Chapter 11-Where Are You Now?

2743 Kata
Sepi. Tidak ada siapapun disini. Yang ada hanyalah hamparan padang rumput yang luas dengan berbagai macam kupu-kupu cantik berterbangan dari satu bunga ke bunga yang lain. Warna sayap kupu-kupu itu begitu indah dan menawan. Membuat siapa saja yang melihatnya akan tersenyum damai.             Ever menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis itu mengernyitkan dahi dan berjalan perlahan menuju sebuah jembatan kecil di depannya. Di bawah jembatan itu mengalir sungai yang sangat jernih. Tanpa sadar, bibir Ever menyunggingkan seulas senyum. Senyuman yang manis dan damai. Seperti tidak ada satupun beban di dalamnya.             “Ever....”             Ever terdiam dan menajamkan pendengarannya. Sebuah suara berat dan pelan baru saja memanggil namanya. Suara itu begitu lirih dan menyayat hati.             “Ever....”             Lagi. Suara itu lagi-lagi memanggil namanya. Ever mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tidak ada siapapun disana, selain dirinya dan kupu-kupu cantik itu. Lantas, siapa yang memanggil namanya?             Tiba-tiba saja, Ever merasa jantungnya berdegup kencang. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya dan menekan kuat d**a kirinya. Rasanya begitu sesak dan menghimpit rongga dadanya. Membuatnya sulit bernapas dengan benar. Sekelebat bayangan muncul dalam penglihatannya. Kemudian, beberapa bayangan ikut menghantui. Terus bermunculan. Terus menghantui. Ever memegang kepalanya dengan kedua tangan. Matanya dipejamkan kuat-kuat. Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali.             “Berhenti! Berhenti!!!” teriak Ever kalut. Suara yang memanggil namanya terus terdengar. Suara itu membuatnya takut. Membuatnya sulit bernapas. Membuatnya hilang arah. Membuatnya tersesat. Membuatnya sesak.             “Ever... jangan tinggalin gue....”             Lagi. Kali ini suara itu diiringi dengan isak tangis. Isak tangis yang begitu memilukan. Isak tangis yang begitu menyayat hati.             “BERHENTI!!!” teriak Ever lagi. Rasanya kepalanya berdenyut keras. Sakit. Sangat sakit. Suara itu membuatnya sakit. Suara itu membuatnya frustasi.             “Ever... jangan tinggalin gue... gue mohon....”             “BERHENTI! GUE BILANG, BERHENTIIII!!!”             “Ever....”             “STOP!” seru Ever putus asa. Suara itu benar-benar membuat dirinya tersiksa. Terlebih isakan tangis itu. Ever tidak sanggup mendengarnya lebih lama.             “Ever....”             “GUE BILANG BERHENTI!”             “Ever....”             “DIAAAAAM!!!”             Detik berikutnya, Ever merasa tubuhnya diterpa angin kuat. Tubuh gadis itu terangkat ke udara. Ever berteriak sekuat tenaga. Gadis itu berusaha melawan arus angin yang menerbangkannya. Suara orang yang terus memanggilnya itu perlahan mulai mengecil... terus mengecil... hingga akhirnya suara itu hilang tak berbekas. Dan semuanya kembali gelap. *** “b******k!”             Dimas menghajar Demon hingga laki-laki itu terjerembap. Regina menjerit pelan, dan langsung menahan Dimas, ketika saudara kembarnya itu akan kembali menghajar Demon. Sementara itu, kedua orangtua Ever hanya bisa diam dan menangis ketika tahu bahwa beberapa saat yang lalu, anak gadis mereka sedang meregang nyawa karena alat monitor menunjukkan bahwa detak jantung Ever berhenti. Titan yang baru datang hanya bisa menangis dan memperhatikan kejadian di depannya dengan tatapan nanar. Di dalam ruangan, dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Ever.             “LO NGGAK PUAS UDAH BIKIN DIA NANGIS TADI DI SEKOLAH, HAH?!”             Suara teriakan Dimas yang menggelegar membuat beberapa pengunjung rumah sakit menatap ke arah mereka berempat dengan tatapan ingin tahu. Beberapa dari pengunjung itu bahkan berbisik-bisik, membicarakan keonaran yang sedang terjadi. Regina menangis ketika menahan lengan Dimas dan bisa merasakan tubuh saudara kembarnya itu menegang karena amarah.             Demon masih terdiam di tempatnya. Wajah laki-laki itu ditundukkan. Dia tidak memperdulikan rasa sakit akibat pukulan Dimas di wajahnya. Bahkan, Demon membiarkan darah itu mengalir di sudut bibirnya.             “MAU LO APA, SIH, MON?! APAAA?!” teriak Dimas lagi. Masih dengan nada tinggi yang sama. Matanya menatap Demon dengan tatapan membunuh. “LO BIKIN DIA NANGIS, TERUS SEKARANG LO BIKIN DIA MEREGANG NYAWA DI DALAM SANA! LO ITU MEMANG IBLIS!”             Regina mengalihkan pandangannya yang buram karena airmata ke arah Demon. Laki-laki itu meremas rambutnya dengan keras dan Regina bisa melihat tubuh Demon gemetar. Bahu laki-laki itu naik-turun dengan cepat. Bahkan, Regina tidak bisa mempercayai pendengarannya ketika mendengar sebuah suara isak tangis dari laki-laki itu.             “Maafin gue... maaf...,” ucap Demon lirih.             Dimas mendengus dan mencibir. Laki-laki itu tertawa hambar dan datar.             “Mon, kalau minta maaf itu berguna, buat apa ada polisi?” Dimas bertanya dengan nada sinis. “Lo cam-kan ini baik-baik. Kalau sampai Ever nggak selamat karena ulah lo, gue bersumpah, Mon, gue akan bikin lo menyesal seumur hidup karena udah bikin dia kayak gitu. Persetan dengan persahabatan kecil kita dulu!”             Dimas melepaskan diri dari Regina yang memegang lengannya. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju tempat duduk yang sudah tersedia. Hatinya dilanda rasa cemas yang luar biasa. Dimas berharap saudara sepupunya itu bisa diselamatkan.             Tak lama, dokter keluar dari ruangan Ever. Dengan gerakan cepat, Demon bangkit berdiri dan langsung menyerbu dokter tersebut. Begitu pula dengan Dimas, Regina dan Titan, serta kedua orangtua Ever.             “Bagaimana keadaan Ever, dok?” tanya Demon panik. Dokter tersebut meneliti satu persatu wajah-wajah tegang di hadapannya. Kedua orangtua Ever saling menggenggam tangan mereka, seakan mengalirkan energi positif yang mereka punya saat ini. Kemudian, laki-laki paruh baya itu menghela napas panjang.             “Ever bisa diselamatkan. Meskipun tadi dia sempat kehilangan detak jantungnya. Hanya saja....”             “Hanya saja, apa, dok?” tanya Demon lagi. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.             “Dokter... apa yang terjadi dengan anak saya, sekarang? Dia baik-baik saja, kan? Dia akan segera sadar, kan?” tanya mama Ever sambil menangis. Dia benar-benar tidak sanggup harus melihat anaknya menderita seperti itu. Baru saja Ever mengalami kecelakaan, sekarang gadis itu harus mengalami kejadian mengerikan itu lagi.             Dokter tersebut menghela napas dan menatap orangtua Ever dengan pandangan menyesal.             “Ever memang bisa diselamatkan, meskipun detak jantungnya tadi sempat berhenti... hanya saja... saat ini, Ever mengalami koma. Maafkan saya. Kita hanya bisa berdo’a dan menunggu kapan Ever bisa sadar dari komanya. “             Mama Ever langsung menangis dan mendarat dalam pelukan suaminya. Papa Ever menangguk pelan ke arah dokter tersebut seraya mengucapkan terima kasih. Titan dan Regina menangis dan saling menggenggam tangan masing-masing. Dimas menggeram kesal dan meninju dinding kokoh disampingnya. Sementara Demon... entah apa yang sedang terjadi dengan laki-laki itu. Yang jelas, Demon hanya menatap pintu di depannya dengan tatapan kosong dan tidak terfokus. Dia bisa melihat pintu itu, bahkan melalui kaca kecil di pintu tersebut, dia bisa melihat Ever tengah terbaring tak berdaya dengan masker oksigen yang terpasang di hidungnya dan berbagai macam alat penyangga kehidupan yang terpasang di tubuh gadis itu. Hanya saja, Demon melihat, di sekeliling tubuh Ever didominasi dengan kegelapan. Semuanya gelap di mata Demon. Semuanya tidak berwarna di mata Demon.             “Gue rela mengganti nyawa gue buat lo, Ev...,” bisik Demon pelan pada dirinya sendiri. Entah apa maksudnya. *** Malam ini, hujan turun dengan derasnya. Petir sesekali menyambar dengan menggelegar. Suaranya bahkan membuat Regina merapatkan tubuhnya pada Dimas. Dimas yang tahu bahwa saudara kembarnya itu memang takut dengan suara petir, langsung melingkarkan tangannya di bahu Regina dan menyandarkan kepala gadis itu pada pundaknya.             “Gue antar pulang, ya?” tawar Dimas. Dia tidak ingin Regina sakit karena kelelahan. Biar dia saja yang menunggu Ever di rumah sakit. Tadi, dia sudah membujuk kedua orangtua Ever untuk beristirahat di rumah. Awalnya, kedua orangtua gadis itu menolak, namun Dimas meyakinkan Oom dan Tantenya itu, bahwa dia akan langsung mengabarkan mereka, apabila ada perkembangan mengenai Ever. Titan sendiri sudah diantar pulang oleh Demon. Dimas yang menyuruh laki-laki itu untuk mengantar Titan pulang. Anehnya, Demon tidak membantah sama sekali. Laki-laki itu mengiyakan. Namun, tatapan mata Demon benar-benar kosong. Seperti tidak ada apapun yang bisa dilihatnya.             “Nggak mau. Takut.” Regina menggeleng di pundak Dimas. “Gue nemenin lo aja disini, Mas.”             Dimas menghela napas dan mengangguk. Dia makin merapatkan tubuh Regina pada tubuhnya. Mengalirkan kekuatan dan kehangatan untuk tubuh Regina yang dingin. *** “Makasih, Mon....”             Demon tidak menjawab. Laki-laki itu tetap diam di atas motor ninjanya. Matanya menerawang jauh. Dibiarkannya air hujan membasahi tubuhnya. Titan menghela napas dan tersenyum pahit. Dia memang basah, tetapi tidak sebasah Demon karena laki-laki itu memberikan jaketnya untuk Titan kenakan.             “Gue masuk, ya, Mon... kalau ada kabar soal Ever, tolong kasih tau gue....”             Lagi-lagi, hanya keterdiaman Demon yang didapatkan oleh Titan. Gadis itu tahu, saat ini, Demon pasti menyalahkan dirinya sendiri. Baru saja Titan membalikkan tubuh dan melangkah masuk, suara lirih Demon membuatnya berhenti melangkah. Titan berdiri diam tanpa membalikkan tubuhnya untuk menghadap Demon.             “Kalau gue mati... apa dia bakalan sadar lagi, Tan?”             Hening. Baik Titan maupun Demon tidak ada yang bersuara. Titan hanya bisa memejamkan kedua matanya ketika mendengar suara lirih laki-laki itu. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan beban yang sedang ditanggung oleh teman sekelasnya itu.             “Kalau gue mati... apa Ever akan bahagia, Tan?”             “Demon....” Titan membalikkan tubuhnya dan baru saja akan bersuara, ketika Demon telah lebih dulu berbicara.             “Gue jahat banget, ya, Tan?”             Titan kini bisa melihat Demon tersenyum getir. Matanya terlihat kosong. Dicengkramnya stang motor kuat-kuat, hingga buku-buku tangannya memutih. Kepalanya ditundukkan. Demon bahkan mengabaikan rasa dingin yang begitu menusuk tulang di tubuhnya.             “Gue bikin dia nangis, gue bikin dia tersiksa, sekarang, gue bikin dia koma.”             “Demon....”             “Lebih baik lo masuk sekarang.”             Tanpa pamit, Demon menyalakan mesin motor dan melajukan motornya dengan kencang. Titan menatap kepergian laki-laki itu dengan nanar. Entah penderitaan seperti apa lagi yang harus dialami oleh Demon dan Ever. *** Demon menepikan motornya di pinggir pantai. Hujan semakin deras, namun Demon justru berdiri di depan laut, seakan menantang laut itu. Kepalanya didongakkan ke atas, ke arah langit hitam.             “TUHAN! GUE MUNGKIN MEMANG BUKAN ORANG BAIK! GUE MUNGKIN MEMANG ORANG YANG JAHAT! TAPI, GUE CUMA MAU ORANG YANG GUE CINTA SADAR, TUHAN! BUAT DIA SADAR DARI KOMA! CUMA ITU PERMINTAAN GUE, TUHAN!” teriak Demon menggelegar. Suaranya berbaur dengan petir dan hujan. Demon mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Perlahan, airmatanya mengalir turun, bercampur dengan air hujan.             “AMBIL AJA NYAWA GUE, TUHAN! GUE NGGAK BUTUH SAMA NYAWA GUE! HIDUP GUE BAHKAN UDAH NGGAK BERARTI LAGI! TANPA DIA, TANPA EVER, GUE UDAH NGGAK BERARTI LAGI!”             Demon jatuh terduduk di atas pasir. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar hebat. Isak tangisnya keluar dengan keras. Persetan dengan perkatan orang bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis. Dia benar-benar tidak bisa bernapas sekarang. Pikirannya kacau. Hatinya sakit. Kepalanya berdenyut. Sesak. Hilang arah. Tersesat. Semua itu melandanya sekarang.             Demon menangis sekeras yang dia bisa. Demon berteriak sekuat tenaga. Laki-laki itu mengambil segenggam pasir dan melemparnya ke laut.             “TUHAAAAAN! BIARIN GUE MATI! AMBIL NYAWA GUE SEKARANG! GUE RELA... GUE BERSEDIA DITUKAR NYAWA DENGAN EVER! ASAL DIA SADAR, ASAL DIA SEHAT, ASAL DIA BAHAGIA!”             Demon memegang d**a kirinya dengan kuat. Sakit. Hanya itu yang dia rasakan saat ini. Entah bagaimana rasa sakit itu bisa hilang. Apakah... apakah laut di depannya ini bisa menghentikan rasa sakitnya? Kalau memang bisa, Demon bersedia menenggelamkan rasa sakitnya ke dalam air laut itu.             Tanpa Demon sadari, seseorang melihat keterpurukannya dari kejauhan. Orang itu membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Dia ikut menangis bersama Demon. Dia tidak ingin melihat Demon seperti itu. Dia ingin Demon bahagia. Dia ingin Demon keluar dari lubang kegelapan yang selalu memenjarakannya selama ini.             Baru saja orang itu berniat untuk menghampiri Demon, dia merasa lengannya ditarik dengan kuat. Dia menoleh dan mendapati dua sosok tengah menatapnya sambil menggelengkan kepala mereka.             “Lo nggak berhak ikut campur. Saat ini, dia butuh sendiri.” *** Ever menatap kedua sosok di depannya dengan kening berkerut. Seorang gadis berambut panjang sebahu dan laki-laki yang tersenyum hangat kepadanya. Laki-laki itu memiliki mata yang teduh dan wajah tampan, sedangkan gadis yang menahan lengannya memiliki wajah yang cantik dan manis. Keduanya terlihat sangat serasi dengan pakaian serba putih yang mereka kenakan.             “Siapa kalian?”             Gadis itu melepaskan tangannya dari lengan Ever dan tersenyum manis.             “Gue Izzy, dan dia Ivan.” Gadis bernama Izzy itu menunjuk laki-laki di sampingnya yang langsung menganggukan kepalanya ke arah Ever. (Baca: Hurry Up and Save Me)             “Gue....”             “Evera Gracia, kan?” potong Izzy langsung. Kerutan di kening Ever semakin bertambah ketika Izzy mengetahui namanya.             “Kok, lo bisa tau nama gue? Kita udah saling kenal sebelumnya?”             Izzy menggeleng dan makin tersenyum. “Gue sama Ivan nggak sengaja liat lo waktu di taman itu. Lo yang histeris karena mendengar suara seseorang terus-menerus memanggil nama lo, iya, kan?”             Ever mengangguk. Darimana gadis yang bernama Izzy ini bisa tahu semuanya? Setahunya, di taman itu, hanya ada dirinya sendiri. Ever tidak melihat ada satu orangpun ada disana selain dirinya.             “Itu suara Demon.”             “Apa?”             Ivan mengangguk. “Iya, suara yang lo dengar di taman itu suaranya Demon.”             “Kalian kenal sama Demon?”             Izzy dan Ivan saling pandang dan tersenyum.             “Sebenarnya, itu adalah salah satu tugas kami disini.”             “Tugas?” tanya Ever pada Izzy. “Tugas apa?”             “Ever... di dunia ini, semua tidak harus selalu berakhir dengan bahagia.” *** Demon kembali ke rumah sakit dalam keadaan yang basah kuyup. Laki-laki itu berjalan dengan kepala yang ditundukkan. Kemudian, langkahnya terhenti ketika melihat Dimas telah berdiri tepat di depannya.             “Mau ngapain lo disini?” tanya Dimas dingin. Demon menatap mata laki-laki itu dengan tajam, seperti Dimas tengah menatapnya saat ini.             “Gue mau jagain Ever.” Demon kembali melangkah maju, namun Dimas segera mencekal lengannya.             “Jagain Ever kata lo?”             Demon menatap mata Dimas. Laki-laki mengenyahkan tangan Dimas dari lengannya.             “Lo sadar nggak, Mon? Lo itu justru bikin dia terus berada dalam bahaya! Lo itu sama sekali nggak jagain dia, seperti ucapan lo barusan!”             Demon mengatupkan rahangnya dan menahan emosinya yang mulai terbit karena ucapan Dimas.             “Kenapa? Lo nggak suka sama omongan gue?” Dimas menatap Demon dengan tatapan merendahkan. “Lo ngaca, Mon! Siapa yang udah bikin Ever sampai koma kayak sekarang? Siapa?!” desis Dimas. “Kalau lo berharap setelah ini lo akan dapetin dia, lo salah besar! Karena gue nggak akan pernah biarin lo dekatin dia lagi setelah ini!”             Dimas berjalan meninggalkan Demon yang mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ucapan Dimas benar-benar menohoknya. Dengan langkah gontai, Demon berjalan menuju kamar inap Ever.             Hati Demon bagaikan tersayat ketika harus melihat tubuh tak berdaya Ever. Laki-laki itu mendekat dan berdiri tepat disamping ranjang Ever. Demon menggenggam tangan Ever yang terasa sangat dingin di tangannya. Senyum getir Demon terlihat, bersamaan dengan tatapan matanya yang menyorotkan rasa bersalah.             “Hei....” Demon menelan ludah susah payah. Rasanya ada ribuan pisau yang menghunus jantungnya. “Lo mau sampai kapan tidur kayak gitu?”             Hening. Hanya terdengar suara dari alat-alat yang membantu Ever untuk tetap bertahan hidup. Demon menundukkan kepala dan tertawa getir. Kemudian, ketika dia kembali mengangkat kepalanya, Demon membiarkan butiran kristal itu jatuh membasahi wajahnya.             “Gue cengeng, ya? Lo nggak akan ilfeel kan, kalau ngeliat gue nangis sekarang?”             Demon memperhatikan wajah tenang dan damai milik Ever. Ever benar-benar terlihat seperti putri tidur. Tenang dan sama sekali tidak terlihat beban di wajah mulus gadis itu.             “Ev... apa salah kalau gue cinta sama lo? Apa salah kalau gue sayang sama lo? Kalau lo emang bukan buat gue, kenapa kita harus dipertemukan, Ev? Gue benar-benar tersiksa sama perasaan yang gue rasain ke lo. Disaat orang lain merasa bahagia dengan perasaan cinta yang mereka miliki untuk orang yang mereka cintai, gue justru merasa menderita....”             Isak tangis Demon membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan ikut terhanyut dan menitikan airmata. Demon makin menggenggam kuat tangan Ever.             “Ev... kalau gue... kalau gue mati, apa lo akan sadar? Apa lo... apa lo akan hidup lagi, Ev?”             Hembusan angin di dalam ruangan itu membuat Demon bergidik. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mengernyitkan dahi. Demon seperti merasakan sesuatu di dalam ruangan itu. Sesuatu yang membuatnya merasa tenang dan damai.             “Lihat... dia bahkan mungkin bisa ngerasain kehadiran lo, Ev....” Izzy menepuk pundak Ever pelan. Ever sendiri hanya bisa diam dan menangis ketika harus mendengar ucapan Demon beberapa saat lalu.             “Kenapa dia harus selalu menderita, Zy?” Ever bertanya dengan nada lirih. “Dia udah cukup tersiksa selama ini. Kenapa sekarang dia harus menderita lagi? Gue cinta sama dia... gue sayang sama dia... kenapa gue dan dia nggak bisa bersatu seperti pasangan lain? Kenapa?”             Izzy dan Ivan menghela napas panjang. “Ev... di dunia ini, nggak semuanya harus berakhir dengan bahagia. Ada kalanya, orang harus merasakan pahitnya dunia sebelum benar-benar bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.”             “Dan karena itulah, kenapa sekarang gue dan Ivan ada disini. Kita berdua disini untuk menghentikan semua penderitaan yang Demon alami.”             Ever mengerutkan keningnya. “Maksud lo?”             Izzy tersenyum menyesal dan kembali menatap Demon. Ever mengikuti arah pandang Izzy dengan tatapan bingung. Beberapa detik kemudian, Ever membelalakkan matanya.             “Ev...,” panggil Demon lirih. “Gue bersyukur mengenal lo selama ini. Gue bersyukur bisa memiliki perasaan cinta untuk lo. Dan mungkin, dengan cara ini, lo bisa sadar kembali dan bisa hidup bahagia. Gue... gue akan selalu mencintai lo, Ev....”             Demon mengambil sebuah pisau dari atas piring yang berisi buah-buahan, yang diletakkan di atas meja disamping tempat tidur Ever. Laki-laki itu tersenyum getir dan mencium kening Ever. Ciuman yang lembut. Ciuman yang menggambarkan seluruh perasaannya untuk gadis itu. Perlahan, Demon mengarahkan pisau itu ke pergelangan tangan kirinya.             “DEMON!” seru Ever. Gadis itu berniat menghalangi Demon, namun Ivan menangkap lengannya.             “Ivan, lepasin gue!” teriak Ever kalut. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ivan, namun gagal. Ivan tidak membiarkan gadis itu lepas dari cengkramannya.             Ever menatap Demon yang sudah semakin mengarahkan pisau itu ke nadinya. Ever berteriak memanggil nama Demon. Sekuat yang dia bisa, sekencang yang dia bisa. Namun, Demon seakan tuli. Laki-laki itu mulai memejamkan matanya.             “DEMOOON!!!” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN