Chapter 10-The Dark Is Come Back!

3364 Kata
Dimas membawa Ever ke dalam kamarnya. Laki-laki itu mendudukkan Ever dengan hati-hati ke sofa yang berada di dekat jendela kamar, dan keluar sebentar dari kamarnya untuk mengambil baju milik saudara kembarnya, Regina, agar Ever bisa mengganti pakaiannya yang basah kuyup itu dengan baju milik Regina. Regina sendiri sedang berada di rumah salah satu kerabat mereka sejak pulang sekolah, bersama kedua orangtua mereka. Dimas memang sempat ikut ke pertemuan itu, namun laki-laki itu pamit pulang karena tidak terbiasa berada di keramaian.             Tak lama, Dimas kembali dengan kaus lengan panjang dan celana training milik Regina. Laki-laki itu juga membawa pakaian dalam milik saudara kembarnya dan menyerahkan semua pakaian itu ke tangan Ever. Gadis itu menerimanya dengan linglung. Melihat itu, Dimas tersenyum getir dan mengelus rambut sepupunya itu dengan penuh sayang.             “Ev, diganti dulu, ya, baju lo. Nanti lo sakit kalau pakai baju basah kayak gitu,” bujuk Dimas. Ever hanya mengangguk pelan dan melangkah menuju kamar mandi yang memang tersedia di kamar Dimas. Kedua orangtua Dimas termasuk dalam kategori keluarga berkecukupan, sehingga mereka bisa membeli rumah dengan dua lantai, ketika mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah ke kota ini lagi.             Sambil menunggu Ever berganti pakaian, Dimas berjalan keluar kamarnya dan menuju dapur. Laki-laki itu membuat segelas teh hangat dan bergegas kembali ke kamarnya untuk memberikan teh hangat itu pada Ever. Ketika sampai di dalam kamar, Dimas terenyuh ketika harus melihat Ever kembali menangis, sambil duduk dan memeluk kedua lututnya. Bahu gadis itu berguncang. Isakannya membuat Dimas menatap gadis itu iba dan kasihan. Untunglah, Ever sudah mengganti pakaian basahnya dengan pakaian milik Regina.             Dimas langsung melangkah mendekati Ever yang tengah duduk di sofa, meletakkan gelas berisi teh hangat itu di atas meja, dan duduk disamping Ever. Dimas menarik bahu Ever ke arahnya, membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dimas makin menguatkan pelukannya, mengusap dengan lembut punggung gadis itu, ketika sadar bahwa Ever makin menangis.             “Ssst... udah, Ev, udah. Gue nggak tega lihat lo nangis kayak gini,” ucap Dimas. Laki-laki itu harus sekuat tenaga menahan emosinya yang mulai muncul ketika mendengar isakan tangis Ever semakin menjadi.             Apa mencintai seseorang harus sesakit ini?             “Tapi... Mas... gue... gue... gue nggak sanggup... gue nggak kuat harus berpura-pura menyukai Frazio... itu yang gue bilang ke dia, tadi... sakit, Mas... sakit.... gue juga nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul.” Ever mencengkram bahu Dimas dengan tangannya yang gemetar dan berbicara dengan isak tangis yang memilukan.             Dimas makin mengelus punggung Ever dan menenangkan gadis itu. “Ev... apa lo harus membohongi perasaan lo sendiri? Apa salah kalau lo suka sama Demon? Kenapa lo harus berpura-pura bilang ke Demon kalau lo suka sama Frazio? Kenapa? Perasaan cinta itu berhak untuk dirasain semua orang, Ev.”             Ever terdiam. Gadis itu makin mencengkram bahu Dimas dan menarik kaus laki-laki itu. Ever mulai merasa tubuhnya kedinginan. Namun pelukan Dimas sedikit membuatnya hangat.             “Ev, lo nggak bisa terus-terusan kayak gini sama Demon. Biar bagaimanapun juga, yang gue liat, Demon juga memiliki perasaan yang sama kayak lo. Lo sendiri yang bilang ke gue kalau Demon bilang dia akan membuat lo jatuh cinta untuk yang kedua kalinya sama dia. Itu berarti, lo sama Demon pernah mengalami sesuatu di masa lalu, sebelum lo mengalami kecelakaan dan mengalami retrograde amnesia. Itu berarti lo sama dia ditakdirkan untuk saling menyukai.”             “Tapi, Mas... dia... udah... punya... Evelyn....”             “Ev, Demon sendiri yang tau perasaan dia kayak gimana. Dia yang memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Kalau hatinya ingin berlabuh di lo, lo bisa apa? Cinta itu anugerah, Ev. Jangan lo sia-siain....”             Dimas melepaskan dengan pelan pelukannya pada tubuh Ever. Laki-laki itu mengusap airmata di pipi Ever dengan ibu jarinya, dan menarik sudut-sudut bibir Ever hingga membentuk seulas senyuman.             Dimas tersenyum jahil. “Lagipula, sebelum janur kuning melengkung, Demon berhak, kali, memilih siapapun, meskipun dia sudah punya pacar. Iya, kan?”             Mendengar itu, Ever kontan tertawa. Gadis itu menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan gila Dimas. Apalagi, Dimas mengedipkan sebelah matanya.             “At least, you are laughing, now....” Dimas tersenyum lebar dan mengambil gelas berisi teh hangat yang ada di atas meja. “Minum. Habis itu, kita jalan. Gue mau nraktir lo makan diluar. Untung hujannya udah reda.”             Ever tidak membantah. Gadis itu meminum teh hangatnya dengan pelan. Meresapi kehangatan teh itu yang mulai menjalar dalam tubuhnya. Dimas hanya tersenyum dan mengacak rambut Ever, sebelum kemudian berjalan keluar kamar dan menyiapkan motor untuk membawa sepupunya itu ke sebuah rumah makan. *** Keesokan harinya, Ever berangkat ke sekolah bersama Dimas dan Regina. Ever sengaja menginap di rumah kedua sepupunya itu, setelah sebelumnya, Dimas mengantar Ever untuk mengambil baju seragam dan peralatan sekolah gadis itu dirumahnya. Ever juga sudah menceritakan semua yang dirasakannya terhadap Demon pada Regina. Regina juga membeberkan semua rahasianya bersama Demon. Tentang bagaimana waktu itu Demon menjadi orang lain ketika tahu ayahnya menentang hubungannya dengan Evelyn. Tentang bagaimana reaksi Demon dan sikap laki-laki itu yang seperti mayat hidup ketika mendapat kabar bahwa Evelyn meninggal. Tentang bagaimana ayah Demon menyuruhnya untuk membuat Demon kembali ‘hidup’. Tentang pertemanannya dengan Demon dan Dimas semasa mereka kecil dulu. Akhirnya, kedua gadis itu menangis bersama, dengan Dimas yang kebingungan karena harus menenangkan dua orang itu.             Ever, Dimas dan Regina berjalan menyusuri lorong sekolah dengan tawa yang menggema. Suasana sekolah masih sepi. Ketiga remaja tersebut diantar ke sekolah dengan mobil milik ayah Dimas dan Regina, yang juga adalah Oom dari Ever.             Sesampainya di kelas, Ever berhenti tepat di ambang pintu. Dimas yang berjalan di belakang gadis itu dan tak menyangka bahwa Ever akan berhenti mendadak, langsung menabrak punggung gadis itu dan dengan sigap menahan lengan Ever, ketika Dimas melihat tubuh gadis itu limbung ke depan. Regina yang melihat itu hanya mengerutkan kening dan ikut menatap ke arah yang ditatap oleh Ever.             “Ev, lo kenapa berhenti nggak ngasih peringatan dulu, sih?” tanya Dimas sambil melepaskan tangannya dari lengan Ever. Sadar bahwa gadis itu hanya diam dan menatap ke satu titik, Dimas akhirnya mengikuti arah pandang Ever dan terperangah ketika melihat Demon.             Bukan sosok Demon yang membuat ketiganya berdiri di ambang pintu dengan kebekuan yang mulai mendominasi, tapi aura disekitar Demon yang membuat ketiganya terdiam. Aura Demon begitu gelap, begitu dingin dan begitu kosong. Demon sama sekali tidak menatap ke arah mereka, meskipun Dimas sangat yakin kalau laki-laki itu mendengar suara langkah mereka, terlebih suara gerutuannya pada Ever beberapa saat lalu. Demon hanya duduk diam, menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, dan membaca buku.             “Hai, Mon,” sapa Dimas berusaha mencairkan suasana. Demon menoleh dan menatap Dimas dengan tatapan tajam dan dingin. Tatapan itu bahkan terkesan angkuh dimata Dimas. Begitu juga dengan Ever dan Regina. Demon menatap kedua gadis itu secara bergantian. Masih dengan tatapan tajam dan dingin yang sama. Ketika kedua mata tajam Demon menatap Ever, laki-laki itu memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat hati Ever serasa diiris. Membuat hati Ever serasa diremas. Tatapan Demon itu seperti memperlihatkan bahwa Ever bukanlah sejenis manusia yang sama seperti diri laki-laki itu. Namun, Ever bisa menangkap sorot kekosongan, kehampaan dan kegelapan dalam mata Demon. Laki-laki itu sedang ‘tersesat’.             “Nggak usah sok akrab. Gue nggak butuh keramahan orang yang pada akhirnya hanya akan membuat gue merasa seperti orang t***l karena ditipu habis-habisan!” desis Demon tajam. Kedua matanya bersinar-sinar penuh amarah ketika menatap Dimas.             Mendengar itu, Dimas kontan menaikkan satu alisnya dan mengerutkan kening. Ini bukanlah Demon teman masa kecilnya. Ini bukanlah Demon yang kemarin dia lihat. Ini Demon yang berbeda. Seakan-akan, namanya memang memberitahu seluruh dunia bahwa dia memanglah seorang demon.             “Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” tanya Dimas tegas. Laki-laki itu berjalan mendekati Demon yang masih duduk di kursinya. Aura mencekam dan gelap itu masih mendominasi. Bahkan semakin menguat. Dimas bisa merasakan bulu halus di tengkuknya meremang. Demi Tuhan, apa yang sedang terjadi disini?             Sementara itu, Ever dan Regina masih berdiri di ambang pintu. Regina menggenggam tangan Ever kuat dan meremasnya. Seakan memberi kekuatannya pada gadis itu. Tangan Ever terasa sedingin es dalam genggaman tangannya. Regina melirik Ever sekilas. Ada tatapan sedih pada kedua mata Ever yang indah. Tatapan terluka. Tatapan menyesal.             Demon berdiri ketika Dimas sudah berada di depannya. Kedua laki-laki yang mempunyai tinggi yang seimbang itupun saling berhadapan dan menatap di manik mata masing-masing. Ada kilatan emosi dalam tatapan Demon. Dimas bisa melihatnya dengan jelas. Juga kilatan penuh kegelapan dan kekosongan.             “Coba lo tanya sama cewek yang ada disana, itu!” Demon menunjuk wajah Ever lurus-lurus. Ever makin merasa dadanya bergemuruh hebat. Ternyata, Demon sudah membencinya akibat ucapan dan tindakannya kemarin. “Gue rasa, cewek itu tau apa yang gue maksud!”             Dimas menoleh dan menatap Ever. Gadis itu sedang berusaha kuat menahan tangis karena kedua matanya mulai berair. Dimas kemudian kembali menatap Demon yang sedang tersenyum sinis dan melecehkan.             “Tuh cewek, udah bikin gue jatuh cinta setengah mati sama dia. CINTA SETENGAH MATI! Tapi, lo tau nggak apa yang dia lakuin sama gue?!” Demon mulai berbicara dengan nada keras dan berapi-api. “Dia dengan gampangnya ngomong kalau dia suka dan cinta sama si b******k itu! Padahal, gue tau dia cinta sama gue! Coba, pikiran apa yang harus ada di otak gue, selain menganggap kalau dia itu....” Demon tersenyum miring. Matanya memandang Ever dengan penuh amarah. Sama sekali tidak terpengaruh ketika melihat Ever sudah menangis saat ini. “Seorang playgirl?”             