Evelyn menghembuskan napas keras. Gadis itu memeluk lututnya dengan kedua tangan dan sedikit menenggelamkan kepalanya disana. Matanya menatap ruangan di depannya dengan tatapan menerawang. Micky, sepupu Ever, sedang membereskan koper-koper yang berada di ruang tamu rumah Evelyn. Tangannya bergerak dengan lincah, meskipun mata laki-laki itu menatap Evelyn dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
“Lyn...,” panggil Micky lembut. Evelyn mengangkat kepalanya dan menatap Micky. Semalam, Evelyn meminta Micky datang ke rumahnya. Begitu laki-laki yang sudah dianggap sebagai kakak oleh Evelyn itu tiba, tanpa peringatan, Evelyn langsung menghambur kepelukan Micky dan menangis disana. Micky hanya bisa terperangah dan mengerutkan kening. Laki-laki itu mengelus punggung Evelyn lembut dan mengalirlah keseluruhan cerita tentang hubungan rumit antara gadis itu, Ever, Demon dan Frazio.
“Kenapa, Kak?”
Micky menghembuskan napas panjang dan mendekat ke arah Evelyn. Laki-laki itu duduk disamping Evelyn dan mengelus rambut gadis itu lembut. Mata Evelyn masih terlihat merah dan sembap. Micky memang memutuskan untuk menginap di tempat Evelyn untuk menjaga gadis itu. Yang terpenting, Micky sudah tahu dari Oom dan Tantenya kalau Ever sudah sadar semalam.
“Kamu yakin mau pindah dari kota ini? Kamu mau tinggal dimana?” tanya Micky khawatir. Karena setahunya, Evelyn sudah tidak mempunyai siapa-siapa. Evelyn tersenyum menenangkan dan menatap Micky dengan tatapan lelah.
“Kemarin, aku nyoba cari tahu tentang keluarga aku. Dan aku ternyata berhasil melacak keberadaan tante aku. Dia adik dari mamaku. Dia sangat senang saat aku meneloponnya. Waktu aku bilang aku mau pindah kesana dan tinggal bersamanya, dia mengizinkan dan menerimaku dengan senang.”
“Dimana?”
“Di... mmm, Solo kalau nggak salah.”
Micky menghembuskan napas panjang dan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Apa nggak ada cara lain selain melarikan diri, Lyn? Apa harus dengan pindah keluar kota, semua masalah yang kamu hadapi akan selesai?”
“Bukan begitu, Kak,” balas Evelyn cepat. Gadis itu menarik napas sejenak, sebelum kemudian melanjutkan. “Demon udah nggak cinta sama aku. Dia cinta sama Ever. Sangat mencintai sepupu Kak Micky. Kalau aku ada disini, itu hanya akan bikin hati aku tambah sakit. Kenyataan bahwa Demon udah ngelupain aku ngebuat aku nggak bisa lagi memandang dia dengan cara yang sama.”
Micky terdiam. Laki-laki itu tidak tahu harus berkata apa. Mungkin kepergian Evelyn ke Solo bisa membuat luka hati gadis itu membaik. Mungkin... dengan perginya Evelyn ke Solo bisa membuat gadis itu melupakan semuanya. Walaupun menurut Micky, keputusan Evelyn itu terlalu kekanakkan. Lari dari masalah bukan cara yang baik. Yang benar adalah, hadapi masalah itu, seberat apapun masalah yang sedang terjadi.
“Kalau menurut kamu ini emang yang terbaik, aku cuma bisa berharap kamu baik-baik saja setelah ini.”
Evelyn mengangguk. Gadis itu kembali menangis. Rasanya sangat sakit ketika harus meninggalkan orang yang kita cintai. Tapi, Evelyn tahu, apabila dia tetap berkeras untuk mengharap Demon, berdiri disamping laki-laki itu, dia akan semakin bertambah sakit. Maka, jalan satu-satunya adalah pergi menjauh dari kehidupan Demon.
Melihat Evelyn kembali mengeluarkan airmata, Micky akhirnya merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Laki-laki itu memberikan kekuatan dan energi positif yang saat ini sangat dibutuhkan oleh Evelyn.
Kalau saja...
***
“Yo, kita bisa bicarain hal ini baik-baik!”
Frazio tertawa hambar dan makin mengetatkan cekikannya pada leher Ever dengan lengannya. Ever berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. Namun, perasaan takut itu malah mendominasi. Pikirannya kacau. Dia ingin menjerit. Ingin menangis. Dia ingin terbangun dari mimpi buruknya, kalau memang benar ini hanya sebuah mimpi.
Tiba-tiba saja, Dimas menerjang masuk. Laki-laki itu tersentak hebat ketika melihat sepupunya berada dalam cengkraman Frazio. Dimas mendekati Demon dan memasang sikap waspada. Laki-laki itu sedang berusaha membaca medan perang yang diciptakan oleh Frazio. Frazio saat ini sedang kalap. Dia lupa diri. Dia dibutakan oleh perasaannya sendiri. Dimas yakin, Frazio bisa melakukan apapun untuk membuat Ever dan Demon tidak bersatu.
“Yo...,” panggil Dimas tenang. Kontras dengan Demon yang saat ini sedang menatap Ever dengan cemas. “Kita bisa ngomongin hal ini baik-baik. Kekerasan kayak gitu nggak akan nyelesein masalah. Lo bisa nyakitin Ever. Lo nggak mau, kan, lihat orang yang lo cinta menderita?”
Frazio hanya kembali tertawa dan mulai menggoreskan pisau lipatnya ke pipi Ever, membuat gadis itu meringis. Demon maju perlahan, ingin menghajar Frazio yang telah membuat pipi gadis itu mengeluarkan darah, namun gerakannya ditahan oleh Dimas.
“Mas!” seru Demon tertahan. Laki-laki itu sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran Dimas. Bagaimana bisa Dimas bersikap tenang disaat Ever sedang berada dalam bahaya seperti ini?
“Calm down... dia lagi kehilangan akal sehatnya. Lo gegabah, Ever bakalan abis!”
Demon membeku di tempatnya. Perkataan Dimas barusan seakan menamparnya. Benar kata Dimas, dia harus lebih tenang menghadapi orang yang sedang kalap seperti Frazio. Dia gegabah sedikit saja, kemungkinan besar Ever akan celaka.
Ever tiba-tiba meringis kesakitan dan mengerang keras. Dia memegang kepalanya dengan kuat. Demon dan Dimas yang melihat itu hanya bisa menatap Ever dengan kecemasan yang membuncah.
Frazio mengerutkan kening dan langsung mengendurkan sedikit cekikannya pada leher Ever.
“Ev? Sayang... kamu kenapa?”
Ever masih mengerang keras. Kepalanya serasa dihantam batu besar. Sakitnya begitu menusuk. Gadis itu memejamkan kedua matanya kuat-kuat.
“Elo mau sampai kapan meluk gue kayak gitu?”
“Apa itu yang elo lakuin terhadap orang yang udah nolongin elo? Diam kayak patung tanpa ucapan terima kasih?”
“Makasih atas bantuannya.”
“Jangan ge-er! Jangan dikira gue sudi nolongin lo, nggak sama sekali! Gue kan udah peringatin ke elo, jangan pernah ganggu gue atau hidup lo gue bikin kayak di neraka—“
“T—tapi kan, gue gak ngegangggu elo. Gue kan gak tau kalau ini bakalan kejadian … kalau elo merasa terganggu, kenapa lo nolongin gue? Kenapa elo gak pergi aja, dan ngebiarin gue ‘diabisin’ sama berandalan itu?”
Ever merasa seperti sedang melihat potongan-potongan film dalam benaknya. Semuanya silih berganti dengan cepat. Percakapan itu... suasananya di malam hari... tiga orang laki-laki bertampang berantakan... seseorang yang sedang duduk diatas motor gedenya... dan... dirinya!
Tapi... siapa yang berada di atas motor gede itu?
“ARRRRGHHH!!!” teriak Ever kencang. Karena teriakan itu, Frazio jadi kehilangan konsentrasinya. Otomatis, Demon langsung mengambil kesempatan itu. Demon segera berlari menuju Ever, menarik gadis itu—yang langsung mendorong tubuhnya ke arah Dimas, dan menerjang Frazio.
Demon dan Frazio saling adu kekuatan masing-masing untuk memperebutkan pisau lipat yang massih berada di dalam genggaman Frazio. Sementara itu, Ever sudah mulai sedikit tenang. Ditatapnya perebutan pisau lipat yang sedang terjadi diantara Demon dan Frazio dengan tatapan lelah. Entah kenapa jantungnya berdegup keras. Begitu keras, sampai-sampai Ever merasa sebentar lagi Dimas yang berada disampingnya bisa ikut mendengarnya.
