Demon memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Begitu pergelangan tangannya merasakan dinginnya ujung pisau yang menyentuh nadinya tersebut, mendadak, gerakannya terhenti. Demon tersentak dan membuka kedua matanya. Dan apa yang dilihat Demon sama sekali tidak disangka oleh laki-laki itu. Demon bahkan harus mengerjapkan kedua matanya agar yakin seratus persen, bahwa apa yang tengah dilihatnya ini bukanlah sebuah halusinasi belaka. Bahwa apa yang sedang menahan dan mencengkram pergelangan tangannya sekarang ini bukanlah sebuah mimpi belaka. Bahwa ini... memanglah kenyataan.
“Ev... er?” Demon bahkan bisa mendengar suaranya sendiri bergetar dan terbata di kedua telinganya.
Ever sadar!
Gadis itu sudah sadar!
Dan sekarang, gadis itu memegang tangannya. Menatap kedua matanya. Menyelami dunianya. Memberikan kembali cahaya yang sempat meredup.
“Lo... mau... ngapain... Mon?” tanya Ever dengan suara pelan dan terengah. Sejujurnya, Ever sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia sudah berada di dalam tubuhnya kembali. Yang jelas, ketika dia sedang bersama Izzy dan Ivan, menyaksikan bagaimana Demon akan mengiris pergelangan tangannya sendiri, Ever berteriak menyerukan nama laki-laki itu dengan keras. Dan detik berikutnya, dia sudah berada dalam tubuhnya, membuka kedua matanya, menahan gerakan Demon, hingga akhirnya, ujung pisau itu belum sempat mengiris nadi Demon.
Demon terdiam. Dia sebenarnya berniat untuk mengakhiri hidupnya. Berharap dengan demikian, Tuhan akan menukar nyawanya dengan nyawa Ever. Berharap dengan demikian, Ever bisa kembali sadar. Meskipun Demon harus meregang nyawa. Meskipun Demon harus meninggal. Asal Ever bisa kembali sadar dan bangun dari komanya.
“Lo... mau... bunuh... diri... Mon?” tanya Ever lagi. Napasnya kini mulai teratur. Demon bisa melihat kedua mata gadis itu berkaca. Demon menghembuskan napas berat dan mengangguk. Tiba-tiba, Ever mengambil pisau yang masih dipegang oleh Demon dan melemparnya ke arah pintu.
“Lo....”
“Ssst... Ev, lo baru sadar. Biar gue panggilin dokter, ya?” potong Demon langsung. Begitu Demon membalikkan tubuhnya, berniat untuk keluar ruangan dan memanggil dokter, Ever langsung mencegah laki-laki itu dengan kembali menahan lengannya.
“Nggak... usah...,” ucap gadis itu pelan. Ever memejamkan kedua matanya, menarik napas panjang dan kembali membuka matanya. “Gue cuma butuh lo. Gue cuma mau lo ada disini. Bukan dokter... bukan Dimas... bukan siapapun juga. Cuma lo....”
Demon tersenyum kecil. Dalam hati, dia menghembuskan napas lega. Dia yakin bahwa semua sudah kembali seperti biasanya. Dia yakin bahwa Ever juga mencintainya, seperti dia mencintai gadis itu. Kalau Ever tidak mencintainya, gadis itu tidak akan memintanya untuk tetap di ruangan ini dan menemaninya, bukan?
Demon perlahan melangkah menuju tempat tidur Ever. Laki-laki itu duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut Ever dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ever sendiri memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lembut Demon di rambutnya. Kemudian, sebuah kecupan hangat mendarat di kening Ever.
Di kejauhan, Izzy dan Ivan menyaksikan kejadian tersebut dengan senyum bahagia. Keduanya saling menggenggam tangan masing-masing, dan mulai menghilang dari ruangan tersebut.
Bukankah semua harus mengalami suatu masalah, agar bisa belajar menjadi dewasa?
***
Meskipun sudah larut malam, Frazio langsung menuju rumah sakit tempat Ever dirawat, ketika dia mendengar kabar mengenai kecelakaan Ever melalui Titan. Frazio langsung menuju kamar inap Ever, setelah dia bertanya kepada suster yang bertugas menjaga meja informasi dan sempat dimaki oleh suster tersebut karena waktu berkunjung telah habis. Namun, karena alasan yang dikemukakan oleh Frazio, suster tersebut memberi izin dan memperbolehkan Frazio menjenguk gadis itu.
Begitu sampai di tempat yang dituju, Frazio langsung membuka pintu kamar inap itu perlahan. Frazio membelalakkan matanya, ketika melihat Demon tidur disamping ranjang Ever dengan tangan laki-laki itu menggenggam erat tangan Ever. Seolah mereka enggan untuk terpisahkan. Frazio mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.
“Sialan!” desis Frazio geram. Laki-laki itu berniat menghampiri Demon dan melempar Demon keluar dari ruangan ini, ketika sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. Frazio menoleh dan mendapati Dimas tengah menatapnya dengan alis terangkat satu.
“Dimas?”
Dimas mengisyaratkan Frazio untuk mengikutinya keluar. Dengan berat hati, Frazio mengikuti saudara sepupu Ever itu, setelah sebelumnya menatap tajam tangan Demon yang menggenggam tangan Ever.
“Lo ngapain malam-malam begini datang ke rumah sakit?”
Frazio tidak langsung menjawab. Laki-laki itu menghela napas panjang dan menatap langit hitam diluar sana melalui kaca jendela yang berada tepat di depannya.
“Gue baru tahu dari Titan kalau Ever kecelakaan.”
Dimas mengangguk dan ikut menatap keluar jendela. Dia baru saja mengantar Regina untuk beristirahat di sebuah musholla yang berada di rumah sakit tersebut.
“Dia nolongin Demon yang hampir ketabrak mobil.”
“APA?!”
Dimas menghela napas dan mengangguk lagi. “Kata anak-anak di sekolah waktu itu, Demon mau nyebrang jalan. Terus, dia nggak tahu kalau dari arah berlawanan ada mobil melaju dengan kencang. Ever yang kebetulan ada disitu langsung ngedorong Demon dan mengorbankan dirinya sendiri.”
“b*****t! Biar gue habisin dia sekarang juga!”
Baru saja Frazio berniat menghampiri Demon yang sedang tertidur di kamar Ever, Dimas langsung mencekal lengan Frazio. Frazio menoleh dan mengerutkan kening. Sejujurnya, dia heran, kenapa Dimas masih mengizinkan Demon untuk tetap bersama Ever, setelah apa yang terjadi pada gadis itu.
“Biarin mereka, Yo....”
“Mas! Lo nggak marah ngeliat sepupu lo dijagain sama si b******k itu?!”
Dimas kembali menghela napas. Dia melepaskan cekalannya pada lengan Frazio dan menatap laki-laki itu tepat di manik mata.
“Ever sempat kehilangan detak jantungnya. Saat Demon berada di dalam ruangan gadis itu. Untungnya, dokter masih bisa menyelamatkan nyawa Ever, meskipun akhirnya dia harus koma.”
“Dan lo masih ngebiarin dia berada satu ruangan sama Ever? Demon itu pembawa sial, Mas! Dia itu iblis!”
Dimas masih tetap menatap mata Frazio di manik mata laki-laki itu.
“Gue juga sempat marah sama Demon. Gue hajar dia dan dia nggak ngelawan sama sekali. Dia malah semakin terpuruk. Dia putus asa. Dia kehilangan arah. Dan gue nggak sepenuhnya nyalahin Demon atas ini semua. Biar bagaimanapun juga, Demon lah yang sudah membuat Ever sadar dari komanya, tadi. Dokter juga heran sekaligus takjub karena Ever hanya mengalami koma kurang dari dua puluh empat jam.
“Entah apa yang Demon lakukan saat itu. Yang jelas, ketika Demon masuk ke dalam kamar Ever, tiba-tiba saja, Ever sadar. Dia bangun dari komanya. Dia berangsur-angsur membaik. Bahkan, Ever yang meminta gue untuk mengizinkan Demon tidur disampingnya. Gue bisa apa? Gue cuma ingin yang terbaik bagi Ever. Gue cuma ingin sepupu gue senang dan bahagia. Karenanya, gue izinkan Demon berada di kamar inap Ever dan tidur di samping gadis itu.”
Frazio tidak bisa mengendalikan rasa cemburu yang mulai terbit dalam dirinya. Harusnya, dia yang berada di samping Ever, bukan Demon. Harusnya, dia yang pertama kali dilihat Ever ketika gadis itu siuman, bukan Demon. Frazio mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, sampai kedua buku-buku tangannya memutih.
“Sepertinya, Ever dan Demon memang benar-benar saling mencintai, Yo... gue harap, lo bisa nerima hal itu. Karena, Ever pernah bilang sama gue. Hari dimana dia bilang kalau dia cinta sama lo, itu cuma kepalsuan belaka. Cuma pura-pura, supaya Demon menjauh darinya. Karena, Ever sama sekali tidak ingin menyakiti hati gadis yang bernama Evelyn itu.”
“Apa... apa Ever sudah mengingat semuanya secara utuh?”
Ketika melihat Dimas terdiam, Frazio melanjutkan. “Lo belum tahu kalau Ever menderita Retrograde amnesia?”
“Oh... soal itu. Ya, gue udah tahu. Ever sudah cerita semuanya. Tapi, kata dokter yang menangani dia, Ever masih menderita amnesia sialan itu. Jadi, dia belum ingat secara utuh.”
Frazio hanya menyeringai. Perlahan, seulas senyum tercetak di bibirnya. Matanya menerawang jauh, memandangi tetesan hujan. Sesekali, petir menyambar dengan kerasnya.
“Maaf, Yo, gue mau lihat keadaan Regina dulu. Dia paling takut sama yang namanya petir.”
Frazio hanya mengangguk dan mempersilahkan Dimas untuk pergi melihat keadaan Regina. Sepeninggal Dimas, Frazio hanya berdiri dalam diam, masih dengan seringai dan senyuman yang sama.
“Well... gue akan rebut dia dengan cara gue sendiri. Gue nggak akan ngebiarin lo sama Ever bersatu, Mon. Kalau gue nggak bisa milikin Ever, maka nggak akan ada orang lain yang bisa milikin dia, termasuk lo, Demon! Meskipun itu artinya, gue harus ngebunuh gadis yang gue cintai.”
***
Ever membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membuat gadis itu menyipitkan matanya dan tersenyum kecil. Dia senang karena sudah bisa menghirup udara bebas lagi.
Ever menoleh ketika merasakan sesuatu yang berat menindih lengannya. Gadis itu makin tersenyum ketika mendapati sosok Demon sedang tertidur pulas di sampingnya. Tidurnya begitu tenang dan damai. Wajahnya sepolos bayi yang sedang terlelap. Perlahan, jemarin Ever mulai menyentuh rambut Demon.
“Lo udah terlalu banyak menderita, Mon. Dan semuanya karena gue. Maaf karena gue bikin lo tersiksa seperti sekarang.”
Demon menggeliat kecil dalam tidurnya. Laki-laki itu kemudian membuka kedua matanya dan melihat Ever tengah tersenyum ke arahnya. Melihat senyuman gadis itu, Demon langsung bersemangat dan ikut tersenyum. Dieratkannya genggaman tangannya pada tangan Ever.
“Pagi...,” sapa Demon lembut. Laki-laki itu mencium kening Ever dan mengusap rambut gadis itu pelan. “Gimana tidurnya? Nyenyak?”
Ever mengangguk. Tentu saja gadis itu bisa tidur nyenyak semalam, karena Demon menjaganya sepanjang malam. Gadis itu kemudian menyuruh Demon untuk mendekat dan detik itu juga, Ever mendaratkan bibirnya di pipi Demon.
Demon hanya bisa tertegun dan memegang sebelah pipinya. Matanya menatap mata Ever lekat-lekat. Ever hanya tertawa pelan ketika melihat ekspresi laki-laki itu.
“Ucapan terima kasih gue karena lo udah mau ngejagain gue sepanjang malam tadi,” kata Ever. Demon tersenyum dan mengangguk.
Tiba-tiba, pintu kamar Ever diketuk. Seorang petugas rumah sakit, dengan pakaian yang serba putih masuk ke dalam ruangan. Mulutnya ditutupi masker berwarna hijau dan dia membawa beberapa peralatan rumah sakit, seperti alat untuk mengukur tensi darah, stetoskop dan alat suntik.
“Maaf, nona Ever harus diperiksa.” Petugas rumah sakit itu berkata dengan nada pelan. Demon menoleh ke arah Ever dan gadis itu mengangguk.
“Lo sarapan aja, dulu. Nanti, kalau udah selesai sarapan, baru lo kesini lagi.”
Demon mengangguk patuh dan mencium kening gadis itu lagi, sebelum dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ketika Demon melewati petugas rumah sakit itu, ada sedikit perasaan aneh mampir di hatinya. Matanya menatap waspada pada setiap gerak-gerik si petugas tersebut. Anehnya, petugas itu juga menatap waspada ke arah Demon. Demon bisa merasakan hal tersebut.
Setelah ini, lo akan kehilangan dia.
Suara itu terdengar di kedua telinga Demon. Suara-suara yang selalu menghantui pendengarannya, jika menyangkut keadaan Ever. Selalu seperti itu. Seolah-olah, Demon memiliki ikatan batin dengan Ever. Seolah-olah, suara-suara itu ingin memberinya peringatan tentang sesuatu hal yang akan menimpa gadis itu.
Demon berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya jauh-jauh. Laki-laki itu lantas tersenyum tipis, yang dibalas dengan anggukan kepala dari petugas rumah sakit tersebut. Sebelum benar-benar keluar dari kamar Ever, Demon menoleh dan tersenyum. Laki-laki itu mengangkat sebelah tangannya dan berkata, “I’ll see you around....”
Ever mengangguk dan balas tersenyum. Ketika Demon menghilang dari pandangannya, Ever merasa degup jantungnya mulai tidak terkendali. Ada sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi padanya. Ever bisa merasakan firasat buruk itu. Dan, firasat itu menjadi kenyataan, ketika si petugas melepas masker yang menutupi mulutnya dan menyeringai ke arahnya.
“Halo, Evera Gracia....”
***
“Maaf soal kemarin, Mon....”
Demon tersenyum dan mengangguk. Laki-laki itu menyantap bubur ayam pesanannya sambil memandang Dimas yang hanya memesan secangkir kopi. Regina sudah pulang ke rumah pagi-pagi sekali dengan diantar oleh Dimas. Setelah mengantar saudara kembarnya itu, Dimas kembali lagi ke rumah sakit dan meminta Regina untuk menyampaikan kepada wali kelas mereka bahwa hari ini, dirinya dan Demon tidak bisa hadir ke sekolah.
“Biasa aja, kali, Mas. Gue juga kalau berada di posisi lo akan melakukan hal yang sama,” balas Demon. Dimas mengangguk dan menghela napas.
“Apa yang lo lakuin sampai Ever bisa sadar dari komanya?”
Demon berhenti menyantap makanannya dan duduk bertopang dagu. Matanya menerawang jauh. Pikirannya melayang ke kejadian semalam.
“Gue juga nggak tahu, Mas. Yang jelas, begitu gue berniat untuk mengiris pergelangan tangan gue, Ever sadar dan langsung menahan gue.”
Dimas membeku di tempatnya. Laki-laki itu menatap Demon dengan tatapan tidak percaya.
“Elo mau bunuh diri?!” serunya tertahan. Demon tersenyum kecil dan mengangguk.
“Lo udah gila?!”
Demon menghembuskan napas panjang. “Gue cuma berpikir, mungkin dengan cara gue melakukan hal itu, Ever bisa sadar dari komanya. Mungkin, dengan gue bunuh diri, Tuhan mau menukar nyawa gue dengan nyawa gadis itu. Gue cuma mau Ever sadar, itu aja.”
“Tapi, bukan begitu caranya! Lo pikir, ini cerita tentang Romeo dan Juliet, Mon? Ini realita, dunia nyata! Nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan cerita roman picisan itu!”
“Gue tau... tapi, seenggaknya itulah yang gue pikirin saat itu. Gue cuma berharap, dengan kematian gue, Tuhan bersedia buat menukar nyawa gue dengan nyawa Ever.”
Hening.
Baik Dimas maupun Demon sama-sama tidak ada yang membuka suara. Kedua laki-laki itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
“Lo... lo sebegitu cintanya sama sepupu gue, Mon?”
Suara Dimas yang terdengar pelan dan jauh ditelinga Demon membuat Demon kembali ke kenyataan. Laki-laki itu menatap Dimas tepat di manik mata laki-laki itu. Dimas menyadari bahwa Demon sedang memberikan jawaban dari pertanyaannya barusan melalui tatapan mata laki-laki itu.
“Gue cinta dia... sangat mencintai dia, melebihi nyawa gue sendiri.”
You’re the voice i hear inside my head, the reason that i’m singing...
I need to find you... i gotta find you...
You’re the missing piece i need... the song inside of me...
I need to find you... i gotta find you...
Been feeling lost, can’t find the words to say...
Spending all my time, stuck in yesterday...
Where you are, is where i wanna be...
Ooh, i’m next to you, and you next to me...
(Joe Jonas-I Gotta Find You)
***
Demon dan Dimas masuk ke dalam kamar inap Ever sambil mengobrol. Begitu pintu ruangan itu terbuka, kedua laki-laki itu langsung membeku di tempat mereka berdiri. Ranjang Ever masih seperti saat Demon meninggalkan ruangan itu. Namun, gadis itu sudah tidak ada disana! Selimutnya jatuh ke lantai. Meja kecil disamping ranjang Ever terdorong beberapa langkah, seakan memberitahu Dimas dan Demon bahwa Ever sempat melakukan perlawanan, kepada siapapun yang mencoba membawanya pergi dari ruangan ini.
Dimas langsung melangkah ke arah ranjang Ever dan menatap tempat tidur yang sudah berantakan itu. Dengan gusar, Dimas menekan bel untuk memanggil suster jaga. Tak berapa lama, si suster masuk dan tercengang begitu melihat keadaan kamar inap Ever yang sudah berantakan.
“Ini... ada apa?” tanya si suster dengan nada terbata. Dimas menatap tajam si suster, yang langsung mengkeret ketakutan.
“ADA APA?!” seru Dimas penuh emosi. “Harusnya saya yang tanya ke suster, kemana menghilangnya sepupu saya?! Kenapa kamarnya bisa berantakan seperti ini?! Kemana dia?!”
Suster tersebut menelan ludah susah payah. Dia benar-benar ketakutan melihat Dimas yang meledak-ledak akibat amarah yang mulai terbit dalam diri laki-laki itu. Sementara itu, Demon berdiri diam di ambang pintu. Pikirannya melayang kepada Ever. Siapa yang membawa gadis itu? Dimana gadis itu sekarang? Apa yang sedang terjadi.
Kali ini... sebelum semuanya terlambat... cepat cari dia... atau lo akan kehilangan dia untuk selamanya...
Lagi. Suara-suara itu kembali terdengar dalam telinganya. Membuatnya frustasi. Dia tidak lagi memusingkan kegusaran Dimas pada suster yang berdiri di hadapan laki-laki itu. Demon berusaha mencerna semua yang terjadi.
Tadi pagi. Petugas rumah sakit itu. Petugas... PETUGAS?!
Demon langsung menghampiri suster yang terbilang masih muda itu dan mencengkram lengannya. Sang suster meringis dan menatap Demon dengan kening berkerut. Demon menatap tajam sang suster, sementara Dimas terkejut dengan perubahan sikap Demon itu.
“Apa di rumah sakit ini ada petugas yang memakai masker berwarna hijau?!” desis Demon geram. Sang suster berusaha mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, suster tersebut menggeleng.
“Yakin?!”
Sang suster mengangguk takut-takut. Demon melepaskan cengkraman tangannya pada lengan suster tersebut dan menatap Dimas dengan kalut.
“Apa... Frazio datang ke rumah sakit ini kemarin?”
Dimas mengangguk pelan. Ketika dia akan membuka mulut untuk menanyakan apa maksud pertanyaan Demon, laki-laki itu telah lebih dulu bersuara.
“Frazio! Frazio yang udah nyulik Ever dengan cara berpura-pura menjadi seorang petugas rumah sakit tadi pagi!”
Dimas membeku di tempat.
***
Ever menatap wajah Frazio dengan ketakutan yang memuncak. Laki-laki itu baru saja mengancamnya. Frazio mengancam akan membunuh Demon kalau Ever tidak mengikuti kemauannya. Mendengar ancaman itu dan sadar bahwa Frazio tidak main-main dengan ucapannya, Ever bersikap kooperatif dan mengikuti permainan Frazio. Gadis itu sebenarnya sempat melawan Frazio, namun dia tidak cukup kuat untuk memenangkan perlawanan tersebut. Maka, ketika Frazio menyuruhnya untuk pergi dengannya ke atap rumah sakit ini, Ever menyetujuinya. Supaya Frazio tidak menyakiti Demon, seperti ancamannya itu.
“Pemandangan dari sini bagus, ya, Ev?”
Ever tersentak ketika mendengar suara dingin Frazio. Laki-laki itu kemudian menoleh dan tersenyum kepada Ever yang sedang berdiri di sampingnya. Itu pun karena Frazio mencekal pergelangan tangannya dengan keras.
“Lo nggak suka? Kenapa diam aja?” tanya Frazio lagi. Masih dengan suara berbahaya yang sama. Seringai di wajah Frazio bahkan begitu menakutkan di mata Ever.
“Lo tau nggak sih, kalau gue itu cinta banget sama lo? Kenapa lo malah memilih cowok k*****t itu?”
Lagi-lagi, Ever tidak menjawab. Gadis itu hanya diam dan membalas tatapan yang dilayangkan Frazio padanya.
“KALAU GUE TANYA ITU HARUS DIJAWAB! LO PUNYA MULUT, KAN?!”
Ever menelan ludah susah payah. Walaupun dirinya sangat takut, dia tidak boleh menunjukkan ketakutannya itu di depan Frazio. Bisa-bisa, laki-laki itu merasa di atas angin.
“Perasaan itu nggak bisa dipaksa, Yo...,” balas Ever tenang.
Frazio mendengus dan tertawa hambar. Benar-benar terdengar hambar dan datar di kedua telinga Ever. Tiba-tiba saja, cekalan di pergelangan tangan Ever berganti menjadi cengkraman di kedua bahu gadis itu. Frazio mengguncang-guncang tubuh Ever, hingga gadis itu meringis kesakitan.
“APA BAGUSNYA SIH, COWOK MODEL DEMON ITU?! HAH?!”
Ever berusaha menahan sakit di tubuhnya, namun gadis itu tidak bisa. “Yo... sakit...,” lirih Ever. Mendengar rintihan Ever, Frazio justru tertawa keras.
“SAKIT?! LO BILANG, SAKIT?!” teriak Frazio menggelegar. “BIAR GUE KASIH TAHU KE LO DEFINISI SAKIT ITU SEPERTI APA, EV! DEFINISI SAKIT YANG SEBENARNYA ITU ADALAH KETIKA GUE MENCINTAI LO, TAPI LO JUSTRU MENCINTAI SI b******k ITU!”
Ever semakin meringis ketika rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi. “Yo... lepasin gue... sakit....”
Frazio mencibir dan tersenyum miring. Tiba-tiba, laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ever terbelalak ketika melihat benda yang dikeluarkan oleh laki-laki itu. Sebuah pisau!
“Takut, Ev?” tanya Frazio. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat wajah pucat Ever. Ever menatap benda tajam itu dengan perasaan campur aduk. Dia harus melakukan sesuatu agar bisa keluar dari tempat ini!
***
Demon mencari ke setiap sudut rumah sakit. Laki-laki itu menggeram kesal ketika tidak menemukan keberadaan Ever dimanapun. Demon sampai meninju dinding di sebelahnya berulang-ulang, hingga buku tangannya memerah. Dimas yang melihat itu langsung menahan Demon, ketika dia melihat Demon siap untuk meninju dinding itu lagi.
“Tenang, Mon. Kita harus nyari Ever dengan kepala dingin. Jangan emosi.”
Demon berusaha mengendalikan deru napasnya yang memburu. Laki-laki itu kemudian menatap Dimas tepat di manik mata.
“Gue bersumpah, Mas... kalau sampai Ever kenapa-napa karena ulah Frazio, gue akan bunuh dia dengan tangan gue sendiri! Gue nggak akan lepasin dia sampai gue lihat darah dia mengalir di tangan gue!”
Seketika, Dimas terperengah ketika melihat raut wajah Demon yang berbeda dari biasanya. Raut wajah Demon seakan dikelilingi oleh aura gelap.
Angin... ikuti hembusan angin... angin akan membawa lo ke tempat yang paling disukainya. Tempat yang akan jadi tempat pertemuan terakhir kalian...
Demon terkesiap ketika mendengar bisikan itu lagi. Laki-laki itu mengerutkan kening. Angin? Ke tempat hembusan angin?
Mendadak, Demon ingat kejadian ketika Ever mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Kecelakaan yang membuatnya amnesia. Dia pernah menemukan Ever tengah berdiri di atap gedung rumah sakit. Mungkinkah... mungkinkah sekarang Ever ada di atap gedung?
“Demon! Lo mau kemana?!” seru Dimas, ketika dia melihat Demon langsung melesat menuju tangga darurat. Demon tidak menjawab. Laki-laki itu terus berlari dan berharap, semoga di tempat itu, dia bisa menemukan sosok Ever.
Ev... tunggu gue!
***
Ever berusaha untuk mundur dan menjauhkan diri dari Frazio. Hal yang sia-sia, mengingat laki-laki itu mencekalnya. Frazio tersenyum sinis ke arah gadis itu. Laki-laki itu kemudian mengacungkan pisau itu ke wajah mulus Ever. Ever setengah mati melawan rasa takutnya, ketika ujung pisau itu diusapkan Frazio ke arahnya.
“Ev... gue benar-benar cinta sama lo. Apa lo nggak bisa ngerasain hal itu?”
Ever tetap bungkam. Gadis itu menatap wajah Frazio yang mendadak seperti seorang iblis tak berperasaan. Sangat berbeda dengan Frazio yang kemarin dikenalnya di sekolah.
“Kalau gue nggak bisa milikin lo, maka nggak akan ada orang lain yang bisa milikin lo, termasuk Demon!”
Ever dan Frazio terkejut dan sama-sama menoleh ke arah pintu, ketika mereka mendengar suara debaman keras. Dari balik pintu, muncul sosok Demon yang sedang berusaha mengatur napas karena berlari menuju atap gedung rumah sakit ini. Demon menatap tajam Frazio tepat di manik mata.
“Hai, Mon....” Frazio menyeringai sinis pada Demon. Laki-laki itu kemudian menarik Ever ke dalam pelukannya dan melingkarkan lengannya ke leher gadis itu, mengarahkan pisau tajam itu ke leher Ever. Ever menatap Demon dengan tatapan meminta maaf. “Lo emang paling peka kalau udah menyangkut keselamatan Ever, ya,” lanjut Frazio.
“Yo... ini murni masalah antara lo sama gue. Lepasin Ever!” seru Demon keras. Mendengar itu, Frazio malah tertawa.
“Ini juga menyangkut Ever, kali! Gue nggak sudi dan nggak akan pernah rela kalau ngeliat lo bersatu sama Ever! Gue cinta sama dia!”
“Tapi, apa ini yang lo bilang kalau lo cinta sama dia?! Lo itu udah nyakitin dia, Yo!”
Frazio terdiam. Laki-laki itu semakin mengarahkan pisau tersebut ke leher Ever. Demon bahkan bisa melihat darah mulai keluar dari leher gadis itu dan Ever meringis menahan perih.
“Yo, lepasin Ever!” teriak Demon lagi. Laki-laki itu maju beberapa langkah, namun teriakan Frazio membuat langkah Demon terhenti.
“BERHENTI DISANA!” teriak Frazio. Laki-laki itu mundur kebelakang. Demon membelalakkan matanya ketika melihat posisi Frazio.
“YO! GUE BILANG LEPASIN EVER!” Demon balas berteriak. Frazio justru terbahak dan menggeleng. Sorot matanya menyiratkan kemenangan.
“Demon... Demon... sudah gue bilang, kalau gue nggak bisa milikin Ever, maka lo nggak akan bisa milikin dia juga! Jadi, apa kata-kata perpisahan lo untuk kami? Karena setelah ini, gue akan melompat dari atap gedung rumah sakit ini bersama gadis yang gue cintai!”
***