Frazio menatap garang ketika Dimas memeluk Ever, begitu juga dengan Demon. Raut wajah Demon menunjukan ketidaksukaan yang teramat sangat pada Dimas. Demon bukannya tidak mengenal Dimas. Dia malah sangat kenal dengan Dimas karena Dimas adalah saudara kembar Regina dan keduanya adalah teman kecil dari Demon. Sewaktu Demon tinggal di Makassar dulu, mereka bertiga adalah teman sepermainan. Kemana-mana selalu bersama-sama. Sampai akhirnya Demon pindah ke kotanya sekarang sejak laki-laki itu duduk di bangku SMP.
Kemudian, ketika papanya tidak menyetujui hubungannya dengan Evelyn, papa Demon memanggil Regina dan menyuruh gadis itu untuk menemani Demon. Apalagi papa Demon tahu bahwa Regina sebenarnya menyukai Demon dan saat itu adalah saat-saat terburuk bagi Demon karena laki-laki itu mengira bahwa Evelyn sudah meninggal. Namun sepertinya usaha Regina sia-sia belaka karena Demon tidak pernah menggubrisnya sama sekali. Demon seakan lupa bahwa Regina adalah teman kecilnya dulu. Akhirnya Regina memutuskan pulang kembali ke Makassar. Sekarang Demon justru tidak menyangka bahwa Regina akan kembali muncul bersama saudara kembarnya, Dimas.
Tapi… ada hubungan apa antara Dimas dan Ever? Mengapa mereka berpelukan erat sekali? Ever bahkan tidak ragu-ragu untuk menampilkan senyumannya. Tanpa sadar d**a Demon bergemuruh. Laki-laki itu kemudian melihat Regina tersenyum ke arahnya lalu berjalan ke bangku Ever dan memeluk gadis itu setelah sebelumnya mendorong Dimas.
Kening Demon makin berkerut. Regina juga mengenali Ever?
“Kalian sudah saling kenal?” tanya wali kelas mereka dengan tatapan heran. Regina dan Dimas mengangguk mantap.
“Saya dan Regina adalah teman kecil Demon sewaktu di Makassar,” jelas Dimas sambil tersenyum kepada Demon yang dibalas dengan ragu oleh laki-laki itu. “Sedangkan dengan Evera….” Dimas mengalihkan tatapannya dari Demon ke Ever, “Saya dan Regina adalah saudara sepupu dari Ever!”
Demon terbelalak. Dimas dan Regina saudara sepupu dari Ever?!
“Lo sepupu Ever, Dim?” tanya Demon ragu. Dimas menoleh dan mengangguk.
“Iya. Kenapa?”
Demon seketika terdiam. Kemudian laki-laki itu menggeleng dengan cepat. “Nggak. Nggak pa-pa….”
Tatapan Demon bertemu dengan tatapan Ever. Demon tersenyum begitu juga dengan Ever. Melihat itu, Regina langsung saling tatap dan tersenyum. Kemudian Regina berbisik di telingan Ever, “Ciieee, lo sama Demon saling suka, ya?”
Ever memukul lengan Regina pelan. Wajahnya merona merah. “Apaan sih, lo? Nggak kok!”
Regina tertawa melihat wajah sepupunya yang merona itu. Kemudian, Regina menghela napas panjang dan tersenyum kecil.
Dia memang masih menyukai Demon, sampai sekarang. Tapi, melihat keadaan Demon yang bisa tersenyum dan yang membuatnya tersenyum adalah Ever, saudara sepupunya sendiri, sepertinya Regina harus mulai bisa melupakan Demon.
Ya, dia akan berusaha melupakan laki-laki itu.
Demi kebahagiaan sepupunya dan laki-laki yang disukainya.
Lagipula, bukankah cinta tidak harus memiliki?
***
Dimas menepuk pundak Ever pelan. Gadis itu menoleh dan tersenyum ketika melihat kehadiran Dimas. Dimas kemudian mengambil tempat di sebelah Ever, dan memberikan sebotol minuman dingin kepada gadis itu. Keduanya kini sedang duduk di bawah pohon yang rindang sambil memperhatikan murid laki-laki bermain basket di lapangan. Regina tidak ikut duduk bersama kedua orang itu karena dia masih ingin mengenal teman-temannya yang lain di dalam kelas.
“Lo udah lama kenal sama Demon, Ev?”
Ever menarik napas panjang dan mengangkat bahu. Gadis itu membuka tutup botol minumannya dan mulai menenggak isinya. Melihat keraguan di wajah Ever, Dimas kontan mengerutkan keningnya.
“Loh? Kok muka lo kayak yang ragu-ragu gitu, Ev?”
Lagi-lagi, Ever menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Tatapannya masih tertuju pada keadaan yang ramai di lapangan. Matanya menatap ke satu titik. Demon.
“Gue baru saja mengalami kecelakaan, Mas….”
Dimas kontan menaikkan satu alisnya. “Seberapa parah?”
Ever menggeleng. “Gue juga nggak tau. Yang gue tau, begitu gue sadar, cuma Titan, sahabat gue, yang gue ingat. Gue sama sekali nggak kenal Demon dan Frazio, padahal dua laki-laki itu ada di dalam kamar inap gue waktu itu, bersama Titan. Gue juga ingat bahwa gue ini bukanlah siswi kelas tiga SMA. Tapi, begitu masuk lagi ke sekolah, gue ternyata sudah menjadi siswi kelas tiga. Gue bingung, terlebih karena Demon dan Frazio kenal sama gue, sedangkan gue nggak ingat sama sekali tentang mereka.”
Dimas terus memandang wajah kelam sepupunya itu. Namun, Ever sama sekali tidak berniat untuk bertatapan langsung dengan Dimas. Dia masih menikmati pemandangan yang tersaji di depannya. Bagaimana Demon bermain basket dengan hebatnya. Bagaimana Demon tertawa dengan lepasnya. Bagaimana Demon terlihat seperti seorang anak kecil dengan wajah polos, bermain dengan senangnya, seolah-olah dunia ini hanyalah miliknya. Seolah-olah laki-laki itu tidak ada beban dan masalah yang harus dihadapinya.
“Elo kena… retrograde amnesia?” tanya Dimas pelan.
Mendengar itu, Ever menoleh dan menatap Dimas dengan sorot keterkejutan.
“Lo tau penyakit itu?”
Kali ini, ganti Dimas yang terkejut.
“Jadi elo beneran kena penyakit itu?”
Ever tersenyum pahit dan mengangkat bahu tak acuh.
“Waktu gue bilang gue cuma ingat bahwa gue ini bukanlah anak kelas tiga dan gue sama sekali nggak kenal sama Demon dan Frazio, dokter yang menangani gue bilang kalau gue terkena penyakit itu. Sepertinya kecelakaan yang gue alami benar-benar parah, ya!”
Dimas ikut tersenyum dan mengacak rambut Ever dengan lembut. Ever hanya diam dan bertopang dagu sambil memandang kembali ke arah lapangan.
“Penyakit itu bisa sembuh, kok, Ev… lo nggak usah khawatir, gitu. Gue yakin, lo pasti bisa kembali mengingat semua memori yang pernah tercipta di otak lo.”
Ever menghela napas panjang.
“I don’t know, Mas….”
Dimas mengerutkan kening dan berhenti mengacak rambut sepupunya itu.
“Kadang gue berpikir, mungkin lebih baik gue nggak usah ingat semuanya lagi. Kadang gue mikir, mungkin ini emang udah yang terbaik buat gue. Gue ngerasa, ada sesuatu yang terjadi antara gue sama Demon sebelum ingatan gue tentang dia hilang… sesuatu yang bikin gue selalu ngerasa sesak dan sakit hati, meskipun gue nggak tau sesuatu apa yang pernah terjadi itu. Karena, cukup dengan memandang wajahnya, menatap wajahnya, gue selalu merasa bahwa… gue dan dia memang tidak boleh bersama. Well, sebagai sepasang kekasih tentunya….”
“Apa maksud… astaga! Jangan bilang kalau elo….”