Ever merasa sesuatu yang tidak beres akan segera terjadi. Sesuatu yang beraura gelap. Sesuatu yang akan membuatnya merasa jatuh ke dasar kegelapan.
“ARRRGGGHHH!!!”
Rasa sakit itu kembali menyerang kepalanya tanpa ampun. Kali ini, Ever bahkan sampai terduduk karena tidak kuat menahan rasa sakit itu. Dimas yang khawatir langsung mengguncang bahu Ever dengan cemas.
“Ev?! Lo kenapa?!” seru Dimas cemas.
“Untuk kali ini saja, untuk hari ini saja … biarin gue meluk elo. Biarin gue ngerasin detak jantung lo dalam tubuh gue, Ever.”
“Just for now … stay close, don’t go!”
Kali ini, bayangan itu terlihat sangat jelas! Itu bayangan dirinya dan Demon di depan sebuah pantai, dan... berpelukan!
“De... mon...,” ucap Ever lirih. Dimas mengerutkan kening dan menatap sepupunya dengan cemas.
“Apa, Ev?”
Ever kini menatap Demon dengan tatapan penuh keyakinan.
“Demon....”
Dimas tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Ever, tetapi gadis itu tiba-tiba saja menangis ketika menatap Demon. Dimas mengikuti arah pandang Ever dan melihat Demon sedang menghajar Frazio dengan membabi-buta. Pisau lipat itu telah terlempar entah kemana.
Dan tiba-tiba saja, Ever semakin menangis. Dimas terperangah hebat. Keduanya membeku di tempat masing-masing. Memandang kegelapan yang tiba-tiba saja hadir di depan mereka berdua. Kegelapan yang selalu mendominasi. Kegelapan yang dengan santainya mengambil apapun yang berada di dekat mereka.
Dan kegelapan itu selalu memenangkan pertandingan.
Tommorow is a misery to me...
And it might be wonderful... it might be magical...
It might be everything i’m waiting for a miracle...
And even if i fall in love again with someone new...
It can’t never be the way i loved you...
(Selena Gomez-The Way I Loved You)
***
Mobil polisi berjejer rapih di depan rumah sakit ini. Beberapa polisi bahkan berjaga-jaga didalam rumah sakit untuk memastikan bahwa keadaan baik-baik saja. Dua orang berseragam cokelat itu melangkah menuju kamar Ever, mengetuk pintunya pelan dan masuk setelah mendengar suara seseorang yang mempersilahkan keduanya masuk.
Titan berdiri didekat Ever seraya merangkul pundak gadis itu. Dimas duduk disalah satu kursi yang tersedia, ditemani oleh Regina. Kedua orangtua Ever hanya bisa menatap anak gadis mereka dengan nanar. Sama sekali tidak tahu harus berbuat apa melihat Ever harus mengalami cobaan secara bertubi-tubi. Senyum riang dan hangat yang selama ini selalu terpancar dari bibir gadis itu lenyap seketika. Bergantikan dengan wajah kelam dan tatapan kosong. Airmata masih mengalir di wajah gadis itu namun tidak seperti sebelumnya. Isak tangisnya bahkan sudah tidak terdengar lagi. Micky tidak ada disana karena harus mengantar Evelyn ke Solo. Laki-laki itu hanya menitip salam untuk sepupunya yang sangat disayanginya itu.
“Nona Ever, bisa kami mengajukan beberapa pertanyaan?”
Ever hanya diam. Matanya menatap kedua polisi itu dengan tatapan tidak terfokus. Nanar. Kosong. Seperti kehilangan arah. Mulutnya berkomat-kamit, seperti menggumamkan sesuatu namun tidak bisa didengar oleh siapapun. Kedua polisi itu saling pandang dan menghembuskan napas berat.
“Nona Ever, bisa Anda ceritakan bagaimana kronologis kejadian yang baru saja Anda alami?” tanya salah satu dari dua polisi tersebut.
Masih diam. Ever masih tetap diam, tidak mengeluarkan satu patah katapun. Hal tersebut membuat mama Ever menangis dan dipeluk dengan kuat oleh suaminya. Titan sendiri membiarkan airmatanya mengalir turun membasahi pipinya. Sebelah tangannya yang merangkul pundak Ever, meremas pundak itu dengan kuat, seakan mengalirkan semua kekuatan yang dimiliki oleh Titan.
“Ev...,” panggil Dimas. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Ever. Kemudian, Dimas memasang tubuhnya di depan tubuh Ever, menatap wajah kelam gadis itu, menggenggam sebelah tangan gadis itu. Ever masih diam. Matanya tidak berhenti mengeluarkan airmata. Namun sorot matanya menyiratkan kekosongan.
“Ev....”
“Demon....”
Dimas dan Titan tersentak dan saling pandang. Ever menyebutkan nama Demon dengan suara yang sangat pelan dan terdengar lirih.
“Demon....”
Lagi. Gadis itu kembali menyebutkan nama Demon. Seperti Demon sedang berada di depannya.
“Ev....” Dimas menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, memaksa Ever untuk menatap kedalam matanya. “Lihat gue!”
Ever memang mendongak. Ever memang menatap kedua mata Dimas sekarang. Tapi, gadis itu benar-benar seperti mayat hidup. Tidak bergerak. Tidak menatap dengan fokus. Hanya terus menyebutkan nama Demon dengan lirih. Membuat Titan dan Regina harus mati-matian menahan isak tangis mereka agar tidak tumpah keluar, meskipun airmata mereka sudah mengalir sejak tadi.
“Ev... Demon pasti baik-baik saja. Dia kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua!” Dimas bisa merasakan nada suaranya sendiri gemetar. Karena, sejujurnya saja, dia sendiri meragukan ucapannya itu.
“Demon....”
Dimas menghela napas panjang dan menarik tubuh Ever kedalam pelukannya. Tanpa disangka, Ever justru semakin menangis. Menangis yang benar-benar menangis. Tubuhnya gemetar hebat. Tubuhnya terasa dingin didalam pelukan Dimas. Isakannya menggema diseluruh ruangan. Tangisannya begitu pilu, membuat orang-orang yang ada dalam ruangan itu menatap Ever iba dan kasihan. Begitu juga dengan kedua orang polisi itu.
“Kami sudah menangkap Frazio dan akan segera melakukan proses sesuai dengan prosedur. Kami hanya berharap bisa mendapatkan sedikit keterangan dan kesaksian dari Nona Ever. Kalau begitu, kami akan kembali lagi kesini. Kami turut menyesal dengan apa yang terjadi pada Tuan Demon.”
Selesai berkata demikian, kedua polisi itu memberi sedikit hormat pada semua yang berada dalam ruangan dan perlahan pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah mantap.
Dimas rasanya ingin sekali menghabisi Frazio detik ini juga. Tapi, dia sudah berada dalam pengawasan polisi. Biarlah para polisi itu yang akan mengadili Frazio. Dimas hanya berharap bahwa Frazio bisa mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Bahkan kalau perlu, hukuman penjara seumur hidupnya!
“EVER!”
Dimas tidak melepaskan pegangannya pada tubuh Ever, ketika tiba-tiba dia merasakan tubuh gadis itu melunglai. Ever pingsan. Gadis itu sepertinya tidak bisa menahan semua yang tengah dialaminya itu. Dengan sigap, Dimas langsung mengangkat tubuh Ever dan membawa gadis itu ke ranjang. Kemudian, Dimas menyelimutinya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Gimana sama Demon?” tanya Regina dan Titan hampir bersamaan, ketika Dimas menjauh dari Ever dan membiarkan kedua orangtua gadis itu berada disisi Ever.
Dimas menatap kedua gadis itu dengan tatapan lelah dan mendesah. Laki-laki itu memijat-mijat pelipisnya dan menggeleng pelan.
“Jatuh dari ketinggian seperti itu, bukan sesuatu yang bisa membuatnya cepat sadar. Beruntung gue sempat melihat Demon berlari ke arah atap gedung di lantai tiga. Gue sempat menelepon polisi dan meminta mereka untuk membawa alat pengaman. Menyuruh mereka untuk meletakan alat pengaman itu dibawah, didepan rumah sakit, tepat dibawah atap gedung. Kalau nggak... gue bahkan nggak tau apakah dia masih bisa bertahan saat ini.”
Regina dan Titan menutup mulut mereka dengan sebelah tangan. Dimas menatap Ever yang masih terbaring lemah di ranjangnya dengan tatapan sedih.
“Hanya Tuhan yang tau, kapan Demon bisa sadar... hanya Tuhan yang tau, apakah skenario yang dimainkan oleh Demon dan Ever bisa berakhir bahagia.”
***
Demon dan Frazio melakukan perebutan pisau lipat itu tepat ditepi atap gedung rumah sakit. Tempat yang sangat berbahaya. Entah kapan pisau itu terlempar dari genggaman Frazio. Yang jelas, Demon berhasil menguasai keadaan. Dia menghajar Frazio habis-habisan. Tapi, tiba-tiba saja keadaan berubah. Demon kehilangan konsentrasinya, membuat Frazio menghajarnya dan mendorong tubuh Demon hingga terjatuh. Terjatuh dari lantai tiga.
Ever hanya bisa menangis melihat kejadian itu sedangkan Dimas terperangah. Membiarkan kegelapan mendominasi keduanya. Dimas bahkan membiarkan Frazio lari keluar. Tapi usaha Frazio untuk melarikan diri gagal, karena di depan pintu sudah berdiri beberapa polisi dna langsung meringkus laki-laki itu.
Ever bahkan hanya diam, tidak bergerak sama sekali, ketika melihat para petugas medis membawa tubuh Demon yang tak berdaya ke UGD. Kepala Demon mengeluarkan darah. Dari hidung dan mulutnya juga. Matanya terpejam.
Begitu Demon masuk UGD, Ever menjatuhkan tubuhnya begitu saja dilantai. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis hebat dibaliknya. Membiarkan Dimas memeluknya erat. Mendengarkan ucapan Dimas yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Demon akan baik-baik saja. Walaupun ucapan Dimas terdengar tidak yakin ditelinga Ever.
Demon masih belum sadarkan diri sampai sore ini. Begitu juga dengan Ever yang masih pingsan. Gadis itu sepertinya mengalami tekanan yang begitu hebat. Dia benar-benar menderita. Baru saja dia sadar dari komanya. Baru saja dia mengingat kembali semuanya, kini dia harus melihat dan mengetahui bahwa Demon terbaring tak berdaya didalam ICU karena dirinya. Demon memang sudah dipindahkan dari ruang UGD kedalam ruang ICU.
Dimas melangkah pelan menuju ruang ICU. Dia bisa melihat tubuh Demon yang diberi alat-alat medis untuk membantunya tetap bertahan hidup. Slang oksigen terpasang di hidungnya. Alat monitor disamping ranjang Demon memperlihatkan garis hijau tidak beraturan yang menandakan jantung Demon masih berdetak. Kepala Demon diperban. Ada bekas noda darah disana. Kaki kanan dan tangan kanan Demon diberi gips. Dimas menghela napas melihat keadaan teman kecilnya itu.
“Hai, Mon...,” sapa Dimas lirih. Laki-laki itu tersenyum tipis dan menarik kursi disamping ranjang Demon untuk kemudian menjatuhkan tubuhnya disana. Dimas menatap Demon dengan tatapan lelah.
“Mon, lo itu b**o, tau, nggak?”
Tidak ada sahutan. Tidak ada reaksi. Yang ada hanyalah bunyi dari alat monitor tersebut. Membuat Dimas bergidik dan merinding. Bagaimana kalau tiba-tiba bunyi disana berubah menjadi melengking? Kemudian garis tidak beraturan itu berubah menjadi garis lurus? Astaga! Membayangkannya saja sudah membuat Dimas dicekam ketakutan.
“Kenapa, sih, lo harus kalah gitu dari Frazio? Gue tau sekarang dia udah di penjara, tapi gue yakin kalau dia lagi tertawa senang disana karena melihat kekalahan lo disini.”
Dimas menatap getir sosok Demon.
“Mon... lo sayang, kan, sama Ever? Lo tega liat dia menderita? Nangis terus karena lo? Dia kehilangan arah, Mon. Dia tersesat. Dia menemui jalan buntu. Dia dikurung dalam kegelapan. Dia ditelan kekosongan. Cuma lo. Cuma elo yang bisa membantu dia keluar dari itu semua. Dia cinta sama lo dan lo cinta sama dia. Please, Mon, gue mohon lo buka mata lo. Jangan lo siksa dia lagi....”
Dimas menundukkan kepala. Menangis dalam diam. Menangisi semua yang sudah terjadi. Untuk Demon. Untuk Ever. Untuk semuanya. Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, dia bisa melihat sesuatu yang berkilauan di wajah Demon. Sesuatu yang tertempa oleh sinar terang yang ada dalam ruangan ICU ini.
Demon menangis!
***