Ever dan Regina terkesiap dan menjarit pelan ketika melihat Dimas memukul wajah Demon hingga membuat laki-laki itu tersungkur. Tubuh Demon sempat menghantam kerasnya kayu meja. Kemudian, Dimas menarik kerah kemeja Demon dan kembali memberi laki-laki itu pukulan keras di wajahnya. Bertubi-tubi, hingga Ever bisa melihat darah segar mulai muncul di sudut bibir Demon dan dari hidungnya.             “Dimas, STOP!” teriak Ever. Gadis itu menahan lengan Dimas yang sudah siap akan memukul wajah Demon kembali. Napas Dimas tersengal. Tangis Ever semakin menjadi. Regina hanya bisa membeku di tempatnya. Sama sekali tidak mengira bahwa dia akan melihat sisi gelap Demon untuk yang kedua kalinya. Untuk yang kedua kalinya, Demon menjadi seorang mayat hidup. Raga yang bebas berkeliaran, namun tidak memiliki jiwa dan hati. Semuanya gelap dan kosong.             “Kenapa berhenti?” tanya Demon dengan suara serak. Laki-laki itu menyeka darah yang mengalir di bibirnya. Kemudian, Demon berdiri dan berhadapan kembali dengan Dimas. Ever berada diantara keduanya. Membelakangi Demon dan mencengkram pergelangan tangan Dimas dengan wajah yang ditundukkan. Tangisnya semakin keluar. Isakannya bahkan membuat Dimas ingin meninju wajah Demon berkali-kali.             “Sekali lagi lo ngomong sepatah kata yang kasar tentang sepupu gue, lo akan mati detik itu juga!” desis Dimas.             Demon tertawa keras. Tawanya terdengar hambar dan datar. Laki-laki itu membetulkan letak kacamatanya dan tersenyum dingin pada Dimas.             “Silahkan! Mau bunuh gue? Silahkan... SILAHKAN! GUE JUGA UDAH NGGAK MAU HIDUP KAYAK BEGINI! HATI GUE UDAH MATI, JADI BUAT APA RAGA GUE MASIH BERKELIARAN?! BUNUH GUE! BUNUH!!!”             Ever memejamkan mata mendengar seruan Demon itu. Gadis itu bagaikan tidak mempunyai keberanian sedikitpun untuk menatap Demon. Ever hanya terus terisak dan makin menguatkan pegangannya pada pergelangan tangan Dimas. Di ambang pintu, Regina juga sudah mulai menangis. Menangis karena harus melihat Demon kembali terpuruk.             Demon mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sampai buku-buku tangannya memutih. Laki-laki itu kemudian memandang Ever yang membelakanginya. Rasanya, ada ribuan pisau tajam yang menghunus jantungnya. Menancap kuat di hatinya.             Mengapa? Mengapa gadis itu harus membuatnya tersiksa? Mengapa gadis itu harus membuatnya terpuruk dan berada di dalam kegelapan dan kesesatan untuk yang kedua kalinya. Dia sudah berada di dalam terangnya cahaya ketika bertemu dengan gadis itu, namun kini, gadis itu melemparnya kembali ke jurang tanpa arah maupun cahaya. Sakit. Rasanya sangat sakit dan menyesakkan. Demon bahkan tidak berani untuk mengambil napas karena takut akan rasa sakitnya.             Demon membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kelas. Sesampainya di pintu kelas, Demon sama sekali tidak menatap Regina. Gadis itu bisa melihat tatapan mata yang kosong pada kedua mata Demon, ketika Demon memandang ke arah lapangan sekolah tanpa ekspresi.             “Terima kasih buat kegelapan yang lo lemparkan ke gue, Ever! Terima kasih banyak! Setelah ini, mungkin gue nggak akan pernah bisa melihat cahaya lagi!”             