Ever menggeleng. “Nggak seperti yang lo pikirin, Mas. Gue nggak suka sama dia, seenggaknya untuk saat ini. Gue sendiri nggak tau apa sebenarnya yang lagi gue rasain ke dia saat ini. Gue nggak ingat sama sekali tentang dirinya, tapi gue juga nggak bisa nahan rasa deg-degan dan senang yang begitu membuncah kalau gue ada di dekat dia, kalau dia perhatiin gue. Dia bilang waktu itu kalau dia akan buat gue mencintai dia sekali lagi dan dia nggak akan ngelepasin gue lagi, which is, sebelum ini, gue berarti pernah suka sama dia.”
Dimas tersenyum lebar. Laki-laki itu merangkul pundak sepupunya dengan semangat. “Itu artinya dia nembak elo, Sayang! Terus, elo terima, kan? Yang gue liat sih, dia sama lo sama-sama saling suka! Buktinya dia dan lo tadi saling senyum kan pas di kelas? Dan itu jenis senyuman yang menandakan bahwa kalian ada perasaan satu sama lain!”
“Nggak gue terima….”
Dimas yang sudah semangat empat lima berkoar-koar di depan sepupunya ini, kontan melongo maksimal. “Kenapa?” tanyanya polos.
Ever melirik Dimas dengan jengkel. “You tell me!”
Dimas menaikkan satu alisnya. “Kenapa jadi harus gue yang ngasih tau alasannya ke lo?”
Ever masih melirik Dimas dengan jengkel. Gadis itu memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum akhirnya mengerucutkan bibirnya dan sedikit terpana ketika dia menatap kembali ke arah kerumunan pemain basket, Demon tengah menatapnya sambil tersenyum lembut dan melambaikan tangan padanya.
“Dia udah punya cewek! Dan gue kenal baik sama ceweknya itu! So, should I give him a chance to be my boy, huh?”
Dimas membelalakkan mata dan berseru kencang. Sangat kencang hingga sanggup membuat Ever menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan dan membuat murid-murid yang tengah asyik bermain basket menatap ke arahnya, termasuk Demon.
“HE, WHAAAAAAAT?!”
***
Evelyn melirik arlojinya dengan tatapan kesal dan menghembuskan napas keras. Dia saat ini sedang berada di gerbang sekolah Ever dan menunggu kedatangan Demon. Gadis itu langsung menjalankan aksinya untuk memisahkan dan menjauhkan Ever dari Demon, seperti permintaan Frazio, agar laki-laki itu bisa mendekati dan mendapatkan Ever, dan dirinya bisa kembali bersama Demon. Sebut dirinya egois ataupun licik, tapi, dia tidak bisa diam saja ketika pengorbanan yang selama ini selalu dilakukannya untuk hubungannya dengan Demon, bahkan hingga nyaris merenggut nyawanya sendiri, harus berakhir. Dia masih sangat mencintai Demon dan dia tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Evelyn memang tidak tega melakukan hal ini pada Ever, tapi dia harus melakukannya!
“Lyn?”
Satu suara bernada lembut itu menarik perhatian Evelyn. Gadis itu menoleh dan tersenyum ketika melihat kehadiran Ever di depannya. Ever terlihat bingung dengan kedatangan Evelyn karena setahunya, semenjak kejadian Evelyn ditemukan oleh keluarganya dalam keadaan luka parah, Evelyn tidak pernah berani menginjakkan kakinya kemanapun, selain berada di dalam rumahnya sendiri.
“Hai, Ev!”
Ever berjalan mendekat kepada Evelyn. “Kok, kamu ada disini, Lyn?”
Evelyn tersenyum dan mengangguk antusias. “Mau ketemu Demon.”
Begitu mendengar nama Demon, entah kenapa ada sebersit perasaan aneh mampir di relung hatinya. Ever merasa oksigen di sekelilingnya menipis, hingga dia tidak sanggup untuk bernapas. Gadis itu bahkan merasa ada ribuang pisau tajam yang menghujam jantungnya. Sangat kuat dan menghujam berulang-ulang, hingga gadis itu merasakan sakit yang luar biasa.
“Ooh… Demon.” Ever tersenyum paksa ketika melihat Evelyn mengedipkan sebelah matanya.
Tiba-tiba, sebuah motor Kawasaki berhenti tepat di samping Ever. Ever dan Evelyn refleks menoleh. Demon membuka kaca helm-nya dan mematikan mesin motornya. Laki-laki itu kemudian melepaskan helm-nya agar lebih mudah berkomunikasi dengan dua orang gadis di depannya itu. Ketika bertatapan dengan Evelyn, Demon bahkan menyipitkan matanya dan mengerutkan kening karena tidak menyangka akan melihat gadis itu disini.
“Evelyn? Kamu kenapa ada disini?” tanya Demon heran. Kedua matanya melirik Ever tanpa kentara. Sementara yang dilirik malah mengalihkan tatapan ke arah lain. Gadis itu terlihat sangat gelisah. Gestur tubuhnya terlihat tidak tenang. Demon kemudian memfokuskan tatapannya kepada Evelyn kembali.
“Iya, dong! Aku, kan, kangen sama kamu, Mon. Udah lama, nih, kita berdua nggak jalan bareng. Mau temenin aku nyari boneka, nggak? Aku lagi pengin banget boneka Hello Kitty, deh….” Evelyn bergelayut manja di lengan Demon dan tersenyum lebar.
Diperlakukan seperti itu, Demon merasa risih dan tidak enak dengan Ever. Biar bagaimanapun juga, Demon baru sadar bahwa dia mencintai Ever. Dia sebenarnya ingin segera berbicara dengan Evelyn dan mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik, namun Demon selalu lupa.
“Mmm… maaf, Lyn. Aku nggak bisa. Aku harus nganterin Ever pulang,” ucap Demon pelan sambil menurunkan tangan Evelyn yang melingkari lengannya. Namun, Evelyn keras kepala. Gadis itu kembali melingkarkan tangannya di lengan Demon.
Melihat itu, meskipun hanya dengan lirikan, entah kenapa membuat Ever sangat kesal. Lebih dari itu, gadis itu merasa sakit hati. Ever sadar bahwa semakin lama dia berada disini, semakin lama dia melihat kemesraan Demon dan Evelyn, semakin dia tidak bisa untuk menahan airmatanya yang sebentar lagi mengancam untuk membasahi pipinya.
“Nggak apa-apa, kali, Mon. Gue bisa pulang sendiri. Lo nggak punya kewajiban apa-apa untuk nganterin gue pulang. Gue bukan siapa-siapa elo. Lebih baik, lo anterin Evelyn untuk beli boneka. Dia kan, cewek lo, lo harus sayang dan perhatian sama dia….”
Demon terperangah mendengar ucapan bernada dingin dari bibir Ever. Terlebih ketika laki-laki itu melihat Ever yang tersenyum paksa kepadanya dan mulai menjauhi dirinya. Dengan sigap, Demon langsung meraih pergelangan tangan Ever dan menarik tubuh gadis itu hingga berputar ke arahnya.
“Nggak! Lo pulang sama gue!” desis Demon. Kedua mata elangnya melumat kedua mata Ever dengan tajam. Ever balas menatap tatapan tajam itu dan menghela napas panjang. Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Demon, namun tidak berhasil.
“Demon… Evelyn bisa salah paham nanti. Lepasin tangan gue…,” pinta Ever lirih. Suaranya terdengar serak ditelinganya sendiri. Ini benar-benar gawat. Sebentar lagi, airmatanya pasti akan tumpah.
Evelyn melihat tangan Demon yang mencekal pergelangan tangan Ever dengan hati yang sedikit sakit. Apakah Demon benar-benar sudah melupakannya dan berhenti mencintainya?
Mendadak, tangan Ever yang dicekal oleh Demon ditarik paksa hingga terlepas dari genggaman Demon. Ever dan Demon terkejut dan refleks menoleh secara bersamaan. Sosok Frazio ada di hadapan mereka dengan tangan yang kini menggenggam erat tangan Ever dan mata yang menatap Demon dengan tatapan membunuh.
“Kalau dia nggak mau lo antar pulang, nggak usah maksa! Cowok macam apa, lo? Pacar lo ada di depan mata lo, tapi lo masih berani ngerayu cewek lain! Dasar b******k!”
Demon menarik lengannya dengan paksa dari geleyutan manja Evelyn, membuat gadis itu menjerit pelan, dan langsung turun dari motor Kawasakinya. Laki-laki itu menerjang Frazio, menekan tubuh laki-laki itu di dinding dekat pagar dan mencengkram kerah kemeja Frazio. Ever yang melihat itu mencoba menengahi dengan menarik seragam Demon dan berusaha menjauhkan lengan Demon dari tangannya. Murid-murid yang sudah pulang kini berkasak-kusuk melihat adegan pertengkaran Demon dan Frazio.
“Demon, berhenti!” seru Ever lantang. Demon seperti tidak mendengar seruan itu. Yang menjadi perhatiaannya saat ini adalah laki-laki b*****t yang ada di depannya, yang tengah menatapnya dengan senyum melecehkan dan kedua mata yang menjatuhkan.
“Gue… akan… bikin… perhitungan… sama… lo!” desis Demon tajam dan berbahaya dengan penekanan kalimat pada setiap ucapannya. Ever lagi-lagi berusaha menjauhkan Demon dari Frazio namun usaha gadis itu sia-sia. Evelyn bahkan sama sekali tidak membantu. Penolakan Demon beberapa saat lalu sedikit membuatnya terguncang hingga gadis itu merasakan sesak yang luar biasa hebatnya. Matanya hanya menatap kejadian di depannya dengan tidak terfokus.
Ever masih mencoba menjauhkan tubuh Demon dari tubuh Frazio. Sial! Kalau saja ada Dimas, dia pasti akan meminta bantuan Dimas untuk memisahkan Demon dan Frazio. Sayangnya, Dimas dan Regina sudah pulang duluan karena ada urusan.
“DEMON! GUE BILANG BERHENTI!”
Demon tersadar dan menoleh ke arah Ever. Karena lengah, Frazio mengambil kesempatan itu untuk mengenyahkan tangan Demon yang mencekal kerah kemejanya dan langsung menghajar Demon dengan keras hingga membuat laki-laki itu tersungkur ke tanah.
“Frazio!” teriak Ever. Gadis itu menatap tajam Frazio dan langsung berniat membantu Demon. Namun, tangan Frazio menangkap lengannya dan mencekalnya dengan keras. Ever menoleh dan mengerutkan kening.
Evelyn yang melihat Demon tersungkur langsung tersadar dan langsung membantu laki-laki itu. Sudut bibir Demon mengeluarkan darah. Laki-laki itu menatap Frazio dengan tatapan dingin.
“Elo urus aja cewek lo, nggak usah ganggu Ever lagi! Jangan maruk, dong, lo! Udah punya cewek, cewek lain masih lo embat juga! Ever punya gue, oke?”
Mendengar itu, Demon menggeram kesal dan langsung bangkit berdiri. Diberinya Frazio satu pukulan telak hingga membuat Frazio terhuyung ke belakang. Laki-laki itu terkekeh pelan dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
“Jangan sembarangan lo kalau ngomong! Punya lo?! Lo pikir, Ever itu barang, iya?!” teriak Demon menggelegar. Tak peduli bahwa saat ini kerumunan tengah tercipta diantara mereka berempat.
“Bukannya elo yang memperlakukan dia sebagai barang?”
Demon menyipitkan mata dan mengerutkan kening. “Apa maksud lo?”
Frazio tertawa meledek dan menggelengkan kepalanya. “Demon… Demon… lo itu benar-benar t***l, ya? Lo udah punya Evelyn, tapi lo masih mau Ever juga? Coba bilang sama gue, apa gue salah kalau gue bilang, lo memperlakukan kedua cewek ini seperti lo memperlakukan sebuah barang? Lo ambil barang itu kalau lo lagi pengin, terus lo buang barang itu kalau lo udah nggak suka!”
Demon seperti tertampar mendengar perkataan Frazio. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Ditatapnya Ever dengan sorot mata menuntut penjelasan.
“Apa…. Apa benar lo merasa kalau gue memperlakukan lo sebagai barang, Ev?” tanya Demon dengan suara serak dan d**a yang bergemuruh hebat.
Ever tidak menjawab. Gadis itu menatap Demon dengan pandangan terluka. Hatinya serasa diiris dengan pisau lalu diberi perasan jeruk nipis. Sangat perih. Perih yang menyayat jiwa. Ever mati-matian menahan airmatanya agar tidak tumpah keluar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa dia harus mengatakan sesuatu yang bisa membuat Demon berhenti menemuinya? Supaya Demon hanya melihat ke arah Evelyn saja? Demi Tuhan, dia juga seorang perempuan. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Evelyn saat ini. Perempuan mana yang tidak terluka ketika melihat laki-laki yang mereka cintai justru mencintai perempuan lain bahkan di depan mata mereka sendiri?
“Demon… jujur, gue emang ngerasa kayak gitu. Gue nggak tau pasti bagaimana bentuk hubungan kita di masa lalu. Tapi, lo pacarnya Evelyn. Lo nggak boleh dengan entengnya bilang kalau lo cinta sama gue. Lo itu…. Sudah jadi milik orang lain, Mon.”
Demon terkesiap mendengar ucapan Ever itu. Ditatapnya Ever dengan sorot mata tidak percaya.
“Lo salah kalau mengira gue juga cinta sama lo. Gue… gue nggak pernah ngerasain rasa apapun sama lo. Gue cuma menganggap lo sebagai teman, tidak lebih. Yang gue cintai adalah… Frazio.”
Frazio dan Evelyn sontak menoleh kepada Ever dan terperangah. Apalagi Frazio. Laki-laki itu seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Lo cinta sama gue, Ev?” tanya Frazio tidak percaya. Nada suaranya bahkan terdengar semangat dan sangat antusias. Dengan ragu, Ever mengangguk.
“Gue harap… lo baik-baik sama Evelyn, ya!”
Selesai berkata demikian, Ever membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan. Frazio membuang ludahnya di depan Demon dan langsung mengejar Ever. Digenggamnya tangan gadis itu dan diberhentikannya sebuah taksi yang lewat. Dibukakannya pintu untuk Ever dan kemudian laki-laki itu ikut masuk ke dalam taksi tersebut bersama Ever.
Demon menatap kepergian keduanya dengan tatapan nanar. Kedua tangannya masih terkepal bahkan terlihat sangat putih. Kerumunan murid-murid yang sedang menonton pertunjukan seru itupun mulai beranjak pergi satu persatu. Evelyn melangkah dengan ragu ke arah Demon.
“Mon… kita pergi, yuk?” ajak Evelyn pelan.
Tidak ada sahutan dari Demon. Evelyn baru akan membuka mulutnya lagi ketika melihat tatapan Demon. Tatapan itu terlihat sangat terluka. Sorot matanya penuh kehampaan dan kegelapan. Evelyn menutup kembali mulutnya dan membuang napas.
Bagi Demon, tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya sudah berakhir. Bahkan setelah ini, hatinya mungkin tidak akan merasakan hal apapun lagi.
***
Hujan dengan derasnya membasahi bumi malam itu. Tidak ada satu orangpun yang mau keluar dari rumah mereka. Mereka lebih memilih untuk berkumpul bersama keluarga di dalam rumah atau tidur di tempat tidur mereka yang hangat. Keluarga? Bahkan Demon sudah lupa apa arti keluarga yang sesungguhnya. Kini yang dia tahu, dia hanyalah sendiri di dunia ini. Sendiri yang benar-benar sendiri.
Di tengah derasnya hujan itu, Demon membiarkan dirinya basah kuyup. Motornya diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Demon berdiri di depan sebuah jembatan dengan sungai yang mengalir deras di bawahnya. Tatapannya kosong dan menerawang ke arah sungai tersebut. Hatinya berdenyut dan terasa sakit. Dia butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit itu. Apakah sungai yang mengalir deras di bawah jembatan ini bisa dijadikan sebagai wadah untuk menghilangkan rasa sakitnya?
Demon menengadah dan menatap langit hitam di atas sana. Diabaikannya rasa dingin yang menyerbu tubuhnya. Rasa dingin di dalam hatinya jauh membekukannya dibandingkan dengan dinginnya guyuran hujan saat ini.
“KENAPA?!”
Tak ada yang menjawab teriakan Demon. Demon sendiri memang tidak membutuhkan jawaban apapun.
“KENAPA, EVER, KENAPA?! KENAPA LO LAKUIN INI SAMA GUE?! APA LO NGGAK TAU KALAU GUE BENAR-BENAR CINTA SAMA LO?!”
Hening. Hanya bunyi gemuruh hujan yang menjawab semua jeritan hati laki-laki itu. Demon bahkan tidak peduli kalau saat ini airmatanya juga ikut mengalir di wajahnya, menyatu dengan air hujan. Seorang laki-laki yang pantang mengeluarkan airmata, ketika mereka menangis, itu berarti mereka sudah tidak bisa lagi untuk menampung semua beban yang mereka hadapi.
“LO YANG BIKIN GUE MERASA DICINTAI LAGI, LO YANG BIKIN GUE TAU APA ITU ARTI CINTA, TAPI LO JUGA YANG NINGGALIN GUE, LO JUGA YANG BILANG KALAU LO NGGAK CINTA SAMA GUE! GUE BENCI SAMA LO, EVER!!!”
Demon menundukkan kepalanya. Bahunya terguncang. Laki-laki itu menangis ditemani hujan. Menangis tersedu-sedan. Tidak peduli bahwa dia adalah seorang laki-laki, yang jelas, rasa sakit ini harus segera pergi. Menangis sebentar tidak akan membuatnya terlihat seperti seorang pengecut, bukan?
Demon meninju pegangan jembatan yang terbuat dari besi itu dengan keras hingga tangannya memerah.
“Gue… sayang… sama… lo… Ever… benar-benar… sayang… sama… lo….” Demon berkata lagi dengan nada yang begitu lirih dan menyayat hati. Semua perkataannya berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tuhan…. Andaikan ada satu cara agar dia bisa merasakan cinta yang tulus dari orang yang dicintainya, apapun caranya, meskipun dia harus menukarnya dengan nyawanya sendiri, dia bersedia.
Berkilo-kilo meter dari tempat Demon meratapi kesedihannya, Ever mengetuk pintu sebuah rumah mewah di depannya. Gadis itu basah kuyup diguyur derasnya air hujan. Namun, Ever sama sekali tidak peduli. Ketika pintu rumah itu terbuka, Ever langsung menghambur ke pelukan orang tersebut.
“Ever?!” seru Dimas keras. Bisa dia rasakan tubuh sepupunya itu menggigil dan bergetar hebat dalam pelukannya. Suara isak tangisnya terdengar. Hal tersebut membuat Dimas menghembuskan napas keras dan balas memeluk tubuh Ever dengan erat.
“Kenapa, Ev?” tanya Dimas lembut. Ever tidak langsung menjawab. Gadis itu masih menangis dalam pelukan Dimas.
“Gue… suka… sama… dia, Mas… gue cinta sama… dia. Tapi, gue… gue… harus ngelepas… dia. Gue harus ngelepasin… Demon… dia… dia udah jadi… milik… orang… lain.” Ever menjelaskan dengan nada terbata karena isak tangisnya.
Mendengar hal itu, Dimas semakin mengeratkan pelukannya. Baru kali ini seumur hidupnya mengenal Ever, gadis itu terlihat sangat rapuh.
“Apa yang harus gue lakuin, Mas? Apa…?” lirih gadis itu lagi. “Gue benar-benar cinta sama dia….”
Aku dan kamu takkan tahu mengapa kita tak berpisah…
Walau kita takkan pernah satu…
Biarlah aku… menyimpan bayangmu…
Dan biarkanlah semua… menjadi kenangan…
Yang terlukis di dalam hatiku…
Meskipun perih… namun tetap selalu ada… disini…
(Reza Artamevia feat Masaki Ueda-Biar Menjadi Kenangan)
***