegelapan di depannya dengan tatapan kosong dan menerawang. Gadis itu sudah tidak menangis lagi. Gadis itu sudah sadarkan diri. Tapi, dia merasa ada yang hilang dari dirinya.
Sesuatu yang sangat penting.
Sesuatu yang sangat berharga. Yang menempati hampir sebagian ruang didalam dirinya, didalam hatinya. Sesuatu yang ditarik paksa dari dirinya. Dan dia sendiri tidak tahu kapan dia bisa mendapatkan itu semua kembali.
“Gelap itu jahat. Dia nggak akan melepaskan lo kalau lo sendiri nggak berusaha untuk kabur dan melarikan diri. Gelap itu mengunci dan cuma diri lo sendiri yang megang kuncinya dan bisa membukanya. Gelap itu memenjarakan... dan cuma orang-orang yang sayang sama lo yang bisa ngeluarin lo dari sana. Dalam kasus ini, gue yang bertugas untuk mengeluarkan lo dari kegelapan itu, setelah sebelumnya lo yang sudah mengeluarkan gue dari kegelapan.”
Ever tersentak dan segera mengangkat kepala ketika dia mendengar suara pelan bernada tegas dan lantang itu. Gadis itu langsung menoleh dan menemukan satu sosok yang teramat sangat dirindukannya. Teramat sangat penting baginya. Teramat sangat dicintainya.
Sosok itu... Demon!
Ever masih membeku di tempatnya, seolah tidak percaya bahwa yang berdiri di ambang pintu kamar inapnya adalah Demon. Laki-laki itu terlihat sangat pucat. Kepalanya diperban dan dia berdiri dengan dibantu sebuah kruk. Di belakang Demon, berdiri Dimas yang sedang tersenyum kecil seraya mengangguk ke arahnya.
Perlahan, Demon berjalan, meskipun agak tertatih, ke arah Ever. Ever masih bergeming. Dia menatap Demon tanpa berkedip, dengan tatapan tidak percaya. Beberapa tetes airmata mulai jatuh perlahan membasahi pipi Ever. Kemudian, airmata itu sudah mengalir dengan cepat ketika Demon berhenti tepat di depannya, meletakkan kruknya di sembarang tempat dan duduk tepat di depan Ever.
Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Demon membersihkan airmata yang membasahi wajah Ever. Laki-laki itu kemudian mengelus lembut pipi Ever. Demon tersenyum tipis. Senyum yang sangat disukai Ever. Senyum yang sangat dirindukan Ever. Senyum yang sangat dirindukan Ever. Dan kini, Ever bisa melihat semuanya lagi.
“Gadis bodoh! Kenapa harus mengurung diri dalam gelap? Bukannya lo sendiri tau, kalau gelap itu nggak akan membiarkan lo lepas darinya barang sedetikpun? Seperti yang mereka lakuin ke gue dulu?”
Hanya isak tangis yang didengar oleh Demon. Dimas yang masih berada diluar pintu, perlahan pergi meninggalkan kedua orang tersebut tanpa menutup pintu kamar tersebut.
“Gue takut... gue takut....”
“Ssst... ada gue disini....” Demon berusaha menenangkan Ever yang sudah seperti kelinci ketakutan. Gadis itu sesegukkan dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
“Jangan... pernah... tinggalin... gue... lagi.... Jangan....” Ever mengucapkan kalimat tersebut dengan terbata. Demon mengangguk mantap dan langsung memeluk tubuh Ever dengan erat. Laki-laki itu memejamkan matanya, merasakan denyut jantung Ever pada jantungnya. Dia mengusap rambut Ever lembut, dan mencium puncak kepala Ever dengan hangat.
Cinta itu akan datang jika waktunya sudah tiba. Tidak perlu putus asa, tidak perlu mengeluh, tidak perlu menangis. Jika sudah datang saatnya, akan tiba giliranmu untuk mencintai dan dicintai. Cinta tidak akan salah memilih tempat, waktu dan seseorang. Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya. Percaya bahwa cinta akan datang kepadamu. Jika bukan sekarang, suatu saat nanti. Dan itu pasti.
Dan kini, Ever dan Demon sudah membuktikannya.
Semua rintangan yang mereka hadapi dan lewati sudah terbayarkan dengan cinta yang menyatukan mereka.
The day we met...
Frozen I held my breath...
Right from the start...
I knew that I'd found a home for my heart...
... beats fast
Colors and promises...
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone...
All of my doubt suddenly goes away somehow...
One step closer...
(Christina Perri feat Steve Kazee-A Thousand Year Part 2)
***
“Demon, my cousin! Long time no see...!”
Demon mengerutkan kening ketika melihat seorang laki-laki dengan gaya berantakannya masuk kedalam kamar inapnya. Laki-laki dengan kacamata tipisnya itu tersenyum lebar ke arahnya dan memeluk tubuh Demon sambil menepuk punggung Demon beberapa kali. Hal itu membuat Demon meringis dan langsung mendorong tubuh laki-laki di depannya.
“Lo gila?!” seru Demon kesal. Ditatapnya tajam laki-laki di depannya itu, yang hanya membalas perbuatan Demon dengan cengiran lebar.
“Masa sepupu lo yang keren ini lo bilang gila, sih, Mon? Gue udah capek-capek dateng dari Amerika, nih! Cuma buat jengukin elo!”
“Cih.” Demon mencibir dan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Gue nggak butuh, kali, dijengukin sama elo! Setan k*****t bin playboy cap ikan mas koki!”
Bukannya tersinggung, laki-laki itu malah tertawa keras. Bahunya sampai terguncang dan matanya sampai mengeluarkan airmata, ketika dia mendengar ucapan Demon. Kemudian, tanpa belas kasihan, laki-laki itu memukul kepala Demon pelan.
Well, sepertinya tidak cukup pelan, karena sekarang, Demon meringis kesakitan, mengusap kepalanya dan melotot ganas ke arah laki-laki itu.
“RENDRA!” teriak Demon jengkel. “Kepala gue bisa bocor lagi, tau!”
“Panggil gue ‘Kak Rendra’... gue ini kakak sepupu lo, loh.” Laki-laki bernama Rendra itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Demon, membuat Demon bergidik ngeri.
“Gue dengar dari bokap, hubungan lo sama bokap lo udah membaik, ya? Pasca kecelakaan itu, katanya bokap lo minta maaf sama lo atas ketidak-adilan yang lo terima selama ini akibat ulah dia. Dan dia juga udah menyetujui hubungan lo sama cewek lo dan bahkan udah mempersiapkan acara pertunangan lo seminggu lagi.”
Demon mengangguk. Masih dengan rasa jengkel yang belum berkurang, dia berkata, “Lo sama bokap lo ternyata sama-sama tukang gosip!”
Rendra tertawa renyah dan berniat untuk memukul kepala Demon lagi. Namun, niat itu diurungkannya ketika melihat Demon mengarahkan kruk ke depan wajah Rendra, membuat Rendra nyengir kuda dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka. Ever melangkah masuk dengan senyuman manisnya. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang beberapa hari yang lalu. Saat ini, Ever mengenakan baju lengan panjang berwarna pink bergaris putih, dipadu dengan rok jeans selutut. Gadis itu mengenakan mengenakan sepatu boot berwarna senada dengan bajunya dan mengenakan beret hat yang juga senada dengan warna sepatu dan bajunya. Ditangannya, terdapat sebuah keranjang berisi buah-buahan segar dan diletakkan gadis itu di atas meja disamping ranjang Demon.
Rendra memperhatikan gadis itu dengan seksama. Kesan pertama yang muncul di benaknya adalah manis. Gadis itu manis seperti boneka. Senyumannya menawan. Matanya indah. Rambutnya hitam bergelombang. Tubuhnya mungil dan imut. Persis boneka. Tanpa sadar, seulas senyum tipis tersungging di bibir Rendra.
“Apa lo senyum-senyum gak jelas kayak gitu?!” seru Demon langsung. Ever menoleh dan balas tersenyum ke arah Rendra. Tiba-tiba, Demon menarik tangan Ever dan melingkarkan lengannya di pundak Ever. Membuat Rendra terbahak melihatnya.
“Galak banget, Mon....” Rendra terkekeh geli sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kenalin, dong. Masa, lo tega banget nggak ngenalin gue ke dia?”
Demon mendengus dan makin merapatkan tubuh Ever pada tubuhnya, membuat kening Ever berkerut bingung.
“Ever. Evera Gracia namanya. Calon tunangan gue.” Demon memperkenalkan Ever pada Rendra dengan sangat terpaksa. “Ev,” panggil Demon. “Dia Rendra Marco Abiyoso. Sepupu aku dari Amerika. Salah satu penerus perusahaan, sama kayak aku. Tapi, aku saranin kamu jangan dekat-dekat sama dia. Dia itu playboy cap ikan mas koki dengan rayuan gombalnya yang kacangan banget!”
Rendra hampir saja tertawa keras kalau tidak melihat tampang seram Demon. Rendra hanya bisa menarik napas panjang dan membuang muka.
***
Akhirnya, hari yang ditunggu oleh Demon dan Ever tiba. Saat ini suasana di rumah Demon yang mewah terlihat sangat ramai. Para kolega ayah Demon dan tamu undangan lainnya nampak hadir di acara pertunangan Demon dan Ever.
Titan, Dimas, Regina dan beberapa teman Demon dan Ever yang lain juga nampak hadir. Mereka mengucapkan selamat atas pertunangan kedua pasangan kucing dan anjing tersebut. Kenapa mereka berkata demikian? Itu karena mereka tidak menyangka, hubungan Demon dan Ever yang tadinya seperti anjing dan kucing bisa menjadi hubungan yang romantis seperti Cinderella dan Pangerannya.
Acara pertukaran cincin itu berjalan dengan lancar. Semua tamu yang hadir bertepuk tangan dengan riuh. Demon dan Ever berpelukan, kemudian Demon mencium kening Ever dengan penuh kasih sayang. Membuat beberapa gadis merasa iri dengan keberuntungan Ever itu. Karena selama ini, mereka sudah naksir Demon tetapi merasa tidak ditanggapi oleh laki-laki itu.
Evelyn dan Micky tidak bisa hadir, tetapi mereka menitipkan salam untuk Demon dan Ever. Mereka berdua juga berkata akan segera melangsungkan acara pertunangan beberapa bulan lagi. Makin lengkaplah kebahagiaan yang dirasakan keduanya.
Sampai tiba-tiba...
“WOOOY!!! DEMON, KAYAKNYA GUE SUKA SAMA TUNANGAN LO, DEH! GIMANA DONG? BERSAING SECARA SEHAT SAMA GUE, MAU, NGGAK? KAN JANUR KUNING BELUM MELENGKUNG, TUH! BERARTI, GUE MASIH BISA BERHARAP, DONG?”
Semua pandangan tertuju pada sumber suara tersebut. Termasuk Demon dan Ever. Demon menyipitkan mata menatap sosok Rendra yang bersandar di dinding, melipat kedua tangannya di depan d**a dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar.
Demon tahu bahwa Rendra itu orang yang humoris, suka bercanda dan terkadang bersikap seenaknya saja. Gayanya berantakan dan cuek terhadap siapa saja. Tapi kali ini, meskipun Demon tahu bahwa Rendra orang yang baik, Demon merasa ucapan Rendra tadi tidak main-main.
“GIMANA? DEAL?”
Demon mendengus dan menarik Ever ke dalam pelukannya sambil memberikan seringaian mengejeknya. "Sori, tapi silahkan cari cewek lain karena gue nggak akan pernah ngelepasin dia."
Rendra terkekeh dan mengibaskan sebelah tangan. Semua tamu undangan pun ikut tertawa dengan perseteruan Demon dan Rendra, pun dengan Ever. Mulai hari ini, kehidupan baru Demon dan Ever akan dimulai.