Selesai berkata demikian, Demon meneruskan langkahnya. Regina menatap kepergian Demon dengan tatapan nanar. Punggung Demon terlihat sangat rapuh di mata Regina. Laki-laki itu rapuh. Laki-laki itu hilang arah. Laki-laki itu tersesat.             Ever langsung meluruh begitu mendengar ucapan Demon. Dimas dengan sigap langsung menahan tubuh Ever dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Ever menumpahkan semua tangisnya di d**a Dimas. Semuanya. Rasa sakitnya, rasa sesaknya. Dimas hanya bisa memeluk Ever dengan kuat. Mengusap punggung dan rambut gadis itu. Dimas bahkan merasa tubuh Ever menggigil.             “Gue... benar... benar... jahat... Mas....”             Dimas hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat untuk kejatuhan Ever. Dimas menoleh dan bertatapan dengan Regina. Bahkan saudara kembarnya pun tidak bisa melakukan apa-apa, selain menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan ikut menangis seperti Ever. *** Tuhan... tolonglah aku... Kembalikan dia... ke dalam pelukku... Karena ku tak bisa... mengganti dirinya... Kuakui... jujur aku tak sanggup... Sungguh aku tak bisa... (Pasto-Jujur Aku Tak Sanggup)   Sisa hari itu dihabiskan Ever dengan berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Penjelasan materi yang diberikan oleh para guru pun tidak ada yang masuk dalam otaknya. Sesekali, tanpa Ever sadari, Dimas dan Regina menatapnya dengan pandangan nanar dan kasihan. Titan pun melakukan hal yang sama. Namun, gadis itu hanya diam dan tidak melakukan hal apapun karena dia tidak mengerti duduk persoalan seperti apa yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.             Frazio mengamati perubahan pada Ever dan Demon dengan senyum kecil. Ucapan Ever kemarin sudah membuktikan bahwa gadis itu akan menjadi miliknya. Persetan dengan kata teman-teman sekelasnya bahwa hari ini, Demon seperti orang asing. Tidak bertegur sapa, tidak berbicara sepatah katapun. Frazio tidak peduli. Yang dia pedulikan dan inginkan hanya satu. Gadis itu, Evera Gracia, harus menjadi miliknya! Seutuhnya! Dan Frazio harus menjauhkan Demon dari Ever sejauh-jauhnya.             Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Ever dengan malas memasukkan semua alat sekolahnya ke dalam tas. Gadis itu bangkit dari kursinya dan mulai melangkah menuju pintu. Mendadak, langkah Ever terhenti karena gadis itu merasa lengannya ditahan. Ever menoleh dan mendapati sosok Frazio tengah tersenyum manis ke arahnya.             “Pulang bareng, yuk, Ev?” ajak Frazio.             Baru saja Ever akan membuka mulut untuk menolak ajakan Frazio, Demon melewatinya. Hanya lewat begitu saja. Seolah Ever adalah makhluk tak kasat mata. Bahkan hanya sekedar melirikpun, laki-laki itu tidak sudi. Rasa sakit itu kembali menyeruak dalam dadanya, membuat Ever menggigit bibir bawahnya dan menahan airmata yang mulai mengancam untuk membasahi pipinya.             “Ev?” panggil Frazio lagi.             “Maaf, Yo, gue mau pulang sendiri.” Ever menarik lengannya dari tangan Frazio. Gadis itu memaksakan seulas senyum tipis dan kembali melangkah.             Sepeninggal Ever, Frazio mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Laki-laki itu menatap ke arah pintu kelas dengan tatapan kesal.             “Lo harus jadi milik gue, Ever... harus! Kalau gue nggak bisa milikin lo, jangan harap Demon bisa milikin lo!” desis Frazio dingin. *** So i throw up my fists... Throw my punch in the air... And accept the truth that sometimes life isn’t fair... Yeah, i’ll send up a wish, yeah i’ll send up a pray... And finally, someone will see, how much i care... (Glee-Get It Right)   Ever keluar dari kamar mandi dengan tampang lusuh. Kedua matanya memerah, begitu juga dengan hidungnya. Gadis itu menangis lagi. Setelah mendapatkan perlakuan yang sangat dingin dari Demon. Ever merasa tidak bisa mengenali laki-laki itu. Demon benar-benar seperti orang lain.             Ever menghembuskan napas keras dan menepuk kedua pipinya pelan. Tadi, Ever menyuruh Dimas dan Regina untuk pulang duluan. Awalnya Dimas menolak mentah-mentah, begitu juga dengan Regina. Namun, setelah Ever memaksa keduanya, akhirnya Dimas dan Regina mengiyakan juga permintaan Ever. Dimas dan Regina sadar, Ever butuh waktu untuk sendiri.             Ever berjalan menuju gerbang sekolahnya dengan langkah gontai. Gadis itu melihat Frazio baru saja pulang dengan mengendarai motornya. Ever menghela napas berat. Frazio. Kenapa laki-laki itu harus menyukai dirinya? Kenapa juga kemarin dia harus berbohong pada Demon bahwa dia menyukai Frazio?             Ever menyipitkan mata dan menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Demon tak jauh dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu turun dari motor ninjanya yang diparkir di dekat gerbang sekolah. Demon melepaskan helm-nya dan menendang ban motornya dengan keras.             Ever menelan ludah susah payah dan berusaha berjalan setenang mungkin. Jantungnya kini berdegup dengan liarnya. Darahnya seakan terserap keluar. Oksigen seakan habis dari dalam tubuhnya.             “Kenapa, Mon?”             Suara Ever yang pelan dan serak itu membuat kepala Demon berputar ke arah gadis itu. Demon menatap Ever dengan pandangan dingin dan membuang muka. Laki-laki itu mendengus dan mencibir.             “Bukan urusan lo!”             Ever terperangah dan menahan rasa sakit yang dirasakannya. Rasa sesak itu kembali hadir. Dengan senyum getir, Ever menganggukan kepalanya. “Gue duluan, Mon....”             “Cih!” dengus Demon. Laki-laki itu kemudian menyebrang jalan, bermaksud untuk ke warung di depan sekolah karena ingin membeli minuman dingin. Demon berjalan dengan langkah kesal dan jengkel. Hatinya terasa sakit ketika harus bersikap dingin dan sinis pada Ever. Laki-laki itu tidak bisa membohongi perasaannya kalau sampai detik ini, dia masih mencintai Ever.             Demon tidak tahu persis apa yang terjadi, namun yang jelas, Demon merasa tubuhnya terdorong sangat kuat ke samping. Demon jatuh tersungkur di aspal. Laki-laki itu meringis ketika merasakan perih pada sikunya. Demon mengangkat kepala dan menatap ke depan. Detik berikutnya, tubuh Demon membeku dan matanya terbelalak.             Di depannya. Persis di depannya, ditengah suara bising yang sangat mengganggu telinga, diantara kerumunan orang-orang yang mulai tercipta, Demon bisa melihat tubuh seseorang tergeletak tak berdaya menghadap ke arahnya. Wajahnya mengeluarkan banyak darah. Mata orang itu terpejam rapat-rapat. Dan tiba-tiba saja, Demon sudah dikuasai oleh rasa dingin dan menggigil yang menguasai tubuhnya. Seperti kesetanan, Demon menghampiri orang tersebut dan menyerukan namanya sekuat tenaga. *** Alat monitor itu masih menunjukkan detak jantung seseorang yang sedang terbaring dengan mata terpejam di atas tempat tidur. Dadanya naik-turun, menandakan bahwa orang itu masih bernapas sampai saat ini. Demon melangkah dengan hati yang tercabik-cabik dan duduk di samping orang itu.             Demon sama sekali tidak menyangka bahwa Ever nekat menolongnya dari terjangan mobil sedan itu. Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan keselamatannya dan malah mengorbankan dirinya untuk Demon. Untuk seorang yang b******k, yang bersikap dingin dan sinis pada gadis itu.             Demon menggenggam tangan Ever dan meremasnya kuat. Demon menundukkan kepalanya dan... menangis. Demon membiarkan airmatanya mengalir di wajahnya. Terus mengalir, seperti lubang di hatinya yang semakin menganga lebar saat ini.             Keluarga Ever ada di luar. Begitu juga dengan Dimas dan Regina. Dimas bahkan langsung menghajarnya dan memakinya begitu laki-laki itu sampai di rumah sakit.             “KALAU SAMPAI EVER KENAPA-NAPA, GUE BERSUMPAH AKAN NGEJAR LO BIAR SAMPAI KE NERAKA SEKALIPUN!” seru Dimas beberapa saat yang lalu. Demon hanya diam dan membiarkan dirinya dihajar oleh Dimas. Demon sadar, dirinya memang pantas menerima hal itu dari Dimas. Kalau bukan karena orangtua Ever, mungkin Dimas masih dengan senang hati menghabisi Demon di tempat.             Demon mengangkat wajahnya dan menatap nanar Ever yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Airmata bahkan masih mengalir di wajah Demon, namun laki-laki itu segera menghapusnya.             “Lo mau balas dendam atas sikap gue hari ini ke lo, Ev?” tanya Demon dengan suara serak. Ever tetap diam. Sama sekali tidak bergerak. Hanya garis hijau yang tidak beraturan pada layar monitor lah yang memberitahu Demon bahwa Ever masih hidup.             “Kata dokter, lo koma. Keadaan lo kritis karena tabrakan yang lo alami sangat parah. Kenapa? Kenapa lo harus ngorbanin diri lo untuk seseorang yang b******k kayak gue?”             Airmata itu kembali turun. Kali ini, Demon membiarkannya mengalir. Untuk mengurangi rasa sesak dan sakit dalam dadanya.             “Ev... gue... gue ngerasa hilang arah... gue ngerasa kosong, hampa... gue ngerasa diliputi kegelapan... kenapa...? Kenapa lo tega bilang ke gue kalau lo cinta sama Frazio? Kenapa...?”             Hening. Demon menundukkan kepalanya dan makin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Ever. Tangan gadis itu sedingin es. Wajah gadis itu pucat. Kepalanya diperban, begitu juga dengan sikunya. Ada noda darah pada dua tempat itu.             “Gue... cinta... sama... lo... Ever. Gue nggak sanggup liat lo kayak gini. Please, buka mata lo. Gue bersedia nukar nyawa gue dengan nyawa lo.... gue bersedia ngerasain sakit yang lagi lo rasain sekarang. Apa nggak cukup dengan menderita retrograde amnesia, lo menyiksa gue? Apa sekarang lo harus mengalami koma untuk kembali menyiksa gue?”             Demon menarik napas panjang dan membuangnya dengan perlahan.             “Ever... gue benar-benar cinta sama lo. Sepenuh hati gue....”             Demon mengangkat wajahnya dan mencium bibir Ever lembut. Kemudian, satu suara yang sanggup memekakkan telinga mengganggu Demon. Terlebih ketika garis hijau yang tadinya tidak beraturan itu mulai terlihat lurus. Datar. Demon menatap layar itu dengan tatapan kosong. Lalu, tatapannya beralih kepada Ever. d**a gadis itu tidak lagi naik-turun seperti sebelumnya. Semuanya diam. Kecuali bunyi bising tersebut. Yang terdengar menggema di seluruh ruangan.             Dan Demon merasa kegelapan itu kembali menghantuinya. Menyergapnya. Menyerangnya. Mengurungnya. Memenjarakannya. Demon tidak bisa bergerak. Tidak bisa melarikan diri. Demon menatap tubuh Ever dalam diam.             Entah siapa yang akan mengeluarkan Demon dari kegelapan saat ini. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN